close -->
close
0







Majalah jilid kedua Al Qoidah Inspire yang beberapa waktu lalu terbit, menampilkan dua tokoh Al Qoidah Semenanjung Arab yang merupakan mantan tahanan teluk Guantanamo. Pertama adalah Usman Ahmad al Ghamidi, yang merupakan komandan militer AQAP. Al Ghamidi juga muncul dalam sebuah pesan rekaman AQAP yang dirilis bulan Mei lalu.

Mantan tahanan Guantanamo yang kedua yang mengisi halaman majalah Inspire adalah Said al Shihri yang terdaftar sebagai "wakil Amir" dari AQAP. Al Shihri sudah muncul di beberapa komunike sejak awal 2009, saat pembentukan AQAP pertama kali diumumkan. Al Shihri sendiri merupakan salah satu tokoh pendiri awal AQAP.

Dalam majalah Inspire tersebut pada bagian pertama menceritakan kisah Usman Ahmad al Ghamdi, kisah perjalanan jihadnya. Ia pernah menjadi tentara dan tidak puas dengan kehidupan militer di Saudi, ia ingin pergi dari negara itu. Tapi karena itu adalah proses yang rumit, al Ghamidi mengatakan ia memutuskan untuk menyelinap keluar dari Arab Saudi menggunakan paspor palsu yang diberikan oleh fasilisator dari Al Qoidah pada saat itu.

Al Ghamidi pernah melewati berbagai tempat tinggal Al Qoidah di Pakistan dan Afghanistan sebelum tiba di kamp pelatihan Al Qoidah "Kamp al Farouq" dimana "lelaki sejati berada". Di kamp tersebut ia mengatakan disambut oleh Usamah bin Ladin sendiri yang juga datang ke kamp tersebut dari "waktu ke waktu untuk memberikan semangat dan dorongan."

Usamah di kamp itu mengatakan kepada kelompok pelatihan al Ghamdi "bahwa beberapa saudara-saudara kita akan menyerang Amerika dan meminta agar mendoakan mereka." Ketika berita tentang serangan 11 September sampai kepada al Ghamidi maka ia bersuka cita.

"Kami tidak bisa percaya pada awalnya," kata al Ghamidi. "Kami telah dihina oleh Amerika dan kami akhirnya menghantam Amerika di tanah mereka menggunakan pesawat mereka sendiri sebagai senjatanya. Kami rusak ekonomi mereka dan melemahkan kekuatan mereka."

Al Ghamidi melanjutkan: "Sekarang kita sejajar, mengirim pesan jelas: Kami bunuh kalian seperti ketika kalian membunuhi kami dan ketika kalian menteror kami, maka kami juga menteror kalian. Itu adalah hari yang spesial. Mujahidin sangat gembira dan mereka lebih bahagia lagi ketika umat Muslim merayakan itu, terutama saudara-saudara kita di Palestina."

Setelah serangan 9/11, Al Ghamidi mengatakan ia terpilih untuk menemani bin Ladin. Ketika Al Qoidah dan pasukan Taliban diperintah untuk mundur ke pegunungan Tora Bora, al Ghamidi memenuhi perintah itu. "Kami mulai mempersiapkan daerah tersebut untuk bertarung dengan Amerika dan sekutunya dengan menggali parit dan mengambil posisi defensif kami di gunung-gunung," kata al Ghamidi.

Al Ghamidi menceritakan keberanian Usamah bin Ladin dan Ayman al Zawahiri di Tora-Bora dimana mereka menghadapi "hujan bom tanpa henti." Mereka bersama kami dan mereka merasakan apa yang kami alami," kata al Ghamidi. "Mereka menolak untuk meninggalkan kami kecuali satu hari sebelum kami menarik diri dan setelah kami mendesak bahwa mereka harus dievakuasi dari daerah tersebut."

Setelah lolos dari Tora Bora, Al Ghamidi tertangkap di Pakistan dan secara licik diserahkan kepada pasukan Amerika di sebuah pangkalan di Afghanistan. Al Ghamidi mengatakan Amerika menggunakan berbagai cara untuk menghina agama kita. Setelah itu al Ghamidi pun dibawa ke penjara Teluk Guantanamo.

Di Guantanamo, al Ghamidi menceritakan bahwa penghinaan agama juga dilakukan tentara Amerika disana, ia mengalami siksaan dalam bentuk fisik dan psikologis. Ia dan para tahanan lain digunakan sebagai kelinci percobaan untuk eksperimen mereka menggunakan obat-obatan tertentu, kata al Ghamidi.

Said al Shihri

Dalam interview yang diterbitkan majalah Inspire, Said al Shihri mengakui bahwa ia terluka dalam "pertempuran di bandara Kandahar," yang merupakan salah satu benteng Usamah bin Ladin pra 11 September di Afghanistan. Setelah menolak berbicara kepada interogator Shihri pun dikirim ke penjara Teluk Guantanamo.

Al Shihri membuat klaim tentang penjara Guantanamo: "Ini adalah bagian dari peradaban mereka yang disebut mengubah wanita menjadi toilet yang dapat digunakan para laki-laki dengan biasa."

Al Shihri juga menyimpan sebagian besar permusuhannya untuk House Of Saud dan program rehabilitasi untuk para jihadis, dimana baik keduanya al Shihri dan al Ghamidi dipaksa ikut dalam program itu setelah mereka dipindahkan dari Guantanamo.

"Program rehabilitasi.... pada dasarnya adalah satu set keyakinan agama baru yang dipaksakan oleh tiran Amerika kepada masyarakat Muslim yang sedang dilaksanakan oleh pemerintah pengkhianat di dunia Islam," kata al Shihri.

Al Shihri mengatakan bahwa House of Saud diisi oleh orang-orang murtad. "Jihad melawan pemerintah al Saud adalah kewajiban agama dan saya mengundang umat Muslim di tanah Dua Masjid Suci untuk memberontak melawan mereka dengan ucapan dan perbuatan dan saya meminta mereka untuk mendukung para mujahidin sesuai dengan kemampuan mereka," kata al Shihri.

Al Shihri menjelaskan bahwa AQAP tidak mematuhi batas-batas negara yang memisahkan Arab Saudi dan Yaman dan bahwa organisasi ini berusaha untuk mendirikan negara Islam yang diatur oleh hukum syariah di Semenanjung Arab. Pengawas proyek ini adalah Amir AQAP Nasser al Wuhayshi, atau yang juga dikenal sebagai Abu Basir al Yaman.

Al Shihri mengatakan bahwa kepemimpinan Wuhayshi telah disetujui oleh pimpinan umum Al Qoidah di tanah Khurasan, dimana AQAP telah berjanji setia dibawah kepemimpinan Al Qoidah Khurasan (sebuah wilayah yang mencakup daerah yang luas di Afghanistan, Pakistan, Uzbekistan, Tajikistan dan Iran) sebagai pusatnya, al Shihri merujuk kepada Usamah bin Ladin dan Ayman al Zawahiri. Dengan demikian, Said al Shahri memperjelas bahwa AQAP setia kepada anggota paling senior Al Qoidah.

Ketika ditanya, apa yang harus dilakukan Muslim di Barat, al Shihri merespon: "Mereka harus bermigrasi atau jihad melawan Barat dengan jihad individu atau melalui komunikasi dengan saudara-saudara mereka di tanah jihad."

Tak lupa al Shihri juga memuji dua Muslim yang tinggal di Barat yang telah melakukan operasi: "Operasi saudara-saudara kita, Nidal Hassan dan Umar al Farouk, semoga Allah memberi mereka ketabahan, adalah tindakan heroik besar sehingga siapapun dapat menambahkan dirinya sendiri untuk melakukan seperti itu dan kami meminta kepada Allah agar memberikan mereka kesuksesan. Dan segala puji hanya milik Allah."

Mayor Nidal Malik Hassan yang disebut al Shihri diatas adalah orang yang melakukan penembakan di Fort Hood, Texas pada bulan November 2009, dan Umar Farouk Abdulmutallab, yang berusaha meledakkan penerbangan pesawat 253 pada hari Natal 2009, memiliki kaitan erat dengan AQAP.

Mayor Hassan berulang kali melakukan kontak dengan ulama AQAP syaikh Anwar al Awlaki yang juga ditampilkan dalam edisi kedua majalah Al Qoidah tersebut.

Umar Farouk Abdulmutallab direkrut oleh AQAP dan melakukan perjalanan ke Yaman untuk pelatihan di kamp Al Qoidah. Dalam rekaman video yang dirilis tahun ini, syaikh Anwar al Awlaki menyebut baik Hassan dan Abdulmutallab sebagai "mahasiswanya." [muslimdaily.net]

Dikirim pada 28 Oktober 2010 di catetan


TEPI BARAT (Arrahmah.com) - Sumber Palestina melaporkan pada Rabu (27/10/10) bahwa tentara Zionis menangkap tujuh anak Palestina di kota Silwan, wilayah selatan Masjid Al Aqsa, Tepi Barat.

Saksi mata mengatakan bahwa tentara tersebut menyerang anak-anak yang berada dalam perjalanan pulang menuju rumah dari sekolah mereka dan menangkap mereka. Militer Israel tidak mau berkomentar mengenai alasan penangkapan tersebut.

Dari tujuh anak, yang termuda akhirnya dibebaskan beberapa jam kemudian dan enam lainnya masih berada dalam tahanan Israel.

Dalam peristiwa lain, Mohammad Gheith (14) dari Batn Al Hawa juga ditangkap sehari sebelumnya (26/10). Ia dituduh melakukan serangan terhadap polisi Israel pada 14 Oktober lalu.

Insiden berawal ketika polisi Israel menyerang saudara dan ibunya di Ras Al Amoud, Silwan. Dia berusaha menghentikan serangan polisi yang memukuli saudara dan ibunya dan serangan bocah ini dianggap sebagai tindakan penyerangan terhadap polisi Israel, naif! (haninmazaya/arrahmah.com)



Dikirim pada 28 Oktober 2010 di catetan

Wahai ukhti fillah….
Inilah harapan hati dari setiap ikhwan kepada kalian, harapan yang akan menjadi tumpuan pilihan kelak, yang akan memberikan amanah tertinggi, karena bersama kalianlah kelak kami akan mengarungi bahtera hidup…

Wahai ukhti fillah…
Jadilah Muslimah yang senantiasa menjaga agamanya, yang selalu melangkah dengan agama, gerak gerik dengan agama. Karena kami tidak akan pernah mencintai wanita yang tidak mempunya landasan agama.

“Aku mencintaimu karena agamamu. Jika kau meninggalkan agamamu, aku akan meninggalkanmu.” (Imam Nawawi)

Ibnu Uyainah berkata, “Siapa yang menikah karena menginginkan kehormatan maka dia akan hina. Siapa yang menikah karena cari harta maka dia akan menjadi miskin. Namun siapa yang menikah karena agamanya maka akan Allah kumpulkan untuknya harta dan kehormatan di samping agama”.

Wahai Ukhti Fillah..
Sesungguhnya yang kami harapkan bukanlah hartamu, suaramu ataukah wajahmu yang elok rupa. Karena kami tahu bahwa itu semua adalah sebuah kesemuan belaka. Harapan kami adalah kesolihan-an mu,karena itu sebenar2nya kekayaan yang kalian miliki…

“Tiada kekayaan yg diambil seorang mukmin setelah takwa kepada Allah yang lebih baik dari istri sholihah.? [Hadits Riwayat Ibn Majah]

“Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim).

Wahai Ukhti fillah…
Jadilah wanita-wanita penyayang, wanita-wanita yang selalu mencintai segalanya karena Allah. Yang akan senantiasa saling melengkapi segala kekurangan kami, yang senantiasa menerima kami apa adanya, karena kami hanyalah manusia biasa. Harapan tertinggi hanyalah padaNya.

“Artinya : Nikahilah wanita-wanita yang penyayang dan subur (banyak anak)”[Ditakhrij oleh Abu Dawud No. 2050 Kitab Nikah, Nasa’i No. 3227 Kitab Nikahdan Ahmad 3/158,245]

Wahai ukhti fillah
Berjilbab bukanlah halangan untuk maju! Aisyah ra adalah contoh nyata bahwa hijab tidak menghalangi beliau sebagai guru para sahabat radliyyallaahu anhum. Ketinggian ilmu Bunda Aisyah tidak ada tandingannya. Shahabiyah yang lainpun menorehkan tinta emas dalam sejarah panjang kegemilangan Islam. Semuanya dilakukan dengan elegan, bermartabat dan berkualitas. Bukan dengan cara pintas yang menggadaikan harkat dan jati diri.

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S Al-Ahzab : 59)

Wahai ukti fillah…
Masih banyak harapan kami kepada kalian semua. Semoga ini bias menjadi muhasabah (koreksi) sejauh mana kita telah melangkah, jalur manakah yang kita pilih. Apakah kesamaran ataukah benar-benar jalan agama…

Ciri-Ciri wanita Sholeha

Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita untuk menerima gelar solehah, dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah Subhanahuwata’ala

Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat saja yaitu:
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
2. Taat kepada suami

Berikut ini antara lain perincian dari dua syarat di atas:

1. Taat kepada Allah dan RasulNya

Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah?
- Mencintai Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.
Firman Allah s.w.t.:
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengangkat tandingan tandingan selain Allah, mereka mencintaiNya sebagaimana mencintai Allah, adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al Baqarah, 165).

“Katakanlah jika babak-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri isteri, keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khuwatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai; itu lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya, dan daripada berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya” (QS. At taubah, 24).

“Tidak sempurna iman seorang di antara kamu sebelum ia lebih mencintai aku daripada mencintai ibu-bapaknya, anaknya, dan semua manusia” (HR Bukhari).

- Wajib menutup aurat
“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka
menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka
menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan
hendaklah mereka menutupkan khumur (Ind: jilbab)nya ke dadanya…’”Annur(24):31
Hadis riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk
menjumpai Rasulullah SAW dengan pakaian yang tipis, lantas
Rasulullah SAW berpaling darinya dan berkata:”Hai Asma,
seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil
baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini,” sambil beliau
menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR. Abu Daud dan Baihaqi)

- Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmudan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (Al-ahzab : 33)

” ada dua kelompok penghuni neraka yang belum pernah aku melihatnya, yaitu: suatau kaum yang bersamanya cambuk seperti seekor sapi yang digunakannya untuk mencambuk orang-orang, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, genit, kepalanya seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga, sesungguhnya bau surga itu tercium dari jarak ini dan itu”. (H.R Ibnu Khuzaimah).

- Seorang Wanita tidak boleh berkhalwat (berduaan) dengan Lelaki non mahram dan tidak boleh melakukan safar berdua dengannya.

(Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah seorang wanita melakukan safar kecuali bersama mahram.” (Muttafaq alaih)

- Membantu suami dalam menegakkan nilai-nilai Islam dalam rumah tangga dan lingkungan sekitar, dalam berjihad fii sabiilillah meninggikan kalimat Allah ta’ala dan tidak memjadi penghalang suami dari syari’at Allah ta’ala dan Rosul Nya Shalallahu ‘Alaihi Wasallam .

- Berbuat baik kepada ibu & bapa
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. Al-Ahqaaf : 15)

- Sentiasa bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yag menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik… Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang yang beramal.” (Q.S Ali-Imran: 133-136)

Rasulullah saw pun mengingatkan kita untuk jangan segan bersedekah, meski hanya dengan sebutir kurma. “Jauhkanlah dirimu dari api neraka walaupun dengan (bersedekah) sebutir kurma.” (HR Muttafaq alaih).

- Tidak berkhalwat dengan lelaki dewasa
Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir r.a, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian masuk menemui wanita yang bukan mahram!” Seorang laki-laki Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan ipar?” Rasulullah saw. bersabda, “Ipar adalah maut!” (HR Bukhari [5232] dan Muslim [2172]).

- Bersikap baik terhadap tetangga
“Wahai para wanita muslimah! Wahai para wanita muslimah! Janganlah salah seorang diantara kalian meremehkan tetangganya meskipun [pemberiannya] hanya berupa kaki domba.” (Shahih) Lihat: [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 30-Bab Takhunu Jaaroh Lijarotiha. Muslim: 12-Kitab Az Zakah, hal. 90]

Dari Abu Amir Al Himsi berkata, ”Tsauban berkata,
”Tidak ada dua orang yang saling mengisolir lebih dari tiga hari, lalu salah seorang dari mereka meninggal dalam keadaan seperti itu, melainkan keduanya akan binasa. Dan tidak ada seorangpun yang menzhalimi tetangganya dan menyakitinya sampai hal itu membawanya keluar dari rumahnya kecuali dia pasti akan binasa.” (Shahih secara sanad)

2. Taat kepada suami

- Taat kepada suami selama dia tidak menyuruh berbuat maksiyat kepada Allah ta’ala.
“Sekiranya aku boleh memerintahkan orang bersujud kepada orang lain, niscaya akan aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya.”
Dalam riwayat yang lain dikatakan dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha :
“Aku bertanya kepada nabi SAW, siapakah orang yang mempunyai hak sepenuhnya atas seorang istri?” Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab : “Suaminya.” Aku bertanya lagi : ” siapakah orang yang mempunyai hak sepenuhnya atas seorang suami?” Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab : ” Ibunya.” (HR. al Hakim).
- Menjaga kehormatan suamimya, hartanya dan rahasia rumah tangga serta tidak menceritakannya kepada orang lain.

- Tidak berpuasa sunnah kecuali dengan izin suami, tidak keluar rumah kecuali dengan izin suami, tidak menyakiti suami baik dengan ucapan atau perbuatan serta berbuat baik dengan orang tua dan kerabat suami.

- Banyak bersyukur kepada suami dan tidak banyak menuntut, tidak mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah dia berikan kepada suami dan keluarganya baik berupa harta dan lainnya.
Bersabda Rosulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam :
“Hak suami atas istrinya adalah, tidak boleh menolak permintaannya terhadap dirinya meskipun dia berada diatas kendaraan, dan tidak boleh berpuasa sunnah walaupun sehari kecuali dengan izin suaminya, dan jika dia melanggar maka berdosa dan tidak diterima amalnya, dan tidak boleh memberi sesuatu dari dalam rumahnya kecuali dengan izin suaminya, jika dia berbuat itu maka pahalanya untuk suaminya dan dosa un tuk istrinya, dan tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya, jika dia melanggar akan dilaknat oleh Allah ta’ala dan malaikat Nya sampai dia bertaubat atau kembali meskipun suaminya dzholim.” ( HR. ath Thoyalisi )
Bersabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam :
“Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada dirumah kecuali dengan izinnya.” ( HR. Muttafaqun ‘alaihi. )
Bersabda Rosulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam :
“Jika seorang suami mengajak istrinya tidur diranjang dan istrinya menolak sehingga suaminya marah pada malam itu, maka istri tersebut dilaknat oleh malaikat sampai pagi hari.” ( HR. Bukhori no. 2998)
- Senantiasa menyenangkan suami, berhias dan tidak bermuka masam, murah senyum serta tidak menampakkan hal-hal yang tidak disenangi suami.
Bersabda Rosulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam :
“Sebaik-baik wanita ialah jika kau memandangnya menyenangkanmu, jika kau perintah menta’atimu, jika kau tinggalkan dia menjaga dirinya dan memelihara hartamu.” (HR Abu Daud).
Membantu suami dalam menegakkan nilai-nilai Islam dalam rumah tangga dan lingkungan sekitar, dalam berjihad fii sabiilillah meninggikan kalimat Allah ta’ala dan tidak memjadi penghalang suami dari syari’at Allah ta’ala dan Rosul Nya Shalallahu ‘Alaihi Wasallam .
Firman Allah ta’ala :
“Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara Isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu* Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS, at Taghoobun ; 14)
* Maksudnya: kadang-kadang isteri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama.
Firman Allah ta’ala dalam suroh al Anfal ayat ; 28 :
” Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”
Dalam ayat diatas Allah ta’ala menegaskan bahwa anak, istri dan harta bisa menjadi penghalang seorang suami dari jalan Allah ta’ala, maka hendaklah seorang istri memperhatikan hal ini, sehingga dia mampu menjaga dari fitnah ini serta dapat membantu suami dalam kebaikan dan ibadah kepada Allah ta’ala.
Seorang istri wajib membantu suaminya agar tetap berbakti kepada orang tuanya, menjalin silahturahmi dengan kerabatnya dan istri-istrinya yang lain, tidak membuat sikap yang dapat menyakitkan hatinya atau menjadi penghalang suami dalam bersikap yang sesuai syari’at dan beramal sholih.
Janganlah seorang istri bersikap acuh tak acuh, tidak peduli dengan suaminya, membebani suaminya dengan sesuatu yang berada diluar kemampuannya.
Hendaklah seorang istri menjadi factor pendorong dan motivasi bagi suami dalam beribadah kepada Allah ta’ala, berjihad di jalan Allah, berdakwah dan berakhlak yang baik disekitarnya sehingga menjadi uswah (teladan) bagi lingkungan sekitarnya.

Palembang, 7 Januari 2010
Zundillahi

Dikirim pada 09 Oktober 2010 di catetan



Oleh Ummu Fathin

Dan barang siapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedang dia itu mukmin, maka mereka itu akan masuk surga dan mereka tidak dizhalimi sedikit pun”[1]

Sesungguhnya peran muslimah dalam kancah jihad, sangatlah banyak dan terbuka lebar. Mereka memiliki peran yang sangat penting dan jelas, yang mana tidak mungkin terhapus oleh zaman selamanya. Sejarah telah mencatatnya, sedangkan sejarah itu akan terus berulang meski tokoh dan tempatnya berganti.

Dalam hadis shohih dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dari Ruba’i binti Muawwidz radliyallahu ‘anha, beliau berkata, “Kami berperang bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, kami memberi minum para prajurit dan membantu mereka, mengembalikan yang terluka dan terbunuh ke Madinah”.[2]

Sungguh tak dapat dipungkiri, keberanian seorang mujahid di lapangan maka ada seorang wanita ‘di belakang’nya. Jika ada seorang mujahid yang gagah berani, maka lihatlah siapa ibunya, atau lihatlah siapa istrinya, sungguh kan kita temui muslimah-muslimah yang tangguh di dalamnya. Muslimah ini memberi motivasi pada ayah, suami, saudara laki-laki dan anak-anak laki-lakinya agar pergi berjihad, menunjukkan pembelaan kepada dienullah dan pengorbanan diri untuk Allah. Ia memotivasi dengan memberikan semangat untuk mereka, memotivasi dengan menyumbangkan harta untuk mereka dalam rangka jihad fie sabilillah, memotivasi dengan tidak mengeluh saat ditinggal, memotivasi dengan tetap sabar atas kepergian mereka dan ujian yang menimpa mereka. Sungguh, inilah tugas muslimah dalam kancah jihad baik dari dulu maupun sekarang.

Akan tetapi kita lihat pada masa sekarang, tak sedikit muslimah yang masih ragu untuk ikut serta dalam kancah jihad ini. Tak sedikit kita melihat, mereka masih menahan suami dan anak laki-laki mereka untuk ikut serta dalam jihad fie sabilillah. Merasa tak sanggup ditinggal. Apa yang meragukanmu duhai ukhity? Apakah kita kehilangan teladan yang mampu memberikan contoh? Demi Allah, keteladanan itu banyak ya Ukhtiy, jika kita mau mencari serta meneladani mereka.

Saya ingatkan untuk diri saya dan antunna sekalian akan kisah-kisah kepahlawanan shohabiyah yang beriman, berhijrah dan berjihad fie sabilillah dalam tulisan ini, juga kisah kepahlawanan muslimah dalam medan jihad di zaman kita sekarang. Dengannya, bi idznillah, semoga dapat memotivasi kita untuk bisa seperti mereka dan menjadikan hati kita tergerak untuk ikut andil bagian pada pembelaan terhadap dien Allah dalam peperangan sengit yang dilancarkan salibis dan zionis ini.

Adapun peran yang dapat kita lakukan dalam kancah jihad ini, di antaranya adalah;

Memotivasi ayah, saudara laki-laki, suami dan anak laki-laki kita untuk jihad fie sabilillah dan bersabar atas ujian yang menimpa kita.
Adalah kewajiban kita—wahai ukhtiy muslimah—untuk senantiasa memotivasi mereka untuk berpartisipasi dalam jihad ini, di mana jihad telah menjadi fardhu ‘ain dalam kondisi saat ini[3]. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “…kobarkanlah (semangat) orang-orang beriman (untuk berperang)…”[4]. Dan, “Wahai Nabi! Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang...”[5]

Sebagai anak, kita harus memotivasi ayah kita dan saudara laki-laki kita untuk turut serta dalam jihad fie sabilillah ini. Dan sebagai seorang istri juga seorang ibu, sudah selayaknyalah kita memotivasi suami dan anak laki-laki kita untuk turut andil dalam perjuangan fie sabilillah, untuk turut ambil bagian dalam pengorbanan di jalan Allah. Dan sungguh, telah banyak dari orang-orang sebelum kita yang telah menjadi contoh dalam pengorbanan ini…

Lihatlah bagaimana seorang Khadijah binti Khuwailidy radliyallahu ‘anha senantiasa memotivasi suaminya—Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, sang panglima perang—dalam mendakwahkan dan menyebarkan Islam. Ketabahan beliau radhliyallahu ‘anha dalam mendampingi suaminya di jalan tauhid wal jihad, baik dalam keadaan susah maupun senang, dalam keadaan sempit maupun lapang, adalah teladan yang sangat mengagumkan. Beliau dengan mantap menghibur Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataan yang akan terus dikenang sejarah, “Demi Alloh, Alloh tidak akan menghinakan Anda selamanya. Sesungguhnya Anda menyambung hubungan kerabat, jujur dalam berbicara, menanggung letih dan menolong yang tertimpa musibah”.

Dan teladan itu pun telah ada pada diri Al Khansa’—ibu para syuhada’radliyallahu ‘anha, yang sedikit pun tak ragu memotivasi keempat anak laki-lakinya agar ikut berperang dan agar tidak lari dari medan perang. Tidak ragu untuk menjadikan anak-anaknya bagian dari kafilah mujahideen sekaligus kafilah syuhada’. Beliau radliyallahu ‘anha merupakan cermin pengorbanan seorang ibu, teladan bagi para ibu sepanjang zaman. Duhai, betapa mulianya shohabiyah ini dan pengorbanannya untuk dien Islam…

Maka, ketika kabar kesyahidan anaknya sampai kepada ibu yang beriman dan bersabar ini, ia sama sekali tak meratap juga tak menunjukkan sikap sedih. Tahukah apa yang ia katakan?

Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan kesyahidan mereka. Saya mengharap pahala dari Rabb-ku. Semoga Ia mengumpulkan saya bersama mereka di tempat yang penuh kasih sayangNya (jannah)”. Perkataan yang didasari keimanan yang tangguh, yang akan terus diingat oleh sejarah sebagai sebuah pengorbanan di jalan Allah.

Subhanallah!! Beginilah seharusnya seorang ibu, dengan senang hati menyerahkan buah hatinya di jalan Allah, berharap pahala dariNya dan jannahNya. Maka, ukhtiy fillah…tidakkah hati kita tergerak untuk meneladani para shohabiyah ini?

Kita pun tak melupakan kisah shohibatus syakkal, seorag ibu yang memberikan sebuah ikalan rambut miliknya kepada Abu Qudamah Asy Syama’ rahimahullah, yang ia harapkan dapat ikut serta dalam jihad dan berdebu fie sabilillah bersamanya. Tak lupa, ia pun memotivasi anak laki-lakinya untuk turut serta dalam peperangan bersama Abu Qudama Asy Syama. Dan tahukah ukhtiy, apa yang beliau ucapkan saat Abu Qudamah hendak memberitahukan berita kesyahidan anaknya?

Jikalau anakku pulang bersamamu dalam keadaan selamat, maka itu kabar menyedihkan bagiku. Dan jikalau anakku terbunuh fie sabilillah (syahid) berarti anda membawa kabar gembira”. Subhanallah…!! Kalimat yang mantap yang berasal dari keimanan yang dalam dan keyakinan yang kuat akan janji Allah.

Dan ketika diberitahukan bahwa anaknya terbunuh fie sabilillah, maka beliau pun menjawab, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikannya sebagai simpanan besok pada hari kiamat”. Inilah buah keimanan yang manis, dan bukti kejujuran keimananya. Sungguh, ukhtiy fillah, banyak teladan yang bisa kita jadikan contoh dalam meniti jalan jihad ini…

Dan di zaman kita ini, teladan itu terlampau banyak…kalau kita mau mencari dan meneladani mereka. Ummat ini tidaklah mandul untuk melahirkan sosok-sosok khansa’ dan yang semisalnya. Di sana, ada ummu islambuly rahimahallah yang tak sedih ketika buah hatinya dieksekusi pemerintah thaghut Mesir karena aksi jihadnya dalam ‘mengeksekusi’ thaghut Anwar Sadat. Ia justru bergembira dan menyajikan hidangan, sesaat setelah eksekusi anaknya dilangsungkan, dan ia berkata, “Hari ini saya merayakan pernikahan anak saya dengan hurun ‘iin”. Subhanallah...begitu tegarnya beliau.

Di sana masih ada sosok ummu Muhammad (istri asy syahid—kama nahsabuhu wa huwa hasibuhu—‘Abdullah ‘azzam rahimahullah), di mana beliau begitu sabar ditinggal suaminya berjihad bertahun-tahun. Bersabar akan kesempitan hidup yang dialaminya di jalan tauhid dan jihad. Beliau adalah seorang yang zuhud lagi sabar, sebagaimana yang dikatakan oleh suaminya, syaikh Abdullah Azzam rahimahullah. Beliau memberikan keteladan yang besar bagi kita—para muslimah—dalam kesabaran dan ketegaran, ketika suami dan kedua anaknya syahid di Peshawar, Pakistan. Alangkah sabarnya engkau wahai ummu Muhammad…

Masih ada pula di zaman kita ini, sosok seorang istri dan ibu yang menjadi teladan bagi kita. Sebagaimana yang diceritakan oleh syaikh abu mujahid dalam tulisannya (Realita Jihad)[6], ketika suami dan anaknya syahid—insyaAllah—dalam peperangan di Afghanistan, ia tidaklah bersedih karena itu, akan tetapi ia berkata, “Sungguh kesedihankau karena tidak dapat memberikan bantuan makanan kalian itu lebih aku rasakana, dari pada kesedihanku karena kehilangan anak kesayangan hatiku…”. Allahu akbar!!

Andai bukan karena ada sesuatu yang saya khawatirkan, tentulah saya akan ceritakan bagaimana kesabaran dan ketegaran para istri mujahid dan syuhada’ di negeri kita ini, yang saya ketahui. Karena—menurut saya—mereka layak untuk dijaidkan contoh bagi kita, agar kita senantiasa termotivasi.

Maka, wahai cucu-cucu Khansa’, inilah teladan yang mulia untuk kita, adakah teladan yang lebih baik selain mereka?

Tidakkah hati kita tergerak untuk memotivasi ayah, saudara laki-laki, suami dan anak laki-laki kita untuk berjihad?

Tidak tergerakkah kita untuk menjadi generasi Khansa’ abad ini?

Sungguh demi Allah, adalah kebahagiaan sejati bagi kita apabila kita dapat ikut andil dalam kancah jihad ini. Adalah kebahagiaan yang sempurna bagi kita di dunia ini, apabila Allah takdirkan kita sebagai anak dari seorang mujahid lagi syuhada’, atau saudara dari seorang mujahid lagi syuhada’, atau istri dari seorang mujahid lagi syuhada’ atau ibu dari seorang mujahid lagi syuhada’. Demi Allah, itulah kemuliaan di dunia ini…

Sesungguhnya, mereka (ayah, saudara laki-laki, suami dan anak laki-laki kita) suatu saat akan meninggal juga, cepat atau lambat, baik kita menginginkannya atau pun tidak. Dan kehidupan di dunia ini hanyalah kehidupan yang semu, sedangkan kehidupan akhirat itu adalah kehidupan yang sebenarnya. Lalu mengapa tidak kita semangati mereka untuk turut serta dalam jihad fie sabilillah? Agar di jannahlah—insyaAllah—kelak kita bisa bertemu dengan mereka, sedangkan kebahagiaan di jannah itulah kebahagiaan yang hakiki.

“…padahal kenikmatan di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit”[7]

Membela mujahideen dengan lisan kita, menyingkap syubhat yang memojokkan mereka dan memberikan hujjah untuk mereka di hadapan manusia
Sungguh, ukhtiy muslimah, kita telah diperintahkan oleh Allah untuk menolong dienNya, dengan apapun yang dapat kita lakukan. Dan bagian dari menolong dienNya, adalah menolong para wali-waliNya yang menolong dien Allah, yaitu mujahideen.

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong agama Allah…”[8].

Tugas kita untuk menyebarkan kemenangan-kemenangan yang diraih mujahideen. Tugas kitalah untuk membela mereka dengan lisan kita, memberikan hujjah-hujjah yang syar’i untuk membela mereka, membantah syubhat-syubhat yang menyerang mereka, agar terbayankan bagi orang yang masih ragu dan tersadarkan bagi orang yang lalai.

Telah ada sosok shohabiyah, ummul mu’minin, ‘Aisyah binti Abu Bakar radliyallahu ‘anha, yang dengan sigap membela dien Islam dengan hujah-hujah yang kuat, membantah syubhat dengan dalil-dalil yang kuat. Darinyalah ratusan hadits diriwayatkan. Beliau radliyallahu ‘anha merupakan teladan yang cemerlang akan kefaqihan terhadap dien ini. Dan dari zaman ke zaman, bahkan di zaman kita ini, kita kan dapati muslimah-muslimah yang mengambil peran ini dalam rangka membela dienNya, membela syari’atNya, membela jihad dan mujahideen.

Sudah selayaknyalah bagi kita untuk mempelajari fiqh jihad dan masalah-masalah fiqh yang berkaitan dengan jihad. Hal ini akan memberikan manfaat bagi mujahideen, ketika kita membela mereka dari celaan-celaan para penggembos, orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Dan tentu saja, orang yang membantah dengan ilmu tidak akan sama dengan orang yang membantah tanpa ilmu. Maka bantulah mujahideen dengan memberikan mereka hujjah, dengan menyingkap syubhat yang menyerang mereka dari kalangan anti jihad dan para penggembos, serta konspirasi dari kalangan munafik. Serta memuji mereka (mujahideen) di hadapan manusia serta menyebutkan keunggulan dan karomah-karomah yang mereka miliki. Dan termasuk di dalamnya adalah, kita menjelaskan kepada kaum muslimin semuanya akan hakikat perang salib yang dilancarkan salibis-zionis-komunis-paganis internasional ini.

Bukankah lewat lisan dan tulisan kitalah, kita mencoba mengharridh kaum muslimin untuk berjihad. Dan bukankah, jihad dengan lisan ini mendahului sebelum jihad dengan harta dan jiwa? Seseorang tidak dapat dimotivasi untuk jihad dengan hartanya kecuali dengan lisan (tulisan), dan tidak dapat dimotivasi untuk jihad dengan jiwanya kecuali dengan lisan (tulisan). Maka, mengapa kita tidak ikut serta berperan di dalamnya?

Termasuk dalam peran ini, adalah menyebarkan semua materi-materi yang berkaitan dengan jihad dan dukungan terhadapnya, baik berupa buku-buku, buletin-buletin, dan kaset-kaset, yang mana hal ini dapat dilakukan baik bagi yang pandai menulis atau pun yang tidak pandai menulis. Menyebarkannya baik melalui email, forum-forum, blog dan semacamnya.

Membantu mujahideen dengan harta kita
Ukhtiy fillah, janganlah meremehkan peran harta kita untuk jihad fie sabilillah. Sesungguhnya ia (harta) memiliki peran penting dalam perjalanan jihad. Harta memiliki sumbangsih yang besar dalam roda jihad. Tanpanya—bi idznillah—roda jihad tidak bisa berjalan, perjalanan jihad akan terhenti, dan mujahideen tidak bisa melancarkan aksi-aksi jihad. Sedangkan Allah telah berfirman, “Belanjakanlah harta kalian di jalan Allah…”[9]

Dalam banyak ayat Al Qur’an[10], ketika Allah memerintahkan orang-orang mu’min untuk berjihad fie sabilillah, maka Allah mendahulukan jihad dengan harta dibandingkan dengan jiwa. Mengapa? Karena jihad dengan jiwa tidak akan terlaksana tanpa adanya harta yang mengiringinya. Seorang mujahid tidak bisa pergi berjihad, jika ia tidak memiliki harta untuk perjalanan jihadnya. Seorang mujahid tidak bisa melaksanakan aksi jihad, tanpa harta untuk merakit bom—misalnya—atau membeli senapan atau semacamnya yang merupakan sarana untuk jihad fie sabilillah.

Akan tetapi ini tidak berarti bahwa jihad dengan harta lebih utama dibandingkan dengan jihad dengan jiwa. Didahulukannya jihad dengan harta, karena cangkupan yang dibicarakannya sangat luas; baik dari kalngan laki-laki, wanita, pemuda, lanjut usia, anak kecil dan orang dewasa, sebagaimana yang dikatakan oleh syaikh al ‘uyairi rahimahullah[11].

Hanya dalam 1 ayat[12] saja, Allah mendahulukan jihad dengan jiwa dibandingkan dengan jihad dengan harta. Karena dalam ayat ini terdapat transaksi jual beli antara pembeli (Allah) dengan penjual (orang-orang mukmin), yang mana Allah tawarkan bagi orang mukmin jannahnya yang sangat mahal, maka wajib bagi orang-orang mukmin untuk menyerahkan miliknya yang paling berharga, yaitu jiwa.

Lihatlah bagaimana pengorbanan seorang Khodijah—ummul mu’mininradliyallahu ‘anha dalam bidang harta untuk penyebaran dien Islam. Beliau tak ragu sedikit pun menyerahkan hartanya demi tegaknya dien Islam. Maka, bukankah beliau adalah teladan yang mulia bagi kita? Lihat pula, bagaimana pengorbanan seorang ummu Muhammad untuk jihad fie sabilillah dan untuk keluarga mujahideen. Dan masih banyak lagi, teladan-teladan di zaman kita ini (bahkan di negeri kita ini) yang patut kita jadikan contoh baik yang tersembunyi mapun yang dzahir (tampak), jika saja kita mau mencari dan meneladani mereka.

Ukhtiy fillah, sesungguhnya apabila kita belum mampu membantu mujahideen dengan jiwa kita, maka bantulah mereka dengan harta kita. Bukankah kewajiban kita untuk mengurusi keluarga yang ditinggalkan mujahideen? Bukankah kewajiban kita untuk memberangkatkan mujahideen dengan harta kita? Sungguh di dalamnya ada kemuliaan dan pahala yang besar.

Dalam hadis shahih disebutkan,

Barang siapa membekali orang yang berjihad di jalan Allah, maka dia mendapatkan pahala seperti pahalanya tanpa mengurangi pahala orang yang berjihad tersebut sedikit pun”[13]

Siapa pun di antara kalian yang menggantikan tugas orang yang keluar berjihad di keluarganya dan hartanya dengan baik, maka dia berhak mendapatkan setengah pahala orang yang keluar berjihad”[14]

Termasuk di dalamnya adalah, kita mengumpulkan sedekah dari kaum muslimin untuk mujahideen dan keluarga mereka. Dan juga membayar zakat untuk mujahideen, karena salah satu ashnaf yang berhak memperoleh zakat adalah mujahideen sebagaimana yang Allah sebutkan dalam al qur’an[15] yaitu “ashnaf fie sabilillah”.

Demikian juga, kita harus mengeluarkan harta untuk membebaskan mujahideen yang tertawan. Karena sesungguhnya tugas kaum musliminlah (yang mampu) untuk membebaskan tiap kaum muslimin yang ditawan orang-orang kafir, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda;

Bebaskanlah tawanan, berilah makan orang yang kelaparan, dan jenguklah orang yang sakit”.[16]

Maka, ambilah peran ini sesuai kemampuan kita. Jangan sampai kita tertinggal dari “Pasar Jihad” ini.

Membantu mujahideen dengan jiwa kita
Inilah puncak pengorbanan yang tertinggi dalam pengorbanan untuk dien Islam dan kaum muslimin, pengorbanan untuk jihad dan mujahideen. Pengorbanan yang mahal, karena jiwa menjadi tebusannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Dan di antara manusia ada yang menjual dirinya untuk mencari ridha Allah. Dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hambaNya”[17]

Memang benar, tidaklah menjadi fardlu ‘ain seorang muslimah turut serta dalam jihad dengan jiwa memerangi orang-orang kafir, akan tetapi status hukumnya adalah keutamaan (dengan tetap memperhatikan batasan-batasannya, seperti ada mahrom, berhijab, aman dari fitnah dll), dan hanya dalam kondisi tertentu saja muslimah diwajibkan[18]. Akan tetapi, tidakkah hati kita tergerak untuk ikut serta di dalamnya? Sedangkan jihad adalah amalan yang tertinggi, pahala syahid yang Allah janjikan sangatlah menggiurkan, sedangkan telah banyak teladan sebelum kita yang telah memberikan contoh untuk kita?

Inilah dia Shofiyah binti Abdul Muthalib radliyallahu ‘anha, bibi Rasulullaah shalallahu ‘alaihi wa sallam, saudara kandung dari Hamzah bin Abdul Muthalib radliyallahu ‘anhu. Ia adalah seorang wanita mukminah yang telah berba’iat, juga mujahidah yang sabar. Betapa pemberaninya ia dalam keikutsertaan jihadnya bersama Rasulullah dalam perang Khandak, tatkala Yahudi berupaya melakukan penyerangan yang busuk terhadap pasukan wanita. Ia tak ragu untuk membunuh si Yahudi ini dengan tongkat dari kayu. Dialah, sebagaimana yang ia katakan, “wanita pertama yang membunuh seorang laki-laki”. Dia bahkan lebih berani dibandingkan kebanyakan para lelaki zaman ini.

Inilah ummu ‘umarah (Nasibah binti Ka’ab) radliyallahu ‘anha, prajurit yang beriman, di mana ia tak sedikit pun ragu untuk membela Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Uhud, di mana saat itu banyak dari para lelaki meninggalkan medan jihad karena rasa takut akan musuh. Ia tak segan membela Rasulullah dengan jiwanya, menebaskan padang pada musuh-musuh Allah meski dalam kondisi terluka. Kepadanyalah Rasullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Siapakah yang sanggup melakukan sebagaimana yang kau lakukan ini, wahai ummu ‘umarah?”.

Begitulah para shohabiyah radliyallahu ‘anhunna. Keimanan mereka, mereka buktikan dengan keikutsertaan dalam pembelaan terhadap dien ini dengan lisan, harta dan jiwa mereka. Karena sesungguhnya keimanan itu membutuhkan pembuktian. Dan kepada merekalah (shohabiyah), kita mengambil teladan, dan kepada merekalah kita bercermin.

Kita tidak melupakan keberanian Royyim ar Royaasyiy rahimahallah, muslimah Palestina, seorang istisyhadiah yang telah menjual dengan murah jiwanya di jalan Allah. Ia memberikan teladan yang sangat mengagumkan akan pengorbanan jiwa di jalan Allah. Ia telah meneruskan “garis keturunan” shofiyah dan ummu ‘umaroh dalam keberaniannya membela dien Islam.

Kita pun tak melupakan sosok Sana’ Al Muhaidily rahimahallah, pelaku istisyhadiyah di Libanon yang telah menewaskan kurang lebih 300 tentara kafir Amerika. Ia tak gentar, meskipun jiwanya melayang di jalan Allah. Alangkah mulianya engkau wahai Al Muhaidily. Sungguh, alangkah mulianya…

Tak ketinggalan pula, pengorbanan Nausyah Asy Syammary dan Waddad Ad Dulaimiy rahimahumullah di jalan Allah di bumi Iraq, yang sangat menawan hati dan penglihatan kita. Maka, adakah di antara kita yang mau mengambil pelajaran dari mereka ya ukhtiy?

Ukhtiy fillah, inilah peran-peran yang bisa kita sumbangkan dalam kancah jihad.

Dan satu peran lagi dalam rangka membantu mujahideen yang setiap orang dapat melakukannya, baik muda atau pun tua, baik kaya atau pun miskin, baik yang sudah memiliki anak maupun belum, baik yang sudah menikah atau pun belum…ia adalah do’a.

Kita harus mendoakan mujahideen agar mereka tetap teguh di atas jalan jihad, agar mereka dapat mengalahkan musuh-musuh mereka dengan pertolongan Allah, dan agar Allah menimpakan kecelakaan bagi musuh-musuhNya. Juga kita harus berdoa untuk mujahideen yang tertawan agar segera dibebaskan, untuk mujahideen yang terluka agar segera sembuh, untuk mujahideen yang gugur di medan jihad agar diterima sebagai syuhada’ dan berdoa untuk para pemimpin mereka. Demikian juga, kita harus mendoakan anak-anak dan keluarga mereka agar sabar, selamat dan terpelihara.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memanjatkan doa qunut selama sebulan penuh untuk tiga orang shahabat yang tertawan di Mekkah. Kaum musyrikin Mekkah menyiksa mereka dan memaksa mereka untuk murtad. Di antara doa yang beliau panjatkan adalah, “Ya Allah, selamatkan Walid bin Walid, Salamah bin Hisyam dan ‘Ayyasy bi Abu Rabi’ah”[19].

Dan sesungguhnya “doa adalah senjata kaum muslimin”. Maka hendaklah berdoa di waktu-waktu mustajab, bersabar dan berhusnuzhan pada Allah bahwa Dia pasti akan mengabulkannya.

Sungguh demi Allah, sedikit apapun usaha kita dalam rangka membela dien Allah, dalam rangka membela syari’atNya, maka selama kita ikhlas tentu ada nilainya di sisi Allah. Maka usahakan apa saja yang kita bisa untuk membela dien Allah, untuk membela jihad dan mujahideen, untuk berpartisipasi dalam perjuangan ini. Karena sesungguhnya setiap pasar itu akan ada waktunya ditutup. Dan jika pasar jihad telah ditutup, maka pulanglah orang yang telah berpastisipasi dengan membawa keberuntungan, dan merugilah orang-orang yang hanya duduk-duduk saja tanpa ikut serta membantu.

Ukhtiy Muslimah, sungguh, ummat ini membutuhkan sosok-sosok teladan seperti mereka (para shahabiyyah radliyallahu ‘anhunna), yang tak ragu menawarkan dengan murah ruhnya di jalan Allah. Ummat ini membutuhkan sosok-sosok seperti mereka yang menyerahkan buah hatinya untuk dijadikan ‘tumbal’ fie sabilillah. Ummat ini membutuhkan sosok-sosok seperti mereka yang bersabar di atas jalan tauhid dan jihad, lagi berinfak fie sabilillah. Maka masih adakah alasan bagi kita—wahai ukhtiy—untuk tidak ikut serta dalam jihad ini?

Dan sungguh, dalam medan jihad saat ini, ummat ini belum mandul untuk melahirkan kstaria-ksatria wanita yang keberaniannya seperti mereka. Ummat ini belum mandul untuk menampilkan keberanian muslimah-muslimah dalam medan peperangan, juga belum kering rahim ummat ini untuk tetap melahirkan sosok-sosok teladan atas pengorbanan diri untuk dienullah.

Dan ummat ini tidaklah mandul untuk melahirkan kembali sosok-sosok shofiyah dan ummu ‘umarah, untuk melahirkan sosok seperti Al Khansa’ radliyallahu ‘anhuma, demi Allah tidak! Selamanya, generasi penerus shofiyah dan ummu ‘ummarah akan senantiasa ada, generasi penerus Khonsa’ akan senantiasa bermunculan, dengan atau tanpa keikutsertaan kita di dalamnya.

Referensi:

- “39 Cara Membantu Mujahidin”, Syaikh Muhammad bin Ahmad As Salam

- “Kado Untuk Mujahidah”, softcopy terbitan Al Qoidun Group

- “Nasihat-nasihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam; Penawar Lelah Pengemban Dakwah”, Syaikh ‘Abdullah ‘Azzam rahimahullah

- “Sirah Shahabiyah”, Syaikh Mahmud Mahdi Al Istambuli Musthafa Abu Nashr Asy Syalabi

Ditulis untuk;

Abu dan Ummu Zaid hafidzahumullah

Jazaakumullaah khoyr atas segalanya, semoga Allah senantiasa menjaga kalian”

[1] An Nisa : 124
[2] HR. Bukhori

[3] Penjelasan jihad saat ini telah menjadi fardlu ‘ain telah banyak dijabarkan oleh para ulama’ yang hanif dalam kitab-kitab mereka, di antaranya; Al ‘Umdah Fie I’dadil ‘Uddah karya syaikh ‘Abdul Qodir bin ‘Abdul ‘Aziz, Ad Difa’ ‘An ‘Arodhil Muslimin Ahammu Furudhil A’yan karya syaikh ‘Abdullah ‘Azzam, Qooluu Fa Qul ‘Anil Jihad karya Harits Abdus Salam al Mishry, dan kitab-kitab lainnya.

[4] An Nisa’ : 84

[5] Al Anfal : 65

[6] Kado Untuk Mujahidah, softcopy terbitan “Al Qho’iduun group”.

[7] At Tawbah : 38

[8] As Saff : 14

[9] Al Baqarah : 195

[10] At tawbah : 41 ; At Tawbah : 20 ; Al Anfal : 72 ; Al Anfal : 74 dan lain-lain.

[11] Dari “39 cara membantu mujahidin”, Muhammad bin ahmad as salam.

[12] Yaitu At Tawbah : 111

[13] HR. Ibnu Majah dari Zaid bin Khalid

[14] HR. Muskim dan Abu Dawud dari Abu Sa’id

[15] QS. At Taubah : 60

[16] HR. Bukhori

[17] Al Baqoroh : 207

[18] Lihat penjelasan dalil-dalinya dalam kitab “Al ‘Umdah Fie I’dadil ‘Uddah” karya syaikh ‘Abdul Qodir bin ‘Abdul ‘aziz dan kitab “Fie Zhilali Surati At Tawbah” karya syaikh ‘Abdullah ‘Azzam rahimahullah dan kitab-kitab berkenaan jihad lainnya.

[19] HR. Bukhori, HR. Muslim, HR. Abu Dawud, dan HR. An Nasa’i dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu.



Dikirim pada 04 Oktober 2010 di jihad



Ingin kami ucapkan beberapa kalimat ini kepadamu, di bawah desingan peluru-peluru musuh, dan gelegar ledakan roket yang telah menjadi hiburan kami. Surat ini juga dari kami yang kini terpaksa meringkuk di balik jeruji besi hanya karena kami menyatakan bahwa “Tuhan Kami Adalah Allah”. Surat ini kami tujukan kepadamu Ukhti Muslimah…karena kau adalah permata, kau juga perhiasan mulia yang melengkapi keindahan ajaran Nabi saw.

Beberapa kalimat yang tulus keluar dari lubuk hati kami sebagai saudara yang melaju bersama ke arah yang satu. Demi menyelamatkanmu dari cakaran manusia serigala bermuka domba.

Ukhti Muslimah….!!! Kami tidak akan membawa sesuatu yang baru, semoga kau tidak bosan mendengarnya….walau rasanya sudah berkali-kali kami ingatkan bahwa tiada agama manapun yang lebih memuliakan wanita sebagaimana Islam. Jika kau masih tidak percaya, lihatlah pada sejarah .. apa yang dilakukan oleh penghuni zaman jahiliyah terhadap kaummu, bukankah mereka menguburkanmu hidup-hidup hanya karena takut jatuh miskin atau durhaka?

Bukankah engkau adalah yang paling banyak diperjual belikan bagai barang rongsokan sebagai hamba sahaya di zaman kerajaan Romawi ? Bahkan hingga kini….. di suatu zaman yang mereka juluki zaman kebebasan dan kemerdekaan, mereka teruskan tradisi itu, hanya saja,… kini mereka bungkus dengan kata kontes ratu cantik, yang berisi memperlombakan ukuran tubuh terbaik bagi para lelaki hidung belang. Entah apa yang mereka cari, betapa jauh mereka menghinakanmu, betapa buruknya gambaranmu di mata mereka, bagi mereka kau tidak lebih dari sekerat tebu gula segar, yang setelah manis sepah dibuang…. Kemudian belum puas dengan itu mereka masih melolong bahwa Islam menzalimi hak-hak wanita…sungguh sebuah penyesatan dan pendustaan yang nyata.

Ukhti Muslimah….!!! Usaha perbaikan dirimu adalah sebuah cita-cita abadi, dan tujuan yang mulia, serta harapan seluruh arsitek bagi proyek perbaikan umat. Karena mereka tahu, kunci perbaikan umat ini ada pada dirimu, jika dirimu baik…maka baiklah seluruh umat ini. Demi Allah..!!! berpeganglah dengan tali ajaran agama ini, dan laksanakanlah segala perintahnya, Jangan sekali kali kau langgar larangannya, apalagi mempersempit hukum hakamnya, karena semua itu hanya akan lebih mengekang kehidupanmu sendiri, karena tiada keadilan yang lebih luas dari keadilan Islam terhadapmu dan kaummu, jika kau lari dari keadilan Islam, kau hanya akan menemui kezaliman dunia kufur terhadap hak-hak kehidupanmu. Berpeganglah sepertimana Umahatul Mukminin mencontohkannya dalam kehidupan sehari hari mereka, contohilah juga isteri-isteri para sahabat dan kaum muslimin yang telah membuktikan nilai keindahan permatamu.

Ukhti Muslimah…!!! Ketahuilah agama ini bukan hanya di mulut, tetapi ia menuntut adanya amal nyata, laksanakanlah perintah-perintahnya dan jauhilah larangan-larangannya walaupun tanpa kalimat “jangan”. Sesungguhnya kamu tidak perlu pengakuan timur dan barat karena kemuliaanmu dan harga dirimu telah ada sejak kau dilahirkan, dan bagi kami wahai ukhti muslimah,.. kau lebih mulia dari sekadar makhluk yang tergoda gemerlapnya dunia dan jeritan pekikan mungkar yang di sifatkan dengan “suara keledai” (Qs. Luqman 19) oleh Sang Maha Pencipta, kami tak rela melihatmu tenggelam dalam tipuan mereka yang selalu ingin menghinakanmu dengan berpura pura memujimu tetapi melucuti pakaian dan menelanjangimu di depan mata jutaan bahkan milyaran manusia di dunia, mereka hanya menginginkan kehormatanmu sama dengan binatang yang sememangya tidak pernah berpakaian, mereka hanya menginginkanmu mencoreng-coreng mukamu dengan polesan-polesan yang merusak wajah alamimu yang indah hasil ciptaan yang Maha Indah, mereka hanya ingin menjadikanmu pemuas nafsu setan-setan jantan berhidung belang. Mereka hanya ingin menjadikanmu bagaikan tong sampah yang hanya diisi dengan benih-benih buruk dan tercela.

Demi Allah kami tidak rela! Karena bagi kami kau sangat berharga, bagi kami kau adalah pelengkap kehidupan duniawi dan ukhrawi, maka besar jualah harapan kami padamu…

Ukhti Muslimah….!!! Seorang muslimah tidak pantas untuk menjadi keranjang sampah yang menampung berbagai budaya hidup dan akhlak yang buruk, apalagi budaya barat dengan berbagai kebiasaannya yang terlihat kotor dan menjijikkan itu. Seorang muslimah harus mandiri dalam memilih cara hidupnya sendiri, tentu semuanya berangkat dari acuan “firman Allah” dan “sabda NabiNya saw” . Seorang Muslimah selalu ingat bahwa dahulu pada suatu hari Rasulullah saw pernah bersabda: “Barangsiapa yang meniru (kebisaaan) suatu kaum, maka ia (termasuk) golongan mereka”. Maka ia sangat berhati hati dan kritis dalam menentukan tatacara hidup, berpakaian, dan bermu’amalah.

Ukhti Muslimah….!!! Engkau adalah puncak, kau juga kebanggaan dan kau juga lambang kesucian. Kau menjadi puncak dengan al-qur’an dan kebanggan dengan iman serta lambang kesucian dengan hijabmu dan berpegang pada ajaran agama ini. Lalu mengapa ada lambang kesucian yang malah meniru cara hidup yang najis

Bagi umat ini, ibu adalah madrasah terbaik jika ia benar-benar sudi mempersiapkan dan mengajari serta mendidik generasinya. Kiprah seorang ibu dalam membentuk generasi umat terbaik dan mujahid penyelamat serta pengawal hukum hakam Allah adalah sangat penting. Lihatlah para pahlawan kita, mereka yang telah membuktikan dengan nyata keberanian dan keikhlasan mereka dalam memperjuangkan tegaknya kalimatullah…mereka semua tidak lepas dari sentuhan lembut para ibu yang dengan sabar dan tanpa bosan terus mendidik mereka untuk menjadi mahkota bagi agama ini. Sadarilah…

Kewajiban seorang ibu bukan hanya memilihkan pakaian yang sesuai bagi anaknya, atau memberikan makanan yang terbaik baginya, sungguh tanggung jawab ibu jauh lebih besar dari sekadar itu semua, karena itulah kami sangat memerlukan seorang isteri atau ibu yang bisa mendidik anaknya dengan dien Allah dan sunnah NabiNya saw.

Kami memerlukan wanita yang bisa mengajari anak perempuannya untuk menutup auratnya dan berhijab dengan baik, serta mendidiknya untuk mempunyai sikap malu dan berakhlak mulia. Kami tidak sedikit pun perlu kepada wanita yang hanya bisa mendidik anaknya untuk bertabarruj dan bernyanyi serta menghabiskan waktunya bersama televisi dan film-film yang berisi “binatang-binatang” yang dipuja.

Kami juga tidak perlu kepada wanita yang hanya bisa membiasakan anak perempuannya berpakaian mini sejak kecil, di mata kami wanita seperti itu bukanlah seorang ibu, tetapi ia lebih tepat untuk disebut sebagai racun bagi kehidupan anaknya sendiri, ibu yang seperti itu tidak bertanggung jawab dan ia juga pengkhianat umat dan agama ini serta menzalimi anaknya sendiri.

Kami memerlukan wanita suci yang bisa mengajari anak-anaknya taat kepada Rabbnya karena melihat ibunya selalu ruku’ dan sujud. Kami memerlukan seorang ibu yang bisa memenuhi rumahnya dengan alunan suara al-qur’an bukan alunan suara-suara setan atau namimah serta ghibah yang sangat dibenci oleh Allah dan RasulNya, supaya rumahnya menjadi rumah yang sejuk dan tenang serta bersih dari unsure-unsur najis nyata atau maknawi.

Kami memerlukan wanita yang dapat mengajari anak-anaknya untuk selalu bertekad mencari surga Allah, bukan hanya mengejar kenikmatan harta dunia, kami memerlukan wanita yang bisa mengajari anaknya untuk siap melaksanakan Jihad fi Sabilillah serta menyatakan permusuhannya kepada musuh musuh Allah, dan kami memerlukan wanita yang bisa mengajari anaknya untuk mendapatkan kehidupan abadi di sisi Rabbnya sebagai syahid dalam perjuangan membela firman Allah dan sabda Nabi saw.

Ukhti Muslimah….!!! Kami memerlukan wanita yang selalu mengharap pahala dalam melayani suami, hingga ia selalu taat dan menghiburnya serta tidak pernah sedikit pun ingin melihat wajah murung sedih sang suami. Kami memerlukan wanita yang selalu menjaga dien anak-anaknya sebagaimana ia selalu menjaga kesehatan mereka. Salam hormat dari kami….

Salam hormat dari kami Kepada wanita yang sukses menjaga hubungannya dengan Rabbnya, dan dapat beristiqomah pada diennya, dan mempertahankan hijabnya di tengah badai cercaan lisan mereka yang jahil.

Salam hormat dari kami…..

Kepada wanita yang selalu tegas menjaga dirinya dari berikhtilat dengan lawan jenisnya yang bukan muhrim, dan menjaga dirinya dari pandangan lelaki yang di hatinya masih ada penyakit dan lemah. Salam hormat kepada wanita yang selalu menjaga agar dirinya tidak menjadi pintu masuk bagi dosa dosa dari berbagai jenis perzinaan.

Salam hormat dari kami….. Kepada wanita yang selalu sigap menutupi keindahan tubuh dan wajahnya dengan hijab tetapi selalu memperindah diri di hadapan sang suami tercinta. Ia tahu bagaimana menjaga dirinya dengan tidak bepergian sendiri agar tetap terlihat mulia bahwa ia adalah wanita yang terjaga.

Demi Allah Ukhti ….

Wanita-wanita yang seperti itulah kebanggan umat ini, mereka juga perhiasan masyarakat Islami, karena siapa lagi yang akan menjadi kebanggan itu kalau bukan mereka?

Apakah wanita yang selalu mengumbar aurat lengkap dengan berbagai polesan Tabarruj dan potongan potongan pakaian yang menjijikkan ditambah lagi cara berjalan yang meliuk-liuk bagaikan unta betina itu? Ataukah wanita yang lisannya selalu dibasahi dengan umpatan dan ghibah serta namimah yang keji?

Ataukah wanita yang waktunya habis di pasar-pasar malam dan supermarket atau mal? Kehidupannya hanya untuk melihat harga ini dan harga itu, toh semuanya juga tidak terbeli….bagi kami mereka adalah perusak kesucian Islam, mereka tidak pantas menyandang nama mulia sebagai “muslimah” karena mereka justeru melakukan pembusukan dari dalam.

Ukhti Muslimah…!!! Ingatlah bahwa kehidupan dunia ini hanya sebuah persinggahan, bersiaplah untuk meneruskan perjalanan ke negeri abadi, jangan sampai engkau lena…

Persiapkanlah bekalmu dengan memperbanyak amal sholeh, sebagaimana kau persiapkan dirimu dengan baik jika kau akan berangkat menghadiri pesta penikahan atau bepergian ke tempat teman atau saudaramu, kini kau pasti akan melakukan suatu perjalanan yang tidak dapat kau elakkan lagi, hari dan waktunya pasti datang…lalu apakah engkau telah siap..???? Kau akan melakukan suatu perjalanan yang membawamu hilang dari inagatan seluruh manusia, baik saudara atau sahabat, tetapi sebenarnya kau masih bisa mengabadikan namamu jika kau ingin melakukannya, tirulah apa yang di lakukan oleh Masyitah, atau Asiah (isteri Fir’aun), atau Maryam binti Imran ibu nabi Isa yang mulia, atau A’isyah binti Abu Bakar ra. Yang telah membuktikan kepada dunia akan harga diri seorang wanita serta kejeniusannya.

Lihatlah betapa nama mereka harum dan kekal, namanya pasti kan sampai ke telinga orang terakhir yang terlahir di bumi ini nanti. Sebagai bukti bahwa sang pemilik nama juga sedang hidup kekal bahagia di Jannati Rabbil Alamin.

Tetapi coba bandingkan dengan mereka yang tertipu dengan gemerlap dunia, apalagi ia menjadi terkenal hanya karena ia terlalu berani mengumbar auratnya, atau ia berani memasang tarif yang tinggi untuk harga dirinya, apakah semua itu memberinya manfaat setelah mulutnya dipenuhi dengan tanah di liang kubur? Berhati-hatilah..jangan sampai kau terjerumus pada jurang yang sama, hingga kau akan menyesal di hari yang sudah tiada berguna lagi arti sebuah penyesalan.

Ikhwaanukunna Fillah, Mujahid Fi Sabilillah.



Dikirim pada 04 Oktober 2010 di ibadah



Penulis

Syaikh Abu Muhammad ‘Ashim Al Maqdisiy
Alih Bahasa

Abu Fauzan

Tim Kajian Kitab-kitab A’immatud Da’wah Tauhid

DAFTAR ISI

1. Pengantar Penerjemah ……………………………………………………………………… 2

2. Muqoddimah Penulis ……………………………………………………………………… 6

3. Pasal Penjelasan Tentang Inti Pokok Dan Tujuan

Utama Penciptaan, Penurunan Kitab-Kitab, Dakwah

Para Rasul, Millah Ibrahim, Dan Al ‘Urwatil

Wutsqa Yang Merupakan Jalan Selamat ……………………………… 10

4. Pasal Demokrasi adalah agama kafir buatan,

dan pemeluknya ada yang berstatus sebagai tuhan

yang membuat hukum serta ada yang berstatus

sebagai pengikut yang menyembah tuhan-tuhannya

itu ………………………………………………………………………………………………………………… 27

5. Pasal Bantahan terhadap syubhat dan kebatilan

yang membolehkan agama demokrasi …………………………………… 38

SYUBHAT PERTAMA
Jabatan Yusuf di sisi raja Mesir …………………………… 40

SYUBHAT KEDUA
Sesungguhnya Najasyi tidak berhukum dengan

Apa yang Allah turunkan, namun demikian dia

tetap muslim …………………………………………………………………………………… 60

SYUBHAT KETIGA
Labelisasi demokrasi dengan nama syuraa

demi melegalkannya …………………………………………………………………… 68

SYUBHAT KEEMPAT
Keikutsertaan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa

sallam dalam hilful fudluul …………………………………………… 83

SYUBHAT KELIMA
Maslahat dakwah …………………………………………………………………………… 89

6. KISAH NYATA DI PARLEMEN

Ambillah pelajaran wahai orang-2 yang berakal …… 100

PENGANTAR PENERJEMAH



Segala puji hanya milik Allah subhaanahu wa ta’aala, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasul-Nya yang mulia, para keluarganya dan sahabatnya serta orang-orang yang berada di atas jalannya hingga hari kiamat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam kitab An Nubuwwat hal 127: “Islam adalah berserah diri kepada Allah saja tidak kepada yang lainnya, dia beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dia tawakkal hanya kepada-Nya saja, dia hanya takut dan mengharap kepada-Nya, dan dia mencintai Allah dengan kecintaan yang sempurna, dia tidak mencintai makhluk seperti kecintaan dia kepada Allah… siapa yang enggan beribadah kepada-Nya maka dia bukan muslim dan siapa yang disamping beribadah kepada Allah dia beribadah kepada yang lain maka dia bukan orang muslim”.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitabnya Thariqul Hijratain hal 542 dalam thabaqah yang ke tujuh belas: Islam adalah mentauhidkan Allah, beribadah kepada-Nya saja tidak ada sekutu bagi-Nya, iman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, serta mengikuti apa yang dibawanya, maka bila seorang hamba tidak membawa ini berarti dia bukan orang muslim, bila dia bukan orang kafir mu’aanid maka dia adalah orang kafir yang jahil, dan status orang-orang ini adalah sebagai orang-orang kafir yang jahil tidak mu’aanid (membangkang), dan ketidakmembangkangan mereka itu tidak mengeluarkan mereka dari status sebagai orang-orang kafir.”

Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata dalam Ad Durar Assaniyyah 1/113: Bila amalan kamu seluruhnya adalah bagi Allah maka kamu muwahhid, dan bila ada sebagian yang dipalingkan kepada makhluk maka kamu adalah musyrik”.

Beliau rahimahullah juga berkata dalam Ad Durar 1/323 dan Minhajut Ta’siis hal 61: Sekedar mengucapkan kaliamat syahadat tanpa mengetahui maknanya dan tanpa mengamalkan tuntutannya maka itu tidak membuat mukallaf tersebut menjadi muslim, dan justeru itu menjadi hujjah atas dia……………Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan dia itu beribadah kepada yang selain Allah (pula) maka kesaksiannya itu tidak dianggap meskipun dia itu shalat, zakat, shaum dan melaksanakan sebagian ajaran Islam.”

Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad rahimahullah berkata dalam Al Qaul Al Fashl An Nafiis hal 31: Sesungguhnya syirik itu menafikan Islam, menghancurkannya, dan mengurai tali-talinya satu demi satu, ini berdasarkan apa yang telah dijelaskan bahwa Islam itu adalah penyerahan wajah, hati, lisan dan seluruh anggota badan hanya kepada Allah tidak kepada yang lainnya, orang muslim itu bukanlah orang yang taqlid kepada nenek moyangnya, guru-gurunya yang bodoh dan berjalan di belakang mereka tanpa petunjuk dan tanpa bashirah”.

Syaikh Sulaiman Ibnu Abdillah Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata dalam Taisiir Al ‘Aziz Al Hamid hal 58: Siapa yang mengucapkan kalimat ini (Laa ilaaha Illallaah) dengan mengetahui maknanya, mengamalkan tuntutannya berupa menafikan syirik dan menetapkan wahdaniyyah hanya bagi Allah dengan disertai keyakinan yang pasti akan kandungan maknanya dan mengamalkannya maka dia itu adalah orang muslim yang sebenarnya. Bila dia mengamalkannya secara dhahir tanpa meyakininya maka dia munafiq, dan bila dia mengamalkan apa yang menyalahinya berupa syirik maka dia itu kafir meskipun mengucapkannya (Laa ilaaha Illallaah)”.

Beliau mengatakan juga dalam kitab yang sama: Sesungguhnya mengucapkan Laa ilaaha Illallaah tanpa disertai pengetahuan akan maknanya dan tidak mengamalkan tuntutannya berupa iltizaam dengan tauhid dan meninggalkan syirik serta kufur kepada thaghut maka sesungguhnya pengucapan itu tidak bermanfaat dengan ijma para ulama.”

Syaikh Hamd Ibnu ‘Atieq rahimahullah berkata dalam kitab Ibthalit Tandiid hal 76: Para ulama telah ijma bahwa sesungguhnya memalingkan satu dari dua macam doa kepada selain Allah, maka dia itu adalah musyrik meskipun dia mengucapkan Laa ilaaha Illallaah Muhammadun Rasulullah, dia shalat, shaum dan dia mengaku muslim.”

Syaikh Abdullathif Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan rahimahullah mengatakan dalam kitabnya Mishbahudh dhalaam hal 37: Siapa yang beribadah kepada selain Allah, dan menjadikan tandingan bagi Tuhan-nya, serta menyamakan antara Dia dengan yang lainnya maka dia itu adalah musyrik yang sesat bukan muslim meskipun dia memakmurkan lembaga-lembaga pendidikan, mengangkat para qadli, membangun mesjid, dan adzan, karena dia tidak komitmen dengan (tauhid)nya, sedangkan mengeluarkan harta yang banyak serta berlomba-lomba dalam menampakkan syi’ar-syi’ar amalan, maka itu tidak menyebabkan dia memiliki predikat sebagai muslim bila dia meninggalkan hakikat Islam itu (tauhid)”.

Dan beliau berkata lagi hal 328: Islam adalah komitmen dengan tauhid berlepas diri dari syirik, bersaksi akan kerasulan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan mendatangkan rukun Islam yang empat lagi”.

Inilah sebagian perkataan ulama tentang Islam dan syirik. Sebelumnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengisyaratkan dua macam syirik yang akan melanda umat ini secara besar-besaran yaitu syirik ibadatil autsaan (syirkul qubuur/syirik kuburan) dan syirkulluhuuq bil musyrikiin (syirkul qushuur wad dustuur/syirik aturan). Dan kedua macam ini telah merambah di tengah-tengah umat. Syirik yang pertama adalah syirik mutadayyiniin (syirik orang-orang yang masih rajin beribadah), ini bisa dilihat saat berjubelnya mereka di tempat-tempat dan kuburan-kuburan keramat. Dan syirik yang kedua adalah syirik ‘ilmaaniyyiin (orang-orang sekuler) dan Islamiyyin (orang-orang yang mengaku dari jama’ah-jama’ah dakwah Islamiyyah yang dengan dalih maslahat dakwah mereka masuk atau menggunakan sistem syirik yang ada).

Dan di antara kemusyrikan yang nyata lagi terang yang sudah merambah dan mengakar adalah demokrasi, di mana intinya adalah yang berhak menentukan hukum dan perundang-undangan itu adalah rakyat atau mayoritas mereka yang diwakili oleh para wakilnya, sedangkan di dalam Islam di antara hak khusus Allah adalah hukum dan tasyri’ yang bila dipalingkan kepada selain-Nya maka itu adalah syirik.

Silahkan telaahlah buku ini mudah-mudahan syubhat yang masih ada di benak anda bisa hilang dengan penjelasan dan bayaan, akan tetapi bila ini tidak bisa memuaskan dan anda malah terus mempertahankannya maka yang bisa memuaskan anda adalah ‘adzaabunniiraan. Wallaahul musta’aan.

Abu Fauzan

ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู…

ุฅู† ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ู†ุญู…ุฏู‡ ูˆ ู†ุณุชุนูŠู†ู‡ ูˆ ู†ุณุชุบูุฑู‡ ูˆ ู†ุนูˆุฐ ุจุงู„ู„ู‡ ู…ู† ุดุฑูˆุฑ ุฃู†ูุณู†ุง ูˆ ู…ู† ุณูŠุฆุงุช ุฃุนู…ุงู„ู†ุง ู…ู† ูŠู‡ุฏ ุงู„ู„ู‡ ูู‡ูˆ ุงู„ู…ู‡ุชุฏ ูˆ ู…ู† ูŠุถู„ู„ ูู„ู† ุชุฌุฏ ู„ู‡ ูˆู„ูŠุง ูˆุฑุดุฏุง .. ูˆุฃุดู‡ุฏ ุฃู† ู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุญุฏู‡ ู„ุง ุดุฑูŠูƒ ู„ู‡ ู‡ูˆ ุญุณุจู†ุง ูˆู†ุนู… ุงู„ูˆูƒูŠู„….ูˆ ุฃุดู‡ุฏ ุฃู† ู…ุญู…ุฏุง ุนุจุฏู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡ ู‡ูˆ ู‚ุงุฆุฏู†ุง ูˆ ุฃุณูˆุชู†ุง ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุณู„ู… ุนู„ูŠู‡ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆ ุฃุตุญุงุจู‡ ูˆ ุฃุชุจุงุนู‡ ุฅู„ู‰ ูŠูˆู… ุงู„ุฏูŠู†…ูˆุจุนุฏ:

Ini adalah lembaran-lembaran yang telah saya tulis dengan singkat sebelum menjelang tibanya masa pemilihan para anggota parlemen (majlis/dewan perwakilan rakyat) yang syirik itu. Dan parlemen (dewan/majlis) itu ada setelah manusia terfitnah (terpedaya) dengan fitnah demokrasi dan adanya pembelaan secara mati-matian yang dilakukan oleh para penghusungnya dari kalangan thaghut-thaghut yang di mana mereka itu sudah lepas dari ikatan Islam, atau bahkan dibela oleh sebagian kalangan yang katanya ahli agama dan sebagai juru dakwah[1]…,mereka kaburkan kebatilan dengan kebenaran, terkadang mereka menamakan demokrasi ini sebagai kebebasan, terkadang juga mereka menamakannya sebagai syuraa (musyawarah),[2] terkadang mereka berdalih dengan jabatan Yusuf ‘alaihissalam di sisi rajanya, terkadang mereka berdalih juga dengan kekuasaan Najasyi… dan terkadang berdalih dengan dalih maslahat[3] dan istihsan (anggapan baik)…dengan dalih-dalih itu mereka mengaburkan kebenaran dengan kebatilan di hadapan orang-orang bodoh (awam), dan mencampuradukan cahaya dengan kegelapan, syirik dengan tauhid dan Islam.[4]

Syubhat-syubhat itu dengan taufiq Allah telah kami bantah, dan kami juga telah menjelaskan bahwa demokrasi itu adalah agama baru di luar agama Allah dan ajaran yang bersebrangan dengan tauhid, dan kami juga telah menegaskan bahwa majlis-majlis perwakilannya itu tidak lain kecuali adalah lembaga kemusyrikan dan sarang bagi paganisme yang wajib dijauhi demi merealisasikan tauhid yang merupakan kewajiban hamba terhadap Allah, bahkan wajib berusaha untuk menghancurkan (sarang dan lembaga kemusyrikan) itu, memusuhi orang-orangnya, membencinya, dan memeranginya. Dan hal ini semua bukanlah masalah ijtihadiyyah sebagaimana yang sering didengungkan oleh sebagian orang yang suka mengkaburkan kebenaran[5]…,akan tetapi ini adalah kemusyrikan yang jelas lagi terang dan kekafiran yang nampak lagi tidak diragukan yang telah Allah subhaanahu wa ta’aala hati-hatikan darinya di dalam Al Qur’an, dan telah diperangi oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam selama hidupnya.

Wahai muwahhid berusahalah engkau untuk menjadi bagian dari para pengikut Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para penolong (agama)nya yang selalu memerangi kemusyrikan dan para pemeluknya. Bersegeralah engkau pada saat keterasingan ini untuk bergabung dengan rombongan kelompok yang selalu menegakan dinullah subhaanahu wa ta’aala yang telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang kelompok itu: Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku ini mereka menegakan perintah Allah, orang-orang yang mengucilkan dan menyelisihi mereka tidak membuat mereka gentar hingga datang ketentuan Allah,” semoga Allah menjadikan saya dan engkau termasuk kolompok itu. Dan segala puji di awal dan di akhir adalah hanya milik Allah.

Ditulis oleh:

Abu Muhammad ‘Ashim Al Maqdisiy




PASAL

PENJELASAN TENTANG INTI POKOK DAN TUJUAN UTAMA PENCIPTAAN, PENURUNAN KITAB-KITAB, DAKWAH PARA RASUL, MILLAH IBRAHIM, DAN AL ‘URWATIL WUTSQA YANG MERUPAKAN JALAN SELAMAT

Ketahuilah wahai saudaraku semoga Allah ta’alaa merahmatimu sesungguhnya kepala segala urusan, intinya, dan tiangnya, serta sesuatu yang paling pertama kali Allah fardlukan atas anak Adam untuk mempelajarinya dan mengamalkannya sebelum shalat, zakat, serta ibadah-ibadah lainnya adalah kafir kepada thaghut dan menjauhinya, serta memurnikan tauhid hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’aala saja. Karena untuk tujuan itu maka Allah menciptakan makhluk-Nya, mengutus rasul-rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, serta Allah mensyari’atkan jihad dan mati syahid (istisyhad)…… dan karenanya terjadilah pertikaian antara auliyaaurrahman dengan auliyaausysyaithan, serta untuk mencapai hal itu berdirilah daulah Islamiyyah dan khilafah rasyidah… Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:

ูˆ ู…ุง ุฎู„ู‚ุช ุงู„ุฌู† ูˆ ุงู„ุฅู†ุณ ุฅู„ุง ู„ูŠุนุจุฏูˆู†

Dan Aku tidak menciptakan jin lagi manusia melainkan supaya mereka menyembahku. (Adzdzriyaat : 56)

Yaitu untuk supaya kalia beribadah kepada-Ku saja. Dan firman-Nya subhaanahu wa ta’aala:

ูˆูŽู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุจูŽุนูŽุซู’ู†ูŽุง ูููŠู’ ูƒูู„ู‘ู ุฃูู…ู‘ูŽุฉู ุฑูŽุณููˆู’ู„ุงู‹ ุฃูŽู†ู ุงุนู’ุจูุฏููˆุง ุงู„ู„ู‡ูŽ ูˆูŽุงุฌู’ุชูŽู†ูุจููˆุง ุงู„ุทู‘ูŽุงุบููˆู’ุชูŽ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu,”(An Nahl : 36)

Dan hal ini adalah ikatan paling agung dari ikatan-ikatan Islam. Dakwah, jihad, shalat, shaum, zakat, dan haji tidak mungkin diterima tanpa hal di atas itu. Orang tidak mungkin selamat dari api neraka tanpa berpegang erat terhadapnya, karena hal itu (kufur kepada thaghut dan iman kepada Allah) adalah satu-satunya ikatan yang telah dijamin oleh Allah bahwa itu tidak mungkin lepas…… adapun selain itu berupa ikatan-ikatan agama dan syari’at-syari’atnya, maka itu tidak cukup dengan sendirinya untuk bisa menyelamatkan tanpa adanya al ‘urwatul wutsqa…… Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:

ู‚ุฏ ุชุจูŠู† ุงู„ุฑุดุฏ ู…ู† ุงู„ุบูŠ ููŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽูƒู’ููุฑู’ ุจูุงู„ุทู‘ูŽุงุบููˆู’ุชู ูˆูŽูŠูุคู’ู…ูู†ู’ ุจูุงู„ู„ู‡ู ููŽู‚ูŽุฏู ุงุณู’ุชูŽู…ู’ุณูŽูƒูŽ ุจูุงู„ู’ุนูุฑู’ูˆูŽุฉู ุงู„ู’ูˆูุซู’ู‚ูŽู‰ ู„ุงูŽ ุงู†ู’ููุตูŽุงู…ูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู ุณูŽู…ููŠู’ุนูŒ ุนูŽู„ููŠู’ู…ูŒ

“Telah jelas rusydu dari ghayy, karena itu barangsiapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus”(Al Baqarah : 256)

Dan firman-Nya subhaanahu wa ta’aala:

ูˆุงู„ุฐูŠู† ุงุฌุชู†ุจูˆุง ุงู„ุทุงุบูˆุช ุฃู† ูŠุนุจุฏูˆู‡ุง ูˆ ุฃู†ุงุจูˆุง ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ู„ู‡ู… ุงู„ุจุดุฑู‰ ูุจุดุฑ ุนุจุงุฏ

Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira, sebab itu sampaikan berita itu kepada hamba-hamba-Ku.(Az Zumar: 17)

Perhatikanlah dalam ayat-ayat itu, bagaimana Allah mendahulukan penyebutan kufur kepada thaghut dan menjauhinya atas iman kepada Allah dan inabah kepada-Nya subhaanahu wa ta’aala…… ini sama persis dengan pengedepanan nafyu atas itsbat dalam kalimah tauhid Laa ilaaha Illallaah…… ini dilakukan tidak lain kecuali untuk mengingatkan terhadap rukun yang sangat agung dari al ‘urwatul wutsqa, sehingga tidak sah keimanan kepada Allah dan tidak bermanfaat kecuali bila didahului dengan kufur kepada thaghut.

Thaghut yang wajib engkau kafir kepadanya dan menjauhi dari mengibadatinya supaya engkau bisa berpegang kepada tali penyelamat yang sangat kokoh bukanlah hanya terbatas kepada batu, patung, pohon, kuburan yang disembah dengan sujud, rukuk, permohonan, nadzar, atau thawaf saja……akan tetapi lebih luas cakupannya dari itu semua… sehingga mencakup:(Segala sesuatu yang disembah selain Allah subhaanahu wa ta’aala dengan bentuk ibadah apa saja sedang dia tidak mengingkarinya).[6]

Thaghut itu diambil dari kosa kata thughyaan yang maknanya adalah melampaui batas makhluk yang telah Allah batasi tujuan penciptaannya. Sedangkan ibadah itu adalah bermacam-macam, sebagaimana sujud, rukuk, doa, nadzar, dan penyembelihan adalah ibadah, maka begitu juga taat dalam tasyri’ (pembuatan hukum/aturan/undang-undang) adalah ibadah juga…… Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman tentang orang-orang nasrani:

ุงุชุฎุฐูˆุง ุฃุญุจุงุฑู‡ู… ูˆ ุฑู‡ุจุงู†ู‡ู… ุฃุฑุจุงุจุง ู…ู† ุฏูˆู† ุงู„ู„ู‡

Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.[7](At-Taubah : 31)

Sedangkan orang-orang nasrani itu tidak pernah sujud atau rukuk terhadap para ulama mereka…… akan tetapi mereka mentaati para ulama itu dalam penghalalan yang haram dan dalam pengharaman yang halal, serta sepakat dengan mereka atas hal itu, maka Allah menjadikan perlakuan mereka itu sebagai bentuk menjadikan para ulama dan pendeta sebagai arbaab (tuhan)…… karena taat dalam tasyri’ itu adalah ibadah yang tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah…… sehingga bila seseorang memalingkannya kepada selain Allah subhaanahu wa ta’aala meskipun dalam satu hukum saja maka dia itu menjadi orang musyrik…

Dan hal ini dibuktikan secara gamblang dengan munaadharah (perdebatan) yang pernah terjadi pada zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam antara auliyaaurrahman dengan auliyaausysyaithan tentang masalah bangkai dan pengharamannya, dimana orang-orang musyrik berusaha meyakinkan kaum muslimin bahwa tidak ada perbedaan antara kambing yang disembelih oleh kaum muslimin dengan kambing yang mati sendiri dengan dalih dan syubhat bahwa bangkai itu tidak lain adalah sembelihan Allah subhaanahu wa ta’aala, maka Allah menurunkan keputusan-Nya tentang kejadian ini dari atas langit yang ketujuh, Dia berfirman:

ูˆุฅู† ุฃุทุนุชู…ูˆู‡ู… ุฅู†ูƒู… ู„ู…ุดุฑูƒูˆู†

Dan bila kalian mentaati mereka maka sungguh kalian adalah orang-orang musyrik.[8](Al-An’am : 121)

Termasuk kategori thaghut adalah setiap orang yang memposisikan dirinya sebagai musyarri’ (pembuat hukum dan perundang-undangan) bersama Allah, baik dia itu sebagai pemimpin atau rakyat, baik dia itu sebagai wakil rakyat dalam lembaga legislatif atau orang yang diwakilinya dari kalangan orang-orang yang memilihnya (ikut pemilu)…… karena dia dengan perbuatan itu telah melampaui batas yang telah Allah subhaanahu wa ta’aala ciptakan baginya, sebab dia itu diciptakan sebagai hamba Allah, dan Tuhannya memerintahkan dia untuk tunduk berserah diri kepada syari’at-Nya, namun dia enggan, menyombongkan diri, dan melampaui batas-batas Allah subhaanahu wa ta’aala, dia justru ingin menjadikan dirinya sebagai tandingan bagi Allah dan menyekutui-Nya dalam wewenang tasyri’ (penetapan hukum dan perundang-undangan) yang padahal hal itu tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah subhaanahu wa ta’aala ……… dan barangsiapa melakukan hal itu maka dia telah menjadikan dirinya sebagai ilaah musyarri’ (tuhan yang membuat hukum), sedangkan orang seperti tidak diragukan lagi merupakan bagian dari ru’uusuththawaghiit (pentolan-pentolan thaghut) yang di mana tauhid dan Islam seseorang tidak sah sehingga dia kafir kepada thaghut itu, menjauhinya, serta bara’ah (berlepas diri) dari para penyembahnya dan dari para bala tentaranya….

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:

ูŠูุฑููŠุฏููˆู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุชูŽุญูŽุงูƒูŽู…ููˆุง ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุทู‘ูŽุงุบููˆุชู ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูู…ูุฑููˆุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒู’ููุฑููˆุง ุจูู‡ู

Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. .” (Qs: An-Nisaa’: 60)

Mujahid berkata: Thaghut adalah setan berbentuk manusia yang di mana manusia merujuk hukum kepadanya, sedangkan dia adalah yang memegang kendali mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: Oleh sebab itu orang yang memutuskan hukum dengan selain Kitabullah yang dimana dia itu menjadi rujukan hukum dia itu dinamakan thaghut.[9]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Thaghut adalah segala sesuatu yang dilampaui batasnya oleh si hamba, baik dia itu yang disembah, atau yang diikuti, atau yang ditaati, sehingga thaghut setiap kaum adalah orang yang mereka jadikan sebagai rujukan hukum selain Allah dan Rasul-Nya, atau yang mereka sembah selain Allah, atau yang mereka ikuti tanpa ada landasan dalil dari Allah, atau orang yang mereka taati dalam hal yang tidak mereka ketahui bahwa itu adalah bentuk ketaatan kepada Allah.

Beliau berkata lagi: Siapa yang merujuk hukum atau mengadukan perkara hukum kepada selain apa yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam maka berarti dia itu telah merujuk hukum dan mengadukan perkara hukum kepada thaghut.[10]

Dan di antara macam thaghut yang disembah selain Allah subhaanahu wa ta’aala pada zaman sekarang, dan yang menjadi kewajiban atas setiap muwahhid untuk kafir kepadanya dan berlepas diri darinya serta dari para pengikutnya supaya dia bisa berpegang kepada al ‘urwatul wutsqa dan selamat dari api neraka adalah tuhan-tuhan yang palsu dan arbaab yang dipertuhankan yang telah dijadikan oleh banyak manusia sebagai syurakaa musyarri’iin (sekutu-sekutu yang membuat hukum dan perundang-undangan) selain Allah subhaanahu wa ta’aala ….

ุฃูŽู…ู’ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุดูุฑูŽูƒูŽุงุกู ุดูŽุฑูŽุนููˆุง ู„ูŽู‡ูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏู‘ููŠู†ู ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฃู’ุฐูŽู†ู’ ุจูู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆู„ูˆู„ุง ูƒู„ู…ุฉ ุงู„ูุตู„ ู„ู‚ุถูŠ ุจูŠู†ู‡ู…

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. ” (Qs: Asy-Syuura: 21)

Ini karena mereka mengikuti mereka dalam rangka menjadikan tasyri’ (membuat hukum dan undang-undang) sebagai wewenang dan hak/tugas mereka dan parlemen mereka, dan lembaga-lembaga hukum mereka, baik yang bersifat internasional, regional, ataupun yang nasional (lokal)…dan mereka tegas-tegasan menuangkan hak wewenang itu dalam undang-undang dan peraturan mereka, dan hal itu adalah sesuatu yang sudah dikenal lagi masyhur di kalangan mereka[11] sehingga dengan sebab itu mereka menjadi arbaab (tuhan) bagi orang-orang yang mentaatinya, mengikutinya, dan yang sepakat bersama mereka atas kekafiran dan kemusyrikan yang terang ini, sebagaimana yang telah Allah voniskan terhadap orang-orang nasrani tatkala mereka mengikuti para ulama dan para pendeta mereka dalam hal seperti itu…bahkan keadaan mereka (para anggota parlemen dan yang sejalan dengannya) lebih jahat dan lebih busuk, karena sesungguhnya para ulama nasrani melakukannya dan bersekongkol di atas hal itu tanpa menjadikannya sebagai qanuun (undang-undang dasar), tanpa menyusunnya sedemikian rupa, dan tanpa membukukannya menjadi kitab undang-undang hukum yang bila ada yang menyalahinya atau mencelanya dikenakan hukuman, serta menjadikannya sebagai tandingan Kitab Allah, bahkan menjadikannya lebih tinggi dari Kitabullah, sebagaimana halnya keadaan mereka (para anggota parlemen/ majelis/dewan perwakilan rakyat dan para penghusungnya).

Bila engkau telah paham ini, maka ketahuilah sesungguhnya derajat teragung dalam berpegang teguh akan al ‘urwatul wutsqa serta tingkatan tertinggi dalam kafir terhadap thaghut adalah jihad (yang merupakan puncak Islam) memerangi sistem ini dan memerangi para penghusungnya dan para pengikutnya, berupaya untuk menghancurkannya, serta berusaha mengeluarkan manusia dari penghambaan terhadapnya kepada penghambaan terhadap Allah subhaanahu wa ta’aala saja. Dan di antara bentuk jihad ini adalah menyebarkan dengan gencar kebenaran ini secara terang-terangan dan meneriakannya sebagaimana yang telah dilakoni dan dijalani oleh para nabi, jalan yang telah Allah subhaanahu wa ta’aala jelaskan kepada kita dengan penjelasan yang sangat gamblang tatkala Allah memerintahkan kita untuk mengikuti millah Ibrahim dan dakwahnya, Dia berfirman:

ู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฃูุณู’ูˆูŽุฉูŒ ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉูŒ ูููŠู’ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู’ู…ูŽ ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ู…ูŽุนูŽู‡ูŽ ุฅูุฐู’ ู‚ูŽุงู„ููˆู’ุง ู„ูู‚ูŽูˆู’ู…ูู‡ูู…ู’ ุฅูู†ู‘ูŽุง ุจูุฑูŽุขุกู ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽู…ูู…ู‘ูŽุง ุชูŽุนู’ุจูุฏููˆู’ู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฏููˆู’ู†ู ุงู„ู„ู‡ู ูƒูŽููŽุฑู’ู†ูŽุง ุจููƒูู…ู’ ูˆูŽุจูŽุฏูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽู†ูŽุง ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽูƒูู…ู ุงู„ู’ุนูŽุฏูŽุงูˆูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุบู’ุถูŽุงุกู ุฃูŽุจูŽุฏู‹ุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูุคู’ู…ูู†ููˆู’ุง ุจูุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia[12]; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,”(Al Mumtahanah: 4)

Firman-Nya: Badaa artinya adalah nampak dan jelas…

Perhatikan ungkapan permusuhan yang didahulukan terhadap kebencian, karena sesungguhnya permusuhan adalah yang paling penting, sebab terkadang ada orang yang membenci para auliyaa (penghusung) thaghut, namun dia tidak memusuhi mereka, maka dengan demikian orang itu tidak merealisasikan kewajiban dia sehingga dia melakukan permusuhan dan kebencian terhadap mereka.

Dan coba perhatikan, bagaimana Allah menyebutkan terlebih dahulu bara’ah (berlepas diri) mereka dari kaum musyrikin itu sebelum penyebutan bara’ah mereka dari apa yang mereka sembah, ini dikarenakan yang pertama lebih utama daripada yang kedua, dan ini disebabkan karena sesungguhnya banyak sekali manusia yang bara’ah (berlepas diri) dari berhala, thaghut-thaghut, dasaatiir (peraturan-peraturan), qawaaniin (undang-undang), dan agama-agama yang batil, namun mereka tidak berlepas diri dari para penyembahnya, para penghusungnya, serta bala tentaranya, maka berarti dia itu tidak merealisasikan kewajiban[13]. Akan tetapi bila dia berlepas diri dari para penyembahnya yang musyrik itu maka secara otomatis mengharuskan dia untuk bara’ah dari hal-hal yang disembahnya, dan dari ajarannya yang batil.[14]

Adapun tingkatan kewajiban yang paling rendah yang harus direalisasikan oleh setiap mukallaf, dan dia tidak mungkin selamat (dari siksa kekal api neraka) kecuali dengannya, hal itu adalah menjauhi thaghut dan tidak menyembahnya, atau (tidak) mengikutinya di atas kemusyrikan dan kebatilannya. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:

ูˆูŽู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุจูŽุนูŽุซู’ู†ูŽุง ูููŠู’ ูƒูู„ู‘ู ุฃูู…ู‘ูŽุฉู ุฑูŽุณููˆู’ู„ุงู‹ ุฃูŽู†ู ุงุนู’ุจูุฏููˆุง ุงู„ู„ู‡ูŽ ูˆูŽุงุฌู’ุชูŽู†ูุจููˆุง ุงู„ุทู‘ูŽุงุบููˆู’ุชูŽ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu,”(An Nahl : 36)

Dan firman-Nya subhaanahu wa ta’aala:

ูˆุงุฌุชู†ุจูˆุง ุงู„ุฑุฌุณ ู…ู† ุงู„ุฃูˆุซุงู†

Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu” Al Hajj: 30.

Dan firman-Nya subhaanahu wa ta’aala:

ูˆุงุฌู†ุจู†ูŠ ูˆุจู†ูŠ ุฃู† ู†ุนุจุฏ ุงู„ุฃุตู†ุงู…

Dan jauhkanlah aku berserta anak-cucuku dari menyembah berhala-berhala” Ibrahim : 35.

Dan hal ini bila tidak direalisasikan oleh seseorang di dunia ini yaitu dia menjauhi thaghut, dan menjauhi ibadah kepadanya atau mengikutinya sekarang di dunia, maka di akhirat dia pasti berada dalam jajaran golongan yang merugi…saat itu amalan-amalan agama yang dia amalkan tidak bermanfaat dan tidak berguna sedikitpun bila dia di dunia menyepelekan pokok yang paling mendasar tersebut. Dia akan menyesal saat penyesalan sudah tidak berguna lagi, dia akan berangan-angan untuk bisa dikembalikan ke dunia ini supaya bisa merealisasikan rukun yang maha agung ini dan agar bisa memegang teguh al ‘urwatul wutsqa, serta mengikuti millah yang maha agung ini. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:

ุฅุฐ ุชุจุฑุฃ ุงู„ุฐูŠู† ุงุชุจุนูˆุง ู…ู† ุงู„ุฐูŠู† ุงุชุจุนูˆุง ูˆ ุฑุฃูˆุง ุงู„ุนุฐุงุจ ูˆุชู‚ุทุนุช ุจู‡ู… ุงู„ุฃุณุจุงุจ . ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุฐูŠู† ุงุชุจุนูˆุง ู„ูˆ ุฃู† ู„ู†ุง ูƒุฑุฉ ูู†ุชุจุฑุฃ ู…ู†ู‡ู… ูƒู…ุง ุชุจุฑุกูˆุง ู…ู†ุง ูƒุฐู„ูƒ ูŠุฑูŠู‡ู… ุงู„ู„ู‡ ุฃุนู…ุงู„ู‡ู… ุญุณุฑุงุช ุนู„ูŠู‡ู… ูˆู…ุง ู‡ู… ุจุฎุงุฑุฌุจู† ู…ู† ุงู„ู†ุงุฑ

(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya dan mereka melihat siksa dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti” Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami”. Demikian Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka, dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka. Al Baqarah: 166-167.

Akan tetapi mana mungkin itu bisa terjadi, kesempatan telah tiada, dan tidak mungkin bisa kembali ke dunia. Bila engkau hai hamba Allah ingin selamat dan mengharap rahmat Tuhan-mu yang telah Dia tetapkan bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa, maka jauhilah thaghut-thaghut itu semuanya, dan hindari kemusyrikan mereka itu sekarang juga, karena sesungguhnya tidak ada yang bisa menjauhi mereka di hari kiamat dan tidak bisa selamat dari tempat kembali mereka di akhirat kecuali orang yang meninggalkan dan menjauhi mereka di dunia ini. Adapun orang yang ridla dengan dien mereka yang bathil dan mengikutinya di atas kebatilannya maka sesungguhnya di hari kiamat ada penyeru yang menyerukan: (Siapa yang menyembah sesuatu maka hendaklah dia mengikutinya,” maka yang dahulunya menyembah matahari diapun mengikuti matahari, orang yang dahulunya menyembah bulan diapun mengikuti bulan, dan orang yang dahulunya menyembah thaghut maka diapun mengikuti thaghut….) hingga perkataannya dalam hadits tentang orang-orang mukmin saat dikatakan kepada mereka: (Apa yang membuat kalian tertahan sedangkan orang-orang sudah pergi? Maka mereka mengatakan: Faaraqnaahum wa nahnu ahwaju minnaa ilaihi al yaum, dan sesungguhnya kami mendengar penyeru yang menyerukan: Hendaklah setiap kaum bergabung dengan apa yang pernah mereka sembah, sedangkan kami hanyalah menunggu Rab kami.”[15]

Perhatikan ungkapan kaum mukminin: (Faraqnaahum wa nahnu ahwaju minnaa ilaihi) yaitu kami telah meninggalkan mereka di dunia… sedangkan kami sangat membutuhkan kepada dirham, dan dinar serta kedudukan mereka di dunia…maka bagaimana kami tidak meninggalkan mereka itu di hari yang sangat agung ini. Di dalam hadits ini ada penjelasan sebagian rambu-rambu perjalan…. Dan di antaranya adalah firman Allah subhaanahu wa ta’aala:

ุงุญุดุฑูˆุง ุงู„ุฐูŠู† ุธู„ู…ูˆุง ูˆุฃุฒูˆุงุฌู‡ู… ูˆู…ุง ูƒุงู†ูˆุง ูŠุนุจุฏูˆู†

(Kepada malaikat diperintahkan):”Kumpulkanlah orang-orang yang dhalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah.Ash Shaffat: 22

Ajwaajahum adalah sejawat mereka, teman-teman mereka, kelompok mereka, dan para pendukung mereka di atas kebatilannya, kemudian Allah subhaanahu wa ta’aala mengatakan:

ูุฅู†ู‡ู… ูŠูˆู…ุฆุฐ ููŠ ุงู„ุนุฐุงุจ ู…ุดุชุฑูƒูˆู† ุฅู†ุง ูƒุฐู„ูƒ ู†ูุนู„ ุจุงู„ู…ุฌุฑู…ูŠู† ุฅู†ู‡ู… ูƒุงู†ูˆุง ุฅุฐุง ู‚ูŠู„ ู„ู‡ู… ู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูŠุณุชูƒุจุฑูˆู†

Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam adzab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka” Laa ilaaha Illallaah” mereka menyombongkan diri.”Ash Shaffat: 33-35.

Janganlah kamu wahai hamba Allah sekali-kali berpaling dari kalimah tauhid, dan menyepelekan dalam menetapkan apa yang ditetapkan oleh kalimat itu serta (menyepelekan) dalam menafikan apa yang dinafikan oleh kalimat itu. Janganlah kamu sekali-kali menyombongkan diri dari mengikuti kebenaran, serta janganlah kamu bersikeras untuk tetap membela thaghut, maka berarti kamu pasti bakal binasa bersama orang-orang yang binasa dan kamu menyertai ke dalam tempat kembali mereka.

Kemudian ketahuilah sesungguhnya Allah telah menjamin tauhid yang murni ini serta pokok yang paling inti ini, yaitu dinul Islam. Allah telah memilihkannya bagi hamba-hamba-Nya yang bertauhid, siapa orang yang datang membawa tauhid maka diterimalah semua amalannya, dan barangsiapa membawa ajaran selainnya maka Allah menolaknya dan dia tergolong orang yang rugi…Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:

ูˆูˆุตู‰ ุจู‡ุง ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ุจู†ูŠู‡ ูˆูŠุนู‚ูˆุจ ูŠุง ุจู†ูŠ ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ุงุตุทูู‰ ู„ูƒู… ุงู„ุฏูŠู† ูู„ุง ุชู…ูˆุชู† ุฅู„ุง ูˆ ุฃู†ุชู… ู…ุณู„ู…ูˆู†

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata)”Hai anak-anakku sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kami mati kecuali dalam memeluk agama Islam.”Al Baqarah: 132.

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:

ุฅู† ุงู„ุฏูŠู† ุนู†ุฏ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฅุณู„ุงู…

Sesungguhnya agama (yang diridlai) di sisi Allah hanyalah Islam.” Ali Imran: 19.

Dan firman-Nya subhaanahu wa ta’aala:

ูˆู…ู† ูŠุจุชุบ ุบุจุฑ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ุฏูŠู†ุง ูู„ู† ูŠู‚ุจู„ ู…ู†ู‡ ูˆู‡ูˆ ููŠ ุงู„ุขุฎุฑุฉ ู…ู† ุงู„ุฎุงุณุฑูŠู†

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi. Ali Imran 85.

Janganlah kamu membatasi kata agama itu hanya pada kristen, yahudi dan yang lainnya… sehingga kamu justeru mengikuti agama-agama lain yang sesat, maka kamupun tersesat. (Ketahuilah) sesungguhnya kata agama (dien) itu mencakup segala paham (millah), jalan hidup (manhaj), atau aturan hukum, atau undang-undang yang dijadikan rujukan oleh umat manusia dan mereka merujuk kepadanya. Sesungguhnya semua itu adalah agama-agama yang kamu wajib bara’ah darinya, menjauhinya, serta kafir terhadapnya, dan menjauhi orang-orangnya….kecuali millah tauhid dan dinul Islam. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman seraya memerintahkan kita untuk mengatakan kepada seluruh orang-orang kafir dengan berbagai macam ajaran dan agamanya:

ู‚ู„ ูŠุง ุฃูŠู‡ุง ุงู„ูƒุงูุฑูˆู† . ู„ุง ุฃุนุจุฏ ู…ุง ุชุนุจุฏูˆู† . ูˆู„ุง ุฃู†ุชู… ุนุงุจุฏูˆู† ู…ุง ุฃุนุจุฏ . ูˆู„ุง ุฃู†ุง ุนุงุจุฏ ู…ุง ุนุจุฏุชู… . ูˆู„ุง ุฃู†ุชู… ุนุงุจุฏูˆู† ู…ุง ุฃุนุจุฏ . ู„ูƒู… ุฏูŠู†ูƒู… ูˆู„ูŠ ุฏูŠู† .

Katakan:”Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan Yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku. Al Kafirun.

Setiap agama/ajaran dari agama-agama kekufuran telah menghimpun aturan dan jalan hidup yang bersebrangan lagi bertentangan dengan dienul Islam. Aturan itu adalah agama yang mereka ridlai, sehingga mencakup di dalamnya: Komunis, Sosialis, Sekuler, Bath dan aliran dan paham baru lainnya yang diada-adakan oleh manusia dengan pemikirannya yang rendah serta mereka rela untuk dijadikannya sebagai jalan hidup mereka. Dan di antara paham itu adalah apa yang dinamakan Demokrasi. Sesungguhnya demokrasi adalah satu agama di luar agama Allah subhaanahu wa ta’aala. Berikutnya silahkan engkau baca penjelasan singkat tentang kesesatan agama baru ini yang telah membuat banyak manusia tertipu dengannya, bahkan banyak dari kalangan yang mengaku Islam, supaya engkau mengetahui bahwa agama baru ini adalah bukan millah tauhid dan justru merupakan salah satu jalan dari jalan-jalan yang menyimpang yang di mana di setiap persimpangan jalan itu ada setan yang mengajak untuk masuk ke neraka, maka seharusnya engkau menjauhinya dan mengajak orang lain untuk menjauhinya. Hal itu merupakan:

Peringatan bagi kaum mukminin.

Pengingat bagi orang-orang yang lalai

Sebagai penegakan hujjah atas orang-orang yang mu’aanid (membangkang).

Serta sebagai alasanmu di hadapan Rabbul ‘Alamiin.

PASAL

Demokrasi adalah agama kafir buatan, dan pemeluknya ada yang berstatus sebagai tuhan yang membuat hukum serta ada yang berstatus sebagai pengikut yang menyembah tuhan-tuhannya itu.



Ketahuilah sesungguhnya kata demokrasi yang busuk ini di ambil dari bahasa Yunani bukan dari bahasa Arab. Kata ini merupakan ringkasan dari gabungan dua kata: (Demos) yang berarti rakyat dan (kratos) yang berarti hukum atau kekuasaan atau wewenang membuat aturan (tasyrii’). Jadi terjemahan harfiyyah dari kata demokrasi adalah: Hukum rakyat, atau kekuasaan rakyat atau tasyri’ rakyat.

Dan makna itu merupakan makna demokrasi yang paling esensial menurut para penghusungnya. Karena makna inilah mereka selalu bangga dengan memujinya, padahal makna ini (hukum, tasyri’ dan kekuasaan rakyat) wahai saudaraku muwahhid pada waktu yang bersamaan merupakan salah satu dari sekian ciri khusus kekafiran, kemusyrikan serta kebatilan yang sangat bertentangan dan bersebrangan dengan dienul Islam dan millatuttauhid, karena engkau telah mengetahui dari uraian sebelumnya bahwa inti dari segala inti yang karenanya Allah menciptakan makhluk-Nya, dan menurunkan Kitab-Kitab-Nya serta mengutus Rasul-Rasul-Nya, dan yang merupakan ikatan yang paling agung di dalam Islam ini, yaitu adalah tauhidul ibadah kepada Allah subhaanahu wa ta’aala saja dan menjauhi ibadah kepada selain-Nya. Dan karena sesungguhnya taat dalam tasyri’ merupakan bagian dari ibadah yang wajib hanya ditujukan kepada Allah semata, dan kalau seandainya orang tidak merealisasikannya maka dia itu menjadi orang musyrik yang digiring bersama orang-orang yang binasa.

Ciri khusus ini sama saja baik diterapkan dalam demokrasi sesuai dengan ajaran demokrasi itu yang sebenarnya, sehingga keputusan (hukum) yang dirujuk itu adalah diserahkan kepada seluruh rakyat atau mayoritas mereka,[16] sebagaimana yang menjadi impian tertinggi para demokrat dari kalangan orang-orang sekuler atau orang-orang yang mengaku Islam….atau hal itu (ciri khusus demokrasi) diterapkan seperti yang ada pada kenyataannya sekarang, di mana demokrasi itu (pada prakteknya) adalah keputusan (hukum) segolongan para penguasa dan kroni-kroninya dari kalangan keluarga dekatnya, atau para pengusaha besar dan konglomerat yang di mana mereka menguasai modal-modal usaha dan sarana-sarana informasi yang dengan perantaraannya mereka bisa mendapatkan kursi atau memberikan kursi parlemen (yang merupakan sarang kemusyrikan) kepada orang-orang yang mereka sukai, sebagaimana tuhan mereka (sang raja atau amir (presiden)) bisa kapan saja dan bagaimana saja alasannya membubarkan dan memberlangsungkan majelis (syirik) itu.

Jadi demokrasi dengan sisi mana saja dari kedua sisi (praktek) itu merupakan kekafiran terhadap Allah Yang Maha Agung, dan syirik terhadap Rab langit dan bumi, serta bertentangan dengan millatuttauhid dan dien para Rasul, berdasarkan alasan-alasan yang banyak, di antaranya:

Sesungguhnya demokrasi adalah tasyrii’ul jamaahiir (penyandaran wewenang hukum kepada rakyat/atau mayoritasnya) atau hukum thaghut, dan bukan hukum Allah subhaanahu wa ta’aala, sedangkan Allah subhaanahu wa ta’aala memerintahkan Nabi-Nya untuk menghukumi sesuai dengan apa yang telah Dia turunkan kepadanya, serta Dia melarangnya dari mengikuti keinginan umat, atau mayoritas orang atau rakyat, Dia menghati-hatikan Nabi-Nya agar jangan sampai mereka memalingkan dia dari apa yang telah Allah turunkan kepadanya, Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:
ูˆูŽุฃูŽู†ู ุงุญู’ูƒูู…ู’ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’ ุจูู…ูŽุง ุฃูŽู†ู’ุฒูŽู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุชู‘ูŽุจูุนู’ ุฃูŽู‡ู’ูˆูŽุงุกูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽุงุญู’ุฐูŽุฑู’ู‡ูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูู’ุชูู†ููˆูƒูŽ ุนูŽู†ู’ ุจูŽุนู’ุถู ู…ูŽุง ุฃูŽู†ู’ุฒูŽู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูŽ

“”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. (Qs: Al-Maaidah:49).

Ini dalam ajaran tauhid dan dinul Islam.

Adapun dalam agama demokrasi ada ajaran syirik, maka para penyembahnya berkata: Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diinginkan rakyat, dan ikutilah keinginan mereka. Dan berhati-hatilah kamu jangan sampai kamu dipalingkan dari apa yang mereka inginkan dan mereka tetapkan hukumnya.” Begitulah mereka katakan dan inilah yang diajarkan dan ditetapkan oleh agama demokrasi. Ini merupakan kekafiran yang jelas dan kemusyrikan yang terang bila mereka menerapkannya,[17] namun demikian sesungguhnya kenyataan mereka lebih busuk dari itu, sebab bila seseorang mau mengatakan tentang keadaan praktek mereka tentu dia pasti mengatakan: Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diinginkan oleh para thaghut dan kroni-kroninya, dan janganlah satu hukum dan satu undang-undang dibuat kecuali setelah ada pengesahan dan persetujuannya…!!!

Sungguh ini adalah kesesatan yang terang lagi nyata, bahkan penyekutuan (Khalik) dengan hamba secara aniaya.

Karena sesungguhnya itu adalah hukum rakyat atau thaghut yang sesuai dengan undang-undang dasar, bukan yang sesuai dengan syari’at Allah subhaanahu wa ta’aala. Begitulah yang ditegaskan oleh undang-undang dasar dan buku-buku panduan[18] mereka yang mereka sakralkan dan mereka sucikan lebih dari pensucian mereka terhadap Al Qur’an dengan bukti bahwa hukum undang-undang itu lebih didahulukan terhadap hukum dan syari’at Al Qur’an lagi mendiktenya. Rakyat dalam agama demokrasi, hukum dan perundang-undangan yang mereka buat tidak bisa diterima – bila memang mereka memutuskan – kecuali bila keputusan itu berdasarkan nash-nash undang-undang dasar dan sesuai dengan materi-materinya, karena undang-undang itu adalah bapak segala peraturan dan perundang-undangan serta kitab hukumnya yang mereka jungjung tinggi……[19]. Dalam agama demokrasi ini ayat-ayat Al Qur’an atau hadits-hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak begitu dianggap, dan tidak mungkin suatu hukum atau undang-undang ditetapkan sesuai dengan ayat atau hadits kecuali bila hal itu sejalan dengan nash-nash undang-undang dasar yang mereka jungjung tinggi… silahkan engkau tanyakan hal itu kepada para pakar hukum dan perundang-undangan bila engkau masih ragu tentangnya!! Sedangkan Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:
ููŽุฅูู†ู’ ุชูŽู†ูŽุงุฒูŽุนู’ุชูู…ู’ ูููŠ ุดูŽูŠู’ุกู ููŽุฑูุฏู‘ููˆู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ู ุฅูู†ู’ ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุชูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุขุฎูุฑู ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ูˆูŽุฃูŽุญู’ุณูŽู†ู ุชูŽุฃู’ูˆููŠู„ุงู‹

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Qs: An-Nisaa’: 59)

Padahal agama demokrasi mengatakan: Bila kalian berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikan kepada rakyat, majlis perwakilannya, dan rajanya sesuai dengan undang-undang dasar dan aturan yang berlaku di bumi ini.”

Enyahlah kalian dan enyah pula apa yang kalian sembah selain Allah, kenapa kalian tidak berpikir.[20]

Oleh sebab itu bila mayoritas rakyat menghendaki penerapan hukum syari’at lewat jalur agama demokrasi ini dan lewat lembaga legislatif yang syirik ini, maka itu tidak bisa terealisasi – ini bila thaghut mempersilahkannya – kecuali lewat jalur undang-undang serta dari arah pasal-pasal dan penegasan undang-undang tersebut, karena itu adalah kitab suci agama demokrasi,[21] atau silahkan katakan itu adalah Tauratnya dan Injilnya yang sudah dirubah sesuai dengan hawa nafsu dan keinginan selera mereka.

Sesungguhnya demokrasi adalah buah dari agama sekuler yang sangat busuk, dan anaknya yang tidak sah, karena sekulerisme adalah paham kafir yang intinya memisahkan agama dari tatanan kehidupan, atau memisahkan agama dari Negara dan hukum.
Sedangkan demokrasi adalah hukum rakyat[22]atau hukum thaghut…. Namun bagaimanapun keadaannya sesungguhnya demokrasi bukanlah hukum Allah Yang Maha Besar lagi Maha Perkasa. Demokrasi sama sekali tidak mempertimbangkan hukum Allah yang muhkam kecuali bila sesuai dan sejalan sebelumnya dengan undang-undang yang berlaku, dan kedua sesuai dengan keinginan rakyat, serta sebelum itu semua harus sesuai dengan selera para thaghut dan kroni-kroninya.

Oleh sebab itu bila rakyat seluruhnya mengatakan kepada thaghut atau kepada arbaab (tuhan-tuhan) dalam demokrasi: Kami ingin penerapan hukum Allah, dan tidak seorangpun memiliki hak tasyrii’ selama-lamanya baik itu rakyat atau para wakilnya atau penguasa….kami ingin menerapkan hukum Allah terhadap orang-orang murtad, pezina, pencuri, peminum khamr,,,,dan,,,,kami juga ingin para wanita diwajibkan berhijab dan ‘afaaf, kali melarang tabarruj, buka-bukaan, porno, cabul, zina, liwath (homo), dan perbuatn keji lainnya” maka dengan sepontan para thaghut dan para penghusung demokrasi itu akan mengatakan kepada mereka: Ini bertentangan dengan paham demokrasi dan kebebasannya!!!

Jadi inilah kebebasan agama demokrasi: Melepaskan diri dari agama Allah, syari’at-Nya, dan melanggar batasan-batasannya. Adapun hukum undang-undang bumi dan aturannya maka itu selalu dijaga, dijunjung tinggi dan disucikan (disakralkan) serta dilindungi dalam agama demokrasi mereka yang busuk, bahkan orang yang berusaha melanggarnya, menentangnya, atau menggugurkannya dia akan merasakan sangsinya…

Enyahlah kalian, enyahlah kalian, enyahlah kalian

Enyahlah kalian, hingga lisan ini merasa kelelahan.

Jadi demokrasi –wahai saudara setauhid- adalah agama baru di luar agama Allah subhaanahu wa ta’aala. Sesungguhnya dia adalah hukum thaghut dan bukan hukum Allah subhaanahu wa ta’aala. Sesungguhnya dia adalah syari’at para tuhan yang banyak lagi bertolak belakang, bukan syari’at Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Dan siapa orangnya yang menerima (demokrasi ini), serta bersekongkol di atasnya maka dia itu pada hakikatnya telah menerima bahwa dia itu memiliki hak tasyri’ (wewenang membuat hukum) sesuai dengan materi-materi undang-undang yang berlaku, dan berarti dia telah menerima (kesepakatan) bahwa hukum yang dia buat itu lebih didahulukan atas syari’at Allah Yang Maha Esa lagi Maha perkasa.

Sama saja setelah itu apakah dia membuat hukum atau tidak, sama saja apakah dia (partainya) menang dalam pemilu (pesta syirik) atau tidak, karena kesepakatan dia bersama kaum musyrikin terhadap paham demokrasi, dan penerimaannya terhadap paham ini agar menjadi putusan dan hukum yang dirujuk serta kekuasaannya di atas kekuasaan Allah, Kitab-Nya dan Syari’at-Nya merupakan alkufru bi ‘ainihi (kekafiran dengan sendirinya), ini adalah kesesatan yang nyata lagi terang, bahkan itu adalah kemusyrikan (penyekutuan) terhadap Allah secara membabi buta.

Rakyat dalam agama demokrasi adalah diwakili oleh para wakilnya (para anggota Dewan), setiap kelompok (organisasi), atau partai, atau suku memilih rabb (tuhan buatan) dari arbaab yang beragam asal usulnya untuk menetapkan hukum dan perundang-undangan sesuai dengan selera dan keinginan mereka…namun ini sebagaimana yang sudah diketahui sesuai dengan rambu-rambu dan batasan undang-undang yang berlaku. Di antara mereka ada yang mengangkat (memilih) sembahan dan pembuat hukumnya sesuai dengan asas dan ideologi…baik itu rabb (tuhan) dari partai fulan, atau tuhan dari partai itu. Dan di antara mereka ada yang memilih tuhannya sesuai dengan ras dan kesukuan, sehingga ada tuhan dari kabilah ini dan ada tuhan berhala dari kabilah itu. Di antara mereka ada yang memilih tuhannya yang salafi (menurut klaim mereka), pihak yang lain ada yang memilih tuhannya yang ikhwaniy.[23] Ada sembahan yang berjenggot, ada tuhan yang jenggotnya dicukur habis, dan seterusnya…

ุฃูŽู…ู’ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุดูุฑูŽูƒูŽุงุกู ุดูŽุฑูŽุนููˆุง ู„ูŽู‡ูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏู‘ููŠู†ู ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฃู’ุฐูŽู†ู’ ุจูู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆู„ูˆู„ุง ูƒู„ู…ุฉ ุงู„ูุตู„ ู„ู‚ุถูŠ ุจูŠู†ู‡ู… ูˆ ุฅู† ุงู„ุธุงู„ู…ูŠู† ู„ู‡ู… ุนุฐุงุจ ุฃู„ูŠู…

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah)tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu bagi mereka adzab yang sangat pedih ” (Qs: Asy-Syuura: 21)

Para wakil rakyat itu pada hakikatnya mereka adalah autsaan (berhala-berhala) yang dipajang dan patung-patung yang disembah, serta tuhan-tuhan jadi-jadian yang diangkat di tempat-tempat ibadah mereka dan sarang-sarang paganisme mereka (parlemen), mereka dan para pengikutnya beragama demokrasi dan patuh kepada hukum undang-undang, kepada undang-undang itu mereka merujuk hukum serta sesuai dengan materi dan point-point undang-undang itu mereka membuat hukum dan perundang-undangan…….dan sebelum itu semua mereka dikendalikan oleh tuhan mereka, sembahan mereka atau berhala agung mereka yang merestui dan menyetujui undang-undang mereka atau menolaknya…. Itu tidak lain dan tidak bukan adalah emir atau raja, atau presiden..

Inilah –wahai saudara setauhid- adalah hakikat demokrasi dan ajarannya…agama thaghut….bukan agama Allah…millatulmusyrikin…bukan millatunnabiyyiin….syari’at banyak tuhan yang selalu saling bersebrangan dan berbantah-bantahan…bukan syari’at Allah yang Esa lagi Maha Perkasa.

ุฃุฃุฑุจุงุจ ู…ุชูุฑู‚ูˆู† ุฎูŠุฑ ุฃู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ูˆุงุญุฏ ุงู„ู‚ู‡ุงุฑ ู…ุง ุชุนุจุฏูˆู† ู…ู† ุฏูˆู†ู‡ ุฅู„ุง ุฃุณู…ุงุก ุณู…ูŠุชู…ูˆู‡ุง ุฃู†ุชู… ูˆุขุจุงุคูƒู… ู…ุง ุฃู†ุฒู„ ุงู„ู„ู‡ ุจู‡ุง ู…ู† ุณู„ุทุงู†

Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa ? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya menyembah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. (Yusuf 39-40)

ุฃุฅู„ู‡ ู…ุน ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู…ุง ูŠุดุฑูƒูˆู†

Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).(An Naml 63)

Hendaklah engkau memilih wahai hamba Allah…agama Allah, syari’at-Nya yang suci, dan cahaya-Nya yang menerangi, serta jalan-Nya yang lurus….atau paham/agama demokrasi, kemusyrikannya, kekufurannya dan jalannya yang bengkok lagi tertutup. Pilihlah!! hukum Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa atau hukum thaghut!!

ู‚ุฏ ุชุจูŠู† ุงู„ุฑุดุฏ ู…ู† ุงู„ุบูŠ ูู…ู† ุจูƒูุฑ ุจุงู„ุทุงุบูˆุช ูˆูŠุคู…ู† ุจุงู„ู„ู‡ ูู‚ุฏ ุงุณุชู…ุณูƒ ุจุงู„ุนุฑูˆุฉ ุงู„ูˆุซู‚ู‰ ู„ุง ุงู†ูุตุงู… ู„ู‡ุง

Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka ia sesungguhnya telah berpegang pada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan terputus…(Al Baqarah 256)

ูˆู‚ู„ ุงู„ุญู‚ ู…ู† ุฑุจูƒู… ูู…ู† ุดุงุก ูู„ูŠุคู…ู† ูˆู…ู† ุดุงุก ูู„ูŠูƒูุฑ ุฅู†ุง ุฃุนุชุฏู†ุง ู„ู„ุธุงู„ู…ูŠู† ู†ุงุฑุง

Dan katakanlah “Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya telah Kami sediakan bagi orang-orang zhalim itu neraka… (Al Kahfi 29)

ุฃูุบูŠุฑ ุฏูŠู† ุงู„ู„ู‡ ูŠุจุบูˆู† ูˆู„ู‡ ุฃุณู„ู… ู…ู† ููŠ ุงู„ุณู…ูˆุงุช ูˆุงู„ุฃุฑุถ ุทูˆุนุง ูˆูƒุฑู‡ุง ูˆุฅู„ูŠู‡ ูŠุฑุฌุนูˆู† . ู‚ู„ ุขู…ู†ุง ุจุงู„ู„ู‡ ูˆู…ุง ุฃู†ุฒู„ ุนู„ูŠู†ุง ูˆู…ุง ุฃู†ุฒู„ ุนู„ู‰ ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ูˆุฅุณู…ุงุนูŠู„ ูˆุฅุณุญุงู‚ ูˆูŠุนู‚ูˆุจ ูˆุงู„ุฃุณุจุงุท ูˆู…ุง ุฃูˆุชูŠ ู…ูˆุณู‰ ูˆุนูŠุณู‰ ูˆุงู„ู†ุจูŠูˆู† ู…ู† ุฑุจู‡ู… ู„ุง ู†ูุฑู‚ ุจูŠู† ุฃุญุฏ ู…ู†ู‡ู… ูˆู†ุญู† ู„ู‡ ู…ุณู„ู…ูˆู† ูˆู…ู† ูŠุจุชุบ ุบูŠุฑ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ุฏูŠู†ุง ูู„ู† ูŠู‚ุจู„ ู…ู†ู‡ ูˆู‡ูˆ ููŠ ุงู„ุขุฎุฑุฉ ู…ู† ุงู„ุฎุงุณุฑูŠู†.

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan.

Kataklanlah:”Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para nabi dari Tuhan mereka, kami tidak membeda-bedakan seseorangpun di antara mereka, dan hanya kepada-nya lah kami menyerahkan diri. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imran: 83-85).




FASAL

Bantahan terhadap syubhat dan kebatilan yang membolehkan agama demokrasi

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:

ู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ุฃู†ุฒู„ ุนู„ูŠูƒ ุงู„ูƒุชุงุจ ู…ู†ู‡ ุขูŠุงุช ู…ุญูƒู…ุงุช ู‡ู† ุฃู… ุงู„ูƒุชุงุจ ูˆุฃุฎุฑ ู…ุชุดุงุจู‡ุงุช ูุฃู…ุง ุงู„ุฐูŠู† ููŠ ู‚ู„ูˆุจู‡ู… ุฒูŠุบ ููŠุชุจุนูˆู† ู…ุง ุชุดุงุจู‡ ู…ู†ู‡ ุงุจุชุบุงุก ุงู„ูุชู†ุฉ ูˆุงุจุชุบุงุก ุชุฃูˆูŠู„ู‡ ูˆู…ุง ูŠุนู„ู… ุชุฃูˆูŠู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุงู„ุฑุงุณุฎูˆู† ููŠ ุงู„ุนู„ู… ูŠู‚ูˆู„ูˆู† ุขู…ู†ุง ุจู‡ ูƒู„ ู…ู† ุนู†ุฏ ุฑุจู†ุง ูˆู…ุง ูŠุฐูƒุฑ ุฅู„ุง ุฃูˆู„ูˆุง ุงู„ุฃู„ุจุงุจ . ุฑุจู†ุง ู„ุง ุชุฒุบ ู‚ู„ูˆุจู†ุง ุจุนุฏ ุฅุฐ ู‡ุฏูŠุชู†ุง ูˆู‡ุจ ู„ู†ุง ู…ู† ู„ุฏู†ูƒ ุฑุญู…ุฉ ุฅู†ูƒ ุฃู†ุช ุงู„ูˆู‡ุงุจ .

Dia-lah yang telah menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepadamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya:” Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal. (Mereka berdoa):”Ya Tuhan kami janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi karunia”. Ali Imran: 7-8.

Allah subhaanahu wa ta’aala menjelaskan dalam ayat yang mulia ini bahwa manusia dalam mensikapi syari’at-Nya ada dua kelompok:

Ahli ilmu dan yang mendalam ilmunya: Mereka mengambil dan beriman kepadanya secara menyeluruh, mereka menghubungkan dalil yang umum dengan dalil yang mengkhususkannya, yang muthlaq dengan yang membatasinya (muqayyad), yang masih global dengan yang terperinci, dan setiap yang mereka anggap sukar memahaminya mereka kembalikan kepada landasan pokoknya berupa ushul-ushul yang muhkam lagi terang dan kaidah-kaidah yang baku lagi pasti yang ditunjukan oleh dalil-dalil syari’at yang sangat banyak.
Orang-orang yang sesat dan di dalam hatinya ada kecenderungan kepada kesesatan: Mereka mengikuti hal-hal yang samar, mereka mengambilnya dan girang dengannya saja dalam rangka mencari fitnah seraya berpaling dari yang muhkam, mubayyan, serta yang mufassar.
Bergitu juga di sini dalam masalah demokrasi dan majelis perwakilannya yang syirik serta majelis-majelis lainnya, ada orang-orang yang menempuh jalan orang-orang sesat lagi cenderung kepada kesesatan, mereka sengaja mencari-cari kejadian-kejadian tertentu serta syubuhat-syubuhat dan mengambil itu saja tanpa menghubungkannya dengan pokok-pokok yang menjelaskannya atau memberikan batasannya atau menafsirkannya berupa kaidah-kaidah agama ini dan landasan-landasannya yang sangat kokoh. Mereka lakukan itu dalam rangka mengkaburkan yang haq dengan kebatilan dan cahaya dengan kegelapan.

Oleh sebab itu kami di sini akan mengetengahkan syubuhat-syubuhat mereka kemudian kami bantah dan mematahkannya dengan pertolongan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa Yang Menjalankan awan dan Yang Menghancurkan musuh.

SYUBHAT PERTAMA

Jabatan Yusuf di sisi raja Mesir

Ketahuilah sesungguhnya syubhat ini dilontarkan oleh sebagian orang yang sudah kehabisan dalil.

Mereka mengatakan: Bukankah Yusuf pernah menjabat sebagai menteri di sisi raja kafir yang tidak berhukum dengan apa yang Allah subhaanahu wa ta’aala turunkan? Dengan demikian bolehlah ikut serta dalam pemerintahan kafir, bahkan bolehlah masuk menjadi anggota dalam parlemen dan majelis permusyawaratan/perwakilan rakyat dan yang sebangsanya.

Kita jawab dengan taufiq Allah subhaanahu wa ta’aala:

Pertama: Sesungguhnya berhujjah dengan syubhat ini untuk bisa masuk dalam perlemen-parlemen pembuat hukum dan kebolehannya adalah batil dan rusak, karena parlemen-parlemen syirik ini berdiri di atas dasar agama/paham yang bukan agama Allah subhaanahu wa ta’aala, yaitu agama demokrasi yang dimana wewenang (uluuhiyyah) tasyrii’ (pembuatan perundangan) dan wewenang tahlil (pembolehan) serta tahrim (pelarangan) di dalam agama ini adalah milik rakyat bukan milik Allah saja. Sedang

Dikirim pada 04 Oktober 2010 di ibadah

Syaikh Yusuf bin Sholih Al-‘Uyairiy

Baiklah, sejenak kita kaji tentang apa makna kemenangan yang tercantum dalam Al-Quran dan sunnah. Sebenarnya, makna-makna kemenangan ini tidak cukup untuk kita kupas di sini satu persatu, itu memerlukan pembahasan sendiri, tapi sebagaimana dalam kaidah ushul fikih: apa yang tidak bisa di bisa dicapai semua tidak bisa ditinggal sebagian besarnya. Oleh karena itu, kami katakan:

Makna kemenangan pertama:
Makna terbesar dari sebuah kemenangan –yang pasti telah dicapai oleh siapa saja yang mau berjihad, baik sendirian atau bersama sama umat— adalah ketika seorang mujahid berhasil mengalahkan nafsunya, mengalahkan syetan yang menggodanya serta mengalahkan ‘delapan perkara yang disukai semua manusia’ dan kesukaan-kesukaan yang menjadi cabangnya, mengalahkan urusan-urusan duniawi yang menarik dirinya, di mana dalam hal ini banyak sekali kaum muslimin yang gagal, bahkan bisa dibilang hampir seluruh umat gagal untuk mengalahkan perkara-perkara ini. Alloh menyebutkan kedelapan perkara ini dalam firman-Nya:

{ู‚ูู„ู’ ุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุขุจูŽุงุคููƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุจู’ู†ูŽุงุคููƒูู…ู’ ูˆูŽุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ููƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูู…ู’ ูˆูŽุนูŽุดููŠู’ุฑูŽุชููƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ูŒ ุงู‚ู’ุชูŽุฑูŽูู’ุชูู…ููˆู’ู‡ูŽุง ูˆูŽุชูุฌูŽุงุฑูŽุฉูŒ ุชูŽุฎู’ุดูŽูˆู’ู†ูŽ ูƒูŽุณูŽุงุฏูŽู‡ูŽุง ูˆูŽู…ูŽุณูŽุงูƒูู†ู ุชูŽุฑู’ุถูŽูˆู’ู†ูŽู‡ูŽุง ุฃูŽุญูŽุจูŽู‘ ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู’ู„ูู‡ู ูˆูŽุฌูู‡ูŽุงุฏู ูููŠู’ ุณูŽุจููŠู’ู„ูู‡ู ููŽุชูŽุฑูŽุจูŽู‘ุตููˆู’ุง ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽุฃู’ุชููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุจูุฃูŽู…ู’ุฑูู‡ู ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู ู„ุงูŽ ูŠูŽู‡ู’ุฏููŠ ุงู’ู„ู‚ูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู’ู„ููŽุงุณูู‚ููŠู’ู†ูŽ}

Katakanlah:”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Alloh dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh menda-tangkan keputusan-Nya”. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. [1]

Maka ketika seorang hamba berhasil meninggalkan delapan perkara ini dan bersedia keluar untuk berjihad, berarti ia telah menang dan berhasil mengalahkan nafsu dan syahwatnya serta perkara-perkara menarik yang membikin orang enggan keluar untuk berjihad.

Dengan keberhasilannya mencapai kemenangan ini, ia telah menggapai kemenangan lain yang lebih besar lagi, yaitu ketika ia berhasil keluar dari lingkaran orang-orang fasik, ia telah bebas dari janji dan ancaman Alloh yang tercantum di akhir ayat di atas. Semua kemenangan ini telah ia gapai ketika ia telah buktikan secara nyata bahwa ia lebih mencintai Alloh, rosul dan jihad di jalan-Nya. Sungguh, ini adalah kemenangan sangat besar.

Makna kemenangan kedua:
Jika seorang hamba keluar untuk berangkat berjihad, berarti ia telah mewujudkan kemenangan dalam bentuk yang lain dari kemenangan pertama. Bentuk kemenangan kali ini berupa kemenangan atas syetan yang senantiasa mengintai dan berusaha sekuat tenaga dengan berbagai cara untuk menghalanginya dari jihad. Sebagaimana tercantum di dalam Shohih Bukhori dari Abu Huroiroh t bahwasanya Rosululloh r bersabda:

(ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ู‚ูŽุนูุฏูŽ ู„ุงูุจู’ู†ู ุขุฏูŽู…ูŽ ูููŠู’ ุทูŽุฑููŠู’ู‚ู ุงู’ู„ุฅููŠู’ู…ูŽุงู†ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ุฃูŽุชูุคู’ู…ูู†ู ูˆูŽุชูŽุฐูŽุฑู ุฏููŠู’ู†ูŽูƒูŽ ูˆูŽุฏููŠู’ู†ูŽ ุขุจูŽุงุฆููƒูŽุŸ ููŽุฎูŽุงู„ูŽููŽู‡ู ููŽุขู…ูŽู†ูŽุŒ ุซูู…ูŽู‘ ู‚ูŽุนูุฏูŽ ู„ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุทูŽุฑููŠู’ู‚ู ุงู’ู„ูู‡ุฌู’ุฑูŽุฉู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ุฃูŽุชูู‡ูŽุงุฌูุฑู ูˆูŽุชูŽุชู’ุฑููƒู ู…ูŽุงู„ูŽูƒูŽ ูˆูŽุฃูŽู‡ู’ู„ูŽูƒูŽุŸ ููŽุฎูŽุงู„ูŽููŽู‡ู ููŽู‡ูŽุงุฌูŽุฑูŽุŒ ุซูู…ูŽู‘ ู‚ูŽุนูุฏูŽ ู„ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุทูŽุฑููŠู’ู‚ู ุงู’ู„ุฌูู‡ูŽุงุฏู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ุฃูŽุชูุฌูŽุงู‡ูุฏู ููŽุชูู‚ู’ุชูŽู„ู ู†ูŽูู’ุณููƒูŽ ููŽุชูู†ู’ูƒูŽุญู ู†ูุณูŽุงุคููƒูŽ ูˆูŽูŠูู‚ู’ุณูŽู…ู ู…ูŽุงู„ููƒูŽุŸ ููŽุฎูŽุงู„ูŽููŽู‡ู ููŽุฌูŽุงู‡ูŽุฏูŽ ููŽู‚ูุชูู„ูŽุŒ ููŽุญูŽู‚ูŒู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฏู’ุฎูู„ูŽู‡ู ุงู’ู„ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูŽ)

“Syetan duduk menghadang anak Adam di atas jalan iman, syetan itu berkata kepadanya: “Apakah kamu mau beriman dan meninggalkan agamamu dan agama ayahmu?” Anak Adam itu tidak memperdulikannya dan terus beriman. Kemudian syetan duduk di jalan hijrah, ia berkata kepa-danya: “Apakah kamu mau berhijrah dengan meninggalkan harta dan keluargamu?” ia tidak memperdulikannya dan terus berhijrah. Kemudian syetan duduk di atas jalan jihad, ia berkata kepadanya: “Apakah kamu mau berjihad? Nanti kamu terbunuh dan isterimu akan dinikahi orang, hartamu akan dibagi-bagikan kepada orang lain.” Ia kembali tidak memperdulikannya dan terus berjihad hingga terbunuh. Siapa yang seperti ini keadaannya, menjadi hak Alloh untuk memasukkannya ke surga.”

Jadi, hanya dengan jihadlah kemenangan atas syetan itu tercapai dan seorang hamba bisa menggapai surga Alloh Yang Mahapengasih.

Makna kemenangan ketiga:
Jika seorang hamba keluar untuk berjihad, ia telah mencapai kemena-ngan dan termasuk orang-orang yang disebut Alloh dalam firman-Nya:

(ูˆูŽุงู„ูŽู‘ุฐููŠู’ู†ูŽ ุฌูŽุงู‡ูŽุฏููˆู’ุง ูููŠู’ู†ูŽุง ู„ูŽู†ูŽู‡ู’ุฏููŠูŽู†ูŽู‘ู‡ูู…ู’ ุณูุจูู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ู„ูŽู…ูŽุนูŽ ุงู’ู„ู…ูุญู’ุณูู†ููŠู’ู†ูŽ)

“Dan orang-orang yang berjihad di (jalan) Kami, pasti akan Kami tunjukan kepadanya jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” [2]

Duh, alangkah besar kemenangan itu, ketika seorang hamba berada di bawah naungan hidayah Alloh I. Kemenangan terbesar melawan syetan adalah hidayah, sedangkan anugerah Alloh I terbesar adalah taufik dari-Nya untuk bisa menggapai hidayah itu dan berubah status menjadi orang-orang yang berbuat ihsan (muhsinin) di mana kebersamaan Alloh selalu menyertai mereka, khususnya kebersamaan Alloh berupa kemenangan, taufik, hidayah dan keshalehan.

Seandainya saja umat ini berjihad semua, seandainya mereka semua mau ikut serta dalam jihad dengan sungguh-sungguh, tentu umat ini akan menjadi umat yang mendapat petunjuk dan selalu disertai kebersamaan Alloh seperti yang terjadi di zaman shahabat dan tabi‘ìn, umat yang mendapatkan taufik, umat yang menang dan senantiasa ditolong Alloh I.

Makna kemenangan keempat:
Ketika seorang telah berhasil keluar untuk berjihad, berarti ia telah menang atas orang-orang yang menghala-nginya yang mana mereka ini berasal dari saudara sekulit dan sebahasanya sendiri, bahkan di antara mereka ada yang menggunakan nash-nash syar‘i untuk melegitimasi sikap menghalangi mereka terhadap umat dari jihad. Alloh I telah hinakan mereka dalam firman-Nya:

{ู„ูŽูˆู’ ุฎูŽุฑูŽุฌููˆู’ุง ูููŠู’ูƒูู…ู’ ู…ูŽุง ุฒูŽุงุฏููˆู’ูƒูู…ู’ ุฅูู„ุงูŽู‘ ุฎูŽุจูŽุงู„ุงู‹ ูˆูŽู„ูŽุฃูŽูˆู’ุถูŽุนููˆู’ุง ุฎูู„ุงูŽู„ูŽูƒูู…ู’ ูŠูŽุจู’ุบููˆู’ู†ูŽูƒูู…ู ุงู„ู’ููุชู’ู†ูŽุฉูŽ ูˆูŽูููŠู’ูƒูู…ู’ ุณูŽู…ูŽู‘ุงุนููˆู’ู†ูŽ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ููŠู’ู…ูŒ ุจูุงู„ุธูŽู‘ุงู„ูู…ููŠู’ู†ูŽ}

Kalaulah mereka keluar bersama kalian, mereka tidak akan menambah-kan apapun bagi kalian selain kekacauan, mereka mencari-cari fitnah di dalam tubuh kalian dan di antara kalian ada yang suka mendengarkan mereka. Dan Alloh Maha Mengetahui akan orang-orang dzalim.” [3]

Alloh I mengarahkan ayat ini kepada para shahabat Rosululloh r bahwa di antara mereka ada yang suka mendengarkan kata orang-orang yang menghalang-halangi dari jihad. Ini bukan karena iman para shahabat itu lemah, tapi karena orang-orang yang menghalangi dari jihad itu memiliki kedudukan di tengah kelompoknya ta-pi mereka menyembunyikan isi batinnya. Saking besarnya fitnah yang ditimbulkan orang-orang yang meng-halangi ini, dan saking dahsyatnya mereka mengkaburkan antara yang hak dan batil serta meyakinkan syubhat mereka, sampai-sampai orang berimanpun terpedaya dengan kata-kata mereka. Itu sebabnya Alloh I mengingatkan manusia terbaik setelah para nabi (para shahabat) agar mewaspadai orang-orang seperti ini.

Di antara orang-orang yang menghalangi jihad adalah yang ter-cantum dalam firman Alloh I:

{ููŽุฑูุญูŽ ุงู’ู„ู…ูุฎูŽู„ูŽู‘ูููˆู’ู†ูŽ ุจูู…ูŽู‚ู’ุนูŽุฏูู‡ูู…ู’ ุฎูู„ุงูŽููŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽูƒูŽุฑูู‡ููˆู’ุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฌูŽุงู‡ูุฏููˆู’ุง ุจูุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ููุณูู‡ูู…ู’ ูููŠู’ ุณูŽุจููŠู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽู‚ูŽุงู„ููˆู’ุง ู„ุงูŽ ุชูŽู†ู’ููุฑููˆู’ุง ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽุฑูู‘ ู‚ูู„ู’ ู†ูŽุงุฑู ุฌูŽู‡ูŽู†ูŽู‘ู…ูŽ ุฃูŽุดูŽุฏูู‘ ุญูŽุฑู‘ุงู‹ ู„ูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ููˆู’ุง ูŠูŽูู’ู‚ูŽู‡ููˆู’ู†ูŽ}

“Orang-orang yang tidak ikut berjihad itu merasa senang dengan kedudukan mereka di belakang Rosululloh dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Alloh serta mengatakan: “Janganlah kalian berpe-rang dalam terik panas.” Katakanlah (Hai Muhammad): “Neraka Jahannam itu jauh lebih panas,” kalau mereka mengetahui.” [4]

Jadi, orang-orang yang menghalangi dari jihad ini menggunakan semua pasukannya, baik yang berkuda atau yang berjalan kaki, dan menggunakan semua kekuatan yang mereka miliki dalam rangka menghalangi seorang hamba dari jihad. Selanjutnya, mereka melarang umat untuk berjalan di atas jalan kemuliaan dan harga diri.

Maka ketika seorang mujahid keluar untuk berjihad, berarti ia telah merealisasikan kemenangan atas orang-orang yang tidak mau ikut jihad dan menghalangi darinya.

Jadi setelah ia menang atas nafsu, syahwat dan dunianya, ia menang atas syetannya, selanjutnya ia menang atas orang-orang yang suka mempengaruhi orang lain agar lemah semangatnya dari kalangan saudara sekulit dan sebahasanya sendiri.

Makna kemenangan kelima:
Ketika seorang mujahid teguh di atas jalan dan prinsip jihad, apapun yang menimpa dirinya, baik kepayahan dan kegoncangan dan komentar-komentar yang melemah-kannya, pada dasarnya ini sudah merupakan satu keme-nangan. Alloh I berfirman:

{ูŠูุซูŽุจูู‘ุชู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู’ู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆู’ุง ุจูุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู„ู ุงู„ุซูŽู‘ุงุจูุชู ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุฉู ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽูููŠ ุงู’ู„ุขุฎูุฑูŽุฉู ูˆูŽูŠูุถูู„ูู‘ ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุธูŽู‘ุงู„ูู…ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽูŠูŽูู’ุนูŽู„ู ุงู„ู„ู‡ู ู…ูŽุง ูŠูŽุดูŽุงุกู}

“Alloh meneguhkan orang-orang beri-man dengan perkataan yang kokoh ketika di dunia maupun di akhirat. Dan Alloh menyesatkan orang-orang zhalim dan Alloh mengerjakan apa yang Dia kehendaki.” [5]

Bukankah orang yang tetap teguh di atas jalan jihad dan terus melak-sanakannya serta menjadi orang-orang yang diteguhkan seperti dalam ayat ini sudah cukup untuk disebut sebagai orang yang mendapatkan kemenangan?

Benar, demi Alloh.

Betapa banyak orang yang sudah berjihad dan mendapatkan keme-nangan di medan pertempuran, akan tetapi prinsip-prinsip yang ia pegang setelah itu mengendur, kemantaban akidahnya bergeser, ia lantas hanya memperhatikan urusan syahwat dan dunianya dengan hasil yang ia peroleh dari medan jihad.

Betapa banyak kita lihat orang yang mengalami kesengsaraan dan kegoncangan melebihi orang yang sekarang masih terus berjalan di atas jalan jihad, mereka memang pantang mundur ketika di medan tempur, tetapi dunia telah mengalahkan prin-sip yang ia pegang dan kemantaban akidahnya. Ia terpalingkan oleh pengaruh-pengaruh yang rusak sehingga merubah dirinya menjadi orang yang condong kepada dunia. Dengan kekalahan prinsipnya ini, ia beralasan dengan seribu alasan. Nah, bukankah ini sebenarnya yang disebut kekalahan, dan bukankah keteguhan di atas jalan jihad adalah kemenangan hakiki?

Makna kemenangan keenam:
Ada kemenangan lain yang dicapai seorang hamba ketika ia keluar untuk pergi berjihad, yaitu ketika ia korbankan jiwa, waktu dan hartanya dalam rangka memper-tahankan prinsip-prinsip yang ia pegang, dalam rangka membela keyakinan dan agamanya.

Karena berkorban demi agama pada dasarnya adalah kemenangan itu sendiri, entah kemenangan (militer) berada di fihaknya ataukah di fihak musuhnya. Ia dikatakan menang karena ia menjadi tinggi dengan prinsip yang ia pegang teguh, ia rela berperang demi membela prinsip tersebut, ia rela mengorbankan nyawanya dengan murah demi menebusnya, itulah kemenangan hakiki walaupun ia menelan kekalahan di medan pertempuran. Alloh Ta‘ala berfirman kepada Rosul-Nya SAW dan para shahabatnya ketika mereka kalah di medan Uhud:

{ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽู‡ูู†ููˆู’ุง ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุญู’ุฒูŽู†ููˆู’ุง ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู ุงู’ู„ุฃูŽุนู’ู„ูŽูˆู’ู†ูŽ}

“…dan janganlah kamu merasa hina dan sedih sedangkan kalian adalah lebih tinggi…” [6]

70 orang kaum muslimin terbunuh, mereka dicincang-cincang, Rosululloh SAW sendiri terluka, sebagian lari walau kemudian Alloh ampuni mereka, tetapi semua ini tidak sedi-kitpun mengubah hakikat bahwa kaum musliminlah yang lebih mulia.

Jadi, kemuliaan atau ketinggian seorang mujahid adalah manakala ia terjun ke medan pertempuran dan mengikuti peperangan Islam, inilah sebenarnya kemuliaan dirinya. Ia telah menang atas musuhnya dengan kemuliaan tersebut.

Ketika ia melihat kaumnya yang bersenjatakan apa adanya, sudah begitu mereka miskin lagi dan tidak punya apa-apa selain iman, lantas atas dasar apakah umat ini berjihad melawan musuhnya padahal jumlah pasukan dan perlengkapannya jauh lebih kecil? Untuk tujuan apakah umat ini berjihad melawan musuhnya pada-hal kalau diukur dengan materi pasti mereka kalah? Bukankah umat ini tidak punya persenjataan yang seimbang dengan musuhnya? Tetapi umat ini terus melawan setelah melakukan persiapan semampunya, bukankah ketika umat seperti ini hanya sekedar berani melawan saja sudah cukup untuk disebut sebagai umat yang menang?

Sungguh umat yang hanya berbekal iman dalam melawan musuhnya yang dilengkapi dengan berbagai peralatan dan senjata canggih adalah umat yang menang dengan kemuliaan dan prinsip yang ia pegang.

Ketika orang yang kondisinya apa adanya seperti ini berani menghadapi persekutuan negara-negara di seluruh dunia lengkap dengan peralatan dan persenjataannya yang bertekhnologi canggih sudah cukup disebut sebagai kemenangan, yang dalam peperangan itu ia persembahkan nyawanya murah demi membela keyakinannya?

Benar, demi Alloh.

Sungguh sejarah hanya menuliskan tintanya untuk kisah kehidupan para pahlawan walaupun kesyahidan menjadi ujung kehidupannya. Adapun orang-orang yang kebanyakan cenderung kepada dunia dan rela hidup dalam kehinaan, maka sejarah tidak akan pernah sudi menulisnya, bahkan sejarah akan membencinya. Dan alangkah jauh perbedaan antara ke-duanya di sisi Alloh robbul Alamin.

Keteguhan seorang di atas jalan jihad dan di atas akidah serta prinsip yang ia rela berperang untuknya, menimbulkan kemenangan prinsip dan akidah kepada dua kelompok:



Kelompok pertama: Kelompok yang memenangkan prinsipnya atas orang-orang yang berprinsip sesat, orang-orang ahli bid‘ah dan khurofat serta faham filsafat yang berusaha mentakwil-takwilkan nash dalam rangka memalingkan orang yang berjihad dari prinsip yang ia pegang. Maka kalau seorang mujahid tetap teguh, terus berperang demi membela prinsipnya itu dan tidak memperdulikan syubhat-syubhat yang dilontarkan orang-orang sesat tadi, berarti ia telah mereali-sasikan kemenangan atas mereka.



Kelompok kedua: Ia menang dengan prinsipnya atas prinsip orang kafir, orang zindiq, orang murtad dan orang menyimpang.

Ketika ia menyatakan dengan terus terang bahwa ia sangat merindukan kematian di atas jalan yang ia yakini, dan ia menyatakan bahwa kematian sama sekali tidak mempengaruhi maju mundurnya sedikitpun, maka itu sudah termasuk kemenangan tersendiri.

Gambaran kemenangan ini dicontohkan oleh tukang sihir Fir‘aun ketika mereka diancam akan dibunuh dan disalib setelah mereka menya-takan keimanannya secara terang-terangan, Fir‘aun berkata:

(.. ููŽู„ูŽุฃูู‚ูŽุทูู‘ุนูŽู†ูŽู‘ ุฃูŽูŠู’ุฏููŠูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุฑู’ุฌูู„ูŽูƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุฎูู„ุงูŽูู ูˆูŽู„ูŽุฃูุตูŽู„ูู‘ุจูŽู†ูŽู‘ูƒูู…ู’ ูููŠู’ ุฌูุฐููˆู’ุนู ุงู„ู†ูŽู‘ุฎู’ู„ู ูˆูŽู„ูŽุชูŽุนู’ู„ูŽู…ูู†ูŽู‘ ุฃูŽูŠูู‘ู†ูŽุง ุฃูŽุดูŽุฏูู‘ ุนูŽุฐูŽุงุจุงู‹ ูˆูŽุฃูŽุจู’ู‚ูŽู‰)

“Benar-benar akan kupotong tangan dan kaki kalian secara bersilang dan sungguh akan kusalib kalian di pokok pohon kurma, dan kalian akan tahu siapa di antara kita yang lebih dahsyat dan lama siksaannya.” [7]

Maka para tukang sihir itu menjawab dengan penuh harga diri sebagai seorang mukmin:

{ู‚ูŽุงู„ููˆู’ุง ู„ูŽู†ู’ ู†ูุคู’ุซูุฑูŽูƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ุฌูŽุงุกูŽู†ูŽุง ู…ูู†ูŽ ุงู’ู„ุจูŽูŠูู‘ู†ูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ูŽู‘ุฐููŠู’ ููŽุทูŽุฑูŽู†ูŽุง ููŽุงู‚ู’ุถู ู…ูŽุง ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ู‚ูŽุงุถู ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุชูŽู‚ู’ุถููŠู’ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู’ู„ุญูŽูŠูŽุงุฉูŽ ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุง}

“Mereka berkata: Kami tidak akan mengutamakan kamu di atas keterangan yang datang kepada kami dan Dzat yang menciptakan kami, maka putuskanlah sesukamu, sesung-guhnya kamu hanyalah memutuskan di dunia ini.” [8]

Dalam jawaban lain, para tukang sihir itu mengatakan:

{ูˆูŽู…ูŽุง ุชูŽู†ู’ู‚ูู…ู ู…ูู†ูŽู‘ุง ุฅูู„ุงูŽู‘ ุฃูŽู†ู’ ุขู…ูŽู†ูŽู‘ุง ุจูุขูŠูŽุงุชู ุฑูŽุจูู‘ู†ูŽุง ู„ูŽู…ูŽู‘ุง ุฌูŽุงุกูŽุชู’ู†ูŽุง ุฑูŽุจูŽู‘ู†ูŽุง ุฃูŽูู’ุฑูุบู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ุตูŽุจู’ุฑุงู‹ ูˆูŽุชูŽูˆูŽููŽู‘ู†ูŽุง ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู’ู†ูŽูŽ}

“Dan tidaklah kamu menyiksa kami kecuali karena kami beriman kepada ayat-ayat robb kami ketika itu datang kepada kami.” Wahai robb kami, limpahkanlah kesabaran ke atas kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan muslim.” [9]

Allohu Akbar! Alloh Mahabesar, demi Alloh I inilah kemenangan besar itu, ketika seseorang teguh di atas prinsipnya hingga mati!

Kemenangan seperti ini juga dicontohkan dalam kisah Khubaib bin ‘Adi ra ketika beliau disalib di tengah-tengah orang kafir Quraisy. Saat itu, antara dirinya dan kematian hanya berjarak beberapa saat saja, seperti diriwayatkan Abul Aswad dari ‘Urwah ia berkata:

“Setelah mereka meletakkan senjata (selesai menyiksa) dan Khubaib masih di atas kayu salib, mereka membujuknya dengan mengatakan: “Apakah kamu suka kalau posisimu sekarang digantikan oleh Muhammad?” Khubaib menjawab: “Tidak, Demi Alloh Yang Maha Agung, aku tidak rela walau beliau hanya tertusuk duri demi menebusku.”

Allohu Akbar! Alangkah besar kemenangan dan kemuliaan Khubaib ini.

Padahal betapa banyak kaum yang dibinasakan dan dihancurkan tetapi oleh Alloh I tidak diabadikan ceritanya seperti cerita mereka yang Alloh I sebut telah mencapai keme-nangan besar.

Dulu dalam kisah Ashhabul Ukhdud, orang-orang kafir membe-rikan dua pilihan kepada penduduk negeri itu yang masuk Islam, berbalik kafir atau tetap memegang prinsip tapi dibunuh dengan dibakar api. Api dunia ternyata tidak mampu mengun-durkan mereka dari prinsip yang mereka pegang. Mereka lebih memilih selamat dari api neraka di akhirat walau harus mereka bayar dengan memasuki api dunia. Maka merekapun terjun satu persatu ke dalam api, persis seperti belalang yang meloncat dengan penuh kemantaban dan perasaan rela berkorban, mereka tidak ditakutkan oleh pemandangan api yang begitu hebat. Mereka memasu-kinya demi meraih kemenangan. Ketika ada seorang wanita yang tampak ragu, ia pun mulai fikir-fikir, pemahaman tentang kemenangan hakiki hilang dari benaknya, lalu Alloh menjadikan bayi yang ia susui bisa berbicara untuk menerangkan makna kemenangan hakiki dan keberun-tungan yang besar, bayi itu berkata –sebagaimana tercantum dalam hadits riwayat Muslim—: “Ibu, bersabarlah, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.” Akhirnya sang ibupun terjun ke dalam api bersama bayi yang ia susui.

Meskipun begitu memilukan, tapi Alloh telah abadikan kisah mereka, Alloh memuji mereka dengan pujian yang belum pernah Dia berikan kepada selain mereka yang hidup di kemudian hari, Alloh berfirman:

(ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู’ู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆู’ุง ูˆูŽุนูŽู…ูู„ููˆุง ุงู„ุตูŽู‘ุงู„ูุญูŽุงุชู ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฌูŽู†ูŽู‘ุงุชูŒ ุชูŽุฌู’ุฑููŠู’ ู…ูู†ู’ ุชูŽุญู’ุชูู‡ูŽุง ุงู’ู„ุฃูŽู†ู’ู‡ูŽุงุฑู ุฐูŽุงู„ููƒูŽ ุงู’ู„ููŽูˆู’ุฒู ุงู’ู„ูƒูŽุจููŠู’ุฑู)

“Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal sholeh itu bagi mereka surga-surga yang di bawahnya meng-alir sungai-sungai, itulah kemenangan yang sangat besar.” [10]

Maka, bagi setiap mukmin yang kehilangan makna kemenangan hakiki seperti wanita tadi, ayat ini, pujian ini dan kesaksian ini menerangkan kepadanya makna kemenangan yang hilang dari benaknya.

Makna kemenangan ketujuh:
Kemenangan yang selanjutnya adalah kemenangan yang Alloh berikan berupa kemenangan hujjah dan dalil.

Ini dekat dengan makna kemenangan sebelumnya. Bedanya, kemenangan ini tidak hanya dirasakan pelaku yang mendapat kemenangan ini, tapi meluas kepada orang lain, baik ketika orang itu masih hidup atau sudah meninggal. Yang penting hujjah dia tersampaikan dan memuaskan hati orang walaupun dirinya sendiri lemah dan tidak meraih kemenangan di medan tempur.

Hal ini sebagaimana firman Alloh Ta‘ala mengenai kemenangan hujjah yang diraih Nabi Ibrohim AS atas kaumnya setelah sebelumnya mela-kukan perdebatan, firman-Nya:

{ูˆูŽุชูู„ู’ูƒูŽ ุญูุฌูŽู‘ุชูู†ูŽุง ุขุชูŽูŠู’ู†ูŽุงู‡ูŽุง ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู’ู…ูŽ ุนูŽู„ู‰ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ูู‡ู ู†ูŽุฑู’ููŽุนู ุฏูŽุฑูŽุฌูŽุงุชู ู…ูŽู‘ู†ู’ ู†ูŽู‘ุดูŽุงุกู ุฅูู†ูŽู‘ ุฑูŽุจูŽู‘ูƒูŽ ุญูŽูƒููŠู’ู…ูŒ ุนูŽู„ููŠู’ู…ูŒ}

“Dan itulah hujjah-hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim atas kaumnya, Kami mengangkat derajat siapa saja yang Kami kehendaki, sesungguhnya robbmu adalah Maha Bijaksana lagi Mahamengetahui.” [11]

Pengangkatan derajat di sini maknanya adalah keme-nangan.

Alloh juga memenangkan Nabi Ibrohim atas raja Namrud ketika ia membantah dakwah beliau, Alloh berfirman:

{ุฃูŽู„ูŽู…ู’ ุชูŽุฑูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุญูŽุงุฌูŽู‘ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู’ู…ูŽ ูููŠู’ ุฑูŽุจูู‘ู‡ู ุฃูŽู†ู’ ุขุชูŽุงู‡ู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ู’ู…ูู„ู’ูƒูŽ ุฅูุฐู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู’ู…ู ุฑูŽุจููŠูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูŠูุญู’ูŠููŠู’ ูˆูŽูŠูู…ููŠู’ุชูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽู†ูŽุง ุฃูุญู’ูŠููŠู’ ูˆูŽุฃูู…ููŠู’ุชูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู’ู…ู ููŽุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูŠูŽุฃู’ุชููŠู’ ุจูุงู„ุดูŽู‘ู…ู’ุณู ู…ูู†ูŽ ุงู’ู„ู…ูŽุดู’ุฑูู‚ู ููŽุฃู’ุชู ุจูู‡ูŽุง ู…ูู†ูŽ ุงู’ู„ู…ูŽุบู’ุฑูุจู ููŽุจูู‡ูุชูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูƒูŽููŽุฑูŽุŒ ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู ู„ุงูŽ ูŠูŽู‡ู’ุฏููŠ ุงู’ู„ู‚ูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ุธูŽู‘ุงู„ูู…ููŠู’ู†ูŽ}.

“Tidakkah engkau perhatikan orang yang mendebat Ibrohim mengenai robbnya, orang itu diberi kekuasaan oleh Alloh, ketika Ibrohim mengatakan: Robbku adalah yang menghidupkan dan mematikan. Orang itu berkata: Aku juga bisa mematikan dan menghidupkan. Ibrohim berkata: Sesungguhnya Alloh menerbitkan matahari dari timur, maka terbit-kanlah matahari itu dari barat,” maka heran terdiamlah orang kafir itu. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang dzalim.” [12]

Di dalam kisah kemenangan prinsip yang diraih pemuda Ghulam dan Ashhabul Ukhdud terdapat dalil yang jelas yang menunjukkan makna kemenangan prinsip. Saat itu, ghulam terbunuh, tetapi hujjahnya menang dan berhasil mengalahkan kekufuran raja, semua orangpun beriman kepada Alloh.

Jadi, kemenangan hujjah dari terbunuhnya ghulam dan keteguhan dia sebelum mati adalah kemenangan yang sangat nyata, ia telah kalahkan kekufuran raja pada zamannya walaupun kekufuran itu memiliki kekuatan dan kekuasaan, tetapi kekufuran itu tetap jatuh tak berdaya di hadapan keteguhan, di hadapan prinsip dan keyakinannya yang agung.

Thoifah manshuroh (kelompok yang bakal mendapat kemenangan) itu pasti akan mendapat kemenangan, sebagaimana telah dikabarkan Rosululloh r, sebagaimana sabda beliau dalam Shohih Bukhori Muslim:

(ู„ุงูŽ ุชูŽุฒูŽุงู„ู ุทูŽุงุฆูููŽุฉูŒ ู…ูู‘ู†ู’ ุฃูู…ูŽู‘ุชููŠู’ ุธูŽุงู‡ูุฑููŠู’ู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุญูŽู‚ูู‘ุŒ ู„ุงูŽ ูŠูŽุถูุฑูู‘ู‡ูู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ุฎูŽุฐูŽู„ูŽู‡ูู…ู’ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽุฃู’ุชููŠูŽ ุฃูŽู…ู’ุฑู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽู‡ูู…ู’ ูƒูŽุฐูŽุงู„ููƒูŽ).

“Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang menang di atas kebenaran, tidak akan dipengaruhi oleh orang yang melemahkan semangat, hingga tiba ketentuan Alloh sementara mereka tidak berubah.”



Kemenangan di dalam hadits ini, yang paling minimal adalah kemenangan hujjah dan dalil, bisa saja diiringi kemenangan wilayah dan kekuasaan. Akan tetapi, walaupun umat Islam sendiri menyia-nyiakan kelompok ini (tidak mau membantu mereka) dan musuh bersatu padu mengha-dapinya, kelompok ini tetap saja menang.

Makna kemenangan kedelapan:
Di antara bentuk kemenangan yang Alloh I berikan kepada para mujahidin adalah dengan menghancurkan musuh mereka dengan menimpakan musibah dari sisi-Nya, musibah ini terjadi disebabkan karena jihad yang dilakukan para mujahidin.

Seringnya, mujahidin kalah menghadapi musuhnya di medan tempur, ini mengingat tidak seimbangnya kekuatan kedua belah fihak. Akan tetapi Alloh Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Karena mujahidin telah berusaha maksimal mencurahkan segala upayanya untuk menempuh sebab dan berjuang dengan kekuatan yang Alloh I berikan kepada mereka dan mereka telah melakukan I‘dad dengan serius, maka Alloh I akan menjadikan usaha dan perlawanan mereka yang tidak seberapa itu menjadi sebab kehancuran musuh mereka dengan menurunkan kegoncangan bencana dari sisi-Nya. Alloh I tegaskan hal ini dalam firman-Nya:

{ูƒูŽู…ู’ ู…ูู†ู’ ููุฆูŽุฉู ู‚ูŽู„ููŠู’ู„ูŽุฉู ุบูŽู„ูŽุจูŽุชู’ ููุฆูŽุฉู‹ ูƒูŽุซููŠู’ุฑูŽุฉู‹ ุจูุฅูุฐู’ู†ู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุตูŽู‘ุงุจูุฑููŠู’ู†ูŽ}

“Betapa banyak kelompok yang sedikit mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Alloh, dan Alloh bersama orang-orang yang sabar.” [13]

Keguncangan yang menimpa Fir‘aun lantaran jihad Nabi Musa u dan pengikutnya menjelaskan makna ini. Pada dasarnya, Alloh I bisa saja membinasakan Firaun sebelum adanya Nabi Musa u ataupun setelahnya. Di awal-awal berpalingnya Firaun dan kesombongannya, Alloh I memberikan tenggang waktu sebelum akhirnya Firaun semakin melampaui batas dan berbuat kejam, ia keluar dengan pasukan berkuda dan pasukan pejalan kakinya untuk memadamkan cahaya Alloh I.

Kenyataan di lapangan, kegon-cangan menimpa Firaun dan bala tentaranya, sebabnya adalah Nabi Musa AS, Alloh I berfirman:

{ููŽุฃูŽูˆู’ุญูŽูŠู’ู†ูŽุง ุฅูู„ูŽู‰ ู…ููˆู’ุณูŽู‰ ุฃูŽู†ู ุงุถู’ุฑูุจู’ ุจูุนูŽุตูŽุงูƒูŽ ุงู„ู’ุจูŽุญู’ุฑูŽ ููŽุงู†ู’ููŽู„ูŽู‚ูŽ ููŽูƒูŽุงู†ูŽ ูƒูู„ูู‘ ููุฑู’ู‚ู ูƒูŽุงู„ุทูŽู‘ูˆู’ุฏู ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู’ู…ู}

“Maka Kami wahyukan kepada Musa untuk memukulkan tongkatmu ke laut, maka terbelahlah laut itu, maka masing-masing sisinya laksana gunung yang besar.” [14]

{ูˆูŽุฏูŽู…ูŽู‘ุฑู’ู†ูŽุง ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุตู’ู†ูŽุนู ููุฑู’ุนูŽูˆู’ู†ู ูˆูŽู‚ูŽูˆู’ู…ูู‡ู ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ููˆู’ุง ูŠูŽุนู’ุฑูุดููˆู’ู†ูŽ}

“Dan Kami hancurkan apa yang diper-buat Firaun dan kaumnya serta apa yang mereka bangun.” [15]

Ketika Nabi r dakwah secara terbuka dan kaum Quraisy berpaling dari kebenaran, Alloh I timpakan adzab kepada mereka agar mereka mau tunduk kepada perintah Nabi SAW. Dalam Shohih Bukhori Muslim disebutkan dari ‘Abdulloh bin ‘Abbas ra bahwasanya ketika kaum Quraisy benar-benar tidak mau mentaati Nabi SAW dan beliau sendiri telah melihat kaum Quraisy sudah benar-benar berpaling, Nabi SAW berdoa agar mereka ditimpa paceklik seperti yang terjadi pada zaman Nabi Yusuf. Maka merekapun tertimpa kelaparan yang memporak porandakan segala sesuatu, sampai-sampai mereka makan kulit dan bangkai, di antara mereka ada yang memandangi langit karena saking laparnya dan tiba-tiba muncul asap di sana. Akhirnya Abu Sufyan datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Hai Muhammad, sesungguhnya engkau memerintahkan untuk mentaati Alloh dan menyambung tali silaturohim, dan sesungguhnya kaummu telah mengalami kehancuran, maka berdoalah kebaikan untuk mereka kepada Alloh.”

Alloh I berfirman:

Maka tunggulah hingga langit datang dengan asap yang nyata. Yang meliputi manusia, inilah adzab yang pedih. Sesungguhnya Kami hanya menghilangkan azab sedikit saja, karena kalian akan kembali kufur lagi. Pada hari di mana Kami menghantam dengan siksaan yang besar, sesung-guhnya Kami Maha membalas.” [16]

Jadi, musibah apa saja yang menimpa mereka itu disebabkan oleh jihad yang dilakukan Nabi SAW. Peristiwa ini terjadi setelah hijrah dan disyariatkannya jihad. Musibah yang menimpa mereka bukan karena pasukan Rosul ketika di medan perang. Karena Rosul tidak membu-nuh kaum Quraisy lebih dari 200 orang dalam peperangan beliau mela-wan mereka. Sementara fihak Quraisy kurang lebih telah membunuh separo jumlah ini dari kaum muslimin. Akan tetapi Alloh menimpakan kegoncangan/ bencana dari sisi-Nya agar me-reka mau tunduk kepada perintah Rosululloh SAW. Dengan bencana ini, Alloh memberi petunjuk sebagian ka-um dan membinasakan sebagian kaum yang masih di atas kekufuran-nya.

Di zaman kita sekarang, hancurnya Uni Soviet mempertegas makna hakikat ini. Ditinjau di medan perang, mujahidin tidak lebih kuat dan tidak lebih banyak jumlah personelnya dari-pada Soviet. Akan tetapi, karena me-reka begitu gencar memusuhi dan membunuh wali-wali Alloh, maka bala, musibah, kemiskinan dan kerusakan datang susul menyusul sampai akhir-nya Sovietpun runtuh. Maka siapa yang mengatakan bahwa Soviet run-tuh lantaran sistem sosialis-komunis-nya, silahkan lihat masih banyak negara sosialis komunis yang masih berdiri. Kalau ada yang mengatakan bahwa Soviet runtuh karena hutang negaranya yang menumpuk, dulu sebelum Soviet runtuh Amerika lebih banyak jumlah hutangnya, apalagi hutang dalam negeri. Siapa yang mengatakan bahwa Soviet runtuh karena undang-undang militernya yang diktator, masih banyak negara yang sistem militernya jauh lebih diktator.

Kalau orang mau memperhatikan sebab-sebab keruntuhan Uni Soviet, tidak akan melihat kesimpulan lebih jelas selain bahwa penyebabnya karena mereka memerangi agama Islam dan disebabkan jihad yang dilancarkan mujahidin melawan mereka.

Kemenangan seperti ini banyak sekali dibuktikan dalam sejarah para nabi, terlalu banyak bukti sejarah untuk disebutkan di sini, semua bukti sejarah ini menunjukan bahwa penyebab utama turunnya adzab dan kehancuran musuh adalah jihadnya para mujahidin.

Jadi jihad adalah sebab utama kehancuran orang kafir dan kemenangan dari sisi Alloh Ta‘ala untuk kaum mukminin.

Kalaulah kita tidak melihat kemenangan dengan segera, sebenarnya kemenangan itu hampir saja datang.

Dalam sejarah, tidak ada satu kaum yang hancur binasa tanpa ada sebab, sedangkan bencana-bencana yang menimpa orang-orang kafir penyebabnya adalah jihad yang dila-kukan para rosul yang diutus kepada mereka, atau disebabkan jihad yang dilakukan orang-orang beriman dari kalangan hamba-hamba Alloh yang sholeh.

Makna kemenangan kesembilan:
Bentuk keme

Dikirim pada 09 September 2010 di jihad

Abdullah Muridusy Syahadah
Kepada Kaum Muslimin Secara umum dan para aktivis Harokah secara khusus

Di Mana Saja Berada

ุงูŽู„ุณูŽู‘ู„ุงูŽู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡

ุงูŽู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ูู„ู„ู‡ู ู…ูุนูุฒูู‘ ุงู’ู„ุฅูุณู’ู„ุงูŽู…ู ุจูู†ูŽุตู’ุฑูู‡ุŒ ูˆูŽู…ูุฐูู„ูู‘ ุงู„ุดูู‘ุฑู’ูƒู ุจูู‚ูŽู‡ู’ุฑูู‡ุŒ ูˆูŽู…ูุตูŽุฑูู‘ู ุงู’ู„ุฃูู…ููˆุฑ ุจูุฃูŽู…ู’ุฑูู‡ุŒ ูˆูŽู…ูุณู’ุชูŽุฏู’ุฑูุฌู ุงู’ู„ูƒูŽุงููุฑููŠู’ู†ูŽ ุจูู…ูŽูƒู’ุฑูู‡ุŒ ุงูŽู„ูŽู‘ุฐููŠ ู‚ูŽุฏู‘ุฑูŽ ุงู’ู„ุฃูŽูŠูŽู‘ุงู…ูŽ ุฏููˆู„ุงู‹ ุจูุนูŽุฏู’ู„ูู‡ุŒ ูˆูŽุงู„ุตูŽู‘ู„ุงูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุณูŽู‘ู„ุงูŽู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ูŽู ู…ูŽู†ูŽุงุฑูŽ ุงู’ู„ุฅูุณู’ู„ุงูŽู…ู ุจูุณูŽูŠู’ููู‡. ุฃู…ูŽู‘ุง ุจุนุฏ

Puja dan puji syukur hanya untuk Allah. Rob semesta alam. Yang telah berfirman:

“Ikutilah apa yang Telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada Tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik”. (QS. Al An’am: 106)

Sholawat serta salam kita haturkan ke atas junjungan nabi kita Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam. Yang telah bersabda:

ุงูŽู„ุฏูู‘ูŠู’ู†ู ุงู„ู†ูŽู‘ุตููŠู’ุญูŽุฉู. ู‚ูู„ู’ู†ูŽุง : ูู„ู…ูŽู†ู’ ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูู„ู„ู‡ู, ูˆูŽู„ููƒูุชูŽุงุจูู‡ู ูˆูŽู„ูุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ูˆูŽูู„ุฃูŽุฆูู…ูŽู‘ุฉู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุนูŽุงู…ูŽู‘ุชูู‡ูู…ู’

“Dien itu Nasehat. Kami bertanya: Bagi siapa? Beliau bersabda: “Bagi Allah, Kitabnya, Rosul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan bagi kaum muslimin pada umumnya”. (HR. Muslim).



Ikhwah fillah …..

Dalam Risalah dan Nida’at yang ke-9 ini, saya menghadirkan ke tengah-tengah antum sekalian satu tema “WAHAI PARA PENGGEMBOS DAN PENCACAT! SILAHKAN KAU CELA AKU!!!!!”

Tema ini adalah hasil perenungan dari pengalaman dan pelajaran yang saya ambil di dalam perjalanan hidup saya semenjak memulai menapaki jalan jihad fie sabilillah ini. Juga kejadian-kejadian yang dialami oleh sebagian ikhwah mujahidin.

Memang aku sadar, ketika mulai aku tancapkan niatan dalam hati untuk berjihad, maka terbayang olehku mulut-mulut Mukhodzilun (Penggembos) dan Murjifun (Pencacat) itu akan berceloteh, tiang-tiang gantungan akan dipasang oleh thoghut, pintu-pintu penjara dibuka lebar-lebar, selalu dipantau dan dikejar-kejar oleh musuh. Aku sadar itu dan ternyata itu tidak hanya menjadi bayangan saja, akan tetapi menjadi kenyataan.

Dari awal sudah aku sadari bahwa dalam perjalanan ini akan nampak siapa pembela dan siapa musuh. Baik musuh dari kalangan Kafir Asli maupun Kafir Murtad dan Munafiq, serta musuh dari kalangan aktivis haroki sendiri yang notabena mereka mengenal kita. Yang hati mereka dihinggapi penyakit WAHN dan HASAD. Wal ‘iyadzu billah



Ikhwah fillah …..

Risalah dan Nida’at ke-9 ini semoga bisa menjadi ibroh dan pelajaran buat para ikhwah yang juga bercita-cita untuk berjihad dan mati syahid fie sabilillah. Sebuah pelajaran yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang menapakinya, sebuah pelajaran yang hanya dapat difahami oleh orang yang menjalaninya. Dan akan memperkokoh pendirian dan azam (tekad) bagi para penitinya hingga ia mendapat dua kebaikan “Kemenangan atau Mati Syahid”.



Ikhwah fillah …..

Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Maidah: 54).

Di dalam ayat ini Allah menerangkan tentang ciri-ciri dan sifat Hizbullah (Kelompok Allah) dan Jundullah (Tentara Allah). Ciri-ciri tersebut adalah:

Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah
Bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin
Bersikap keras terhadap orang-orang kafir
Berjihad fie sabilillah
Tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela
Inilah beberapa sifat mendasar bagi Jundullah.

Ikhwah fillah …

Tentunya kita semua ingin menjadi Jundullah dan Hizbullah. Dan ternyata banyak orang yang bercita-cita menjadi Jundullah, walau pun pada realitanya mereka menjauhkan diri dari cita-citanya itu. Antara Idea dan Realita sungguh sangat berbeda. Mereka ingin mendapat predikat Jundullah namun jalan yang ditempuh bukan jalan Jundullah. Ia tidak sadar bahwa kapal tidak akan mungkin dapat berlayar di atas pasir.

Jika diringkas, pendek katanya adalah bahwa ayat ini menerangkan tentang jatidiri seorang Jundullah (Mujahid).Bahwa:

Seorang jundullah adalah orang yang sangat mencintai Allah, hingga Allah pun mencintainya. Kecintaannya kepada Allah lebih besar daripada kecintaannya kepada yang lain-Nya, walau pun terhadap dirinya sendiri. Karena ia faham dengan firman Allah3

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah”. (QS. Al Baqoroh: 165).

Karena kecintaanya kepada Allah lah sehingga ia mengorbankan segala yang ia miliki untuk menolong Allah dan membela agama-Nya, hingga nyawa pun ia korbankan demi kecintaannya kepada Allah.

Seorang jundullah adalah orang yang sangat lemah lembut dan kasih sayang terhadap orang mukmin. Ia mencintai saudaranya mukmin sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Karena ia faham dengan sabda shollallahu ‘alaihi wasallam:

ู„ุงูŽ ูŠูุคู’ู…ูู†ู ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุญูŽุชู‰ูŽู‘ ูŠูุญูุจูŽู‘ ูู„ุฃูŽุฎููŠู’ู‡ู ู…ูŽุง ูŠูุญูุจูู‘ ู„ูู†ูŽูู’ุณูู‡ู

“Tidak beriman salah satu dari kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”. (HR. Bukhori dan Muslim).

Subhanallah …… Maha Suci Allah. Beginilah sifat seorang mujahid. Ia korbankan dirinya dan nyawanya demi membela saudaranya yang terdzolimi dan terbantai. Demi membela kehormatan seorang muslimah yang dijamah oleh tangan-tangan musuh durjana la’natullah ‘alaihim. Walau pun orang-orang menganggapnya sebagai “Orang yang bersemangat dan orang yang isti’jal (tergesa-gesa)”. Dls.

Seorang jundullah adalah yang bersikap keras kepada orang-orang kafir (baik kafir asli maupun murtad). Ia bersikap keras di dalam masalah aqidah, lalu ia bersikap keras di dalam sikap dan perbuatan yang diimplementasikan di dalam Jihad fie sabilillah.

Di antara sikap keras terhadap orang kafir di dalam aqidah dan perbuatan adalah seperti yang dicontohkan oleh Nabi Allah Ibrahim ‘alaihis salam:

“Sesungguhnya telah ada bagi kalian suri tauladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya tatkala mereka mengatakan kepada kaumnya: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadati selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (Al Mumtahanah: 4)

Adapun tata cara bersikap tegas dan keras kepada musuh adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah:

Engkau meyakini bathilnya ibadah kepada selain Allah
Engkau meninggalkannya
Engkau membencinya
Engkau mengkafirkan pelakunya
Dan engkau memusuhi para pelakunya
Hari ini tidak ada yang bisa mengamalkan sikap seperti ini kecuali para mujahidin dan para Da’i Tauhid yang jujur di dalam dakwahnya. Karena zaman sekarang ada orang yang tidak mau berjihad, ia mengambil peran di bidang dakwah, akan tetapi dakwahnya tidak jujur. Katanya mendakwahkan tauhid akan tetapi mencela Da’i tauhid yang dengan tegas mendakwahkan tauhid. Katanya mendakwahkan tauhid akan tetapi bermudahanah (bertoleransi) kepada thoghut. Katanya keras kepada thoghut akan tetapi malah bergandengan dengan thoghut. Seperti ada kasus seorang pemimpin ormas Islam yang notabene mempunyai misi menyerukan dakwah tauhid dan mengikut manhaj ahlus sunnah wal jama’ah, akan tetapi dia menjadi Tim Sukses salah satu CAPRES (Calon Presiden). Bahkan dia mengadakan hubungan dengan badan-badan yang notabene milik thoghut. Sementara paraFANATISANnya mengatakan “Itu hanya untuk wasilah saja agar dakwah kita lancar dan tidak dicurigai”. Dakwah tauhid macam apa ini? Sementara mereka mencaci dan mencibir orang yang secara tegas menyampaikan dakwah tauhid. Wal ‘iyadzu billah

Dalam faktanya, ormas ini melarang para binaannya untuk menghadiri sebuah bedah buku yang diadakan oleh sebuah Organizer yang bertemakan “SURAT KEPADA PENGUASA” (Sebuah buku yang membahas tentang kafirnya penguasa negeri ini karena tidak berhukum dengan hukum Allah). Karena dianggap forum ini bertentangan dengan misi dan visinya. Wal ‘iyadzu billah.

Memang kadang bahasa lisan itu berbeda dengan bahasa tubuh. Lisannya mengatakan mendukung dakwah tauhid, akan tetapi bahasa tubuhnya menyelisihi. Bahkan ada yang secara terang-terangan mencela dan memojokkan para mujahidin dan para da’i tauhid. Bahasa lisannya mengatakan cinta dan mendukung mujahidin, akan tetapi bahasa tubuhnya menampakkan kebencian dan celaan. Wal ‘iyadzu billah.

Seorang Jundullah (mujahid) adalah ia berjihad fie sabilillah.

Yang dimaksud jihad fie sabilillah di sini adalah memerangi orang-orang kafir dalam rangka meninggikan kalimah Allah. Singkatnya adalah jihad fie sabilillah adalah Memisahkan kepala musuh dari raganya, atau mengeluarkan nyawa musuh dari jiwanya.

Adapun penopang yang masuk dalam mata rantai jihad sungguh sangat banyak sekali.

Yang dimaksud MATA RANTAI JIHAD adalah ikatan dan atau hubungan yang dapat mensukseskan Amaliyat (Operasi) jihad fie sabilillah. Mata rantai itu di antaranya adalah:

Pengkaderan
Sumber daya mujahid
Sumber dana mujahid
Anshor
Penjabarannya adalah:

1. Pengkaderan
Yang kita maksud pengkaderan di sini adalah pengkaderan personal yang siap menjadi mujahid. Yang siap diikut sertakan dalam amaliyat jihadiyah. Baik di dalam maupun luar negeri. Baik jihad konvensional maupun gerilya. Pengkaderan ini bisa melalui beberapa sarana:

Pondok pesantren
Halaqoh taklim
Dls
Dengan catatan bahwa pondok pesantren, Halaqoh taklim dan yang lain itu betul-betul mencetak santri dan binaannya untuk menjadi mujahid.



Sebuah kisah:

Seorang ustadz menasehati salah seorang santrinya. Ustadz itu mengatakan: “Buat apa saya membuat pondok pesantren kalau bukan untuk mencetak kader yang siap untuk Iqomatud Dien (menegakkan Dien)? Saya ini dituduh sebagai Qo’idun (orang-orang yang duduk dari jihad) dan Murji’ah”. Ustadz tersebut bermaksud mengarahkan pada santrinya bahwa ia ingin mencetak kader mujahid.

Dalam faktanya ustadz tersebut tidak jujur dengan perkataannya. Bahasa lisan dengan bahasa tubuh tidak sama.



Faktanya: Ketika ada salah seorang santri pondok keluar dengan misterius (menurut ustadz) tersebut. Ditambah lagi ada kasus seorang ustadz di sebuah pondok keluar dari pondok dengan misterius juga. Ustadz itu pun kebakaran jenggot dan berang. Ustadz tersebut berkata: “Saya sadar bahwa pondok ini ada yang menggerogoti”.Trus ustadz tersebut berkata: “Orang-orang yang berjihad hari ini adalah orang-orang yang tidak sabar”. Dls. Wal ‘iyadzu billah.

Mestinya jika ustadz tersebut jujur bahwa dia mendirikan pondok pesantren itu untuk mencetak kader mujahid, maka mestinya ia berlapang dada dengan santrinya yang bersemangat untuk berjihad. Jika santrinya ingin pergi berjihad walaupun tidak melalui jalurnya maka hendaknya ia merestui dan mendukung. Dan jika ada orang lain dan atau Tandzim jihad yang mengajak santrinya berjihad, mestinya ia izinkan santrinya berjihad. Bukan dihalang-halangi.

Jadi fungsi pondok dan halaqoh ta’lim adalah untuk mencetak mujahid.

Ibarat jama’ah jihad itu sebagai senjata api “M 16”, maka pondok pesantren dan halaqoh ta’lim berfungsi sebagaiMagazine yang berfungsi untuk menyimpan peluru-peluru yang siap ditembakkan. Bukan menjadi magezin yang menyimpan peluru yang mejen (mis fayer).

Jika memang pondok pesantren dan halaqoh ta’lim itu memang berfungsi sebagai kantong mujahid, maka duduknya para ustadz yang membina di situ bukan menjadi Qo’idun. Akan tetapi ia menjadi mujahid yang bertugas untuk mengkader generasi mujahid. Sebagaimana firman Allah:

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (QS. At-Taubah: 122).

2. Sumber Daya Mujahid (SDM)
Yang dimaksud SDM adalah kader-kader yang siap menjadi mujahid. Ini sudah diterangkan di dalam Risalah dan Nida’at yang ke-1.

3. Sumber Dana Jihad (SDJ)
Yang dimaksud SDJ adalah sumber dana yang dimanfaatkan untuk jihad dan mujahidin. Bisa melalui uang infak yang diambil dari para binaan, maupun membuat perusahaan yang uangnya khusus buat operasional jihad. Ini sudah dibahas dalam Risalah dan Nida’at yang ke-1.

4. Anshor
Yang dimaksud Anshor adalah Menjadi penolong dan pembantu mujahidin. Baik bantuan Moril maupun Materiil. Seperti memberi tempat untuk mujahidin, dls. Ini juga sudah dibahas dalam Risalah dan Nida’at yang ke-1.

Jika keberadaan kita seperti dalam mata rantai jihad ini. Maka sesungguhnya keberadaan kita pada saat itu adalah sebagai seorang mujahid, walau pun kelihatannya kita duduk-duduk di dalam rumah bersama istri dan anak kita. Karena jihad yang sedang dilakukan mujahidin hari ini adalah Harbul ‘Ishobat (Perang Grilya). Perang gerilya membutuhkan pergerakan yang seaman mungkin dan senyaman mungkin sehingga nampak seakan-akan orang yang berjihad tidak Nampak bahwa ia sedang berjihad. Ia memukul musuh akan tetapi orang lain melihatnya sedang duduk-duduk santai di rumah. Bukankah begitu wahai akhie?

Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang Telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Anfal: 72).

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. (QS. Al Anfal: 74).

Sudahkah kita mengambil perang seperti di dalam ayat ini? Peran kita adalah Menjadi Mujahid Anshor maupun menjadi Mujahid Muhajir. Memberi tempat tinggal dan pertolongan adalah peran yang diambil oleh mujahid Anshor.

Seorang jundullah adalah yang Tidak Takut Celaan Orang Yang Suka Mencela.

Di dalam perjalanan sang mujahid, pasti akan mendapatkan ujian dan tantangan, celaan dan cercaan, baik dari kalangan orang-orang kafir asli maupun kafir murtad, dari kalangan kaum muslimin awwam mau pun muslimin ulama, dari orang yang tidak mengenal sampai kawan akrab. Itu sudah menjadi sunnatullah.

Apalagi bagi para mujahidin yang hari ini berjihad di negeri seperti ini. Yang menurut anggapan kebanyakan orang bahwa negeri ini adalah negeri Islam, kita berjihad di sini dengan jihad Dakwah bukan Jihad senjata. Wal ‘iyadzu billah

Berjihad di sebuah Negara murtad yang menurut kebanyakan orang yang berfaham Murjiah mengatakan “bahwa system negara ini kafir akan tetapi penguasanya muslim. Karena penguasanya Jahil dan Belum Tersampaikan Hujjah”. Wal ‘iyadzu billah

Berjihad di tengah-tengah tekanan penguasa murtadz yang gencar melakukan permusuhan dan penindasan kepada para mujahidin.

Berjihad di tengah-tengah para aktifis harokah yang phoby akan jihad, walau pun sebagian mereka ada yang mengaku bahwa tandzimnya adalah tandzim jihad. Wal ‘iyadzu billah

Celaan-celaan itu datang dengan bertubi-tubi dan tak habis-habisnya. Dan menyebarkan issu yang menyesatkan ummat dengan menyebar fitnah murahan. Para mujahidin diposisikan seakan-akan sebagai musuh, dan memposisikan orang-orang yang bermudahanah dengan thoghut sebagai pahlawan. Wal ‘iyadzu billah.

Sebuah kisah:

Seorang ustadz berceramah di hadapan para mustami’. Dia mengatakan: “Saya pernah membesuk para ikhwah tersangka peledakan kedubes Australia. Pada saat saya datang membesuk, tangan mereka terborgol. Lalu saya katakan kepada mereka: “Antum baru bisa menjebol pagarnya saja. Jika kita bersama-sama maka kita akan dapat jebol dalamnya”. Maksud ustadz tersebut adalah meremehkan kerja keras dan kerja besar yang dilakukan oleh para ikhwah mujahid ini. Karena di dalam faktanya ustadz ini tidak ada sama sekali Mu’awanahnya kepada para mujahidin di dalam mensukseskan satu Amaliyat Jihadiyah. Tidak ikut andil dalam menyusun strategi untuk memukul musuh. Bahkan dia selalu me-Warning orang dengan kata-kata: “Hati-hati dengan Si A. hati-hati dengan Si B”. Wal ‘iyadzu billah.

Sebuah kisah:

Seorang ustadz mengajar di kelas santriwati. Dalam pengajarannya itu seorang ustadz mengatakan:“Sesungguhnya jihad itu tujuannya bukan mencari syahid, akan tetapi berjihad itu untuk mencari ridho Allah”.(Ustadz ini bermaksud memojokkan para ikhwah mujhaid yang selama ini menggelorakan semangat jihad dengan ingin mendapatkan syahadah dan 72 bidadari).

Mendengar celotehan ustadz ini para santriwati ini bingung dan berbisik-bisik antara temannya: “Sebenarnya ustadz ini maksudnya apa?” Dan pada kesempatan yang lain ustadz ini berkata: “Bom Bali itu bukan jihad. Karena tidak pakai izin Amir”. Dan pada kesempatan yang lain ustadz ini mengatakan: “Saya tidak berani mengatakan bahwa Bom Bali itu termasuk jihad, juga saya tidak berani mengatakan bahwa Bom Bali itu bukan jihad”. Kata-kata ini diungkapkan oleh ustadz tersebut guna menggembosi dan menjelekkan amal jihad yang dilakukan oleh para ikhwah mujahid. Na’udzu billahi min dzalik.

Sebuah kisah:

Seorang ustadz menasehati seorang santrinya yang mempunyai semangat berjihad. Ustadz tersebut berkata:“Kalau kamu mau berjihad maka kamu harus Tholabul ilmi dulu. Jihad itu tidak hanya modal semangat saja. Sesungguhnya orang-orang yang berjihad sekarang itu kurang sabar dan isti’jal”. Ini adalah perkataan yang benar akan tetapi diarahkan kepada yang batil. Karena ustadz ini sebenarnya mau mengatakan: “Kamu tidak usah ikut berjihad dengan orang-orang yang berjihad itu”. Akan tetapi untuk memoles kata-katanya maka ia bersilat lidah dengan seperti itu. Karena faktanya mengatakan seperti itu. Wal iyadzu billah

Semua kisah di atas adalah beberapa contoh yang dapat terekam oleh para ikhwah di lapangan. Baik rekaman elektronik maupun rekaman otak dan hafalan mereka. Adapun kenyataannya sikap dan komentar para Mukhodzilun dan Murjifun itu lebih pedas lagi. Mereka bermaksud memadamkan kobaran semangat api jihad yang membara di dada kaum muslimin. Mereka tidak sadar bahwa kobaran semangat api jihad ini tidak akan pernah padam walau pun seluruh manusia di jagad raya ini bersatu padu untuk memadamkannya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (QS. Ash Shoff: 8).

Dan sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam:

ู„ุงูŽ ุชูŽุฒูŽุงู„ู ุทูŽุงุฆูููŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ ุฃูู…ูŽู‘ุชูู‰ ุธูŽุงู‡ูุฑููŠู’ู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู’ู„ุญูŽู‚ูู‘. ู„ุงูŽ ูŠูŽุถูุฑูู‘ู‡ูู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ุฎูŽุงู„ูŽููŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ุงูŽ ู…ูŽู†ู’ ุฎูŽุฐูŽู„ูŽู‡ูู…ู’ ุญูŽุชู‰ูŽู‘ ุชูŽู‚ููˆู…ูŽ ุงู„ุณูŽู‘ุงุนูŽุฉู ูˆููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ ู…ุณู„ู… : ู„ุงูŽ ูŠูŽุฒูŽุงู„ู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุบูŽุฑู’ุจู

“Akan selalu ada sekelompok dari ummatku yang dzohir diatas kebenaran, mereka tidak peduli dengan orang-orang yang menyelisihi dan mentelantarkan mereka hingga terjadi qiamat, dan diriwayat Muslim berbunyi: “Akan senantiasa ada ahlul ghorb” (orang-orang barat). (Majmu’ Fatawa, XIII / 531).

Para mujahidin ini selalu ada dan akan selalu ada. Tidak membahayakan bagi mereka celaan orang yang suka mencela dan cacian orang yang suka mencacat. Tidak membahayakan sama sekali ulah para Mukhodzilun dan Murjirun.

Wahai para Mukhodzilun dan Murjifun …..

Sesungguhnya sikap sinis dan tuduhan-tuduhan serta fitnah-fitnah yang kalian lancarkan terhadap mujahidin itu tidak sama sekali dapat memadhorotkan jihad dan mujahidin. Bahkan Allah akan mendatangkan para pembelanya untuk berdiri di kalangan mujahidin. Karena Allah berfirman:

“Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dandigantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. At Taubah: 39)

“Dan jika kalian berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini”. (QS. Muhammad: 38)

Sesungguhnya penggembosan dan cercaan yang kalian lakukan terhadap mujahidin hari ini tidak akan mengundur kemenangan mujahidin. Juga tidak dapat mengajukan kekalahan mujahidin sedikit pun. Karena Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ูˆูŽุงุนู’ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู’ู„ุฃูู…ูŽู‘ุฉูŽ ู„ูŽูˆู ุงุฌู’ุชูŽู…ูŽุนูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู†ู’ููŽุนููˆูƒูŽ ุจูุดูŽูŠู’ุฆู ู„ู…ูŽ ู’ูŠูŽู†ู’ููŽุนููˆูƒูŽ ุฅูู„ุงูŽู‘ ุจูุดูŽูŠู’ุฆู ู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุชูŽุจูŽู‡ู ุงู„ู„ู‡ู ู„ูŽูƒูŽ. ูˆูŽุฅูู†ู ุงุฌู’ุชูŽู…ูŽุนููˆุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุถูุฑูู‘ูˆูƒูŽ ู„ูŽู†ู’ ูŠูŽุถูุฑูู‘ูˆูƒูŽ ุจูุดูŽูŠู’ุฆู ุฅูู„ุงูŽู‘ ุจูุดูŽูŠู’ุฆ ูู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุชูŽุจูŽู‡ู ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ. ุฑูููุนูŽุชู ุงู’ู„ุฃูŽู‚ู’ู„ุงูŽู…ู ูˆูŽุฌูŽููŽู‘ุชู ุงู„ุตูู‘ุญููู

“Ketahuilah bahwa seandainya seluruh ummat ini berkumpul untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagimu, maka mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah kepadamu. dan seandainya seluruh ummat ini berkumpul untuk memberikan sesuatu yang merugikan kamu, maka mereka tidak akan bisa merugikanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah terhadapmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering tintanya”. (HR. Tirmidzi).

Wahai para pembela mujahidin….. wahai para pendukung mujahidin ….. wahai orang-orang yang ingin berjihad bergabung dengan para mujahidin …..

Teguhkanlah hatimu, kuatkanlah azammu, tak usah kau hiraukan suara penggembos dan pencacat. Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.

Manusia itu akan berkumpul sesuai dengan kecondongan hati dan imannya. Jika hatinya cinta kepada jihad dan mujahidin maka ia pasti akan dapat berjihad dan bertemu dengan mujahidin. Jika tidak dapat bertemu di dunia pasti bertemu di Jannah kelak. Jika hatinya benci kepada jihad dan mujahidin, maka ia akan dijauhkan dari jihad dan mujahidin dan akan dikumpulkan bersama para Qo’idun, Mukhodzilun dan Murjifun.

Kumpulan kambing akan berkumpul dengan kambing. Kumpulan singa akan berkumpul dengan singa. Tidak mungkin kambing dapat berkumpul dalam kumpulan singa. Itu mustahil….. itu ajaib …..

Ingatlah wahai saudaraku para pembela mujahidin, para pendukung mujahidin ….. Bahwa sekarang banyak para ustadz dan ulama, dan atau para pemimpin yang dengan menggunakan nama besarnya karena ia pernah berjihad di Afghanistan, Philipina, Ambon dan Poso, ia menyihir para pengukitnya untuk tidak berjihad. Ia bersikap bak seoarang mujahid dan pendukung jihad, akan tetapi di belakang ia tusuk para mujahidin dengan mulut berbisanya yang mematikan.

Dengan menggunakan kebesaran namanya di tengah-tengah pengikutnya ia pojokkan mujahidin, ia cela mujahidin, walau pun dalam kata-katanya ia sering mengatakan: “Kita tidak boleh mencela mereka, dan jika mereka datang meminta bantuan maka kita bantu”. Walau pun kenyataannya bohong belaka.

Para ustadz, ulama dan pemimpin seperti ini tidak ubahnya seperti PELAWAK, yang kerjanya menyenangkan orang yang menontonnya. Di depan para mujahidin ia akan mengatakan bahwa dia membela, mencintai dan mendukung mujahidin. Bahkan dia merasa bagian dari mujahidin. Namun ketika bertemu dengan orang-orang yang tidak setuju dengan jihad dan mujahidin maka ia berceloteh yang difahami oleh orang-orang yang tidak senang dengan jihad itu bahwa “Para mujahidin itu bukan orang-orang yang disiplin, isti’jal, tidak sabar, dan lain sebagainya”.

Dengan menggunakan tingginya jabatan dan banyaknya pengikut ia katakan: “Tidak mungkin di dalam suatu wilayah terdapat dua Tandzim Jihad, dan “Jihad itu harus melalui Tandzim yang terpimpin”. Ia maksudkan bahwa tandzim jihad selain tandzimnya adalah menjadi pelemah tandzim jihad yang sudah ada. Padahal jika kita teliti, sungguh perkataan ini tidak ada sama sekali didukung oleh nash syar’ie dan waqi’.

Jika perkataan ustadz ini benar, maka tidak mungkin di Afghanistan terdapat tandzim-tandzim jihad selain Tholiban. Tidak akan mungkin ada tholiban dan Al Qoidah di dalam satu wilayah. Sesungguhnya tandzim-tandzim jihad yang ada hanyalah menjadi sarana memudahkan di dalam mengkoordinasi mujahidin dan program jihad. Di lapangan mereka saling Mu’awanah dan Munashoroh. Sebagaimana Tholiban memberikan bantuan dan pertolongannya kepada Al Qoidah. Jika di Afghanistan menerapkan faham ustadz yang mengatakan: “Tidak mungkin di dalam suatu wilayah terdapat dua Tandzim Jihad”, niscaya Tholiban memaksa Al Qo’idah untuk melebur ke dalam satu tandzim, yaitu Imaroh Islamiyah Tholiban.

Walau pun demikian, al-Qo’idah hormat dan setia terhadap Imaroh Islamiyah Thaliban. Namun secara administratif dan koordinasi di lapangan mereka berjalan sendiri-sendiri sesuai protap tandzim. Dan terjalin hubungan baik di lapangan antar kedua tandzim ini. Mereka saling Mu’awanah dan Munashoroh. Tidak saling menyalahkan dan melemahkan.

Jika Tholiban berfikiran bahwa “Gara-gara usamah menyerang WTC, dengan itu Afghanistan diserang Amerika”.Niscaya Syekh Mulla Umar hafidzohullah tidak mungkin menerima syekh Usamah bin Ladin dan para pengikutnya di Afghanisnistan. Namun syekh Mulla Umar sadar bahwa Amerika menyerang Afghanistan bukan karena ada Usamah, akan tetapi karena Islam.

Andai para ustadz dan pemimpin jama’ah di negeri ini sadar, bahwa Pemerintah murtad ini mengejar, menangkap, memenjara dan membunuh para mujahidin adalah bukan karena ada Bom Bali, dan aksi Bom-Bom lainnya. Akan tetapi karena Islam yang dibela, kehormatan kaum muslimin yang dibela. Niscaya tidak akan pernah keluar kata-kata cacian dan cemoohan terhadap mujahidin.

Namun jika masih tetap ada yang menggembosi, mencemooh, mencacat dan mencela. Maka saya sampaikan firman Allah Ta’ala:

“Katakanlah: “Tidak ada yang kalian tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan[1]. Dan kami menunggu-nunggu bagi kalian bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, Sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu.” (QS. At Taubah: 52).

Kita buktikan kelak siapa yang benar di antara kita. Jika kita sama-sama ikhlas di dalam berjuang untuk Iqomatud Dien maka pasti kita akan bertemu dan bersatu. Walau pun untuk kali ini kita tidak bisa bersatu. Namun jika memang ada niatan jahat dan hasad di dalam dada, maka sesungguhnya Amal kita yang akan menjawab semuanya.

Ikhwah fillah …..

Sudah wajar kebaikan itu akan dicela dan dicerca. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pun tidak kelewatan di cela dan dihina. Sejak beliau menerangkan dakwah Tauhid, maka beliau dianggap Tukang Sihir yang gila, dikatakan pemecah belah. Dls

Sekarang ketika kita mentahridh (mengobarkan semangat) jihad kaum muslimin kita dikatakan Provokator, Penggrogot, Teroris, dls. Maka jika karena kita mengobarkan semangat berjihad kita dikatakan provokator, dan jika kita berjihad dikatakan Teroris, maka katakanlah bahwa “Kita adalah Teroris”. Karena Allah Ta’ala berfirman:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan / menteror musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. (QS. Al Anfal: 60).





Ikhwah fillah …..

Hendaknya kita yakin dengan janji dan pertolongan Allah, jika memang apa yang kita lakukan ini benar. Walau pun para Mukhodzilun menggembosi. Walau pun para Murjifun mencaci maki.

Kita akan bersabar dan akan tetap berjalan di atas jalan ini, walau pun tubuh kita terkoyak, walau pun raga kita tercabik-cabik. Kita hanya bisa berharap kepada Allah

ุญูŽุณู’ุจูู†ูŽุง ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽู†ูุนู’ู…ูŽ ุงู„ู’ูˆูŽูƒููŠู’ู„ู

Demikian sesingkat Risalah dan Nida’at yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat buat kita semua. Amien

Tidak ada niat saya kecuali hanya kebaikan. Dan tidak ada yang dapat memberikan Taufiq kecuali hanya Allah.

ุญูŽุณู’ุจูู†ูŽุง ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽู†ูุนู’ู…ูŽ ุงู„ู’ูˆูŽูƒููŠู’ู„ู. ู†ูุนู’ู…ูŽ ุงู’ู„ู…ูŽูˆู’ู„ูŽู‰ ูˆูŽู†ูุนู’ู…ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุตููŠู’ุฑู

ู„ุงูŽ ุญูŽูˆู’ู„ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ู‚ููˆูŽู‘ุฉูŽ ุฅูู„ุงูŽู‘ ุจูุงู„ู„ู‡ู

ูˆูŽุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู’ู„ูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ู’

ูˆูŽุงู„ุณูŽู‘ู„ุงูŽู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡

Bumi Allah, 26 Mei 2009 M.

1 Jumadil Akhir 1430 H.



Diambil dari : http://ishoba.wordpress.com/2010/08/09/wahai-para-penggembos-dan-pencacat-silahkan-kau-cela-aku/#more-1656



Dikirim pada 09 September 2010 di jihad




Syaikh Yusuf bin Sholih Al-‘Uyairiy

Hari ini, seluruh dunia –kecuali yang dirahmati Alloh— berdiri satu barisan dengan kekuatan ediologinya, politiknya, ekonominya, informasinya, teknologi dan nasionalismenya, dan dengan segala kekuatannya, di hadapan salah satu syiar agama kita yang hanif (lurus), syiar itu adalah jihad fi sabilillah. Sebuah syiar yang Alloh wajibkan kepada kita dengan firman-Nya:

{ูƒูุชูุจูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู ุงู„ู’ู‚ูุชูŽุงู„ู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ูƒูุฑู’ู‡ูŒ ู„ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุนูŽุณูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽูƒู’ุฑูŽู‡ููˆู’ุง ุดูŽูŠู’ุฆุงู‹ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุนูŽุณูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ุชูุญูุจู‘ููˆู’ุง ุดูŽูŠู’ุฆุงู‹ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุดูŽุฑู‘ูŒ ู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ู„ุงูŽ ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู’ู†ูŽ}

“Diwajibkan atas kalian berperang, padahal perang itu kalian tidak suka; bisa jadi kalian tidak suka kepada sesuatu padahal itu lebih baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Dan Alloh Maha tahu sedangkan kalian tidaklah mengetahui.” 1

Juga dengan firman-Nya:

{ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุฌูŽุงู‡ูุฏู ุงู„ู’ูƒููู‘ูŽุงุฑูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู†ูŽุงููู‚ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงุบู’ู„ูุธู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽุฃู’ูˆูŽุงู‡ูู…ู’ ุฌูŽู‡ูŽู†ู‘ูŽู… ูˆูŽุจูุฆู’ุณูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุตููŠู’ุฑ}

“Wahai Nabi, jihadlah melawan orang kafir dan munafik dan bersikap keraslah kepada mereka, tempat tinggal mereka adalah jahannam, dan sungguh itu sejelek-jelek tempat kembali.” 2

Dan firman-Nya:

{ู‚ูŽุงุชูู„ููˆุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ู„ุงูŽ ูŠูุคู’ู…ูู†ููˆู’ู†ูŽ ุจูุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽู„ุงูŽ ุจูุงู’ู„ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู’ู„ุขุฎูุฑู ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูุญูŽุฑู‘ูู…ููˆู’ู†ูŽ ู…ูŽุง ุญูŽุฑู‘ูŽู…ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู’ู„ูู‡ู ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุฏููŠู’ู†ููˆู’ู†ูŽ ุฏููŠู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ุฃููˆู’ุชููˆุง ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูุนู’ุทููˆุง ุงู„ู’ุฌูุฒู’ูŠูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ูŠูŽุฏู ูˆูŽู‡ูู…ู’ ุตูŽุงุบูุฑููˆู’ู†ูŽ}

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan hari akhir, tidak mengharamkan apa yang Alloh dan rosul-Nya haramkan dan tidak menganut agama yang benar (Islam) dari kalangan ahli kitab, sampai mereka membayar jizyah dari tangan sementara mereka dalam keadaan hina.” 3

Dalam ayat terakhir yang turun tentang jihad, Alloh berfirman menegaskan kewajiban ini:

{ููŽุฅูุฐูŽุง ุงู†ู’ุณูŽู„ูŽุฎูŽ ุงู’ู„ุฃูŽุดู’ู‡ูุฑู ุงู„ู’ุญูุฑูู…ู ููŽุงู‚ู’ุชูู„ููˆุง ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู’ู†ูŽ ุญูŽูŠู’ุซู ูˆูŽุฌูŽุฏู’ุชูู…ููˆู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฎูุฐููˆู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽุงุญู’ุตูุฑููˆู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽุงู‚ู’ุนูุฏููˆู’ุง ู„ูŽู‡ูู…ู’ ูƒูู„ู‘ูŽ ู…ูŽุฑู’ุตูŽุฏู ููŽุฅูู†ู’ ุชูŽุงุจููˆุง ูˆูŽุฃูŽู‚ูŽุงู…ููˆุง ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉูŽ ูˆูŽุขุชููˆุง ุงู„ุฒู‘ูŽูƒูŽุงุฉูŽ ููŽุฎูŽู„ู‘ููˆู’ุง ุณูŽุจููŠู’ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฅููู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ุบูŽูููˆู’ุฑูŒ ุฑู‘ูŽุญููŠู’ู…ูŒ}

“Jika telah habis bulan-bulan haram, perangilah orang-orang musyrik di manapun kalian jumpai, tawanlah dan kepunglah mereka serta intailah dari tempat-tempat pengintaian. Jika mereka taubat dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat, bebaskanlah mereka, sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Mahapenyayang.” 4

Orang-orang kafir berusaha menghapus syiar jihad ini dan memberikan label kepadanya dengan label terorisme dan tindak kejahatan, menjuluki para pelakunya sebagai kaum teroris, orang-orang ekstrim, fundamentalis dan radikal.

Ditambah lagi, orang-orang munafik ikut membantu mereka dengan menjelekkan dan menghalang-halangi jihad dengan cara-cara syetan, ada yang mengatakan jihad dalam Islam hanya bersifat membela diri (defensive), tidak ada jihad ofensiv (menyerang terlebih dahulu). Ada juga yang mengatakan bahwa jihad disyariatkan hanya untuk membebaskan negeri terjajah. Ada juga yang mengatakan bahwa jihad menjadi wajib kalau sudah ada perintah dari penguasa –padahal penguasa itu menjadi antek yahudi dan salibis—. Sekali waktu ada yang mengatakan bahwa jihad sudah tidak relevan untuk zaman kita sekarang, zaman kedamaian dan undang-undang baru internasional, Na`udzubillah min dzalik, kita berlindung kepada Alloh dari kesesatan-kesesatan ini.

Meski ada saja alasan, dorongan, istilah-istilah munafik dan kufur berbentuk apapun yang bertujuan menghapus panji jihad, kalau dirunut ujungnya sebenarnya jalan jihad ini –sejak zaman Rosul r — sudah jelas bagi umat Islam, rambu-rambunya sudah ditetapkan, pemahaman dan fikihnya sudah gamblang, kita tidak perlu lagi menambahkan pemahaman-pemahaman jihad yang baru yang tidak bias diselewengkan oleh siapapun, baik di belahan bumi timur maupun barat.

Khazanah kita sudah terlalu cukup untuk ditambahi, dari khazanah itulah kita menimba rukun, syarat, kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan dan sunnah-sunnah dalam urusan jihad, kita juga mengambil pilar-pilar disyariatkannya jihad dari khazanah tersebut.

Lebih dari itu, Alloh dan rosul-Nya r telah mengkhabarkan bahwa jihad akan terus berlangsung sampai nanti Alloh wariskan bumi dan penduduknya kepada orang-orang sholeh. Khabar dari Alloh dan rosul-Nya ini termasuk perkara baku yang tidak kami ragukan lagi dan tidak akan kami tanyakan kepada siapapun setelah Alloh dan rosul-Nya r menegaskan hakikat ini.

Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini dari Al-Quran dan Sunnah sangatlah banyak, seperti firman Alloh Ta`ala:

{ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆู’ุง ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุฑู’ุชูŽุฏู‘ูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ุนูŽู†ู’ ุฏููŠู’ู†ูู‡ู ููŽุณูŽูˆู’ููŽ ูŠูŽุฃู’ุชููŠ ุงู„ู„ู‡ู ุจูู‚ูŽูˆู’ู…ู ูŠูุญูุจู‘ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูุญูุจู‘ููˆู’ู†ูŽู‡ู ุฃูŽุฐูู„ู‘ูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู’ู†ูŽ ุฃูŽุนูุฒู‘ูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ูƒูŽุงููุฑููŠู’ู†ูŽุŒ ูŠูุฌูŽุงู‡ูุฏููˆู’ู†ูŽ ูููŠู’ ุณูŽุจููŠู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุฎูŽุงูููˆู’ู†ูŽ ู„ูŽูˆู’ู…ูŽุฉูŽ ู„ุงูŽุฆูู…ู ุฐูŽุงู„ููƒูŽ ููŽุถู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ูŠูุคู’ุชููŠู’ู‡ู ู…ูŽู†ู’ ูŠู‘ูŽุดูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุงุณูุนูŒ ุนูŽู„ููŠู’ู…ูŒ}

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian murtad dari agamanya, Alloh akan datangkan satu kaum yang Dia cintai dan merekapun mencintai-Nya, lembut terhadap orang beriman dan keras terhadap orang kafir, mereka berjihad di jalan Alloh dan tidak takut celaan orang yang mencela. Itulah anugerah yang Alloh berikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” 5

Firman Alloh: “…mereka berjihad…” menunjukkan jihad akan terus berlangsung, konteks ayat ini menunjukkan bahwa siapa saja meninggalkan sifat-sifat dalam ayat ini, Alloh akan datangkan kaum lain yang Alloh mencintai mereka dan merekapun mencintai Alloh, merekalah yang akan menyandang sifat-sifat tadi.

Alloh juga berfirman:

{ูˆูŽู‚ูŽุงุชูู„ููˆู’ู‡ูู…ู’ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู„ุงูŽ ุชูŽูƒููˆู’ู†ูŽ ููุชู’ู†ูŽุฉูŒ ูˆูŽูŠูŽูƒููˆู’ู†ูŽ ุงู„ุฏู‘ููŠู’ู†ู ูƒูู„ู‘ูู‡ู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ููŽุฅูู†ู ุงู†ู’ุชูŽู‡ูŽูˆู’ุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ุจูู…ูŽุง ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู’ู†ูŽ ุจูŽุตููŠู’ุฑูŒ}

“Dan perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya menjadi milik Alloh, jika mereka berhenti maka sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” 6

Makna fitnah di sini adalah kekufuran, jadi perang akan terus berlangsung sampai tidak ada lagi kekufuran. Para ulama mengatakan: Kekufuran di muka bumi tidak akan pernah habis kecuali di zaman Nabi Isa turun di akhir zaman, di saat beliau menghapus jizyah dan mematahkan salib serta membunuh babi, beliau hanya menerima Islam. Setelah itu Alloh wafatkan beliau beserta orang-orang beriman yang mengikuti beliau, saat itulah tidak ada di muka bumi yang mengucapkan “Alloh, Alloh,” maka kiamatpun terjadi menimpa makhluk paling buruk saat itu.

Lebih menegaskan bahwa jihad ini akan terus berlangsung, Alloh Ta`ala berfirman dalam ayat jihad yang terakhir turun, yaitu ayatus Saif (ayat pedang):

{ููŽุฅูุฐูŽุง ุงู†ู’ุณูŽู„ูŽุฎูŽ ุงู’ู„ุฃูŽุดู’ู‡ูุฑู ุงู„ู’ุญูุฑูู…ู ููŽุงู‚ู’ุชูู„ููˆุง ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู’ู†ูŽ ุญูŽูŠู’ุซู ูˆูŽุฌูŽุฏู’ุชูู…ููˆู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฎูุฐููˆู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽุงุญู’ุตูุฑููˆู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽุงู‚ู’ุนูุฏููˆู’ุง ู„ูŽู‡ูู…ู’ ูƒูู„ู‘ูŽ ู…ูŽุฑู’ุตูŽุฏู ููŽุฅูู†ู’ ุชูŽุงุจููˆุง ูˆูŽุฃูŽู‚ูŽุงู…ููˆุง ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉูŽ ูˆูŽุขุชููˆุง ุงู„ุฒู‘ูŽูƒูŽุงุฉูŽ ููŽุฎูŽู„ู‘ููˆู’ุง ุณูŽุจููŠู’ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฅููู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ุบูŽูููˆู’ุฑูŒ ุฑู‘ูŽุญููŠู’ู…ูŒ}

“Jika telah habis bulan-bulan haram, perangilah orang-orang musyrik di manapun kalian jumpai, tawanlah dan kepunglah mereka serta intailah dari tempat-tempat pengintaian. Jika mereka taubat dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat, bebaskanlah mereka, sesungguhnya Alloh Mahapengampun lagi Maha Penyayang.” 7

Dalam Al-Quran, ayat yang menunjukkan terus adanya jihad sangatlah banyak.

Adapun dalil terus berlangsungnya jihad dalam As-Sunnah, maka lebih banyak lagi. Di antaranya adalah sabda Rosul r sebagaimana diriwayatkan Al-Jama`ah serta yang lain, dari ‘Urwah Al-Bariqi t ia berkata, Rosululloh r bersabda,

(ุงูŽู„ู’ุฎูŽูŠู’ู„ู ู…ูŽุนู’ู‚ููˆู’ุฏูŒ ูููŠู’ ู†ูŽูˆูŽุงุตููŠู’ู‡ูŽุง ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู ุฅูู„ูŽู‰ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ุงูŽู„ู’ุฃูŽุฌู’ุฑู ูˆูŽุงู’ู„ู…ูŽุบู’ู†ูŽู…ู)

“Akan senantiasa tertambat kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat, yaitu pahala dan ghanimah.”

Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari ketika Bukhori menjadikan hadits ini sebagai dalil akan terus berlangsungnya jihad baik bersama orang jahat ataupun orang baik, “Sebelumnya, Imam Ahmad sudah lebih dahulu menjadikan hadits ini sebagai dalil (terus berlangsungnya jihad), sebab Nabi r menyebutkan terus adanya kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat, kemudian beliau maknai kebaikan itu dengan pahala dan ghanimah, sedangkan ghanimah yang disejajarkan dengan pahala pada kuda hanya terjadi ketika ada jihad. Hadits ini juga berisi anjuran berperang dengan menggunakan kuda. Juga berisi kabar gembira akan tetap bertahannya Islam serta pemeluknya hingga hari kiamat, sebab ada jihad berarti ada mujahidin, mujahidin sendiri adalah orang-orang Islam. Hadits ini senada dengan hadits yang berbunyi: “Akan senantiasa ada satu kelompok umatku yang berperang di atas kebenaran.” Al-Hadits.” Sampai di sini perkataan Ibnu Hajar secara ringkas.

Imam Nawawi berkata dalam kitab Syarah Shohih Muslim-nya ketika mengomentari hadits ini, “Sabda Rosululloh r: “Akan senantiasa tertambat kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat,” ditafsirkan oleh hadits lain dalam hadits shohih: “Kebaikan itu adalah pahala dan ghanimah.” Hadits ini menunjukkan bahwa Islam dan jihad akan tetap eksis hingga hari kiamat, maksud hingga hari kiamat adalah hingga sesaat sebelum kiamat terjadi, yakni ketika datang angin harum dari Yaman yang mencabut nyawa setiap mukmin, laki-laki maupun perempuan, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits shohih.”

Sampai di sini perkataan An-Nawawi.

Dalam hadits riwayat Abu Dawud dan yang lain dari Anas bin Malik ra ia berkata, Rosululloh r bersabda,

(ูˆูŽุงู„ู’ุฌูู‡ูŽุงุฏู ู…ูŽุงุถู ู…ูู†ู’ุฐู ุจูŽุนูŽุซูŽู†ููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูู‚ูŽุงุชูู„ูŽ ุขุฎูุฑู ุฃูู…ู‘ูŽุชููŠู’ ุงู„ุฏู‘ูŽุฌู‘ูŽุงู„ูŽ ู„ุงูŽ ูŠูุจู’ุทูู„ูู‡ู ุฌููˆู’ุฑู ุฌูŽุงุฆูุฑู ูˆูŽู„ุงูŽ ุนูŽุฏู’ู„ู ุนูŽุงุฏูู„ู)

“Jihad akan tetap berjalan sejak Alloh mengutusku hingga umatku yang terakhir memerangi Dajjal, ia tidak akan dihentikan oleh kejahatan orang jahat ataupaun keadilan orang adil.”

Menerangkan hadits ini, penulis kitab `Aunul Ma`bud (Syarah Sunan Abu Dawud) mengatakan: Hadits yang berbunyi: “Jihad akan tetap berjalan sejak Alloh mengutusku,” Maksudnya sejak dimulainya era di mana aku (Rosululloh) diutus, “hingga umatku yang terakhir” maksudnya adalah Nabi Isa atau bisa juga Imam Mahdi, “…memerangi Dajjal…” Dajjal dalam konteks hadits di sini sebagai kata obyek. Setelah Dajjal terbunuh, selesailah sudah jihad. Mengenai peristiwa Ya’juj dan Ma’juj, jihad tidak dilakukan karena tidak mungkin bisa melawan mereka, dalam kondisi seperti ini jihad tidak wajib atas kaum muslimin berdasarkan nash ayat surat Al-Anfal. Adapun setelah Alloh binasakan Ya`juj dan Ma`juj, tidak ada lagi orang kafir di muka bumi selama Nabi Isa masih hidup di bumi. Adapun orang yang kembali kafir setelah kematian Nabi Isa u, mereka tidak diperangi karena baru saja kaum muslimin seluruhnya diwafatkan dengan hembusan angin harum dan karena orang-orang kafir terus ada hingga hari kiamat. Inilah pendapat Al-Qoriy. Al-Munziri tidak mengomentari hadits ini.” Selesai perkataan beliau.

Sebagai dalil akan terus berlangsungnya jihad, seperti tertera dalam Shohih Bukhori Muslim serta kitab hadits lain, redaksinya milik Muslim, dari Jabir t Nabi r bersabda,

(ู„ุงูŽ ุชูŽุฒูŽุงู„ู ุทูŽุงุฆูููŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ ุฃูู…ู‘ูŽุชููŠู’ ูŠูู‚ูŽุงุชูู„ููˆู’ู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู’ู„ุญูŽู‚ู‘ู ุธูŽุงู‡ูุฑููŠู’ู†ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู)

“Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka menang, hingga hari kiamat tiba.”



Dalam lafadz Bukhori disebutkan,

(ู„ุงูŽ ูŠูŽุถูุฑู‘ูู‡ูู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ุฎูŽุฐูŽู„ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ุงูŽ ู…ูŽู†ู’ ุฎูŽุงู„ูŽููŽู‡ูู…ู’)

“Tidak akan terpengaruh oleh orang yang melemahkan semangat dan menyelisihi mereka.”

Dalam lafadz Imam Ahmad: “Mereka tidak mempedulikan orang yang menyelisihi dan melemahkan semangat mereka.”

Sabda beliau: “Akan senantiasa ada…” menjadi dalil akan tetap berlangsungnya jihad meskipun kon-teks hadits ini sudah cukup untuk menetapkan bahwa jihad akan tetap berlangsung.

An-Nawawi berkata dalam Syarah Shohih Muslim-nya: “Saya katakan: Kemungkinan, kelompok ini terpisah-pisah dalam sekian banyak jenis kaum muslimin, di antara mereka ada yang pemberani sebagai pelaku perang, ada juga yang ahli fikih, ahli hadits, orang-orang zuhud, orang yang beramar makruf nahi munkar, ada juga pelaku kebaikan lain, tidak mesti mereka berkumpul menjadi satu, bisa saja mereka berpencar-pencar di berbagai belahan dunia. Hadits ini berisi sebuah mukjizat nyata, karena ciri seperti ini –alhamdulillah— selalu ada dalam umat sejak zaman Nabi r hingga sekarang, dan akan selalu ada hingga tiba ketetapan Alloh sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.” Selesai perkataan An-Nawawi.

Dalil yang lain adalah sabda Nabi r,

(ุฃูู…ูุฑู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูู‚ูŽุงุชูู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุดู’ู‡ูŽุฏููˆู’ุง ุฃูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏุงู‹ ุฑู‘ูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽูŠูู‚ููŠู’ู…ููˆุง ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉูŽ ูˆูŽูŠูุคู’ุชููˆุง ุงู„ุฒู‘ูŽูƒูŽุงุฉูŽ ููŽุฅูุฐูŽุง ููŽุนูŽู„ููˆู’ุง ุฐูŽุงู„ููƒูŽ ุนูŽุตูŽู…ููˆู’ุง ู…ูู†ู‘ููŠ ุฏูู…ูŽุงุกูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุจูุญูŽู‚ู‘ู ุงู’ู„ุฅูุณู’ู„ุงูŽู…ู ูˆูŽุญูุณูŽุงุจูู‡ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู)

“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang hak) selain Alloh dan bahwa Muhammad utusan Alloh, mereka menegakkan sholat dan menunaikan zakat, jika mereka lakukan itu, darah dan harta mereka terlindungi dariku kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka diserahkan kepada Alloh.” (muttafaq ‘alaih)

Dalam hadits ini, beliau menjadikan tujuan akhir peperangan adalah Islam, bermakna jika semua manusia sudah Islam maka tidak lagi ada perang.

Di sisi lain, banyak sekali hadits yang menunjukkan bahwa tidak mungkin seluruh manusia akan menjadi Islam. Demikian juga ada hadits-hadits yang menunjukkan bahwa kekufuran akan ada hingga hari kiamat.

Jika demikian, berarti perang akan selalu ada bersamaan dengan adanya kekufuran sampai tiba ketetapan Alloh Ta‘ala.

Sedangkan maksud ketetapan Alloh dalam hadits ini, ada yang mengatakan masuk Islamnya manusia di zaman Nabi Isa, ada juga yang berpendapat hari kiamat, ada yang mengatakan berhembusnya angin yang mencabut nyawa kaum mukminin, hanya saja makna yang ditunjukkan hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa perang akan selalu ada selama kekufuran ada.

Nash-nash lain yang menunjukkan bahwa jihad akan terus berlangsung hampir tak terhitung, para imam Islampun sepakat dan tidak ada yang berbeda pendapat bahwa jihad akan terus berlangsung. Rosul r sendiri mengkhabarkan hal ini sebagai sebuah berita yang tidak akan pernah berubah dan berganti.

Semua nash ini menjelaskan bahwa tidak akan pernah mungkin satu zaman berlalu sejak diutusnya Nabi r hingga hari kiamat kosong dari panji jihad pembela kebenaran yang diangkat di jalan Alloh Ta‘ala, ini adalah pengkhabaran yang pemung-kirnya bisa kufur kepada Alloh Ta`ala.

Jika kita meyakini hakikat ini, kita jadikan ini sebagai bagian terpenting dalam hidup kita, dan kita asumsikan sebagai salah satu prinsip baku yang kita konsentrasikan kehidupan kita ke arahnya, maka tidak akan mungkin kita akan mau tertinggal dalam memberikan andil kepada panji jihad dan berdiri di bawahnya walau bagaimanapun susahnya kondisi. Karena panji jihad di zaman kapanpun selalu terkait dengan Thoifah Manshuroh (kelompok yang ditolong, kelompok yang menang) yang diridhoi Alloh.

Thoifah manshuroh sendiri –menurut Imam Nawawi— tidak mesti harus ada di satu tempat, bisa saja dalam satu zaman kelompok ini berada di berbagai tempat. Thoifah manshuroh ini berperang di atas kebenaran dan mereka menang, zaman kapanpun tidak akan pernah kosong dari Thoifah manshuroh yang berperang dan mengangkat panji jihad.

Jika kita meyakini akidah ini, kita bisa pastikan bahwa kekuatan kufur dunia dan negara-negara munafik yang turut membantu mereka sampai kapanpun tidak akan pernah mampu memadamkan panji jihad, tidak akan mampu menumpas para mujahidin atau menghapus syiar jihad ini. Mungkin mereka bisa mengisolasinya di satu atau dua tempat, tapi untuk merontokkannya di zaman sekarang, itu hal yang mustahil walaupun seluruh jin dan manusia berkumpul untuk melakukannya. Karena panji jihad ini diangkat atas ketetapan dan izin Alloh Ta‘ala serta tidak mungkin akan diletakkan karena Alloh sendirilah yang menetapkan bagi diri-Nya sendiri untuk meninggikan panji ini sampai umat terakhir Muhammad SAW memerangi Dajjal bersama Isa bin Maryam AS. Inilah hakikat yang mesti kita jadikan titik tolak pertama, inilah keyakinan yang sudah semesti-nya kita memerangi musuh berdasar-kan keyakinan ini. Akidah yakin dan percaya penuh dengan janji Alloh I bahwa jihad akan tetap berjalan hingga hari kiamat.

Keputus asaan kaum muslimin hari ini setelah peristiwa mundurnya mujahidin dari kota-kota di Afghanistan bukan menunjukkan mujahidin putus asa dan berhenti berjihad, selamanya bukan. Mereka tetap yakin jihad ini akan terus berlangsung hingga hari kiamat, kondisi mayoritas kaum muslimin yang begitu mengenaskan juga tidak akan selamanya berarti bahwa kekuatan kufur internasional mampu merontokkan panji jihad di dunia. Sayang, kebanyakan kaum muslimin tidak memahami hakikat permusuhan antara kebenaran dan kebatilan, tidak membaca sejarah umat, sejarah para nabi, khususnya dalam Al-Qur’an.

Seluruh dunia menentang janji Alloh bahwa jihad ini akan tetap berlangsung, sementara kami tetap percaya kepada Alloh dan kami bersumpah bahwa kekuatan kufur dunia yang memerangi Alloh I akan kalah. Undang-undang baru internasional berdiri di atas pemahaman yang sudah ditentukan, slogannya sangat jelas; pemahaman itu adalah jihad adalah terorisme, semua mujahid adalah teroris, para teroris harus ditangkap dan terorisme harus dibasmi; maknanya, para wali Alloh itu harus ditangkap dan syariat Alloh I harus dilenyapkan. Maka, hasil akhir peperangan seperti ini sudah bisa ditebak, dulu Alloh sudah menceritakan itu dalam kitab-Nya, Rosululloh r sudah menerangkannya dalam sunnahnya. Rosululloh r bersabda –sebagaimana riwayat Imam Bukhori, Ahmad dan yang lain, dari Abu Huroiroh t—,

(ู…ูŽู†ู’ ุนูŽุงุฏูŽู‰ ู„ููŠู’ ูˆูŽู„ููŠู‘ู‹ุง ููŽู‚ูŽุฏู’ ุขุฐูŽู†ู’ุชูู‡ู ุจูุงู„ู’ุญูŽุฑู’ุจู)

“Alloh berfirman: Barangsiapa memu-suhi wali-Ku, Aku maklumkan perang dengannya…” artinya, Ku maklumkan bahwa ia pasti hancur, perang Alloh adalah melawan siapa saja yang memusuhi wali-Nya karena kesetiaan mereka kepada Alloh, dan orang menganggap para wali itu sebagai musuh lantaran komitmen mereka di atas agamanya.

Dalam redaksi lain disebutkan: “Aadzantuhuu bil Harbi…”

(Aku umumkan perang kepadanya), bentuknya nakiroh, artinya perang itu mencakup semua makna hukuman. Dalam riwayat Ahmad:

“Barangsiapa menyakiti wali-Ku…” Hanya menyakiti saja sudah berarti perang.

Dalam riwayat lain: “…sungguh ia telah menghalalkan perang melawan-Ku.”

Hukuman ini tidak selalunya nampak seperti yang menimpa umat-umat lain, tapi bisa juga hukuman itu disegerakan, bisa juga ditunda, Allohlah yang berhak menunda, tapi Alloh tidak pernah mengabaikannya.

Adapun hasil akhir dari perang ini, Alloh telah mengisahkannya dalam Al-Quran, kita ambil misalnya firman Alloh Ta‘ala:

{ุฅูู†ู‘ูŽุง ู„ูŽู†ูŽู†ู’ุตูุฑู ุฑูุณูู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆู’ุง ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุฉู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู’ู…ู ุงู’ู„ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุงุฏู}

“Sesungguhnya Kami pasti menolong (memenangkan) para rosul Kami dan orang-orang beriman di dunia dan di hari ketika saksi-saksi tegak.” 8

Alloh juga berfirman menegaskan bahwa musuh orang-orang beriman pasti kalah:

{ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ูƒูŽููŽุฑููˆู’ุง ูŠูู†ู’ููู‚ููˆู’ู†ูŽ ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ูŽู‡ูู…ู’ ู„ููŠูŽุตูุฏู‘ููˆู’ุง ุนูŽู†ู’ ุณูŽุจููŠู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ููŽุณูŽูŠูู†ู’ููู‚ููˆู’ู†ูŽู‡ูŽุง ุซูู…ู‘ูŽ ุชูŽูƒููˆู’ู†ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุญูŽุณู’ุฑูŽุฉู‹ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูุบู’ู„ูŽุจููˆู’ู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ูƒูŽููŽุฑููˆู’ุง ุฅูู„ู‰ูŽ ุฌูŽู‡ูŽู†ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูุญู’ุดูŽุฑููˆู’ู†ูŽ}

Sesungguhnya orang-orang kafir menginfakkan harta mereka untuk memalingkan dari jalan Alloh, maka mereka akan menginfakkannya kemudian akan menjadi penyesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan, dan orang-orang kafir itu akan dikumpulkan di neraka Jahannam.” 9

Alloh mengajak kita untuk mengambil pelajaran dari kejadian pada saat perang Badar, pada Yaumul Furqon (hari pembedaan antara yang hak dan batil):

{ู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุขูŠูŽุฉูŒ ูููŠู’ ููุฆูŽุชูŽูŠู’ู†ูู ุงู’ู„ุชูŽู‚ูŽุชูŽุง ููุฆูŽุฉูŒ ุชูู‚ูŽุงุชูู„ู ูููŠ ุณูŽุจููŠู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุฃูุฎู’ุฑูŽู‰ ูƒูŽุงููุฑูŽุฉูŒ ูŠูŽุฑูŽูˆู’ู†ูŽู‡ูู…ู’ ู…ูุซู’ู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุฑูŽุฃู’ูŠูŽ ุงู„ู’ุนูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู ูŠูุคูŽูŠู‘ูุฏู ุจูู†ูŽุตู’ุฑูู‡ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุดูŽุงุกู ุฅูู†ู‘ูŽ ูููŠู’ ุฐูŽุงู„ููƒูŽ ู„ูŽุนูุจู’ุฑูŽุฉู‹ ู„ูุฃููˆู„ูŠู ุงู’ู„ุฃูŽุจู’ุตูŽุงุฑูู}

“Sungguh telah ada tanda-tanda kebesaran Alloh bagi kalian pada dua kelompok yang bertemu dalam perang; satu kelompok berperang di jalan Alloh, sementara kelompok yang lain kufur, mereka melihat orang beriman dua kali lipat dari mereka jika dilihat mata. Dan Alloh menguatkan dengan pertolongan-Nya kepada siapa saja yang Ia kehendaki, sesungguhnya pada yang demikian terdapat pelajaran bagi mereka yang berpandangan jeli.” 10

Pertanyaan yang selalu mengusik hati dan menyusup ke hati orang-orang lemah adalah: Mengapa Alloh tidak meno-long Pemerintahan Islam Taliban dalam perangnya melawan pasukan sekutu hingga hari ini? Padahal Pemerintahan itulah yang mampu mengangkat syiar penerapan syariat Islam dan memegang teguh Al-Quran dan Sunnah, seluruh dunia bersa-tu menyerangnya sampai-sampai Taliban dipaksa mundur dari kota-kota yang mereka kuasai, mengapakah ini terjadi?

Kami katakan, Alloh memiliki hikmah mengapa itu terjadi, hikmah pertama diterangkan dalam firman Alloh Ta‘ala:

{ุฐูŽุงู„ููƒูŽ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ูŠูŽุดูŽุงุกู ุงู„ู„ู‡ู ู„ุงูŽู†ู’ุชูŽุตูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ู„ู‘ููŠูŽุจู’ู„ููˆูŽ ุจูŽุนู’ุถูŽูƒูู…ู’ ุจูุจูŽุนู’ุถู ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ู‚ูุชูู„ููˆู’ุง ูููŠ ุณูŽุจููŠู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ููŽู„ูŽู†ู’ ูŠูุถูู„ู‘ูŽ ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ูŽู‡ูู…ู’}

“Yang demikian itu, kalau Alloh berkehendak pasti akan menangkan mereka atas orang-orang kafir, akan tetapi untuk menguji sebagian atas sebagian yang lain, dan orang-orang yang terbunuh di jalan Alloh, maka amalan mereka tidak akan pernah disia-siakan.” 11

Bisa saja Alloh memenangkan Taliban atas mereka (bah-kan Alloh sangat Maha Kuasa) sendirian. Bisa saja Alloh mematikan dan meluluh lantakkan seluruh kekuatan mereka sekejap mata, akan tetapi Alloh membiarkan orang-orang kafir itu menguasai kaum muslimin untuk memberikan ujian, artinya untuk menguji kaum muslimin dan mencoba kejujuran mereka meskipun orang-orang kafir berkuasa atas mereka. Jika mereka sabar dan semakin berpegang teguh dengan agama mereka, serta lari dan mengadukan perkaranya kepada Alloh Ta‘ala, maka Alloh akan menolong mereka setelah melihat bahwa mereka memang layak memperoleh kemenangan, Alloh akan mantabkan kekuasaan agama yang Dia ridhoi bagi mereka (Islam), tentunya setelah mereka memenuhi syarat-syarat tercapainya kekuasaan di muka bumi. Alloh Ta‘ala berfirman:

{ูˆูŽุนูŽุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆู’ุง ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุนูŽู…ูู„ููˆุง ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญูŽุงุชู ู„ูŽูŠูŽุณู’ุชูŽุฎู’ู„ูููŽู†ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ูููŠ ุงู’ู„ุฃูŽุฑู’ุถู ูƒูŽู…ูŽุง ุงุณู’ุชูŽุฎู’ู„ูŽููŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽูŠูู…ูŽูƒู‘ูู†ูŽู†ู‘ูŽ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฏููŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุงุฑู’ุชูŽุถูŽู‰ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽูŠูุจูŽุฏู‘ูู„ูŽู†ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏู ุฎูŽูˆู’ููู‡ูู…ู’ ุฃูŽู…ู’ู†ุงู‹ ูŠูŽุนู’ุจูุฏููˆู’ู†ูŽู†ููŠู’ ู„ุงูŽ ูŠูุดู’ุฑููƒููˆู’ู†ูŽ ุจููŠู’ ุดูŽูŠู’ุฆุงู‹ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽููŽุฑูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฐูŽุงู„ููƒูŽ ููŽุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ู’ููŽุงุณูู‚ููˆู’ู†ูŽ}

“Alloh berjanji kepada orang-orang beriman dari kalian, pasti Ia kuasakan mereka di muka bumi sebagaimana orang-orang sebelum mereka dikuasakan, dan akan memantabkan posisi agama mereka yang Alloh ridhoi bagi mereka dan akan menggantikan keadaan takut mereka dengan keamanan, mereka beribadah kepada-Ku dan tidak mensekutukan dengan apapun terhadap-Ku, dan barangsiapa kufur setelah itu, maka mereka adalah orang-orang fasik.” 12

Dan berfirman:

{ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ููˆู’ุณูŽู‰ ู„ูู‚ูŽูˆู’ู…ูู‡ู ุงุณู’ุชูŽุนููŠู’ู†ููˆู’ุง ุจูุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุงุตู’ุจูุฑููˆู’ุง ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู’ู„ุฃูŽุฑู’ุถูŽ ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ูŠููˆู’ุฑูุซูู‡ูŽุง ู…ูŽู†ู’ ูŠู‘ูŽุดูŽุงุกู ู…ูู†ู’ ุนูุจูŽุงุฏูู‡ู ูˆูŽุงู’ู„ุนูŽุงู‚ูุจูŽุฉู ู„ูู„ู’ู…ูุชู‘ูŽู‚ููŠู’ู†ูŽ}

“Musa berkata kepada kaumnya: ‘Minta tolonglah kalian kepada Alloh dan bersabarlah, sesungguhnya bumi ini adalah milik Alloh, Alloh mewariskannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari para hamba-Nya, dan hasil akhir adalah milik orang-orang bertakwa.” 13

Dan berfirman:

{ูˆูŽู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุชูŽุจู’ู†ูŽุง ูููŠ ุงู„ุฒู‘ูŽุจููˆู’ุฑู ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏู ุงู„ุฐู‘ููƒู’ุฑู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู’ู„ุฃูŽุฑู’ุถูŽ ูŠูŽุฑูุซูู‡ูŽุง ุนูุจูŽุงุฏููŠูŽ ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญููˆู’ู†ูŽ}

“Dan telah Kami tetapkan dalam Zabur bahwa bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang sholeh.”

Dan berfirman:

{ุฅู†ู‘ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ู‚ูŽุงู„ููˆู’ุง ุฑูŽุจู‘ูู†ูŽุง ุงู„ู„ู‡ู ุซูู…ู‘ ุงุณู’ุชูŽู‚ูŽุงู…ููˆู’ุง ุชูŽุชูŽู†ูŽุฒู‘ูŽู„ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุงู„ู’ู…ูŽู„ุงูŽุฆููƒูŽุฉู ุฃูŽู„ุงู‘ูŽ ุชูŽุฎูŽุงูููˆู’ุง ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุญู’ุฒูŽู†ููˆู’ุง ูˆูŽุฃูŽุจู’ุดูุฑููˆู’ุง ุจูุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ุงู„ู‘ูŽุชููŠู’ ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุชููˆู’ุนูŽุฏููˆู’ู†ูŽุŒ ู†ูŽุญู’ู†ู ุฃูŽูˆู’ู„ููŠูŽุงุคููƒูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุฉู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽูููŠู’ ุงู’ู„ุขุฎูุฑูŽุฉู ูˆูŽู„ูŽูƒูู…ู’ ูููŠู’ู‡ูŽุง ู…ูŽุง ุชูŽุดู’ุชูŽู‡ููŠู’ ุฃูŽู†ู’ููุณูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽูƒูู…ู’ ูููŠู’ู‡ูŽุง ู…ูŽุง ุชูŽุฏู’ุนููˆู’ู†ูŽ}

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan tuhan kami adalah Alloh kemudian mereka istiqomah, malaikat turun kepada mereka: Janganlah kalian takut dan sedih dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepada kalian. Kami adalah pelindung kalian di kehidupan dunia dan akhirat, di sana kalian mendapatkan apa saja yang kalian inginkan dan di sana terdapat apa yang kalian minta.” 14

Jadi, syarat dimantabkannya posisi (tamkiin) di muka bumi harus terpenuhi dahulu dalam diri kaum mukminin sebelum kemantaban posisi itu tercapai. Sebagian syarat itu telah Alloh sebutkan dalam ayat-ayat tadi. Di antaranya adalah iman dan amal sholeh, mengikuti manhaj Nabi r dan para shahabat beliau yang dahulu telah berkuasa di muka bumi, meyakini ajaran agama yang benar (Islam), tidak menyekutukan Alloh, meminta tolong hanya kepada Alloh, sabar di atas jalan jihad dan perang melawan musuh, bertakwa kepada Alloh dalam kondisi sendirian atau dilihat orang, kesholihan secara menyeluruh di semua lapisan, karakter seorang mujahid hendaknya senantiasa menya-takan tuhanku adalah Alloh sekaligus mengamalkan konsek-wensi pernyataan tersebut, ia harus konsisten (istiqomah) di atas ajaran agamanya. Inilah syarat-syarat yang apabila seorang hamba bersungguh-sungguh merealisasikannya, ia akan menjadi orang yang berhak diberi kemenangan oleh Alloh dan Alloh akan kuasakan dia di muka bumi.

Kalau kita mau meneliti hikmah mengapa Alloh menunda kemenangan dan mendatangkan kekalahan –secara kasat mata— kepada kaum muslimin di medan pertempuran, mau tidak mau kita harus menilainya dengan adil. Hanya, kita akan sendirikan pembahasannya setelah ini dengan izin Alloh, cukup kita isyaratkan di sini secara sepintas mengingat pemahaman seperti ini tidak boleh hilang dari benak setiap muslim yang hidup hari ini di mana ia selalu mengikuti perkembangan dari medan pertempuran di Afghanistan dengan segala suasana dan eksistensinya, peperangan antara kekuatan kufur internasional seluruhnya melawan mujahidin Afghan.

Kita mohon kepada Alloh agar memuliakan mujahidin dan menolong mereka serta menjadikan mereka berkuasa. Semoga Alloh memecah belah dan mencerai beraikan orang-orang kafir, menghinakan dan menjadikan mereka sebagai ghanimah bagi kaum muslimin.

1 QS. Al-Baqoroh: 216
2 QS. At-Taubah: 73

3 QS. At-Taubah: 29

4 QS. At-Taubah: 5

5 QS. Al-Maidah: 54

6 QS. Al-Anfal: 39

7QS. At-Taubah: 5

8 QS. Ghofir: 51

9QS. Al-Anfal: 36

10 QS. Ali Imron: 13

11 QS. Muhammad: 4

12QS. An-Nuur: 55

13 QS. Al-A‘roof: 128

14 QS. Fushilat: 30-31



Dikirim pada 06 September 2010 di jihad

Kepada ikhwan tauhid di mana saja berada, semoga Allah ta’ala memberikan kekuatan dan istiqamah…

Segala puji hanya bagi Allah Rabbul ‘Alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada penghulu kaum muwahhidin Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, keluarganya dan para sahabat semuanya…

Ketahuilah bahwa ajal itu sudah ditentukan yang tidak mungkin dimajukan atau diundur, dan siapa pun tidak bisa merubah ketentuan itu. Allah ta’ala berfirman:

ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูู†ูŽูู’ุณู ุฃูŽู†ู’ ุชูŽู…ููˆุชูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุจูุฅูุฐู’ู†ู ุงู„ู„ู‡ ูƒูุชูŽุงุจู‹ุง ู…ู‘ูุคูŽุฌู‘ูŽู„ุงู‹
“Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang sudah ditentukan waktunya.” [Ali Imran : 145]

Rizqi dan apa yang menimpa kita juga sudah ditentukan lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi sebagaimana di dalam hadits yang shahih, dan bahkan ketentuan itu dicatat pula oleh malaikat di saat masing-masing kita masih berupa janin berumur 4 bulan di rahim ibu, sebagaimana sabdanya:

ุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏูŽูƒูู…ู’ ูŠูุฌู’ู…ูŽุนู ุฎูŽู„ู’ู‚ูู‡ู ูููŠ ุจูŽุทู’ู†ู ุฃูู…ู‘ูู‡ู ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนููŠู†ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ู†ูุทู’ููŽุฉู‹ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูŽูƒููˆู†ู ุนูŽู„ูŽู‚ูŽุฉู‹ ู…ูุซู’ู„ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูŽูƒููˆู†ู ู…ูุถู’ุบูŽุฉู‹ ู…ูุซู’ู„ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูุฑู’ุณูŽู„ู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ู’ู…ูŽู„ูŽูƒ ููŽูŠูŽู†ู’ููุฎู ูููŠู’ู‡ู ุงู„ู’ุฑู‘ููˆู’ุญูŽ ูˆูŠูุคู’ู…ูŽุฑู ุจูุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู ูƒูŽู„ูู…ูŽุงุชู ุจูููƒูŽุชู’ุจู ุฑูุฒู’ู‚ูู‡ู ูˆูŽุฃูŽุฌูŽู„ูู‡ู ูˆูŽุนูŽู…ูŽู„ูู‡ู ูˆูŽุดูŽู‚ููŠู‘ูŒ ุฃูŽูˆู’ ุณูŽุนููŠุฏูŒ
“Sesungguhnya seseorang diantara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya empat puluh hari berupa nuthfah kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian dikirimkan malaikat kepadanya terus dia meniupkan ruh di dalamnya, dan ia diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizqinya, ajalnya, amalnya dan nasibapa dia binasa atau bahagia.” [HR Al Bukhari dan Muslim]

Oleh sebab itu tidak akan mati satu jiwapun kecuali setelah memenuhi ajal dan rizqi yang sudah ditentukan baginya, sebagaimana sabdanya:

ู„ู† ุชู…ูˆุช ู†ูุณ ุญุชู‰ ุชุณุชูƒู…ู„ ุฑุฒู‚ู‡ุง ูˆุฃุฌู„ู‡ุง
“Tidak akan mati satu jiwapun sampai ia menyempurnakan rizqinya dan ajalnya.” [Hadits tsabit riwayat Al Hakim dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilyah]

Dan begitu juga manfaat yang kita dapatkan dan madlarat atau bahaya yang menimpa kita, itu semua sudah ditentukan dan dicatat Allah di dalam Al Lauh Al Mahfudh, sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala:

ู…ูŽุง ุฃูŽุตูŽุงุจูŽ ู…ูู† ู…ู‘ูุตููŠุจูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ูˆูŽู„ูŽุง ูููŠ ุฃูŽู†ููุณููƒูู…ู’ ุฅูู„ู‘ูŽุง ูููŠ ูƒูุชูŽุงุจู ู…ู‘ูู† ู‚ูŽุจู’ู„ู ุฃูŽู† ู†ู‘ูŽุจู’ุฑูŽุฃูŽู‡ูŽุง
“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Al Lauh Al Mahfudh) sebelum kami mewujudkannya.” [Al Hadid : 22]

Oleh sebab itu tidak seorangpun bisa mendatangkan manfaat kepada kita kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagi kita, dan begitu juga sebaliknya tidak ada seorangpun bisa menimpakan madlarat atau bahaya terhadap diri kita kecuali apa yang telah Allah taqdirkan menimpa kita, sebagaimana sabdanya:

ูˆูŽุงุนู’ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุฃูู…ู‘ูŽุฉูŽ ู„ูŽูˆู’ ุงุฌู’ุชูŽู…ูŽุนูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู†ู’ููŽุนููˆูƒูŽ ุจูุดูŽูŠู’ุกู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู†ู’ููŽุนููˆูƒูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุจูุดูŽูŠู’ุกู ู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุชูŽุจูŽู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽูƒูŽ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุงุฌู’ุชูŽู…ูŽุนููˆุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุถูุฑู‘ููˆูƒูŽ ุจูุดูŽูŠู’ุกู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุถูุฑู‘ููˆูƒูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุจูุดูŽูŠู’ุกู ู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุชูŽุจูŽู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุฑูููุนูŽุชู’ ุงู„ู’ุฃูŽู‚ู’ู„ูŽุงู…ู ูˆูŽุฌูŽูู‘ูŽุชู’ ุงู„ุตู‘ูุญููู
“Dan ketahuilah bahwa seandainya umat bersepakat untuk mendatangkan sesuatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak bisa mendatangkan sesuatu manfaat kepadamu kecuali suatu manfaat yang sudah Allah ta’ala tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka bersepakat untuk mendatangkan sesuatu madlarat kepadamu, maka mereka tidak bisa menimpakan sesuatu madlaratpun kepadamu kecuali suatu madlarat yang sudah Allah taqdirkan menimpamu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” [Hadits Hasan shahih riwayat At Tirmidzi]

Ini adalah ketentuan taqdir yang kita imani dan kita yakini agar kita tidak putus asa atau bersedih hati atas bencana atau musibah yang menimpa kita dan supaya kita tidak angkuh dan bangga diri dengan kebaikan yang kita raih, karena itu semua adalah dari Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya ta’ala:

ู„ููƒูŽูŠู’ู„ูŽุง ุชูŽุฃู’ุณูŽูˆู’ุง ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ููŽุงุชูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽูู’ุฑูŽุญููˆุง ุจูู…ูŽุง ุขุชูŽุงูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูุญูุจู‘ู ูƒูู„ู‘ูŽ ู…ูุฎู’ุชูŽุงู„ู ููŽุฎููˆุฑู
“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [Al Hadid : 23]

Kalau hal ini sudah kita pahami, maka ketahuilah wahai ikhwani bahwa Allah ta’ala sudah memerintahkan manusia untuk bertauhid hanya kepada Allah ta’ala dan kufur kepada thaghut:

ุงุนู’ุจูุฏููˆุงู’ ุงู„ู„ู‘ู‡ูŽ ูˆูŽุงุฌู’ุชูŽู†ูุจููˆุงู’ ุงู„ุทู‘ูŽุงุบููˆุชูŽ
“Ibadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut itu.” [An Nahl : 36]

juga memerintahkan untuk mendakwahkannya:

ุงุฏู’ุนู ุฅูู„ูู‰ ุณูŽุจููŠู„ู ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ุจูุงู„ู’ุญููƒู’ู…ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุนูุธูŽุฉู ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู
“Ajaklah (mereka) kepada jalan Rab-mu dengan cara hikmah dan pelajaran yang baik.” [An Nahl : 125]

Dan memerintahkan untuk memperjuangkannya dengan segenap kemampuan, baik harta, jiwa maupun lisan, sebagaimana sabdanya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam:

ุฌูŽุงู‡ูุฏููˆุง ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู†ูŽ ุจูุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ููƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ููุณููƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู„ู’ุณูู†ูŽุชููƒูู…ู’
“Jihadilah orang-orang musyrik itu dengan harta kalian, jiwa kalian dan lisan kalian.” [HR Ahmad dan An Nasai dan dishahihkan oleh Al Hakim]

Dan Allah ta’ala mengabarkan kepada kita dakwah tauhid ini akan selalu memiliki musuh, sebagaimana firman-Nya ta’ala:

ูˆูŽูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ู„ููƒูู„ู‘ู ู†ูุจููŠู‘ู ุนูŽุฏููˆู‘ู‹ุง ุดูŽูŠูŽุงุทููŠู†ูŽ ุงู„ุฅูู†ุณู ูˆูŽุงู„ู’ุฌูู†
“Dan demikianlah, Kami telah menjadikan bagi setiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan manusia dan syaitan-syaitan jin.” [Al An’am : 112]

sebagaimana yang dikatakan Waraqah Ibnu Naufal kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam di awal Islam:

ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฃู’ุชู ุฑูŽุฌูู„ูŒ ุจูู…ูŽุง ุฌูุฆู’ุชูŽ ุจูู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃููˆุฐููŠูŽ
“Tidak seorangpun datang dengan seperti apa yang kamu bawa melainkan pasti disakiti dan dimusuhi.” [HR Al Bukhari]

juga firman-Nya:

ูˆูŽู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ูƒูุฐู‘ูุจูŽุชู’ ุฑูุณูู„ูŒ ู…ู‘ูู† ู‚ูŽุจู’ู„ููƒูŽ ููŽุตูŽุจูŽุฑููˆุงู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ูƒูุฐู‘ูุจููˆุงู’ ูˆูŽุฃููˆุฐููˆุงู’ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุฃูŽุชูŽุงู‡ูู…ู’ ู†ูŽุตู’ุฑูู†ูŽุง ูˆูŽู„ุงูŽ ู…ูุจูŽุฏู‘ูู„ูŽ ู„ููƒูŽู„ูู…ูŽุงุชู ุงู„ู„ู‘ู‡ู
“Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkaupun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat (ketetapan) Allah.” [Al An’am : 34]

Oleh sebab itu setiap orang yang bertauhid akan mendapatkan ujian di dalam keimanannya, sebagaimana firman-Nya:

ุงู„ู…ุŒ ุฃูŽุญูŽุณูุจูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฃูŽู† ูŠูุชู’ุฑูŽูƒููˆุง ุฃูŽู† ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆุง ุขู…ูŽู†ู‘ูŽุง ูˆูŽู‡ูู…ู’ ู„ูŽุง ูŠููู’ุชูŽู†ููˆู†ูŽุŒ ูˆูŽู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ููŽุชูŽู†ู‘ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู…ูู† ู‚ูŽุจู’ู„ูู‡ูู…ู’ ููŽู„ูŽูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุตูŽุฏูŽู‚ููˆุง ูˆูŽู„ูŽูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ูƒูŽุงุฐูุจููŠู†ูŽ
“Alif. Laam. Miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan untuk mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji. Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” [Al ‘Ankabut : 1-3]

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam saat ditanya siapa orang yang paling berat ujiannya maka beliau menjawab:

ุงู„ู’ุฃูŽู†ู’ุจููŠูŽุงุกู ุซูู…ู‘ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญููˆู’ู† ุซูู…ู‘ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุซูŽู„ู ููŽุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุซูŽู„ู ูŠูุจู’ุชูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุญูŽุณูŽุจู ุฏููŠู†ูู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ุฏููŠู†ูู‡ู ุตูู„ู’ุจู‹ุง ุงุดู’ุชูŽุฏู‘ูŽ ุจูŽู„ูŽุงุคูู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ุฏููŠู†ูู‡ู ุฑูู‚ู‘ูŽุฉูŒ ุฎูู ุนู†ู‡
“Para nabi, kemudian orang-orang yang saleh, terus yang berikutnya dan yang berikutnya, seseorang diuji sesuai kadar diennya, bila dia kokoh di dalam diennya maka ujiannya di tambah dan bila tipis di dalam agamanya maka ujiannya diringankan.” [HR Ahmad]

Sedangkan diantara bentuk ujian dari Allah ta’ala kepada ikhwan tauhid pada hari ini adalah penguasaan para thaghut dan anshar mereka terhadap banyak ikhwan dengan bentuk penahanan, pemenjaraan, penyiksaan dan bentuk lainnya, yang mana ini adalah bagian dari ujian yang telah Allah tetapkan, yang harus dihadapi dengan kesabaran, keteguhan prinsip dan ‘izzah, apalagi bagi ikhwan yang telah memposisikan dirinya sebagai mujahidin dan ansharuddien yang tentunya sebelum melangkah masuk ke dalam jalur ini mereka sudah mengetahui konsekuensi jalan ini, yaitu keterbunuhan, terluka, terusir dan yang paling pahitnya adalah pemenjaraan. Oleh sebab itu tidaklah pantas bagi para amir, komandan dan mas’ul di dalam ‘amal islami, dia menampilkan hal-hal yang manisnya saja di dalam amal jihadi ini, seperti ghanimah, kesyahidan dan kemenangan, tanpa menjelaskan hal-hal pahit yang bisa terjadi di dalam jalan ini dan cara menanggulangi dan mengantisipasinya supaya tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk dari keadaan sebelum melangkah, seperti penyesalan, pembongkaran rahasia kepada thaghut, dan yang lebih buruk lagi adalah terpuruk kepada loyalitas yang membatalkan. Karena orang-orang kafir itu kalau sudah menawan dan menguasai orang muslim apalagi mujahidin, maka mereka benar-benar akan bersikap sebagai musuh yang sudah menguasai musuh-musuhnya yang sangat dibencinya, dimana mereka akan melampiaskan segala kesumatnya baik dengan lisannya ataupun dengannya dan kalau bisa mereka itu sangat ingin andai para tawanan itu meninggalkan prinsipnya dan membelot kepada mereka, sebagaimana firman-Nya ta’ala:

ุฅูู† ูŠูŽุซู’ู‚ูŽูููˆูƒูู…ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ููˆุง ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฃูŽุนู’ุฏูŽุงุก ูˆูŽูŠูŽุจู’ุณูุทููˆุง ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุฃูŽูŠู’ุฏููŠูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู„ู’ุณูู†ูŽุชูŽู‡ูู… ุจูุงู„ุณู‘ููˆุกู ูˆูŽูˆูŽุฏู‘ููˆุง ู„ูŽูˆู’ ุชูŽูƒู’ููุฑููˆู†ูŽ
“Jika mereka menangkapmu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagi-mu lalu mereka melepaskan tangan dan lidahnya kepadamu dengan keburukan dan mereka ingin agar kamu (kembali) kafir.” [Al Mumtahanah : 2]

Maka sangatlah aneh kalau ada diantara kita yang bersikap kepada mereka seolah kepada teman, seperti berkelakar, bercanda dan tertawa riang bersama. Padahal yang rukhshah hanyalah sekedar tersenyum yang dipaksakan kepada musuh yang menguasai, sebagaimana ucapan sebagian salaf: “Sesungguhnya kami tersenyum (yang dipaksakan) di hadapan mereka sedangkan hati kami melaknat mereka.” Dimana mereka itu saat menguasai diri kita, mereka tidak akan mengindahkan tali kekerabatan, atau tali perjanjian atau tali kemanusiaan, dimana harga diri dan kehormatan kita dihinakan, fisik disiksa dan keyakinanpun dilecehkan, juga mereka tidak menaruh belas kasihan kepada balita dan wanita dan bahkan kepada lansia. Inilah cerminan firman Allah ta’ala:

ูƒูŽูŠู’ููŽ ูˆูŽุฅูู† ูŠูŽุธู’ู‡ูŽุฑููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ู„ุงูŽ ูŠูŽุฑู’ู‚ูุจููˆุงู’ ูููŠูƒูู…ู’ ุฅูู„ุงู‘ู‹ ูˆูŽู„ุงูŽ ุฐูู…ู‘ูŽุฉู‹
“Bagaimana mungkin (ada perjanjian demikian), padahal jika mereka memperoleh kemenangan atas kalian, mereka tidak mengindahkan hubungan kekerabatan dengan kalian dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian.” [At Taubah : 8]

juga firman-Nya ta’ala:

ู„ุงูŽ ูŠูŽุฑู’ู‚ูุจููˆู†ูŽ ูููŠ ู…ูุคู’ู…ูู†ู ุฅูู„ุงู‘ู‹ ูˆูŽู„ุงูŽ ุฐูู…ู‘ูŽุฉู‹ ูˆูŽุฃููˆู’ู„ูŽุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ู’ู…ูุนู’ุชูŽุฏููˆู†ูŽ
“Mereka tidak mengindahkan hubungan kekerabatan dengan orang mu’min dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” [At Taubah : 10]

Maka peliharalah kebencian dan rasa permusuhan yang ada dihati kita terhadap mereka, karena itu adalah pokok ketauhidan dan modal masuk surga. Raasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

ุฃูˆุซู‚ ุนุฑู‰ ุงู„ุฅู…ุงู† ุงู„ู’ุญูุจู‘ู ูููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ุจูุบู’ุถู ูููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู
“Ikatan iman yang paling kokoh adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” [HR Ahmad]

Hindarilah pemberian mereka yang diluar batas kewajaran, seperti hadiah, tunjangan buat keluarga atau santunan modal, karena hal itu bisa menimbulkan rasa simpati dan kedekatan hati kita kepada mereka yang secara pasti bisa melenyapkan rasa kebencian dan rasa permusuhan, sebab pemberian hadiah itu adalah mematikan permusuhan dan menghidupkan kecintaan, sebagaimana sabdanya:

ุชู‡ุงุฏูˆุง ุชุญุงุจูˆุง
“Salinglah kalian memberikan hadiah, tentu kalian akan saling mencintai.” [Hadits hasan riwayat Al Bukhari di dalam Al Adab Al Mufrid dan Abu Ya’la]

Ketahuilah ikhwan… bahwa bumi ini milik Allah ta’ala dan semua makhluk adalah ciptaan dan hamba Allah ta’ala, baik yang mu’min maupun yang kafir. Allah ta’ala membenci kekafiran dan orangnya dan andaikata Dia mau tentu mudah bagi Dia untuk membinasakan mereka semua, namun Dia ta’ala ingin menguji kita dengan sikap mereka, sebagaimana firman-Nya ta’ala:

ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ูŠูŽุดูŽุงุก ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุงู†ุชูŽุตูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽูƒูู† ู„ู‘ููŠูŽุจู’ู„ููˆูŽ ุจูŽุนู’ุถูŽูƒูู… ุจูุจูŽุนู’ุถ
“dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji kalian satu sama lain.” [Muhammad : 4]

Maka bersabarlah terhadap segala kesulitan di dalam mempertahankan tauhid, dan bersabarlah terhadap jauh dan panjangnya jalan tauhid dan jihad ini, dan sabarlah terhadap sedikitnya kawan dan banyaknya lawan. Jangan terpesona dengan keleluasaan orang-orang kafir di dunia ini:

ู„ุงูŽ ูŠูŽุบูุฑู‘ูŽู†ู‘ูŽูƒูŽ ุชูŽู‚ูŽู„ู‘ูุจู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูƒูŽููŽุฑููˆุงู’ ูููŠ ุงู„ู’ุจูู„ุงูŽุฏูุŒ ู…ูŽุชูŽุงุนูŒ ู‚ูŽู„ููŠู„ูŒ ุซูู…ู‘ูŽ ู…ูŽุฃู’ูˆูŽุงู‡ูู…ู’ ุฌูŽู‡ูŽู†ู‘ูŽู…ู ูˆูŽุจูุฆู’ุณูŽ ุงู„ู’ู…ูู‡ูŽุงุฏู
“Jangan sekali-kali kamu terpedaya oleh keleluasaan orang-orang kafir (bergerak) di seluruh negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat kembali mereka ialah neraka jahannam. (Jahannam) itu seburuk-buruknya tempat tinggal.” [Ali Imran : 196-197]

Karena memang dunia adalah surga buat melampiaskan apa yang mereka inginkan, dan penjara pengekang hawa nafsu bagi orang mu’min, sebagaimana sabdanya:

ุงู„ุฏู†ูŠุงุณุฌู† ุงู„ู…ุคู…ู† ูˆุฌู†ุฉ ุงู„ูƒุงูุฑ
“Dunia adalah penjara orang mu’min dan surga orang kafir.” [HR Muslim]

Oleh karena dia melampiaskan segala keinginannya di surga dunianya ini, maka kelak dia dipenjarakan segalanya di neraka jahannam, sebagaimana firman-Nya:

ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ุฌูŽู‡ูŽู†ู‘ูŽู…ูŽ ู„ูู„ู’ูƒูŽุงููุฑููŠู†ูŽ ุญูŽุตููŠุฑู‹
“Dan Kami jadikan jahannam itu sebagai penjara bagi orang-orang kafir.” [Al Isra : 8]

Dan sebaliknya, karena orang mu’min memenjarakan hawa nafsu dan keinginannya di dunia ini dengan batasan ajaran Allah ta’ala, maka kelak Allah ta’ala masukkan dia ke surga-Nya untuk mencapai segala yang diinginkannya:

ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุจูุขูŠูŽุงุชูู†ูŽุง ูˆูŽูƒูŽุงู†ููˆุง ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽุŒ ุงุฏู’ุฎูู„ููˆุง ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ุฃูŽู†ุชูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูู…ู’ ุชูุญู’ุจูŽุฑููˆู†ูŽุŒ ูŠูุทูŽุงูู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู… ุจูุตูุญูŽุงูู ู…ู‘ูู† ุฐูŽู‡ูŽุจู ูˆูŽุฃูŽูƒู’ูˆูŽุงุจู ูˆูŽูููŠู‡ูŽุง ู…ูŽุง ุชูŽุดู’ุชูŽู‡ููŠู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽู†ููุณู ูˆูŽุชูŽู„ูŽุฐู‘ู ุงู„ู’ุฃูŽุนู’ูŠูู†ู ูˆูŽุฃูŽู†ุชูู…ู’ ูููŠู‡ูŽุง ุฎูŽุงู„ูุฏููˆู†ูŽ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan.” Kepada mereka diedarkan piring-piring dan gelas-gelas dari emas, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata. Dan kamu kekal di dalamnya.” [Az Zukhruf : 69-71]

Ini Allah ta’ala berikan sebagai balasan atas kesabaran orang mu’min di dunia dalam memegang prinsip Al Haq:

ูˆูŽุฌูŽุฒูŽุงู‡ูู… ุจูู…ูŽุง ุตูŽุจูŽุฑููˆุง ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู‹ ูˆูŽุญูŽุฑููŠุฑู‹ุง
“Dan Dia membalas mereka karena kesabarannya (berupa) surga dan (pakaian) sutra.” [Al Insan : 12]

Bersabarlah dan berharaplah kepada Allah serta memelaslah kepada-Nya dengan doa, dzikir dan ketaatan. Mintalah kepada-Nya keteguhan dan peneguhan dengan banyak mengucapkan doa:

ุงู„ู„ู‡ู… ูŠูŽุง ู…ูู‚ูŽู„ู‘ูุจูŽ ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู ุซูŽุจู‘ูุชู’ ู‚ูŽู„ู’ุจููŠ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฏููŠู†ููƒูŽ ูˆูŠุง ู…ุตุฑู ุงู„ู‚ู„ูˆุจ ุตุฑู‘ู ู‚ู„ุจูŠ ุนูŽู„ูŽู‰ ุทุงุนุชูƒ ูˆุทุงุนุฉ ุฑุณูˆู„ูƒ
“Ya Allah, wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati hamba di atas agama-Mu, dan wahai Dzat Yang Memalingkan hati, palingkanlah hati hamba kepada ketaatan kepada-Mu dan ketaatan kepada Rasul-Mu.”

Ketahuilah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya yang saleh.

Jangan engkau takut kepada thaghut dan bala tentaranya, karena manfaat dan madlarat hanyalah di Tangan Allah ta’ala. Mereka itu adalah syaitan-syaitan manusia yang menakut-nakuti kita dengan bala tentara dan algojonya, maka bersandarlah kepada Allah ta’ala dan jangan takut kepada mereka:

ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุฐูŽู„ููƒูู…ู ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ูŠูุฎูŽูˆู‘ููู ุฃูŽูˆู’ู„ููŠูŽุงุกู‡ู ููŽู„ุงูŽ ุชูŽุฎูŽุงูููˆู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฎูŽุงูููˆู†ู ุฅูู† ูƒูู†ุชูู… ู…ู‘ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ
“Sesungguhnya mereka hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kalian) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian orang-orang beriman.” [Ali Imran : 175]

Karena mereka tidak bakal bisa mendatangkan bahaya dan madlarat selagi Allah ta’ala tidak menghendakinya walaupun kita tetap teguh dan mempertahankan prinsip di hadapan mereka, sebagaimana mereka tidak bisa mendatangkan manfaat kepada kita walaupun kita memelas kepada mereka dengan penyesalan dan penanggalan prinsip bila Allah tidak menghendakinya, karena ketentuan sudah Allah ta’ala tetapkan namun kita tidak mengetahuinya sedangkan kita tidak diperintahkan untuk mengikuti apa yang tidak kita ketahui, tapi Allah ta’ala telah memerintahkan kita untuk mengikuti apa yang kita ketahui atau yang mungkin kita ketahui yaitu syari’at-Nya. Di mana ilmu itu ada dua, yaitu: ilmu yang tidak diketahui yaitu taqdir, maka ini harus diimani, dan yang lain adalah ilmu yang ada di hadapan kita yaitu syari’atNya, maka ini harus diikuti.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata:

ูˆุงุนู„ู… ุฃู† ู…ุง ุฃุตุงุจูƒ ู„ู… ูŠูƒู† ู„ูŠุฎุทุฆูƒ ูˆู…ุง ุฃุฎุทุฆูƒ ู„ู… ูŠูƒู† ู„ูŠุตูŠุจูƒ ูˆุฃุนู„ู… ุฃู† ุงู„ู†ุตุฑ ู…ุน ุงู„ุตุจุฑ ูˆุฃู† ุงู„ูุฑุฌ ู…ุน ุงู„ูƒุฑุจ ูˆุฃู† ู…ุน ุงู„ุนุณุฑ ูŠุณุฑุง
“Ketahuilah bahwa apa yang (ditaqdirkan) menimpamu tidaklah mungkin meleset darimu, dan bahwa apa yang (ditaqdirkan) meleset darimu tidaklah mungkin menimpamu. Dan ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran dan bahwa kebebasan itu bersama kesulitan serta bahwa bersama kesukaran itu ada kemudahan.” [lanjutan hadits Ibnu ‘Abbas di dalam Al Arba’in An Nawawiyyah]

Bersabarlah….karena kita semua sedang diuji:

ุดูƒู‰ ุฅู„ูŠู‘ ุฌู…ู„ูŠ ุทูˆู„ ุงู„ุซุฑู‰ ุตุจุฑ ุญู…ูŠู„ ูƒู„ุงู†ุง ู…ุจุชู„ู‰
Untaku mengeluh kepadaku panjangnya perjalanan

(Kukatakan): Kesabaran yang baik, semua kita dapat ujian

Sekarang adalah saatnya bagi semua untuk muhasabah apa yang telah dilakukan kemarin, apa yang kurang? Apa yang harus dibenahi? Setiap masukan dan kritikan dari berbagai pihak harus di dengar, yang baik kita terima dari manapun walaupun tujuan si pengkritik itu hanya ingin mempermalukan kita di hadapan khalayak, karena masalah buruknya niat adalah urusan dia dengan Allah ta’ala, namun kewajiban kita adalah mengamalkan kebenaran sesuai dengan batas maksimal kemampuan yang kita miliki, sedangkan kesalahan adalah hal yang biasa terjadi pada setiap orang yang berbuat supaya dilakukan perbaikan untuk kedepannya, namun yang tercela adalah orang yang hanya pandai berkomentar dan menyalahkan tanpa mau berbuat atau minimal membantu meringankan beban orang yang mau berbuat dengan menyantuni keluarganya atau hal lainnya..

Semoga Allah ta’ala memberikan kesabaran dan istiqamah kepada semua orang-orang yang bertauhid di mana saja mereka berada ….

ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ุฃุฌู…ุนูŠู† ูˆุขุฎุฑ ุฏุนูˆุงู†ุง ุงู† ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†




26 Sya’ban 1431 H

Abu Sulaiman

http://millahibrahim.wordpress.com/2010/08/27/teguhlah-di-jalan-allah/#more-1350

Dikirim pada 06 September 2010 di tauhid


Abdullah Muridusy Syahadah

Kepada Para Aktivis Islam Yang Bergabung Di Dalam Tandzim Tertentu, Dan Kaum Muslimin Secara Keseluruhan

Di Mana Saja Berada

ุงูŽู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡

ุงูŽู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ูู„ู„ู‡ู ู…ูุนูุฒู‘ู ุงู’ู„ุฅูุณู’ู„ุงูŽู…ู ุจูู†ูŽุตู’ุฑูู‡ุŒ ูˆูŽู…ูุฐูู„ู‘ู ุงู„ุดู‘ูุฑู’ูƒู ุจูู‚ูŽู‡ู’ุฑูู‡ุŒ ูˆูŽู…ูุตูŽุฑู‘ูู ุงู’ู„ุฃูู…ููˆุฑ ุจูุฃูŽู…ู’ุฑูู‡ุŒ ูˆูŽู…ูุณู’ุชูŽุฏู’ุฑูุฌู ุงู’ู„ูƒูŽุงููุฑููŠู’ู†ูŽ ุจูู…ูŽูƒู’ุฑูู‡ุŒ ุงูŽู„ู‘ูŽุฐููŠ ู‚ูŽุฏู‘ุฑูŽ ุงู’ู„ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ูŽ ุฏููˆู„ุงู‹ ุจูุนูŽุฏู’ู„ูู‡ุŒ ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ููŽ ู…ูŽู†ูŽุงุฑูŽ ุงู’ู„ุฅูุณู’ู„ุงูŽู…ู ุจูุณูŽูŠู’ููู‡.

ุฃู…ู‘ูŽุง ุจุนุฏุ›

Hanya kepada Allah kita memuji, dan hanya kepada-Nya kita bersyukur atas semua nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada kita. Dan kita sadar bahwa semua nikmat yang diberikan kepada kita seyogyanya kita gunakan untuk beribadah kepada-Nya, dengan taat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Intinya adalah kita gunakan kenikmatan ini untuk Menegakkan Kalimah Allah Yang Mulia di atas muka bumi ini. Dan kita faham bahwa hidup dan mati kita harus kita persembahkan untuk Allah Ta’ala.

Sholawat serta salam kita haturkan kepada Rosulullah Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam. Imam orang-orang bertaqwa dan komandan para mujahidin. Yang telah menunaikan amanah dan menyampaikan risalah. Kita sadar bahwa kita adalah tentara-tentaranya yang siap mengemban risalahnya. Walau waktu kita habis, harta kita terkuras dan nyawa kita hilang dari raga, demi meneruskan perjuangannya. Semoga kita semua mendapatkan syafa’atnya kelak di akhirat.

Ikhfah fillah …..

Dalam risalah yang Ke-5 ini, saya ingin menuliskan sebuah risalah yang berjudul “Ketika Ulama Menjadi Thoghut”. Merupakan sebuah keprihatinan yang mendalam melihat fenomena yang terjadi di sekitar kita, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Yang mana ulama menjadi komoditi politik, dan ulama dijadikan corong dan kaki tangan panjang dari “Oknum-oknum yang jahat dan mempunyai kekuasaan”. Dan atau justru para ulama itu tanpa mereka sadari menjadikan dirinya sebagai Thoghut yang diibadahi selain Allah. Dijadikan thoghut yang ditaati dan ditunduki segala perintah dan larangannya.

Tulisan ini bukan berarti tidak berdasarkan dalil dan fakta di lapangan. Selalunya risalah-risalah yang saya sampaikan merupakan hasil pembelajaran dari sebuah nash di dalam Al Kitab dan As Sunnah, lalu dikuatkan dengan data-data dan fakta yang secara empiris menggambarkan kebenaran nash-nash tersebut. Maka selalunya saya mulai dengan sebuah kisah dan cerita kejadian. Dengan berpijak dari ayat “ููŽุงุนู’ุชูŽุจูุฑููˆุง ูŠูŽุง ุฃููˆู„ููŠ ุงู’ู„ุฃูŽุจู’ุตูŽุงุฑู’” (Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang mempunyai penglihatan).

Ikhwah fillah …..

Ada sebuah kisah:

Pada tanggal 18-21 Desember, tahun 1983, diadakan MUSYAWARAH NASIONAL ALIM ULAMA SE-INDONESIA. Yang diadakan di Pondok Pesantren Asem Bagus Situbondo. Pondok tersebut dipimpin oleh KH. As’ad Syamsul Arifin.

Musyawaroh tersebut memutuskan lima poin. Adapun poin yang ke-empat adalah PENERIMAAN DAN PENGAMALAN PANCASILA ADALAH MERUPAKAN PERWUJUDAN DARI UPAYA UMMAT ISLAM INDONESIA DALAM MELAKSANAKAN SYARI’AT AGAMANYA”.[1]

Na’udzubillah min Dzalik….. Bagaimana para ulama itu bisa membuat Deklarasi seperti itu?

Kisah yang lain:

Ketika pemerintah murtad ini hendak merayakan pesta demokrasi. Tepatnya pada tanggal 9 April 2009 M. pemerintah melihat gelombang GOLPUT (Golongan Putih / Tidak menggunakan hak suaranya pada pemilu). Bahkan hampir 40 % suara GOLPUT itu terjadi pada tiap pemilu. Baik pemilu tingkat Daerah maupun tingkat Nasional.

Melihat gelombang GOLPUT yang semakin membesar ini, maka Pemerintah murtad ini memutar otak dengan cara memanfaatkan para “Ulama” yang notabene dipandang “Moderat”, untuk berbicara di depan umum, bahkan Live di stasiun Televisi yang menerangkan tentang “Bolehnya Pemilu”, bahkan mereka memfatwakan bahwa “GOLPUT HARAM”. Dengan menyitir beberapa ayat yang diperkosa dan dinodai kesuciannya, serta diselewengkan makna sebenarnya. Maka di sebuah Negara “Murtad” yang notabene mayoritas penduduknya muslim, pasti disana dibuat satu badan yang namanya “M.U.T” (Majlis Ulama Thoghut). Mereka adalah kumpulan para ulama sulthon (penguasa), yang berfatwa sesuai pesanan tuannya. Maka para ulama yang seperti ini disifati oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sebagai “ู„ูุตู‘ูŒ” (Pencuri alias Maaaaaling).

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกูŽ ู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุซูŽุฉู ุงู„ู’ุฃูŽู†ู’ุจููŠูŽุงุกู

“Dan ulama itu adalah pewaris para nabi” (HR. al-Bukhori)

Dalam riwayat lain beliau bersabda:

ุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูู…ูŽ ูŠูุฎูŽุงู„ูุทู ุงู„ุณู‘ูู„ู’ุทูŽุงู†ูŽ ู…ูุฎูŽุงู„ูŽุทูŽุฉู‹ ูƒูŽุซููŠู’ุฑูŽุฉู‹ ููŽุงุนู’ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูุตู‘ูŒ (ู„ู„ุฏูŠู„ู…ูŠ ููŠ ู…ุณู†ุฏ ุงู„ูุฑุฏูˆุณ – ุนู† ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ)

“Jika kamu melihat seorang ‘alim (mufrod dari ‘ulama) sering bergaul dengan penguasa, maka ketahuilah bahwa dia pencuri (maling).” (HR. ad-Daylami dalam Musnad al-Firdaus – dari Abu Huroyroh)

Kisah lain:

Seorang ikhwah aktivis bertanya kepada ustadznya dan atau mas’ulnya: “Ustadz, ana kedatangan ikhwah mujahid yang hendak singgah di rumah ana. Bolehkah ana menerimanya dan menginapkannya di rumah ana? Ustadz tersebut menjawab: Jangan! Nanti kamu terkena embetannya”. Na’udzu billahi min dzalik

Akhirnya ikhwah aktivis ini tidak menyediakan tempat buat ikhwah mujahid dengan alasan “Larangan dari ustadznya”.

Ikhwah haroky tersebut tidak jadi menyediakan tempat buat ikhwah mujahid lantaran larangan dari ustadznya. Padahal Allah memerintahkan kepada kita untuk menyediakan tempat bagi mujahid fie sabililah. Sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang Telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Anfal: 72).

Dan masih banyak kisah-kisah yang menjelaskan seperti fakta di atas.

Ikhwaf fillah …..

Mari kita kaji firman Allah Ta’ala:

“Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. (QS. An Nahl: 36).

Apasih makna Thoghut Itu?

Pengertian Thoghut sangat banyak sekali. Adapun inti dari pengertian yang dijabarkan oleh para salaf dan ulama’ adalah sebagaimana yang diterangkan oleh Imam An Nawawi: Berkata Al Laits, Abu ‘Ubaidah, Al Kasa’I dan jumhur ahli bahasa: “Thoghut adalah Segala yang diibadahi selain Allah Ta’ala”. [2]

Jadi THOGHUT adalah setiap yang ditaati dan ditunduki selain Allah Ta’ala. Maka Setiap orang yang ditaati di dalam perintah dan larangannya, sementara perintah dan larangannya tersebut bertentangan dengan perintah dan larangan Allah Ta’ala. Maka orang yang seperti itu disebut Thoghut. Dan orang yang mengikuti Thoghut dan mengikuti fatwanya maka dia menjadi Penyembah Thoghut thoghut tersebut.

Adapun Pentolan Thoghut disebutkan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rohimahullah itu ada lima. Dan diantara lima itu adalah disebut Ulama dan atau Pemimpin.[3]

Allah Ta’ala berfirman:

“Mereka menjadikan AHBAR (orang-orang alimnya) dan RUHBAN (rahib-rahib) mereka sebagai Rob selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka Hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (QS. At Taubah: 31).

Dalam atsar yang hasan dari ‘Adiy Ibnu Hatim (dia asalnya Nashrani kemudian masuk Islam) Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam membacakan ayat itu di hadapan ‘Adiy Ibnu Hatim, maka dia berkata: “Wahai Rasulullah, kami dahulu tidak pernah ibadah dan sujud kepada mereka (ahli ilmu dan para rahib)” maka Rasulullah berkata, “Bukankah mereka itu menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan kalian ikut-ikutan menghalalkannya? Bukankah mereka mengharamkan apa yang telah Allah halalkan lalu kalian ikut-ikutan mengharamkannya?” lalu ‘Adiy Ibnu Hatim berkata, “Ya, betul” lalu Rasulullah berkata lagi, “Itulah bentuk peribadatan orang-orang Nashrani kepada mereka itu” (HR. At Tirmidzi)

Adapun tafsir ayat ““Mereka menjadikan AHBAR (orang-orang alimnya) dan RUHBAN (rahib-rahib) mereka sebagai Rob selain Allah”. adalah sesungguhnya mereka mengikuti orang-orang Alim dan Pendeta-Pendeta dalam masalah penghalalan dan pengharaman”.[4]

Maksudnya adalah mereka menjadikan para ulamanya, ustadznya, kyainya dan Qo’idnya (Pemimpin) sebagai orang yang paling berhak membuat fatwa dan instruksi yang 100 % mutlak diikuti dan ditaati, tanpa melihat apakah instruksi dan fatwanya tersebut benar ataukah salah.

Ikhwah fillah …..

Kadang kita tidak sadar, bahwa terkadang kita menjadi korban “fatwa dan instruksi” dari para ustadz, dan atau qoidnya “Yang tidak Jujur”. Karena kita selaku anggota bawahan, yang selalu mengedepankan perasaan “Tsiqqoh kepada atasan” sehingga kita telan mentah-mentah semua fatwa, instruksi dan kabar dari atasan, tanpa melihat kebenaran fatwa, instruksi dan kabar yang disampaikan.

Banyak kasus terjadi di lapangan, seorang ustadz mengatakan bahwa “Si A adalah anak buah Thoghut, Si B bukan anak buah Thoghut”. Padahal sama-sama si A dan si B pernah mendatangi undangan perkumpulan yang diadakan oleh Thoghut. Sehingga perkataan ustadz ini dipercaya dan diikuti oleh anak buahnya. lalu terjadi di lapangan sebuah fenomena “para anak buah ustadz ini memusuhi dan mencerca “Si A yang dibilang oleh atasan itu sebagai anak buah Thoghut. Padahal data dan fakta serta bukti tidak bisa dikeluarkan oleh atasan dan atau ustadz tersebut yang memvonis bahwa si A adalah anak buah Thoghut.

Maka dalam satu kondisi ustadz dan atau atasan yang seperti ini bisa menjadi Thoghut, dan dalam kondisi yang lain a’dho’ (anak buah/bawahan) bisa menjadi penyembah Thoghut.

Ikhwah fillah …..

Memang terkadang kejujuran dan ketsiqohan kita kepada seorang ustadz dan atau Qo’id menjadi bumerang buat kita, dan bisa menjadi senjata makan tuan yang mencelakakan kita kelak, jika pemimpin tersebut tidak jujur dan dusta.

Biasanya kedustaan pemimpin ini keluar manakala dia mencari simpati dan kepercayaan para pengikutnya, dengan cara dia membuat cerita bohong, dan fitnah-fitnah keji. Walau pun kadang harus mengorbankan seorang ikhwah yang lain untuk jadi kambing hitamnya. Dan biasanya pemimpin yang seperti ini bertujuan mengekalkan kepemimpinannya dan kekuasaannya, atau untuk mengekalkan Tandzimnya.

Ikhwah fillah …..

Apakah kita sadar, jika para pemimpin yang membohongi kita itu nantinya akan mencelakakan kita di akhirat kelak? Padahal kita mengikuti dia itu berdasarkan asas percaya dan tsiqqoh kepadanya! Jika ketsiqqohan kita kepadanya ternyata dibawa kepada kedustaan dan kejahatan, maka di akhirat pun kita akan celaka dan tidak bisa mendapat udzur dari Allah. Ingatlah firman Allah:

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka”. (QS. Al Baqoroh: 166-167).

Dapatkah para pemimpin yang menyesatkan kita itu akan menyelamatkan kita dari adzab Allah? Ataukah para ustadz dan atau pemimpin itu dapat meringankan sedikit saja dari pedihnya siksa neraka? Tidak ….. Sekali-kali tidak akan dapat menyelamatkan kita dan meringankan dari pedihnya siksa Allah di neraka kelak.

Oleh karena itu wahai ikhwah fillah. Jadikanlah AL HAQ sebagai pijakan dasar kita di dalam berfikir, melangkah dan bersikap. Jangan taqlid buta kepada para ustadz dan Qoid dengan alasan Tsiqqoh kepadanya.

Sayyidina Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu berkata:

ุงุนู’ุฑููู ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ูŽ ุชูŽุนู’ุฑูู ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽู‡ู

“Kenalilah kebenaran (niscaya engkau) akan mengetahui siapa pelaku kebenaran”. (Faydhul Qodir)

Ingat! Ustadz dan Qo’id juga manusia biasa, yang tidak ma’sum dan terlepas dari salah dan lupa. Maka tidak ada yang tertolak perkataannya kecuali pemilik kubur ini (Yakni Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam).

Oleh karena itu wahai ikhwah fillah ….. Berhati-hatilah dalam menerima dan mengambil instruksi serta kabar. Walaupun itu dari orang yang paling anda percaya, walaupun itu berasal dari mas’ul (pemimpin) anda. Cek lah kebenaran ucapan dia dengan nash-nash syar’ie yang ada di dalam Al Kitab dan As Sunnah, cek lah kabar yang disampaikan kepada antum dengan menanyakan data, fakta dan saksi yang kuat. Karena tidak sedikit dari para pemimpin yang tidak jujur. Karena tidak sedikit para pemimpin yang menjadi pecundang.

Sebagai contoh:

Seorang yang dianggap sesepuh kampong bercerita kepada beberapa ikhwah yang dianggapnya tsiqqoh kepadanya. Dia berkata: Si A itu tidak dapat dipercaya. Dia dikasih amanah malah cerita kepada orang lain, lalu orang lain tersebut cerita kepada orang lain lagi”.

Bagi ikhwah-ikhwah yang mendengar, pasti percaya dengan cerita ini, karena yang bercerita adalah Sesepuh kampung disitu. Padahal setelah di kroscek kepada si A, ternyata cerita ini bohong. Bahkan ketika si A menanyakan sendiri kepada si sesepuh kampong tersebut, si sesepuh kampong pun tidak bisa menjawab apa-apa.

Nach, inilah salah satu contohnya. Oleh karena itu, kita harus selalu mengecek dan menanyakan kebenaran data, fakta dan saksi disetiap mendengar kabar. Karena ada kata-kata mutiara arab:

ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุจูŽุฑู ูƒูŽุงู„ู…ู’ุนูุงูŽูŠูŽู†ูŽุฉู

“Tidaklah kabar itu seperti kenyataannya”







Wahai para ustadz dan pemimpin …..

Andalah panutan ummat. Andalah pengawal ummat. Dan andalah yang menjadi barometer ummat di dalam bertindak. Sungguh! Perkataan dan amalanmu menjadi fatwa bagi a’dho’mu. Jujurlah anda kepada Allah. jujurlah anda pada diri anda sendiri, sehingga tidak anda jadikan ummat dan mad’u anda sebagai komoditas kebohongan anda.

Memang kadang berat bagi seorang ustadz untuk mengatakan tidak tahu dalam satu hukum tertentu. Memang kadang berat bagi pemimpin untuk mengatakan tidak tahu terhadap sebuah informasi. Namun perkataan “Tidak Tahu” itulah yang akan menyelamatkan diri anda dari api neraka. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS. Al Isro’: 16).

Memang kadang kedudukan dapat menjadikan kita buta, memang kadang kedudukan dapat menjadikan kita tuli, dan kadang kedudukan dapat menjadikan kita bisu. Namun, jika kita jujur kepada Allah dan kepada diri kita sendiri, insya Allah mata kita bisa melihat, telinga kita bisa mendengar, dan mulut kita bisa berbicara. Tentunya dapat melihat kebenaran, dapat mendengar kebenaran, dan dapat berucap kebenaran.

Ucapkanlah kebenaran walaupun itu pahit rasanya, ucapkanlah kebenaran walaupun harus berhadapan dengan pintu penjara dan tiang gantungan. Atau jika anda tidak mampu, diamlah. Diam itu lebih baik. Apalagi di zaman yang penuh dengan fitnah ini.

Ikhwah fillah …..

Dalam etika berjama’ah dan bertandzim, memang Qo’id (Pemimpin) akan sangat dihormati dan disegani. Karena selama ini pemimpin selalu identik dengan penyampai AL HAQ, sementara A’dho’ (Anak buah) akan selalu bersikap husnudhon dan Tsiqqoh kepadanya, karena memang a’dho’ selalu terjerat dengan tali “ASSAM’U wa THO’AH”.

Dalam kondisi dihormati dan disegani, kadang menjadikan sang Qo’id lupa diri, bahwa syetan akan selalu memasang TALBIS IBLISnya (Perangkap Syetan). Syetan akan menggodanya dari arah depan, belakang, kanan, kiri, atas dan bawahnya. Hingga Qo’id itu dapat tergoda.

Ikhwah fillah …..

Bagi anda yang berstatus sebagai A’dho’ (Anggota). Sadarkah anda bahwa pemimpin anda itu manusia biasa? Sadarkah anda bahwa pemimpin anda itu berpotensi untuk bersalah?

Ada sebuah kisah:

Seorang ustadz (Mas’ul) pernah mengatakan: “Anda harus berhati-hati kepada si A dan si B. karena dia pernah mendatangai undangan Thoghut”. Padahal dalam kesempatan yang lain ustaqdz itu pun pernah mendatangi undangan Thoghut juga. Dan bahkan pernah menerima amplop dari Thoghut. Walaupun dia selalu beralasan “Kita harus pandai-pandai berdiplomasi dengan Thoghut. Kita terima uangnya, tapi jangan kita gunakan buat makan”.

Ya akhie…. Apa bedanya pemimpin ini dengan si A dan si B dalam kasus ini? Apakah karena si A dan si B berstatus A’dho’, dan si pemimpin berstatus atasan? Wal ‘iyadzu billah.

Ikhwah fillah …..

Kisah-kisah di atas hanya menjadi ibroh dan pelajaran buat kita. Bahwa pemimpin bukanlah nabi. Pemimpin bukanlah rosul yang ma’sum dari dosa. Oleh karena itu kita tidak boleh taklid buta kepada pemimpin. Kita hanya boleh taklid buta kepada AL HAQ. Selain kepada nabi dan rosul, maka kita tidak boleh mengambil perkataan dan fatwanya secara 100 %. Karena bisa mengandung salah dan khilaf.

Ikhwah fillah …..

“Ketika Ulama menjadi Thoghut”. Satu judul yang begitu mendalam makna dan artinya. Satu judul yang begitu mengiris sebagian hati para ulama suu’. Menjadi jarum tajam yang menusuk hati para pemimpin yang suu’. Menjadi duri tajam yang menusuk kaki para ulama yang dijuluki “Maaaaaling”. Wal ‘iyadzu billah.

Namun risalah ini bukan bermaksud memfonis ulama tertentu. Bukan bermaksud menuduh Qo’id tertentu. Dan juga bukan untuk melecehkan sebagian ustadz, Qo’id dan sesepuh kampong tertentu.

Ini hanyalah muhasabah, ini hanyalah refleksi bagi kita semua, dan ini hanyalah instrospeksi diri buat kita. Tidak ada yang saya harapkan kecuali kebaikan dan perbaikan. Sebagaimana yang dikatakan oleh nabi Syu’aib ‘alaihis salam: “Tidaklah aku berkehendak kecuali untuk perbaikan semampuku”.

Mungkin ada kata yang dianggap menyindir, mungkin terdapat kata yang dikira memojokkan, mungkin ada ungkapan kata yang terkesan menjelekkan. Itu hanya disebabkan kelemahan dan kekurangan saya di dalam mengungkapkan sebuah nasihat dan tausiyah dengan tutur kata yang sopan dan untaian kalimat yang indah. Sekali lagi, tidak ada maksud menjelekkan, menguliti, dan atau mencemooh seorang ustadz, Qo’id dan sesepuh kampong tertentu. Hanya sebagai Tawashou Bil Haqqi saja.

Ikhwah fillah …..

Semoga risalah ini bermanfaat buat kita semua. Terutama buat saya sendiri. Dan semoga ini bermanfaat bagi para ikhwah, terkhusus yang hidup di dalam sebuah tandzim, dan juga bisa bermanfaat bagi para ustadz yang menjadi mas’ul dan atau Qo’id di dalam sebuah Tandzim tertentu.

Walau mungkin ini menjadi sesuatu yang pahit yang harus ditelan. Kalau memang ternyata ini Pil pahit penyehat penyakit yang harus ditelan, maka dengan perasaan agak berat kita pun harus menelannya.

ุญูŽุณู’ุจูู†ูŽุง ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽู†ูุนู’ู…ูŽ ุงู„ู’ูˆูŽูƒููŠู’ู„ู ู†ูุนู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ู„ูŽู‰ ูˆูŽู†ูุนู’ู…ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุตููŠู’ุฑู

ู„ุงูŽ ุญูŽูˆู’ู„ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ู‚ููˆู‘ูŽุฉูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุจูุง ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ู’ุนูŽู„ููŠู‘ู ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู’ู…ู

ู†ูŽุตู’ุฑูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽููŽุชู’ุญูŒ ู‚ูŽุฑููŠู’ุจูŒ

ุงูŽู„ู‘ูŽู„ู‡ูู…ู‘ูŽ ุงูŽู„ุงูŽ ู‡ูŽู„ู’ ุจูŽู„ู‘ูŽุบู’ุชู ุงูŽู„ู‘ูŽู„ู‡ูู…ู‘ูŽ ููŽุงุดู’ู‡ูŽุฏู’

ุงูŽู„ู‘ูŽู„ู‡ูู…ู‘ูŽ ุงูŽู„ุงูŽ ู‡ูŽู„ู’ ุจูŽู„ู‘ูŽุบู’ุชู ุงูŽู„ู‘ูŽู„ู‡ูู…ู‘ูŽ ููŽุงุดู’ู‡ูŽุฏู’

ุงูŽู„ู‘ูŽู„ู‡ูู…ู‘ูŽ ุงูŽู„ุงูŽ ู‡ูŽู„ู’ ุจูŽู„ู‘ูŽุบู’ุชู ุงูŽู„ู‘ูŽู„ู‡ูู…ู‘ูŽ ููŽุงุดู’ู‡ูŽุฏู’

ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡

Bumi Allah, 3 April 2009 M

NB. Jika antum ingin perdalam lagi masalah ini “ULAMA MENJADI THOGHUT”. Antum bisa buka dalam risalah yang ditulis oleh Syekh Abu Bashir At Tunisy, yang berjudul “ุฏูุนูŽุงุฉูŒ ุฃูŽู…ู’ ุทูุบูŽุงุฉูŒ(Da’I ataukah Thoghut).

[1] . disadur dari isi ceramah Ustadz Abdullah Sungkar Rohimahullah dalam salah satu ceramahnya yang berjudul Asasul Khomsah.
[2] . Syarh Shohih Muslim : 3/18. Untuk lebih detailnya bisa dibaca dalam buku AT THOGHUT, yang ditulis oleh Syekh Abu Bashir At Tunisy.

[3]. Lihat dalam Kitab Al Jami’ Fie Tholabi ‘Ilmis Syarif, dalam Bab Hukmu Anshorut Thoghut. Yang ditulis oleh syekh Abdul Qodir bin Abdul ‘Aziz fakkallahu asrohu.

[4] . Lihat Dalam Tafsir Ibnu Katsir : 2/460

disunting dari ishoba.wordpress.com

Dikirim pada 29 Agustus 2010 di tauhid

Nama Dan Nasabnya

Beliau adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin ‘Ubaid bin ‘Abdu Yazid bin Hasyim bin Murrah bin al-Muththalib bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu`ay bin Ghalib Abu ‘Abdillah al-Qurasyi asy-Syafi’i al-Makki, keluarga dekat Rasulullah SAW dan putera pamannya.

Al-Muththalib adalah saudara Hasyim yang merupakan ayah dari ‘Abdul Muththalib, kakek Rasulullah SAW. Jadi, Imam asy-Syafi’i berkumpul (bertemu nasabnya) dengan Rasulullah pada ‘Abdi Manaf bin Qushay, kakek Rasulullah yang ketiga

Sebutan “asy-Syafi’i” dinisbatkan kepada kakeknya yang bernama Syafi’ bin as-Saib, seorang shahabat junior yang sempat bertemu dengan Raasulullah SAW ketika masih muda.

Sedangkan as-Saib adalah seorang yang mirip dengan Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan bahwa ketika suatu hari Nabi SAW berada di sebuah tempat yang bernama Fushthath, datanglah as-Saib bin ‘’Ubaid beserta puteranya, yaitu Syafi’ bin as-Saib, maka Rasulullah SAW memandangnya dan berkata, “Adalah suatu kebahagiaan bila seseorang mirip dengan ayahnya.”

Sementara ibunya berasal dari suku Azd, Yaman.

Gelarnya

Ia digelari sebagai Naashir al-Hadits (pembela hadits) atau Nasshir as-Sunnah, gelar ini diberikan karena pembelaannya terhadap hadits Rasulullah SAW dan komitmennya untuk mengikuti as-Sunnah.

Kelahiran Dan Pertumbuhannya

Para sejarawan sepakat, ia lahir pada tahun 150 H, yang merupakan -menurut pendapat yang kuat- tahun wafatnya Imam Abu Hanifah RAH tetapi mengenai tanggalnya, para ulama tidak ada yang memastikannya.

Tempat Kelahirannya

Ada banyak riwayat tentang tempat kelahiran Imam asy-Syafi’i. Yang paling populer adalah bahwa beliau dilahirkan di kota Ghazzah (Ghaza). Pendapat lain mengatakan, di kota ‘Asqalan bahkan ada yang mengatakan di Yaman.

Imam al-Baihaqi mengkonfirmasikan semua riwayat-riwayat tersebut dengan mengatakan bahwa yang shahih beliau dilahirkan di Ghaza bukan di Yaman. Sedangkan penyebutan ‘Yaman’ barangkali maksudnya adalah tempat yang dihuni oleh sebagian keturunan Yaman di kota Ghaza. Beliau kemudian lebih mendetail lagi dengan mengatakan, “Seluruh riwayat menunjukkan bahwa Imam asy-Syafi’i dilahirkan di kota Ghaza, lalu dibawa ke ‘Asqalan, lalu dibawa ke Mekkah.”

Ibn Hajar mengkonfirmasikan secara lebih spesifik lagi dengan mengatakan tidak ada pertentangan antar riwayat-riwayat tersebut (yang mengatakan Ghaza atau ‘Asqalan), karena ketika asy-Syafi’i mengatakan ia lahir di ‘Asqalan, maka maksudnya adalah kotanya sedangkan Ghaza adalah kampungnya. Ketika memasuki usia 2 tahun, ibunya membawanya ke negeri Hijaz dan berbaur dengan penduduk negeri itu yang terdiri dari orang-orang Yaman, karena ibunya berasal dari suku Azd. Ketika berumur 10 tahun, ia dibawa ibunya ke Mekkah karena ibunya khawatir nasabnya yang mulia itu lenyap dan terlupakan.

Pertumbuhan Dan Kegiatannya Dalam Mencari Ilmu

Imam asy-Syafi’i tumbuh di kota Ghaza sebagai seorang yatim, di samping itu juga hidup dalam kesulitan dan kefakiran serta terasing dari keluarga. Kondisi ini tidak menyurutkan tekadnya untuk hidup lebih baik. Rupanya atas taufiq Allah, ibunya membawanyanya ke tanah Hijaz, Mekkah. Maka dari situ, mulailah imam asy-Syafi’i kecil menghafal al-Qur’an dan berhasil menamatkannya dalam usia 7 tahun.

Menurut pengakuan asy-Syafi’i, bahwa ketika masa belajar dan mencari guru untuknya, ibunya tidak mampu membayar gaji gurunya, namun gurunya rela dan senang karena dia bisa menggantikannya pula. Lalu ia banyak menghadiri pengajian dan bertemu dengan para ulama untuk mempelajari beberapa masalah agama. Ia menulis semua apa yang didengarnya ke tulang-tulang yang bila sudah penuh dan banyak, maka ia masukkan ke dalam karung.

Ia juga bercerita bahwa ketika tiba di Mekkah dan saat itu masih berusia sekitar 10 tahun, salah seorang sanak saudaranya menasehati agar ia bersungguh-sungguh untuk hal yang bermanfa’at baginya. Lalu ia pun merasakan lezatnya menuntut ilmu dan karena kondisi ekonominya yang memprihatinkan, untuk menuntut ilmu ia harus pergi ke perpustakaan dan menggunakan bagian luar dari kulit yang dijumpainya untuk mencatat.

Hasilnya, dalam usia 7 tahun ia sudah hafal al-Qur’an 30 juz, pada usia 10 tahun (menurut riwayat lain, 13 tahun) ia hafal kitab al-Muwaththa` karya Imam Malik dan pada usia 15 tahun (menurut riwayat lain, 18 tahun) ia sudah dipercayakan untuk berfatwa oleh gurunya Muslim bin Khalid az-Zanji.

Semula beliau begitu gandrung dengan sya’ir dan bahasa di mana ia hafal sya’ir-sya’ir suku Hudzail. Bahkan, ia sempat berinteraksi dengan mereka selama 10 atau 20 tahun. Ia belajar ilmu bahasa dan balaghah. Dalam ilmu hadits, ia belajar dengan imam Malik dengan membaca langsung kitab al-Muwaththa` dari hafalannya sehingga membuat sang imam terkagum-kagum. Di samping itu, ia juga belajar berbagai disiplin ilmu sehingga gurunya banyak.

Pengembaraannya Dalam Menuntut Ilmu

Imam asy-Syafi’i amat senang dengan syair dan ilmu bahasa, terlebih lagi ketika ia mengambilnya dari suku Hudzail yang dikenal sebagai suku Arab paling fasih. Banyak bait-bait syair yang dihafalnya dari orang-orang Hudzail selama interaksinya bersama mereka. Di samping syair, beliau juga menggemari sejarah dan peperangan bangsa Arab serta sastra.

Kapasitas keilmuannya dalam bahasa ‘Arab tidak dapat diragukan lagi, bahkan seorang imam bahasa ‘Arab, al-Ashmu’i mengakui kapasitasnya dan mentashhih sya’ir-sya’ir Hudzail kepadanya.

Di samping itu, imam asy-Syafi’i juga seorang yang bacaan al-Qur’annya amat merdu sehingga membuat orang yang mendengarnya menangis bahkan pingsan. Hal ini diceritakan oleh Ibn Nashr yang berkata, “Bila kami ingin menangis, masing-masing kami berkata kepada yang lainnya, ‘bangkitlah menuju pemuda al-Muththaliby yang sedang membaca al-Qur’an,” dan bila kami sudah mendatanginya sedang shalat di al-Haram seraya memulai bacaan al-Qur’an, orang-orang merintih dan menangis tersedu-sedu saking merdu suaranya. Bila melihat kondisi orang-orang seperti itu, ia berhenti membacanya.

Di Mekkah, setelah dinasehati agar memperdalam fiqih, ia berguru kepada Muslim bin Khalid az-Zanji, seorang mufti Mekkah. Setelah itu, ia dibawa ibunya ke Madinah untuk menimba ilmu dari Imam Malik. Di sana, beliau berguru dengan Imam Malik selama 16 tahun hingga sang guru ini wafat (tahun 179 H). Pada saat yang sama, ia belajar pada Ibrahim bin Sa’d al-Anshary, Muhammad bin Sa’id bin Fudaik dan ulama-ulama selain mereka.

Sepeninggal Imam Malik, asy-Syafi’i merantau ke wilayah Najran sebagai Wali (penguasa) di sana. Namun betapa pun keadilan yang ditampakkannya, ada saja sebagian orang yang iri dan menjelek-jelekkannya serta mengadukannya kepada khalifah Harun ar-Rasyid. Lalu ia pun dipanggil ke Dar al-Khilafah pada tahun 184 H. Akan tetapi beliau berhasil membela dirinya di hadapan khalifah dengan hujjah yang amat meyakinkan sehingga tampaklah bagi khalifah bahwa tuduhan yang diarahkan kepadanya tidak beralasan dan ia tidak bersalah, lalu khalifah menjatuhkan vonis ‘bebas’ atasnya. (kisah ini dimuat pada rubrik ‘kisah-kisah islami-red.,).

Beliau kemudian merantau ke Baghdad dan di sana bertemu dengan Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibany, murid Imam Abu Hanifah. Beliau membaca kitab-kitabnya dan mengenal ilmu Ahli Ra`yi (kaum Rasional), kemudian kembali lagi ke Mekkah dan tinggal di sana selama kurang lebih 9 tahun untuk menyebarkan madzhabnya melalui halaqah-halaqah ilmu yang disesaki para penuntut ilmu di Haram, Mekkah, demikian juga melalui pertemuannya dengan para ulama saat berlangsung musim haji. Pada masa ini, Imam Ahmad belajar dengannya.

Kemudian beliau kembali lagi ke Baghdad tahun 195 H. Kebetulan di sana sudah ada majlisnya yang dihadiri oleh para ulama dan disesaki para penuntut ilmu yang datang dari berbagai penjuru. Beliau tinggal di sana selama 2 tahun yang dipergunakannya untuk mengarang kitab ar-Risalah. Dalam buku ini, beliau memaparkan madzhab lamanya (Qaul Qadim). Dalam masa ini, ada empat orang sahabat seniornya yang ‘nyantri’ dengannya, yaitu Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, az-Za’farany dan al-Karaabiisy.

Kemudian beliau kembali ke Mekkah dan tinggal di sana dalam waktu yang relatif singkat, setelah itu meninggalkannya menuju Baghdad lagi, tepatnya pada tahun 198 H. Di Baghdad, beliau juga tinggal sebentar untuk kemudian meninggalkannya menuju Mesir.

Beliau tiba di Mesir pada tahun 199 H dan rupanya kesohorannya sudah mendahuluinya tiba di sana. Dalam perjalanannya ini, beliau didampingi beberapa orang muridnya, di antaranya ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Murady dan ‘Abdullah bin az-Zubair al-Humaidy. Beliau singgah dulu di Fushthath sebagai tamu ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam yang merupakan sahabat Imam Malik. Kemudian beliau mulai mengisi pengajiannya di Jami’ ‘Amr bin al-‘Ash. Ternyata, kebanyakan dari pengikut dua imam sebelumnya, yaitu pengikut Imam Abu Hanifah dan Imam Malik lebih condong kepadanya dan terkesima dengan kefasihan dan ilmunya.

Di Mesir, beliau tinggal selama 5 tahun di mana selama masa ini dipergunakannya untuk mengarang, mengajar, berdebat (Munazharah) dan meng-counter pendapat-pendapat lawan. Di negeri inilah, beliau meletakkan madzhab barunya (Qaul Jadid), yaitu berupa hukum-hukum dan fatwa-fatwa yang beliau gali dalilnya selama di Mesir, sebagiannya berbeda dengan pendapat fiqih yang telah diletakkannya di Iraq. Di Mesir pula, beliau mengarang buku-buku monumentalnya, yang diriwayatkan oleh para muridnya.

Kemunculan Sosok Dan Manhaj (Metode) Fiqihnya

Mengenai hal ini, Ahmad Tamam di dalam bukunya asy-Syaafi’iy: Malaamih Wa Aatsaar menyebutkan bagaimana kemunculan sosok asy-Syafi’i dan manhaj fiqihnya. Sebuah manhaj yang merupakan paduan antara fiqih Ahli Hijaz dan fiqih Ahli Iraq, manhaj yang dimatangkan oleh akal yang menyala, kemumpunian dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, kejelian dalam linguistik Arab dan sastra-sastranya, kepakaran dalam mengetahui kondisi manusia dan permasalahan-permasalahan mereka serta kekuatan pendapat dan qiyasnya.

Bila kembali ke abad 2 M, kita mendapati bahwa pada abad ini telah muncul dua ‘’perguruan’ (Madrasah) utama di dalam fiqih Islam; yaitu perguruan rasional (Madrasah Ahli Ra`yi) dan perguruan hadits (Madrasah Ahli Hadits). Perguruan pertama eksis di Iraq dan merupakan kepanjangan tangan dari fiqih ‘Abdullah bin Mas’ud yang dulu tinggal di sana. Lalu ilmunya dilanjutkan oleh para sahabatnya dan mereka kemudian menyebarkannya. Dalam hal ini, Ibn Mas’ud banyak terpengaruh oleh manhaj ‘Umar bin al-Khaththab di dalam berpegang kepada akal (pendapat) dan menggali illat-illat hukum manakala tidak terdapat nash baik dari Kitabullah mau pun dari Sunnah Rasulullah SAW. Di antara murid Ibn Mas’ud yang paling terkenal adalah ‘Alqamah bin Qais an-Nakha’iy, al-Aswad bin Yazid an-Nakha’iy, Masruq bin al-Ajda’ al-Hamadaany dan Syuraih al-Qadly. Mereka itulah para ahli fiqih terdepan pada abad I H. Setelah mereka, perguruan Ahli Ra`yi dipimpin oleh Ibrahim bin Yazid an-Nakha’iy, ahli fiqih Iraq tanpa tanding. Di tangannya muncul beberapa orang murid, di antaranya Hammad bin Sulaiman yang menggantikan pengajiannya sepeninggalnya. Hammad adalah seorang Imam Mujtahid dan memiliki pengajian yang begitu besar di Kufah. Pengajiannya ini didatangi banyak penuntut ilmu, di antaranya Abu Hanifah an-Nu’man yang pada masanya mengungguli semua rekan sepengajiannya dan kepadanya berakhir tampuk kepemimpinan fiqih. Ia lah yang menggantikan syaikhnya setelah wafatnya dan mengisi pengajian yang diselenggarakan perguruan Ahli Ra`yi. Pada masanya, banyak sekali para penuntut ilmu belajar fiqih dengannya, termasuk di antaranya murid-muridnya yang setia, yaitu Qadi Abu Yusuf, Muhammad bin al-Hasan, Zufar, al-Hasan bin Ziyad dan ulama-ulama selain mereka. Di tangan-tangan mereka itulah akhirnya metode perguruan Ahli Ra`yi mengkristal, semakin eksis dan jelas manhajnya.

Sedangkan perguruan Ahli Hadits berkembang di semenanjung Hijaz dan merupakan kepanjangan tangan dari perguruan ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Aisyah dan para ahli fiqih dari kalangan shahabat lainnya yang berdiam di Mekkah dan Madinah. Penganut perguruan ini banyak melahirkan para imam seperti Sa’id bin al-Musayyab, ‘Urwah bin az-Zubair, al-Qasim bin Muhammad, Ibn Syihab az-Zuhry, al-Laits bin Sa’d dan Malik bin Anas. Perguruan ini unggul dalam hal keberpegangannya sebatas nash-nash Kitabullah dan as-Sunnah, bila tidak mendapatkannya, maka dengan atsar-atsar para shahabat. Di samping itu, timbulnya perkara-perkara baru yang relatif sedikit di Hijaz, tidak sampai memaksa mereka untuk melakukan penggalian hukum (istinbath) secara lebih luas, berbeda halnya dengan kondisi di Iraq.

Saat imam asy-Syafi’I muncul, antara kedua perguruan ini terjadi perdebatan yang sengit, maka ia kemudian mengambil sikap menengah (baca: moderat). Beliau berhasil melerai perdebatan fiqih yang terjadi antara kedua perguruan tersebut berkat kemampuannya di dalam menggabungkan antara kedua manhaj perguruan tersebut mengingat ia sempat berguru kepada tokoh utama dari keduanya; dari perguruan Ahli Hadits, ia berguru dengan pendirinya, Imam Malik dan dari perguruan Ahli Ra`yi, ia berguru dengan orang nomor dua yang tidak lain adalah sahabat dan murid Imam Abu Hanifah, yaitu Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibany.

Imam asy-Syafi’i menyusun Ushul (pokok-pokok utama) yang dijadikan acuan di dalam fiqihnya dan kaidah-kaidah yang dikomitmeninya di dalam ijtihadnya pada risalah ushul fiqih yang berjudul ar-Risalah. Ushul tersebut ia terapkan dalam fiqihnya. Ia merupakan Ushul amaliah bukan teoritis. Yang lebih jelas lagi dapat dibaca pada kitabnya al-Umm di mana beliau menyebutkan hukum berikut dalil-dalilnya, kemudian menjelaskan aspek pendalilan dengan dalil, kaidah-kaidah ijtihad dan pokok-pokok penggalian dalil yang dipakai di dalam menggalinya. Pertama, ia merujuk kepada al-Qur’an dan hal-hal yang nampak baginya dari itu kecuali bila ada dalil lain yang mengharuskan pengalihannya dari makna zhahirnya, kemudian setelah itu, ia merujuk kepada as-Sunnah bahkan sampai pada penerimaan khabar Ahad yang diriwayatkan oleh periwayat tunggal namun ia seorang yang Tsiqah (dapat dipercaya) pada diennya, dikenal sebagai orang yang jujur dan tersohor dengan kuat hafalan. Asy-Syafi’i menilai bahwa as-Sunnah dan al-Qur’an setaraf sehingga tidak mungkin melihat hanya pada al-Qur’an saja tanpa melihat lagi pada as-Sunnah yang menjelaskannya. Al-Qur’an membawa hukum-hukum yang bersifat umum dan kaidah Kulliyyah (bersifat menyeluruh) sedangkan as-Sunnah lah yang menafsirkan hal itu. as-Sunnah pula lah yang mengkhususkan makna umum pada al-Qur’an, mengikat makna Muthlaq-nya atau menjelaskan makna globalnya.

Untuk berhujjah dengan as-Sunnah, asy-Syafi’i hanya mensyaratkan bersambungnya sanad dan keshahihannya. Bila sudah seperti itu maka ia shahih menurutnya dan menjadi hujjahnya. Ia tidak mensyaratkan harus tidak bertentangan dengan amalan Ahli Madinah untuk menerima suatu hadits sebagaimana yang disyaratkan gurunya, Imam Malik, atau hadits tersebut harus masyhur dan periwayatnya tidak melakukan hal yang bertolak belakang dengannya.

Selama masa hidupnya, Imam asy-Syafi’i berada di garda terdepan dalam membela as-Sunnah, menegakkan dalil atas keshahihan berhujjah dengan hadits Ahad. Pembelaannya inilah yang merupakan faktor semakin melejitnya popularitas dan kedudukannya di sisi Ahli Hadits sehingga mereka menjulukinya sebagai Naashir as-Sunnah (Pembela as-Sunnah).

Barangkali faktor utama kenapa asy-Syafi’i lebih banyak berpegang kepada hadits ketimbang Imam Abu Hanifah bahkan menerima hadits Ahad bilamana syarat-syaratnya terpenuhi adalah karena ia hafal hadits dan amat memahami ‘illat-‘illat-nya di mana ia tidak menerima darinya kecuali yang memang valid menurutnya. Bisa jadi hadits-hadits yang menurutnya shahih, menurut Abu Hanifah dan para sahabatnya tidak demikian.

Setelah merujuk al-Qur’an dan as-Sunnah, asy-Syafi’i menjadikan ijma’ sebagai dalil berikutnya bila menurutnya tidak ada yang bertentangan dengannya, kemudian baru Qiyas tetapi dengan syarat terdapat asalnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Penggunaannya terhadap Qiyas tidak seluas yang dilakukan Imam Abu Hanifah.

Aqidahnya

Di sini dikatakan bahwa ia seorang Salafy di mana ‘aqidahnya sama dengan ‘aqidah para ulama Salaf; menetapkan apa yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya dan menafikan apa yang dinafikan Allah dan Rasul-Nya tanpa melakukan Tahrif (perubahan), Ta`wil (penafsiran yang menyimpang), Takyif (Pengadaptasian alias mempertanyakan; bagaimana), Tamtsil (Penyerupaan) dan Ta’thil (Pembatalan alias pendisfungsian asma dan sifat Allah).

Beliau, misalnya, mengimani bahwa Allah memiliki Asma` dan Sifat sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam kitab-Nya dan Rasulullah dalam haditsnya, bahwa siapa pun makhluk Allah yang sudah ditegakkan hujjah atasnya, al-Qur’an sudah turun mengenainya dan menurutnya hadits Rasulullah sudah shahih karena diriwayatkan oleh periwayat yang adil; maka tidak ada alasan baginya untuk menentangnya dan siapa yang menentang hal itu setelah hujjah sudah benar-benar valid atasnya, maka ia kafir kepada Allah. Beliau juga menyatakan bahwa bila sebelum validnya hujjah atas seseorang dari sisi hadits, maka ia dapat ditolerir karena kejahilannya sebab ilmu mengenai hal itu tidak bisa diraba hanya dengan akal, dirayah atau pun pemikiran.

Beliau juga mengimani bahwa Allah Ta’ala Maha Mendengar, memiliki dua tangan, berada di atas ‘arasy-Nya dan sebagainya.

Beliau juga menegaskan bahwa iman adalah ucapan, perbuatan dan keyakinan dengan hati. (untuk lebih jelasnya, silahkan merujuk buku Manaaqib asy-Syafi’i karangan Imam al-Baihaqi; I’tiqaad al-A`immah al-Arba’ah karya Syaikh Dr.Muhammad ‘Abdurrahman al-Khumais [sudah diterjemahkan –kurang lebih judulnya-: ‘Aqidah Empat Imam Madzhab oleh KH.Musthafa Ya’qub])

Sya’ir-Sya’irnya

Imam asy-Syafi’i dikenal sebagai salah seorang dari empat imam madzhab tetapi tidak banyak yang tahu bahwa ia juga seorang penyair. Beliau seorang yang fasih lisannya, amat menyentuh kata-katanya, menjadi hujjah di dalam bahasa ‘Arab. Hal ini dapat dimengerti, karena sejak dini, beliau sudah tinggal dan berinteraksi dengan suku Hudzail yang merupakan suku arab paling fasih kala itu. Beliau mempelajari semua sya’ir-sya’ir mereka, karena itu ia dianggap sebagai salah satu rujukan bagi para ahli bahasa semasanya, di antaranya diakui sendiri oleh seorang tokoh sastra Arab semasanya, al-Ashmu’i sebagaimana telah disinggung sebelumnya.

Imam Ahmad berkata, “asy-Syafi’i adalah orang yang paling fasih.” Imam Malik terkagum-kagum dengan bacaannya karena demikian fasih. Karena itu, pantas bila Imam Ahmad pernah berkata, “Tidak seorang pun yang menyentuh tinta atau pun pena melainkan di pundaknya ada jasa asy-Syafi’i.” Ayyub bin Suwaid berkata, “Ambillah bahasa dari asy-Syafi’i.”

Hampir semua isi sya’ir yang dirangkai Imam asy-Syafi’i bertemakan perenungan. Sedangkan karakteristik khusus sya’irnya adalah sya’ir klasik. Alhasil, ia mirip dengan perumpamaan-perumpamaan atau hikmah-hikmah yang berlaku di tengah manusia.

Di antara contohnya,
- Sya’ir Zuhud

Hendaknya engkau bertakwa kepada Allah jika engkau lalai
Pasti Dia membawa rizki tanpa engkau sadari
Bagaimana engkau takut miskin padahal Allah Sang Pemberi rizki
Dia telah memberi rizki burung dan ikan hiu di laut
Siapa yang mengira rizki hanya didapat dengan kekuatan
Semestinya burung pipit tidak dapat makan karena takut pada elang
Turun dari dunia (mati), tidak engkau tahu kapan
Bila sudah malam, apakah engkau akan hidup hingga fajar?
Berapa banyak orang yang segar-bugar mati tanpa sakit
Dan berapa banyak orang yang sakit hidup sekian tahunan?


- Sya’ir Akhaq

Kala mema’afkan, aku tidak iri pada siapa pun
Aku tenangkan jiwaku dari keinginan bermusuhan
Sesungguhnya aku ucapkan selamat pada musuhku saat melihatnya
Agar dapat menangkal kejahatannya dengan ucapan-ucapan selamat tersebut
Manusia yang paling nampak bagi seseorang adalah yang paling dibencinya
Sebagaimana rasa cinta telah menyumbat hatiku
Manusia itu penyakit dan penyakit manusia adalah kedekatan dengan mereka
Namun mengasingkan mereka adalah pula memutus kasih sayang


Tawadlu’, Wara’ Dan ‘ibadahnya

Imam asy-Syafi’i terkenal dengan ketawadlu’an (kerendahan diri)-nya dan ketundukannya pada kebenaran. Hal ini dibuktikan dengan pengajiannya dan pergaulannya dengan teman sejawat, murid-murid dan orang-orang lain. Demikian juga, para ulama dari kalangan ahli fiqih, ushul, hadits dan bahasa sepakat atas keamanahan, keadilan, kezuhudan, kewara’an, ketakwaan dan ketinggian martabatnya.

Sekali pun demikian agungnya beliau dari sisi ilmu, ahli debat, amanah dan hanya mencari kebenaran, namun hal itu semua bukan karena ingin dipandang dan tersohor. Karena itu, masih terduplikasi dalam memori sejarah ucapannya yang amat masyhur, “Tidaklah aku berdebat dengan seseorang melainkan aku tidak peduli apakah Allah menjelaskan kebenaran atas lisannya atau lisanku.”

Sampai-sampai saking hormatnya Imam Ahmad kepada gurunya, asy-Syafi’i ini; ketika ia ditanya oleh anaknya tentang gurunya tersebut, “Siapa sih asy-Syafi’i itu hingga ayahanda memperbanyak doa untuknya?” ia menjawab, “Imam asy-Syafi’i ibarat matahari bagi siang hari dan ibarat kesehatan bagi manusia; maka lihat, apakah bagi keduanya ini ada penggantinya.?”

Imam asy-Syafi’i seorang yang faqih bagi dirinya, banyak akalnya, benar pandangan dan fikirnya, ahli ibadah dan dzikir. Beliau amat mencintai ilmu, sampai-sampai ia berkata, “Menuntut ilmu lebih afdlal daripada shalat sunnat.”

Sekali pun demikian, ar-Rabi’ bin Sualaiman, muridnya meriwayatkan bahwasanya ia selalu shalat malam hingga wafat dan setiap malam satu kali khatam al-Qur’an.

Ad-Dzahabi di dalam kitabnya Siyar an-Nubalaa` meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman yang berkata, “Imam asy-Syafi’i membagi-bagi malamnya; sepertiga pertama untuk menulis, sepertiga kedua untuk shalat dan sepertiga ketiga untuk tidur.”

Menambahi ucapan ar-Rabi’ tersebut, Adz-Dzahabi berkata, “Tentunya, ketiga pekerjaan itu hendaknya dilakukan dengan niat.”

Ya, Imam adz-Dzahabi benar sebab niat merupakan ciri kelakuan para ulama. Bila ilmu membuahkan perbuatan, maka ia akan meletakkan pelakunya di atas jalan keselamatan.

Betapa kita sekarang-sekarang ini lebih berhajat kepada para ulama yang bekerja (‘amiliin), yang tulus (shadiqiin) dan ahli ibadah (‘abidiin), yang menjadi tumpuan umat di dalam menghadapi berbagai problematika yang begitu banyaknya, La hawla wa la quwwata illa billaah.

Imam asy-Syafi’i tetap tinggal di Mesir dan tidak pergi lagi dari sana. Beliau mengisi pengajian yang dikerubuti oleh para muridnya hingga beliau menemui Rabbnya pada tanggal 30 Rajab tahun 204 H.

Alangkah indah isi bait Ratsâ` (sya’ir mengenang jasa baik orang sudah meninggal dunia) yang dikarang Muhammad bin Duraid, awalnya berbunyi,
Tidakkah engkau lihat peninggalan Ibn Idris (asy-Syafi’i) setelahnya
Dalil-dalilnya mengenai berbagai problematika begitu berkilauan



Dikirim pada 13 Agustus 2010 di catetan

" ORANG seperti dia, tidak dapat tanpa diketahui dibiarkan begitu saja. Dia harus diincar sebagai calon pemimpin Islam. Jika dia menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang kafir, kita harus mengangkatnya kedalam golongan pemimpin" demikian keterangan Nabi ketika berbicara tentang Khalid sebelum calon pahlawan ini masuk Islam.

Khalid dilahirkan kira-kira 17 tahun sebelum masa pembangunan Islam. Dia anggota suku Bani Makhzum, suatu cabang dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Walid dan ibunya Lababah. Khalid termasuk di antara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid, adalah isteri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya. Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik.

Ayah Khalid yang bernama Walid, adalah salah seorang pemimpin yang paling berkuasa di antara orang-orang Quraisy. Dia sangat kaya. Dia menghormati Ka’bah dengan perasaan yang sangat mendalam. Sekali dua tahun dialah yang menyediakan kain penutup Ka’bah. Pada masa ibadah Haji dia memberi makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di Mina.

Ketika orang Quraisy memperbaiki Ka’bah tidak seorang pun yang berani meruntuhkan dinding-dindingnya yang tua itu. Semua orang takut kalau-kalau jatuh dan mati. Melihat suasana begini Walid maju ke depan dengan bersenjatakan sekop sambil berteriak, "Oh, Tuhan jangan marah kepada kami. Kami berniat baik terhadap rumahMu".

Nabi mengharap-harap dengan sepenuh hati, agar Walid masuk Islam. Harapan ini timbul karena Walid seorang kesatria yang berani di mata rakyat. Karena itu dia dikagumi dan dihormati oleh orang banyak. Jika dia telah masuk Islam ratusan orang akan mengikutinya.

Dalam hati kecilnya Walid merasa, bahwa Al Qur-’an itu adalah kalimat-kalimat Allah. Dia pernah mengatakan secara jujur dan terang-terangan, bahwa dia tidak bisa berpisah dari keindahan dan kekuatan ayat-ayat suci itu.

Ucapan yang terus terang ini memberikan harapan bagi Nabi, bahwa Walid akan segera masuk Islam. Tetapi impian dan harapan ini tak pernah menjadi kenyataan. Kebanggaan atas diri sendiri membendung bisikan-bisikan hati nuraninya. Dia takut kehilangan kedudukannya sebagai pemimpin bangsa Quraisy. Kesangsian ini menghalanginya untuk menurutkan rayuan-rayuan hati nuraninya. Sayang sekali orang yang begini baik, akhirnya mati sebagai orang yang bukan Islam.

Suku Bani Makhzum mempunyai tugas-tugas penting. Jika terjadi peperangan, Bani Muhzum lah yang mengurus gudang senjata dan gudang tenaga tempur. Suku inilah yang mengumpulkan kuda dan senjata bagi prajurit-prajurit.

Tidak ada cabang suku Quraisy lain yang bisa lebih dibanggakan seperti Bani Makhzum. Ketika diadakan kepungan maut terhadap orang-orang Islam di lembah Abu Thalib, orang-orang Bani Makhzum lah yang pertama kali mengangkat suaranya menentang pengepungan itu.

Latihan Pertama

Kita tidak banyak mengetahui mengenai Khalid pada masa kanak-kanaknya. Tetapi satu hal kita tahu dengan pasti, ayah Khalid orang berada. Dia mempunyai kebun buah-buahan yang membentang dari kota Mekah sampai ke Thaif. Kekayaan ayahnya ini membuat Khalid bebas dari kewajiban-kewajibannya.

Dia lebih leluasa dan tidak usah belajar berdagang. Dia tidak usah bekerja untuk menambah pencaharian orang tuanya. Kehidupan tanpa suatu ikatan memberi kesempatan kepada Khalid mengikuti kegemarannya. Kegemarannya ialah adu tinju dan berkelahi.

Saat itu pekerjaan dalam seni peperangan dianggap sebagai tanda seorang Satria. Panglima perang berarti pemimpin besar. Kepahlawanan adalah satu hal terhormat di mata rakyat.

Ayah Khalid dan beberapa orang pamannya adalah orang-orang yang terpandang di mata rakyat. Hal ini memberikan dorongan keras kepada Khalid untuk mendapatkan kedudukan terhormat, seperti ayah dan paman-pamanya. Satu-satunya permintaan Khalid ialah agar menjadi orang yang dapat mengatasi teman-temannya di dalam hal adu tenaga. Sebab itulah dia menceburkan dirinya kedalam seni peperangan dan seni bela diri. Malah mempelajari keahlian mengendarai kuda, memainkan pedang dan memanah. Dia juga mencurahkan perhatiannya ke dalam hal memimpin angkatan perang. Bakat-bakatnya yang asli, ditambah dengan latihan yang keras, telah membina Khalid menjadi seorang yang luar biasa. Kemahiran dan keberaniannya mengagumkan setiap orang.

Pandangan yang ditunjukkannya mengenai taktik perang menakjubkan setiap orang. Dengan gamblang orang dapat melihat, bahwa dia akan menjadi ahli dalam seni kemiliteran. Dari masa kanak-kanaknya dia memberikan harapan untuk menjadi ahli militer yang luar biasa senialnya.

Menentang Islam

Pada masa kanak-kanaknya Khalid telah kelihatan menonjol diantara teman-temannya. Dia telah sanggup merebut tempat istimewa dalam hati rakyat. Lama kelamaan Khalid menanjak menjadi pemimpin suku Quraisy. Pada waktu itu orang-orang Quraisy sedang memusuhi Islam. Mereka sangat anti dan memusuhi agama Islam dan penganut-penganut Islam. Kepercayaan baru itu menjadi bahaya bagi kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy. Orang-orang Quraisy sangat mencintai adat kebiasaannya. Sebab itu mereka mengangkat senjata untuk menggempur orang-orang Islam. Tunas Islam harus dihancurkan sebelum tumbuh berurat berakar. Khalid sebagai pemuda Quraisy yang berani dan bersemangat berdiri digaris paling depan dalam penggempuran terhadap kepercayaan baru ini. Hal ini sudah wajar dan seirama dengan kehendak alam.

Sejak kecil pemuda Khalid bertekad menjadi pahlawan Quraisy. Kesempatan ini diperolehnya dalam pertentangan-pertentangan dengan orang-orang Islam. Untuk membuktikan bakat dan kecakapannya ini, dia harus menonjolkan dirinya dalam segala pertempuran. Dia harus memperlihatkan kepada sukunya kwalitasnya sebagai pekelahi.

Peristiwa Uhud

Kekalahan kaum Quraisy di dalam perang Badar membuat mereka jadi kegila-gilaan, karena penyesalan dan panas hati. Mereka merasa terhina. Rasa sombong dan kebanggaan mereka sebagai suku Quraisy telah meluncur masuk lumpur kehinaan Arang telah tercoreng di muka orang-orang Quraisy. Mereka seolah-olah tidak bisa lagi mengangkat dirinya dari lumpur kehinaan ini. Dengan segera mereka membuat persiapan-persiapan untuk membalas pengalaman pahit yang terjadi di Badar.

Sebagai pemuda Quraisy, Khalid bin Walid pun ikut merasakan pahit getirnya kekalahan itu. Sebab itu dia ingin membalas dendam sukunya dalam peperangan Uhud. Khalid dengan pasukannya bergerak ke Uhud dengan satu tekad menang atau mati. Orang-orang Islam dalam pertempuran Uhud ini mengambil posisi dengan membelakangi bukit Uhud.

Sungguhpun kedudukan pertahanan baik, masih terdapat suatu kekhawatiran. Di bukit Uhud masih ada suatu tanah genting, di mana tentara Quraisy dapat menyerbu masuk pertahanan Islam. Untuk menjaga tanah genting ini, Nabi menempatkan 50 orang pemanah terbaik. Nabi memerintahkan kepada mereka agar bertahan mati-matian. Dalam keadaan bagaimana jua pun jangan sampai meninggalkan pos masing-masing.

Khalid bin Walid memimpin sayap kanan tentara Quraisy empat kali lebih besar jumlahnya dari pasukan Islam. Tetapi mereka jadi ragu-ragu mengingat kekalahan-kekalahan yang telah mereka alami di Badar. Karena kekalahan ini hati mereka menjadi kecil menghadapi keberanian orang-orang Islam.

Sungguh pun begitu pasukan-pasukan Quraisy memulai pertempuran dengan baik. Tetapi setelah orang-orang Islam mulai mendobrak pertahanan mereka, mereka telah gagal untuk mempertahankan tanah yang mereka injak.

Kekuatannya menjadi terpecah-pecah. Mereka lari cerai-berai. Peristiwa Badar berulang kembali di Uhud. Saat-saat kritis sedang mengancam orang-orang Quraisy. Tetapi Khalid bin Walid tidak goncang dan sarafnya tetap membaja. Dia mengumpulkan kembali anak buahnya dan mencari kesempatan baik guna melakukan pukulan yang menentukan.

Melihat orang-orang Quraisy cerai-berai, pemanah-pemanah yang bertugas ditanah genting tidak tahan hati. Pasukan Islam tertarik oleh harta perang, harta yang ada pada mayat-mayat orang-orang Quraisy. Tanpa pikir panjang akan akibatnya, sebagian besar pemanah-pemanah, penjaga tanah genting meninggalkan posnya dan menyerbu kelapangan.

Pertahanan tanah genting menjadi kosong. Khalid bin Walid dengan segera melihat kesempatan baik ini. Dia menyerbu ketanah genting dan mendesak masuk. Beberapa orang pemanah yang masih tinggal dikeroyok bersama-sama. Tanah genting dikuasai oleh pasukan Khalid dan mereka menjadi leluasa untuk menggempur pasukan Islam dari belakang.

Dengan kecepatan yang tak ada taranya Khalid masuk dari garis belakang dan menggempur orang Islam di pusat pertahanannya. Melihat Khalid telah masuk melalui tanah genting, orang-orang Quraisy yang telah lari cerai-berai berkumpul kembali dan mengikuti jejak Khalid menyerbu dari belakang. Pemenang-pemenang antara beberapa menit yang lalu, sekarang telah terkepung lagi dari segenap penjuru, dan situasi mereka menjadi gawat.

Khalid bin Walid telah merobah kemenangan orang Islam di Uhud menjadi suatu kehancuran. Mestinya orang-orang Quraisylah yang kalah dan cerai-berai. Tetapi karena gemilangnya Khalid sebagai ahli siasat perang, kekalahan-kekalahan telah disunglapnya menjadi satu kemenangan. Dia menemukan lobang-lobang kelemahan pertahanan orang Islam.

Hanya pahlawan Khalid lah yang dapat mencari saat-saat kelemahan lawannya. Dan dia pula yang sanggup menarik kembali tentara yang telah cerai-berai dan memaksanya untuk bertempur lagi. Seni perangnya yang luar biasa inilah yang mengungkap kekalahan Uhud menjadi suatu kemenangan bagi orang Quraisy.

Ketika Khalid bin Walid memeluk Islam Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam sangat bahagia, karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat digunakan untuk membela Islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan peperangan Islam Khalid bin Walid diangkat menjadi komandan perang dan menunjukan hasil gemilang atas segala upaya jihadnya. Betapapun hebatnya Khalid bin Walid di dalam medan pertempuran, dengan berbagai luka yang menyayat badannya, namun ternyata kematianya di atas ranjang. Betapa menyesalnya Khalid harapan untuk mati sahid di medan perang ternyata tidak tercapai dan Allah menghendakinya mati di atas tempat tidur, sesudah perjuangan membela Islam yang luar biasa itu. Demikianlah kekuasaan Allah. Manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya sesuai dengan kemaua-Nya.

Dikirim pada 13 Agustus 2010 di catetan

Mungkin kisah ini terasa sangat aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan orangnya atau langsung melihat dan mendengar penuturannya. Kisah yang mungkin hanya terjadi dalam cerita fiktif, namun menjadi kenyataan. Hal itu tergambar dengan kata-kata yang diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang duduk di hadapanku mengisahkan tentang dirinya. Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui kejadian-kejadian yang menarik secara komplit, biarkan aku menemanimu untuk bersama-sama menatap ke arah Johannesburg, kota bintang emas nan kaya di negara Afrika Selatan di mana aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor Rabithah al-’Alam al-Islami di sana.

Pada tahun 1996, di sebuah negara yang sedang mengalami musim dingin, di siang hari yang mendung, diiringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku. Istriku sudah mempersiapkan santapan siang untuk menjamu sang tamu yang terhormat. Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Ia seorang misionaris penyebar dan pendakwah agama Nasrani. Ia seorang pendeta, namanya ‘Sily.’ Aku dapat bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor Rabithah yang bernama Abdul Khaliq Matir, di mana ia mengabarkan kepada-ku bahwa seorang pendeta ingin datang ke kantor Rabithah hendak membicarakan perkara penting.

Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang bersama temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota sebuah sasana tinju setelah ia memeluk Islam, selepas bertanding dengan seorang petinju muslim terkenal, Muhammad Ali. Aku menyambut keda-tangan mereka di kantorku dengan perasaan yang sangat gembira. Sily seorang yang berpostur tubuh pendek, berkulit sangat hitam dan mudah tersenyum. Ia duduk di depanku dan berbicara denganku dengan lemah lembut. Aku katakan, "Saudara Sily bolehkah kami mendengar kisah keislamanmu?" ia tersenyum dan berkata, "Ya, tentu saja boleh."

Pembaca yang mulia, dengar dan perhatikan apa yang telah ia ceritakan kepadaku, kemudian setelah itu, silahkan beri penilaian.!

Sily berkata, "Dulu aku seorang pendeta yang sangat militan. Aku berkhidmat untuk gereja dengan segala kesungguhan. Tidak hanya sampai di situ, aku juga salah seorang aktifis kristenisasi senior di Afrika Selatan. Karena aktifitasku yang besar maka Vatikan memilihku untuk menjalankan program kristenisasi yang mereka subsidi. Aku mengambil dana Vatikan yang sampai kepadaku untuk menjalankan program tersebut. Aku mempergunakan segala cara untuk mencapai targetku. Aku melakukan berbagai kunjungan rutin ke madrasah-madrasah, sekolah-sekolah yang terletak di kampung dan di daerah pedalaman. Aku memberikan dana tersebut dalam bentuk sumbangan, pemberian, sedekah dan hadiah agar dapat mencapai targetku yaitu memasukkan masyarakat ke dalam agama Kristen. Gereja melimpahkan dana tersebut kepadaku sehingga aku menjadi seorang hartawan, mempunyai rumah mewah, mobil dan gaji yang tinggi. Posisiku melejit di antara pendeta-pendeta lainnya.

Pada suatu hari, aku pergi ke pusat pasar di kotaku untuk membeli beberapa hadiah. Di tempat itulah bermula sebuah perubahan!

Di pasar itu aku bertemu dengan seseorang yang memakai kopiah. Ia pedagang berbagai hadiah. Waktu itu aku mengenakan pakaian jubah pendeta berwarna putih yang merupakan ciri khas kami. Aku mulai menawar harga yang disebutkan si penjual. Dari sini aku mengetahui bahwa ia seorang muslim. Kami menyebutkan agama Islam yang ada di Afrika selatan dengan sebutan ‘agama orang Arab.’ Kami tidak menyebutnya dengan sebutan Islam. Aku pun membeli berbagai hadiah yang aku inginkan. Sulit bagi kami menjerat orang-orang yang lurus dan mereka yang konsiten dengan agamanya, sebagaimana yang telah berhasil kami tipu dan kami kristenkan dari kalangan orang-orang Islam yang miskin di Afrika Selatan.

Si penjual muslim itu bertanya kepadaku, "Bukankah anda seorang pendeta?" Aku jawab, "Benar." Lantas ia bertanya kepadaku, "Siapa Tuhanmu?" Aku katakan, "Al-Masih." Ia kembali berkata, "Aku menantangmu, coba datangkan satu ayat di dalam Injil yang menyebutkan bahwa al-Masih AS berkata, ’Aku adalah Allah atau aku anak Allah. Maka sembahlah aku’." Ucapan muslim tersebut bagaikan petir yang menyambar kepalaku. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Aku berusaha membuka-buka kembali catatanku dan mencarinya di dalam kitab-kitab Injil dan kitab Kristen lainnya untuk menemukan jawaban yang jelas terhadap pertanyaan lelaki tersebut. Namun aku tidak menemukannya. Tidak ada satu ayat pun yang men-ceritakan bahwa al-Masih berkata bahwa ia adalah Allah atau anak Allah. Lelaki itu telah menjatuhkan mentalku dan menyulitkanku. Aku ditimpa sebuah bencana yang membuat dadaku sempit. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti ini tidak pernah terlintas olehku? Lalu aku tinggalkan lelaki itu sambil menundukkan wajah. Ketika itu aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh tanpa arah. Aku terus berusaha mencari ayat-ayat seperti ini, walau bagaimanapun rumitnya. Namun aku tetap tidak mampu, aku telah kalah.

Aku pergi ke Dewan Gereja dan meminta kepada para anggota dewan agar berkumpul. Mereka menyepakatinya. Pada pertemuan tersebut aku mengabarkan kepada mereka tentang apa yang telah aku dengar. Tetapi mereka malah menyerangku dengan ucapan, "Kamu telah ditipu orang Arab. Ia hanya ingin meyesatkanmu dan memasukkan kamu ke dalam agama orang Arab." Aku katakan, "Kalau begitu, coba beri jawabannya!" Mereka membantah pertanyaan seperti itu namun tak seorang pun yang mampu memberikan jawaban.

Pada hari minggu, aku harus memberikan pidato dan pelajaranku di gereja. Aku berdiri di depan orang banyak untuk memberikan wejangan. Namun aku tidak sanggup melakukannya. Sementara para hadirin merasa aneh, karena aku berdiri di hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku kembali masuk ke dalam gereja dan meminta kepada temanku agar ia menggantikan tempatku. Aku katakan bahwa aku sedang sakit. Padahal jiwaku hancur luluh.

Aku pulang ke rumah dalam keadaan bingung dan cemas. Lalu aku masuk dan duduk di sebuah ruangan kecil. Sambil menangis aku menengadahkan pandanganku ke langit seraya berdoa. Namun kepada siapa aku berdoa. Kemudian aku berdoa kepada Dzat yang aku yakini bahwa Dia adalah Allah Sang Maha Pencipta, "Ya Tuhanku... Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku... sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu... Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran... manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku... jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan... tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar..." lantas akupun tertidur.

Di dalam tidur, aku melihat diriku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali diriku. Tiba-tiba di tengah ruangan tersebut muncul seorang lelaki. Wajah orang itu tidak begitu jelas karena kilauan cahaya yang terpancar darinya dan dari sekelilingnya. Namun aku yakin bahwa cahaya tersebut muncul dari orang tersebut. Lelaki itu memberi isyarat kepadaku dan memanggil, "Wahai Ibrahim!" Aku menoleh ingin mengetahui siapa Ibrahim, namun aku tidak menjumpai siapa pun di ruangan itu. Lelaki itu berkata, "Kamu Ibrahim... kamulah yang bernama Ibrahim. Bukankah engkau yang memohon petunjuk kepada Allah?" Aku jawab, "Benar." Ia berkata, "Lihat ke sebelah kananmu!" Maka akupun menoleh ke kanan dan ternyata di sana ada sekelompok orang yang sedang memanggul barang-barang mereka dengan mengenakan pakaian putih dan bersorban putih. Ikutilah mereka agar engkau mengetahui kebenaran!" Lanjut lelaki itu.

Kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan sebuah kegembiraan menyelimutiku. Namun aku belum juga memperoleh ketenangan ketika muncul pertanyaan, di mana gerangan kelompok yang aku lihat di dalam mimipiku itu berada.

Aku bertekad untuk melanjutkannya dengan berkelana mencari sebuah kebenaran, sebagaimana ciri-ciri yang telah diisyaratkan dalam mimpiku. Aku yakin ini semua merupakan petunjuk dari Allah SWT. Kemudian aku minta cuti kerja dan mulai melakukan perjalanan panjang yang memaksaku untuk berkeliling di beberapa kota mencari dan bertanya di mana orang-orang yang memakai pakaian dan sorban putih berada. Telah panjang perjalanan dan pencarianku. Setiap aku menjumpai kaum muslimin, mereka hanya memakai celana panjang dan kopiah. Hingga akhirnya aku sampai di kota Johannesburg.

Di sana aku mendatangi kantor penerima tamu milik Lembaga Muslim Afrika. Di rumah itu aku bertanya kepada pegawai penerima tamu tentang jamaah tersebut. Namun ia mengira bahwa aku seorang peminta-minta dan memberikan sejumlah uang. Aku katakan, "Bukan ini yang aku minta. Bukankah kalian mempunyai tempat ibadah yang dekat dari sini? Tolong tunjukkan masjid yang terdekat." Lalu aku mengikuti arahannya dan aku terkejut ketika melihat seorang lelaki berpakaian dan bersorban putih sedang berdiri di depan pintu.

Aku sangat girang, karena ciri-cirinya sama seperti yang aku lihat dalam mimpi. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendekati orang tersebut. Sebelum aku mengatakan sepatah kata, ia terlebih dahulu berkata, "Selamat datang ya Ibrahim!" Aku terperanjat mendengarnya. Ia mengetahui namaku sebelum aku memperkenalkannya. Lantas ia melanjutkan ucapan-nya, "Aku melihatmu di dalam mimpi bahwa engkau sedang mencari-cari kami. Engkau hendak mencari kebenaran? Kebenaran ada pada agama yang diridhai Allah untuk hamba-Nya yaitu Islam." Aku katakan, "Benar. Aku sedang mencari kebenaran yang telah ditunjukkan oleh lelaki bercahaya dalam mimpiku, agar aku mengikuti sekelompok orang yang berpakaian seperti busana yang engkau kenakan. Tahukah kamu siapa lelaki yang aku lihat dalam mimpiku itu?" Ia menjawab, "Dia adalah Nabi kami Muhammad, Nabi agama Islam yang benar, Rasulullah SAW." Sulit bagiku untuk mempercayai apa yang terjadi pada diriku. Namun langsung saja aku peluk dia dan aku katakan kepadanya, "Benarkah lelaki itu Rasul dan Nabi kalian yang datang menunjukiku agama yang benar?" Ia berkata, "Benar."

Ia lalu menyambut kedatanganku dan memberikan ucapan selamat karena Allah telah memberiku hidayah kebenaran. Kemudian datang waktu shalat zhuhur. Ia mempersilahkanku duduk di tempat paling belakang dalam masjid dan ia pergi untuk melaksanakan shalat bersama jamaah yang lain. Aku memperhatikan kaum muslimin banyak memakai pakaian seperti yang dipakainya. Aku melihat mereka rukuk dan sujud kepada Allah. Aku berkata dalam hati, "Demi Allah, inilah agama yang benar. Aku telah membaca dalam berbagai kitab bahwa para nabi dan rasul meletakkan dahinya di atas tanah sujud kepada Allah." Setelah mereka shalat, jiwaku mulai merasa tenang dengan fenomena yang aku lihat. Aku berucap dalam hati, "Demi Allah sesungguhnya Allah SAW telah menunjukkan kepadaku agama yang benar." Seorang muslim memanggilku agar aku mengumumkan keislamanku. Lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku menangis sejadi-jadinya karena gembira telah mendapat hidayah dari Allah SWT.

Kemudian aku tinggal bersamanya untuk mempelajari Islam dan aku pergi bersama mereka untuk melakukan safari dakwah dalam waktu beberapa lama. Mereka mengunjungi semua tempat, mengajak manusia kepada agama Islam. Aku sangat gembira ikut bersama mereka. Aku dapat belajar shalat, puasa, tahajjud, doa, kejujuran dan amanah dari mereka. Aku juga belajar dari mereka bahwa seorang muslim diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah dan bagaimana menjadi seorang muslim yang mengajak kepada jalan Allah serta berdakwah dengan hikmah, sabar, tenang, rela berkorban dan berwajah ceria.

Setelah beberapa bulan kemudian, aku kembali ke kotaku. Ternyata keluarga dan teman-temanku sedang mencari-cariku. Namun ketika melihat aku kembali memakai pakaian Islami, mereka mengingkarinya dan Dewan Gereja meminta kepadaku agar diadakan sidang darurat. Pada pertemuan itu mereka mencelaku karena aku telah meninggalkan agama keluarga dan nenek moyang kami. Mereka berkata kepadaku, "Sungguh kamu telah tersesat dan tertipu dengan agama orang Arab." Aku katakan, "Tidak ada seorang pun yang telah menipu dan menyesatkanku. Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW datang kepadaku dalam mimpi untuk menunjukkan kebenaran dan agama yang benar yaitu agama Islam. Bukan agama orang Arab sebagaimana yang kalian katakan. Aku mengajak kalian kepada jalan yang benar dan memeluk Islam." Mereka semua terdiam.

Kemudian mereka mencoba cara lain, yaitu membujukku dengan memberikan harta, kekuasaan dan pangkat. Mereka berkata, "Sesungguhnya Vatikan me-mintamu untuk tinggal bersama mereka selama enam bulan untuk menyerahkan uang panjar pembelian rumah dan mobil baru untukmu serta memberimu kenaikan gaji dan pangkat tertinggi di gereja."

Semua tawaran tersebut aku tolak dan aku katakan kepada mereka, "Apakah kalian akan menyesatkanku setelah Allah memberiku hidayah? Demi Allah aku takkan pernah melakukannya walaupun kalian memenggal leherku." Kemudian aku menasehati mereka dan kembali mengajak mereka ke agama Islam. Maka masuk Islamlah dua orang dari kalangan pendeta.

Alhamdulillah, Setelah melihat tekadku tersebut, mereka menarik semua derajat dan pangkatku. Aku merasa senang dengan itu semua, bahkan tadinya aku ingin agar penarikan itu segera dilakukan. Kemudian aku mengembalikan semua harta dan tugasku kepada mereka dan akupun pergi meninggalkan mereka,” Sily mengakhiri kisahnya.

Kisah masuk Islam Ibrahim Sily yang ia ceritakan sendiri kepadaku di kantorku, disaksikan oleh Abdul Khaliq sekretaris kantor Rabithah Afrika dan dua orang lainnya. Pendeta sily sekarang dipanggil dengan Da’i Ibrahim Sily berasal dari kabilah Kuza Afrika Selatan. Aku mengundang pendeta Ibrahim -maaf- Da’i Ibrahim Sily makan siang di rumahku dan aku laksanakan apa yang diwajibkan dalam agamaku yaitu memuliakannya, kemudian ia pun pamit. Setelah pertemuan itu aku pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan suatu tugas. Waktu itu kami sudah mendekati persiapan seminar Ilmu Syar’i I yang akan diadakan di kota Cape Town. Lalu aku kembali ke Afrika Selatan tepatnya ke kota Cape Town.

Ketika aku berada di kantor yang telah disiapkan untuk kami di Ma’had Arqam, Dai Ibrahim Sily mendatangiku. Aku langsung mengenalnya dan aku ucapkan salam untuknya dan bertanya, "Apa yang kamu lakukan disini wahai Ibrahim.?" Ia menjawab, "Aku sedang mengunjungi tempat-tempat di Afrika Selatan untuk berdakwah kepada Allah. Aku ingin mengeluarkan masyarakat negeriku dari api neraka, mengeluarkan mereka dari jalan yang gelap ke jalan yang terang dengan memasukkan mereka ke dalam agama Islam."

Setelah Ibrahim selesai mengisahkan kepada kami bahwa perhatiannya sekarang hanya tertumpah untuk dakwah kepada agama Allah, ia meninggalkan kami menuju suatu daerah... medan dakwah yang penuh dengan pengorbanan di jalan Allah. Aku perhatikan wajahnya berubah dan pakaiannya bersinar. Aku heran ia tidak meminta bantuan dan tidak menjulurkan tangannya meminta sumbangan. Aku merasakan ada yang mengalir di pipiku yang membangkitkan perasaan aneh. Perasaan ini seakan-akan berbicara kepadaku, "Kalian manusia yang mempermainkan dakwah, ti-dakkah kalian perhatikan para mujahid di jalan Allah!"

Benar wahai sudaraku. Kami telah tertinggal... kami berjalan lamban... kami telah tertipu dengan kehidupan dunia, sementara orang-orang yang seperti Da’i Ibrahim Sily, Da’i berbangsa Spanyol Ahmad Sa’id berkorban, berjihad dan bertempur demi menyampaikan agama ini. Ya Rabb rahmatilah kami.


(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN karya Muhammad Shalih al-Qaththani, seperti yang dinukilnya dari tulisan Dr. Abdul Aziz Ahmad Sarhan, Dekan fakultas Tarbiyah di Makkah al-Mukarramah, dengan sedikit perubahan. PENERBIT DARUL HAQ, TELP.021-4701616)

Dikirim pada 13 Agustus 2010 di catetan

Segala Puji hanya milik Allah Subhanahu wa ta’ala, shalawat serta salam tercurah kepada Imam para Muwahidd un, mujahidin dan segenap umat yang senantiasa berjuang dijalan Allah dan meninggikan kalimatillah setinggi-tingginya hingga tidak ada lagi fitnah pada dien ini. amma ba’du:

Sering kita mengucapkan dua kalimat syahadat tapi apakah kita tahu apa makna dan konsekuensinya dari dua kalimat syahadat itu sendiri???

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

ูˆูŽู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุจูŽุนูŽุซู’ู†ูŽุง ูููŠ ูƒูู„ู‘ู ุฃูู…ู‘ูŽุฉู ุฑู‘ูŽุณููˆู„ุงู‹ ุฃูŽู†ู ุงุนู’ุจูุฏููˆุงู’ ุงู„ู„ู‘ู‡ูŽ ูˆูŽุงุฌู’ุชูŽู†ูุจููˆุงู’ ุงู„ุทู‘ูŽุงุบููˆุชูŽ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (QS. An-Nahl:36)

Apa yang dikandung oleh Laa ilaaha illallaah sebagaimana apa yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah yaitu menafikan atau meniadakan empat hal, maksudnya orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah, dikatakan memegang Laa ilaaha illallaah dan dikatakan muslim-mukmin adalah apabila dia meninggalkan atau menjauhi, atau berlepas diri dari empat hal, yaitu:

1. Alihah (Sembahan-sembahan)

2. Arbab (tuhan-tuhan pengatur)

3. Andad (tandingan-tandingan)

4. Thaghut

Jadi Laa ilaaha illallaah menuntut kita untuk berlepas diri, menjauhi, meninggalkan empat hal tadi dan kita akan membahas secara singkat satu demi satu dari keempat hal tersebut.

1. Alihah

Alihah adalah jamak daripada ilah, yang artinya tuhan. Jadi Laa ilaaha illallaah ketika kita mengucapkannya: tidak ada ilah, tidak ada tuhan yang diibadati kecuali Allah, berarti menuntut dari kita untuk meninggalkan ilah-ilah selain Allah (tuhan-tuhan selain Allah) dan yang penting bagi kita di sini adalah memahami apa makna ilah. Karena kalau kita melihat realita orang yang melakukan kemusyrikan pada zaman sekarang, mereka tidak menamakan apa yang mereka ibadati selain Allah itu sebagai ilah (sebagai tuhan) akan tetapi dengan nama-nama yang lain. Kalau kita memahami makna ilah, maka kita akan mengetahui bahwa apa yang dilakukan oleh si fulan atau masyarakat fulani itu adalah mempertuhankan selain Allah.

Ilah, definisinya adalah: Apa yang engkau tuju dengan sesuatu hal dalam rangka mencari manfaat atau menolak bala (bencana).

Kalimat “dengan sesuatu hal” adalah suatu tindakan atau suatu perbuatan.

Kuburan, baik itu kuburan Nabi atau kuburan wali atau kuburan siapa saja. Orang menamakan kuburan tersebut adalah kuburan keramat sehingga orang datang ke kuburan tersebut.

Kuburan adalah sesuatu, kemudian dituju oleh orang tersebut dengan sesuatu. Ada yang minta jodoh kepada penghuni kubur tersebut, bahkan ada yang minta do’anya (sedangkan meminta do’a kepada yang sudah meninggal adalah tidak dibolehkan), berarti kuburan ini adalah sesatu yang dituju oleh orang tadi dalam rangka meminta manfaat, minta jodoh, minta rizqi, atau minta do’a, ada juga yang minta agar dijauhkan dari bala. Berarti kuburan tersebut telah dipertuhankan, telah dijadikan sekutu Allah, dan para pelakunya adalah orang-orang musyrik…

Mereka beralasan bahwa kami ini adalah orang kotor, sedangkan wali ini adalah orang suci, bersih, dan dekat dengan Allah, sedangkan Allah itu Maha Suci, jika orang kotor seperti kami ini minta langsung kepada Allah maka kami malu, sebagaimana kalau minta suatu kebutuhan pada penguasa kita tidak langsung datang kepada penguasa tersebut, akan tetapi melalui orang dekatnya… jadi dia menyamakan Allah dengan makhluk. Perbuatan tersebut adalah penyekutuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, berarti orangnya adalah orang musyrik dan orang tersebut telah mempertuhankan selain Allah, walaupun dia tidak mengatakan bahwa dirinya telah mempertuhankan selain Allah.

Walaupun batu besar, pohon besar, atau kuburan keramat itu tidak disebut tuhan, akan tetapi hakikat perbuatan mereka itu adalah mempertuhankan selain Allah. Maka orang-orang yang melakukan hal itu adalah bukan orang-orang muslim. Dan kalau kita hubungkan dengan realita, ternyata yang melakukan hal itu umumnya adalah orang yang mengaku muslim. Mereka itu sebenarnya bukan muslim tapi masih musyrik.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan tentang orang-orang kafir Arab, karena di antara kebiasaan mereka adalah menjadikan Latta sebagai perantara, mereka memohon kepada Latta ~yang dahulunya orang shalih~ untuk menyampaikan permohonan mereka kepada Allah. Ketika mereka diajak untuk mengatakan dan komitmen dengan Laa ilaaha illallaah maka mereka menolaknya, Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: “Apakah Sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami Karena seorang penyair gila?” (QS. As Shaaffaat [37]: 35-36)

2. Arbab

Laa ilaaha illallaah menuntut kita untuk meninggalkan arbab, berlepas diri dari arbab. Apakah arbab…?? Ia adalah bentuk jamak dari Rabb, yang artinya tuhan pengatur atau yang mengatur, berarti kalau kata-kata “atur” maka berhubungan dengan aturan, seperti hukum/undang-undang. Jadi Rabb adalah tuhan yang mengatur, yang menentukan hukum.

Kita sebagai makhluq Allah, Dia telah memberikan sarana kehidupan kepada kita, maka konsekuensi sebagai makhluk yang diciptakan Allah adalah beriman bahwa yang berhak menentukan aturan… hanyalah Allah. Jadi Allah disebut Rabbul ‘aalamiin karena Allah yang mengatur alam ini baik secara kauniy (hukum alam) maupun secara syar’iy (syari’at). Sedangkan jika ada orang yang mengaku atau mengklaim bahwa dia berhak mengatur, berarti dia memposisikan dirinya sebagai rabb.

Apakah rabb itu…? Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah mendefinisikan rabb itu adalah: “Yang memberikan fatwa kepada engkau dengan fatwa yang menyelisihi kebenaran, dan kamu mengikutinya seraya membenarkan”.

3. Andad (Tandingan-tandingan)

Andad adalah jamak dari kata nidd, yang artinya tandingan, maksudnya adalah tandingan bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah memerintahkan agar kita hanya menghadapkan dan menjadikan-Nya sebagai tujuan satu-satunya. Tidak boleh seseorang mengedepankan yang lain terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah berfirman tentang nidd ini atau tentang andad ini:

“…Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah sedang kamu mengetahui”. (QS Al Baqarah [2]: 22)

Andad itu apa…?

Andad adalah sesuatu yang memalingkan kamu dari Al Islam, atau sesuatu yang memalingkan kamu dari Tauhid, baik itu anak, isteri, jabatan, harta, atau apa saja yang mana jika hal itu memalingkan seseorang dari Tauhid atau memalingkan seseorang dari Al Islam atau menjerumuskan seseorang kepada kekafiran atau ke dalam kemusyrikan, maka sesuatu hal itu sudah menjadi andad.

Jadi sesuatu yang memalingkan kamu dari Al Islam atau Tauhid baik itu anak, isteri, suami, posisi jabatan, harta benda, dst, kalau hal tersebut justeru mamalingkan seseorang dari tauhid, berarti sesuatu itu telah dijadikan andad… tandingan bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

4. Thaghut.

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya kewajiban pertama yang Allah fardhukan atas anak Adam adalah kufur terhadap thaghut dan iman kepada Alah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana yang Dia firmankan:

“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat itu seorang rasul (mereka mengatakan kepada kaumnya): Ibadahlah kepada Allah dan jauhi thaghut…” (QS. An Nahl [16]: 36)

Perintah kufur terhadap thaghut dan iman kepada Allah adalah inti dari ajaran semua Rasul dan pokok dari Islam. Dua hal ini adalah landasan utama diterimanya amal shalih, dan keduanyalah yang menentukan status seseorang apakah dia itu muslim atau musyrik, Allah Ta’ala berfirman:

“Siapa yang kufur terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, maka dia itu telah berpegang teguh kepada buhul tali yang sangat kokoh (laa ilaaha ilallaah)” (QS. Al Baqarah [2]: 256)

Bila seseorang beribadah shalat, zakat, shaum, haji dan sebagainya, akan tetapi dia tidak kufur terhadap thaghut, maka dia itu bukan muslim dan amal ibadahnya tidak diterima.

Adapun tata cara kufur kepada thaghut adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah:

1. Engkau meyakini bathilnya ibadah kepada selain Allah,

2. Engkau meninggalkannya,

3. Engkau membencinya,

4. Engkau mengkafirkan pelakunya,

5. Dan engkau memusuhi para pelakunya.

Ini sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya tatkala mereka mengatakan kepada kaumnya: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadati selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja…” (QS. Al Mumtahanah [60]: 4)

Jadi begitu luas konsekuensi yang ada di balik kalimat La illaha illallah. Kini umat telah jauh dari pemahaman seperti ini. Mereka terlena oleh dunia yang mengajak mereka pada kesesatan yang nyata wallahu a’lam.

Kesalahan datangnya dari ana dan kebenaran hanya datang dari Allah Penguasa Kerajaan Yang Paling Besar

Akhir kata alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin.

Dikirim pada 12 Agustus 2010 di ibadah



NASEHAT KEPADA PEMUDA IKHWANUL MUSLIMIN

Oleh : Syeikh Al-Mujahid Abu Aiman Adz-Dzawahiri
Alih bahasa : Izzi

Rasulullah saw bersabda: “Agama itu nasehat”. (Muslim).
Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayatayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tandatanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayatayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (Al-A’raf 179)

Allah berfirman: “Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir). Penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: "Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?" [67.9] Mereka menjawab: "Benar ada, sesungguhnya telah dating kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan (nya) dan kami katakan: "Allah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar". [67.10] Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau
memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". [67.11] Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyalanyala. (Al-Mulk 8-11)

Wahai pemuda Ikhwan: Kami sampaikan ayat-ayat tadi sebagai nasehat bagi kalian supaya kalian mendengar dan berfikir, karena suatu kaum yang menutup akal mereka menyumbat telinganya dari kebenaran maka mereka akan menuju ke tempat seperti yang disebutkan dalam ayat.

Wahai pemuda, janganlah kalian menjadi seperti yang difirmankan Allah: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah". Mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?” (Lukman: 21)

Wahai pemuda, apakah kalian ridha menamakan demokrasi sebagai syareat? Dan agama tidak melarang dalam urusan ini? Apakaha kalian ridha untuk tidak mengkafirkan pemerintahan-pemerintahan taghut yang tidak menegakkan syareat islam? Apakah kalian ridha bila jama’ah kalian berbaiat kepada para thagut kafir? Apakah kalian ridha menamakan jihad fisabilillah dengan ‘metode keganasan’ padahal Islam berlepas diri dari panamaan ini? Bila diantara kalian memang bodoh dalam persoalan ini, maka telah datang kebenaran pada kalian dalam makalah ini dan makalah-makalah lain yang telah kami sebar luaskan mengenai kesesatan pemimpin-pemimpin Ikhwan, “Dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya maka dia telah sesat dalam kesesatan yang nyata”. (Al-Ahzab: 36).

Hujah tentangnya telah tegak, tidak ada alasan udzur lagi setelah ini dalam persoalan menjauhi ahlu dholal dan menegakkan jihad kepada pemerintahan kufar.Bila kalian tidak menerima kenyataan ini, berarti kalian mengikuti dunia yang kalian incar serta ashabiyah yang terbentuk dalam jama’ah kalian, padahal Allah berfirman: “Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (Taubah 24)

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (Al-Anfal: 28)

Bila kalian beralasan bahwa pendapat inilah yang diikuti oleh mayoritas manusia maka Abdullah bin Mas’ud ra telah berkata: “Jama’ah ialah apa-apa yang sesuai dengan al-haq walupun kalian sendirian mengikutinya”. (Ibnu Asakir, di shahihkan oleh Al-Bani).

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Betapa baiknya perkataan Abu Muhammad Abdurrahman bin Ismail yang dikenal dengan nama Abu Syamah dalam kitab Al-Hawadit wal Bid’I, sebagaimana beliau menyuruh untuk beriltizam kepada jama’ah, maksudnya yaitu iltizam dan mengikuti (itiba’) pada al-haq walauapun yang mengikutinya sedikit dan yang mengingkarinya banyak. Sebab yang dinamakan al-haq ialah jama’ah perdana seperti di masa Nabi saw dan sahabat.” (Ighatsatul Lahfan 82-83)

Islam muncul asing dan akan kembali asing sebagaimana kemunculan pertama kalinya, maka beruntunglah bagi ghuraba (orang yang terasing).

Perhatikanlah wahai saudaraku, sesungguhnya Abdullah bin Mas’ud berkata: “Janganlah kalian taqlid pada agama seseorang, jika dia beriman maka kalian ikut beriman namun jika mereka kafir maka kalian ikuti kekafirannya. Sesungguhnya tidak ada uswah kecuali dalam hal baik”. (I’lam Muwaqi’in 62/176)

Sesungguhnya aku kawatir pada kalian wahai akhi, pada suatu hari kalian berkata penuh penyesalan; “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang lalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul." [25.28] Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab (ku). [25.29] Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu telah dating kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia”. (Furqan 27-29)

Aku takut engkau memohon: “Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami
telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). [33.68] Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (Al-Ahzab 67-68)

Dimana akalmu ya akhi….?

Ya akhi…Sesungguhnya Islam sangat jauh dari konsep-konsep parlemen dan duduk-duduk satu majlis dengan mujrimin kafirin. Sesungguhnya Islam jauh dari perkumpulan orang-orang yang rasuk dan tamak seperti ketamakan dan kerakusan mereka pada kehidupan dunia.

Ketika Nabi mengirim utusan menyeru Heraclus agar dirinya masuk Islam, Heraclus memerintah bawahannya untuk mencari seseorang dari kaum Nabi saw di Syam untuk mendapatkan informasi. Maka mereka mendatangkan Abu Sufyan yang sedang berdagang di Syam. Ketika itu tahun 6 H dan Abu Sufyan masih musyrik Heraclus bertanya: “Apakah pengikutnya (Nabi) dari orang-orang mulia atau orang-orang lemah?”
Abu Sufyan menjawab: “Orang-orang lemah”. Heraclus berkata: “Mereka inilah pengikut para rasul”. (Bukhari Muslim)

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), [28.6] dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Firaun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu”. (Al-Qashas 5-6)

walhamdulillah.


***

* Subhanallah….Ketika saya bertanya kepada salah seorang dari Ikhwan mengenai sebab keharusan mereka memilih calon presiden yang telah ditentukan oleh para pemimpin jama’ah, akhi tersebut menjawab: “Ini adalah perintah, barangsiapa tidak mentaatinya maka dia berdosa dan bila ketahuan tidak memilih maka akan segera dikeluarkan dari partai”. La haula wala quwwata illa billah.

Dikirim pada 29 Juni 2010 di catetan

Wahai engkau yang rela meninggalkan kenikmatan dunia...
Besabarlah di dalam perjuanganmu..

Wahai engkau yang berani mengangkat senjata demi tegaknya kalimat Allah...
berteguh hatilah engkau di jalan-Nya...

Jangan takut pada tentara Thogut...
Engkau berjuang dijalan Allah sedang mereka berjuang dijalan syetan...

Wahai para mujahid...
Darah yang kau keluarkan tak akan sia-sia..
Karena engkau berjuang demi syariat yang benar...

Saudaraku yang sedang dilanda kesedihan ditanah Palestina, Philipina, Afganistan, dan tanah yang telah dikotori oleh tangan-tangan busuk kaum kafir...
Bersabarlah... Tak lama lagi Allah pasti menurunkan bala tentara-Nya yang gagah berani....


Saudaraku.....
Marilah kita bertawakal dan berserah diri kepada Allah Sang Penguasa yang sejati....
Dan berjauh dirilah dari orang-orang kafir la’natullah alaih...

Wahai Saudaraku yang sedang mengangkat senjata dimedan jihad....
Mungkin engkau kini telah lebih dulu berjuang sementara kami...
Kami hanya bisa berdoa dan mempersiapkan diri untuk membantumu disana....

Saudaraku...
Maafkan kami, bukan kami tak peduli padamu....
Namun keadaanlah yang membuat kami gundah....

Ingin rasanya kami mendampingimu dibalik asap letupan senjata...
Namun apalah daya kami....???
Saudaraku disini kami selalu berdoa untukmu...
Begitupula engkau disana..
Doakanlah kami agar kami segera menyusulmu menjemput kematian yang paling indah....


Dikirim pada 20 Juni 2010 di ibadah

Akhi.....

Allah ta’ala berfirman :

ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุชูŽู†ููุฑููˆุงู’ ูŠูุนูŽุฐู‘ูุจู’ูƒูู…ู’ ุนูŽุฐูŽุงุจุงู‹ ุฃูŽู„ููŠู…ุงู‹ ูˆูŽูŠูŽุณู’ุชูŽุจู’ุฏูู„ู’ ู‚ูŽูˆู’ู…ุงู‹ ุบูŽูŠู’ุฑูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุถูุฑู‘ููˆู‡ู ุดูŽูŠู’ุฆุงู‹ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ู ุดูŽูŠู’ุกู ู‚ูŽุฏููŠุฑูŒ
Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS.At taubah 39)

dalam ayat ini telah jelas bahwa Allah akan melaknat orang -orang yang tidak mau berangkat untuk berjihad..

Akhi..
Jika kita bicara mengenai bahwa kita bukan sedang dalam keadaan berperang ...
maka saya jawab...
"apakah muslim itu bersaudara?"
sekarang saya tanya kembali jika anda menjawab iya, maka apakah saudara-saudara kita di Palestina, di Thailand dan di negara-negara lain yang terjajah dan teraniaya oleh tangan-tangan kaum kafir akan kita biarkan begitu saja...
apakah orang-orang kafir la’natullah akan takut jika kita hanya berdemo-dan berdemo saja...??

orang-orang kafir tak akan gentar jika uamt islam ini hanya mampu untuk berdemo dan berdiskusi melalui meja-meja yang tak tau ujung pangkalnya...
mereka la’natullah hanyalah takut jika umat muslim kembali mengikuti tabi’at agama ini yang murni..
dengan menyandang senjata memerangi orang-orang kafir..

akhi...
jika kalian ragu ingatlah bahwa Allah telah berfirman :
Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.
( QS. At Taubah 9:73 )

dan
ู…ูŽุง ูˆูŽุฏู‘ูŽุนูŽูƒูŽ ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ูˆูŽู…ูŽุง ู‚ูŽู„ูŽู‰
Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu (QS.Ad-Dhuha:3)

Allah tidak akan meninggalkan kita ....

Dia selalu bersama orang-oragn yang sabar dan senantiasa berjihad untuk menegakkan Kalimat-Nya

akhi...

sekarang apa yang memberatkanmu untuk pergi berjihad??

"Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal keni’matan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit."(QS.At-Taubah:38)

Pasukan musuh telah memporak-porandakan negri saudara-saudara kita...

apakah kita akan berpangku tangan sja melihat itu semua...

Demi zat yang jiwaku ditangan-Nya...

ini bukanlah suatu yang perlu diragukan lagi....

marilah kita bersatu... tegakkan dien ini..

jayakan kembali islam sebagaimana 13 abad yang lalu..

Islam dipandang dan dihormati oleh dunia...



Dikirim pada 08 Juni 2010 di ibadah



(Sebuah Tambahan Wawasan)




Oleh :


Aat Suganda


Abdul Azis Waluya




“ Tujuan utama syari’ah adalah mendorong kesejahteraan manuasia yang terletak pada perlindungan kepada keimanan, akal, keturunan dan kekayaan . Apapun yang menjamin berlindungnya lima perkara akan memenuhi kepentingan yang dikehendaki” ( Imam Al-Ghazali )





Assalamu’alaikum



I. I F T I T A H



Mengawali tulisan ini, marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan nikmat Iman dan Islam kepada kita sekalian. Patut pula kita iringi dengan do’a shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, para sahabat dan pengikutnya sampai akhir zaman.



Pertama - tama. Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada ihwanul muslimin walmuslimat yang telah mengambil inisiatif untuk berminat dan peduli kepada ekonomi syari’ah.


Kedua. Sebagai karya ilmiah tentu saja tulisan ini diharapkan dapat menjadi bahan diskusi, kajian, wacana dan referensi (Maraji”) bagi upaya melanjutkan gerakan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Karena dukungan ihwanul muslimin walmuslimat berupa kritikan, perbaikan dan saran sangatlah besar artinya.



Ada hal yang perlu dipertajam dalam bahan diskusi ini. Yaitu adanya kebangkitan islam serta tampilnya ekonomi islam sebagai alternative setelah gagalnya system ekonomi sosialis dan ekonomi kapitalis. Salahsatu ciri paling otentik adanya sebuah kebangkitan adalah munculnya berbagai ragam pergerakan dakwah ( Harakah Dakwah). Tugas utamanya adalah melakukan perubahan terhadap realitas kontemporer umat. Maka sangat diperlukan penguasaan teoritis yang menjadi dasar pandangan, dan penguasaan praktis terhadap realitas dengan seluruh dimensi termasuk penerapan ekonomi Islam. Saya termasuk yang menyetujui penerapan syariat Islam namun dengan pasokan Sumber Daya Manusia serta perangkat-perangkat yang sudah dipersiapkan secara matang. Isunya adalah isu kualitas, bukan isu emosional semata.



Pada tingkat akademisi, muncul perdebatan sengit mengenai sistem ekonomi yang ideal. Sistem ekonomi yang memberikan perubahan cepat dan mendasar bagi usaha-usaha untuk menghapuskan kemiskinan dan dampak kejahatan sosial yang dilahirkannya. Sementara dalam waktu bersamaan, kapitalis dan sosialis yang didengung-dengungkan sebagai sistem ekonomi paling unggul yang pernah dimiliki manusia. Permasalahan yang paling besar yang menghantui umat Islam pada umumnya ialah apakah Islam memiliki PRINSIP-PRINSIP EKONOMI SENDIRI ? dan Kalau ada apakah prinsip-prinsip tersebut pernah dipraktekkan dalam kurun waktu 14 abad lampau ? atau apakah prinsip-prinsip itu HANYA SEKEDAR TEORI USANG, yang hanya tersimpan apik dalam buku seperti kebanyakan teori islam lain ?



Di Indonesia semangat gagasan ekonomi Islam, sebenarnya sudah cukup lama berkembang. Di Indonesia pada tahun 1923, Haji Oemar Said Tjokroaminoto telah menulis sebuah buku berjudul Sosialisme Islam. Bahkan dari karangan Bung Hatta dapat diketahui, bahwa pada zaman pergerakan kemerdekaan itu sudah pernah dibentuk Bank Islam yang mengganti Bunga dengan Biaya Administrasi.









Babak baru perkembangan pemikiran mengenai Ekonomi Islam mulai timbul pada dasawarsa 70-an, langsung ditingkat Internasional. Ada beberapa faktor yang memunculkan perkembangan baru ini :


Pertama, timbulnya apa yang dikenal sebagai kekuatan ekonomi petro dollar, artinya dollar yang dihasilkan oleh industri perminyakan.


Kedua, timbulnya kesadaran tetang kebangkitan Islam pada abad ke-4 Hijriah yang melanda dunia Islam pada dasawarsa 70-an.


Ketiga, lahirnya generasi baru intelektual Muslim yang mendapatkan pendidikan modern, baik di Barat maupun dinegara-negara Islam sendiri. Itu semua dilatarbelakangi pula oleh kebangkitan Dunia Ketiga dalam pembangunan yang didukung oleh lembaga-lembaga PBB dan dua lembaga Bretton Wood. Bank Dunia (The Word Bank) dan lembaga Moneter Internasional (Internsional Monetary Fund, IMF) yang disusul dengan lembaga-lembaga serupa dibeberapa kawasan diantaranya Bank Pembangunan Asia ( Islamic Devlopment Bank, IDB). IDB dilahirkan oleh Organisasi Konperensi Islam (OKI) pada tahun 1971.




II. K H U L A S A H



1. EKONOMI DAN ISLAM



Kita dihadapkan pada dua kata popular, EKONOMI dan kata ISLAM. Ekonomi berasal dari bahasa latin ‘ OIKOS’ dan ‘NOMOUS’ yang berarti Aturan Rumah Tangga. ISLAM berasal dari bahasa Arab, dari kata Aslama-Yuslimu-Islam, artinya menyelamatkan, masuk dalam keselamatan, menyerahkan diri atau tunduk dan patuh. Adapun menurut istilah, Islam ialah agama(Din) yang diwahyukan Allah kepada para Nabi dan Rosul-Nya agar menjadi pedoman hidup bagi manusia yang akan mendatangkan Kesejahteraan didunia dan akhirat. Seluruh Nabi dan Rosul yang diutus oleh Allah beragama Islam ( QS. 42:13, QS. 2:36 ).



13. Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama[1340] dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).



[1340] Yang dimaksud: agama di sini ialah meng-Esakan Allah s.w.t., beriman kepada-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta mentaati segala perintah dan larangan-Nya.




136. Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".










Kegiatan Ekonomi sendiri dapat didefinisikan sebagai kegiatan seseorang, sesuatu perusahaan atau suatu masyarakat untuk memproduksi barang dan jasa maupun mengkonsumsi (menggunakan) barang dan jasa tersebut. Namun yang penting untuk diperhatikan adalah Produksi yang tersedia di masyarakat relatif terbatas/langka. Faktor Produksi sendiri berupa benda-benda yang disediakan oleh alam atau diciptakan manusia yang dapat digunakan untuk memproduksikan barang-barang dan jasa-jasa.



Faktor Produksi disebut juga Sumber Daya dan dapat dibedakan kepada 4 golongan :


1. Tanah dan Sumber alam;


2. Tenaga kerja (sumber daya manusia)


3. Modal


4. Keahlian Usaha.


Karena terbatas maka seseorang, perusahaan, masyarakat harus membuat keputusan ( DECISION ) tentang cara yang terbaik untuk melakukan kegiatan ekonomi. Dapatkan manusia membuat keputusan ?



Untuk membuat keputusan yang baik, diperlukan Ilmu. Dalam hal ini Ilmu Ekonomi yang diperoleh secara empiris dan mengalami penyempurnaan. Ilmu Ekonomi merupakan suatu studi mengenai individu-individu dan masyarakat membuat pilihan. Dengan atau tanpa penggunaan uang, dengan menggunakan sumber-sumber daya yang terbatas tetapi dapat dipergunakan dalam berbagai cara untuk menghasilkan berbagai jenis barang dan jasa dan mendistribusikan untuk kebutuhan konsumsi, sekarang dan dimasa yang akan dating, kepada berbagai individudan golongan masyarakat, Bagaimana denga Ilmu Ekonomi Islam ?



Banyak kalangan umat Islam yang hingga kini belum mendapatkan gambaran yang benar mengenai Ilmu Ekonomi Islam. Sebagian dari mereka menganggap Ilmu Ekonomi Islam adalah identik dengan Bank Islam dan lembaga-lembaga keuangan yang berbasis Islam lainnya. Sebagian lainnya menggambarkanIlmu Ekonomi Islam adalah bagian dari Fiqh yang berkaitan dengan muamalah. Sebagian lainnya bahkan memandang tidak lain sebagai “Ayatisasi” ( baca : Legitimasi teori dengan ayat-ayat Al-Qur’an) dari Ilmu Ekonomi yang sedang diajarkan.



Ketidakjelasan mengenai Ekonomi Islam itu adalah wajar mengingat bahwa ilmu ini masih dalm taraf pembentukan, Meskipun para pakarnya sudah memberikan gambaran yang lebih jelas dan komprehensif. Tetapi pada tingkat disiplin masih menemukan berbagai tanggapan dan perdebatan sehingga masih sangat perlu adanya penjernihan konsep untuk mendudukan persoalan tersebut pada proporsi yang tepat.



Menurut Dr. Umer Chapra Ilmu Ekonomi Islam dapat didefinisikan sebagai suatu cabang pengetahuan yang membantu merealisasikan kesejahteraan manusia melalui suatu alokasi dan distribusi sumber-sumber daya langka yang seirama dengan maqosid, tanpa mengekang kebebasan individu, menciptakan ketidakseimbangan makroekonomi dan ekologi yang berkepanjangan, atau melemahkan solidaritas keluarga dan social serta jaringan moral masyarakat.



Ekonomi Islam sendiri menurut Doktor Halide dari Unhas adalah kumpulan dasar-dasar umum ekonomi yang disimpulkan dari Al-Qur’an dan Sunnah yang ada hubungannya dengan urusan ekonomi. Selanjutnya Halide menyebutkan perbedaan pendekatan antara teori dan kebijakan ekonomi yang umumnya berasal dari barat didasarkan pada perhitungan materialistic, untung rugi, sekuler dan tidak sedikit sekali memasukan moral agama dengan pendekatan islam antara lain :


1. Konsumsi manusia dibatasi sampai pada tingkat yang perlu dan bermanfaat saja bagi manusia;


2. Alat pemuasan dan kebutuhan manusia seimbang;


3. Dalam Pengaturan distribusi dan sirkulasi barang dan jasa,nilai-nilai moral harus diterapkan;


4. Pemerataan pendapatan dilakukan mengingat sumber kekayaan seseorang yang diperoleh dari usaha yang halal. Zakat sebagai sarana distribusi pendapatan dan peningkatan taraf hidup golongan miskin merupakan alat ampuh.



AM Saefudin, lebih lengkap menjelaskan kontruksi Ekonomi Islam yang dimulai dari Asas Filsafat Ekonomi Islam. Nilai-nilai dasar Ekonomi Islam dan Nilai Instrumental Ekonomi Islam. Menurutnya ada 3 asas Filsafat Ekonomi Islam :


1. Semua yang ada dialam semesta, langit, bumi serta sumber-sumber alam yang ada padanya, bahkan harta kekayaan yang dikuasai oleh manusia adalah milik Allah SAW.


2. Allah SAW itu maha Esa. Dialah pencipta segala makhluk yang ada di alam semesta.


3. Beriman kepada hari kiamat dan hari pengadilan, Manusia sadar bahwa semua perbuatannya, termasuk tindakan ekonominya akan dimintai pertanggungjawaban kelak oleh Allah SAW.


Ketiga asas pokok filsafat ekonomi Islam ini melahirkan nilai-nilai dasar Sistem Ekonomi Islam.


Nilai-nilai dasar ekonomi Islam adalah :


1) Kebebasan yang terbatas mengenaiharta kekayaan dan sumber-sumber produksi.


2) Keseimbangan


3) Keadilan


Ketiganya merupakan pangkal (asal) nilai-nilai instrumental Sistem Ekonomi Islam.




Dalam system kapitalis nilai instrumentalnya adalah persaingan sempurna, kebebasan keluar masuk pasar tanpa restriksi, informasi dan bentuk pasar yang monopolistic.



Sedangkan Marxis nilai instrumentalnya antara lain perencanaan ekonomi yang bersifat sentral dan mekanistik, pemilik daktor-faktor produksi oleh kaum proletar secara kolektif.




Dalam sistem Ekonomi Islam ada 5 (lima) nilai instrumental yang strategis yang mempengaruhi tingkah laku ekonomi seorang muslim. Masyarakat dan pembangunan ekonomi pada umumnya. Nilai-nilai itu adalah :


1) Zakat;


2) Pelarangan Riba;


3) Kerjasama ekonomi. Kerjasama merupakan watak masyarakat ekonomi menurut ajaran islam, itu tercermin dalam segala tingkat kegiatan ekonomi, produksi, distribusi baik barang maupun jasa. Bisa dengan Al-Bai’u Bithaman Ajil (BBA) dan Al-Murabahah, Al-Mudharabah atau Al-Qiradh Al-Musyarakah atau Al-Syarikah bahkan adapula yang lebih kepada kepedulian kepada sesama muslim yaitu Khodlu Hassan.


4) Jaminan SosialDidalam Al-Qur’an banyak dijumpai ajaran antara lain untuk menjamin tingkat kualitas hidup minimum bagi seluruh masyarakat.


5) Peranan Negara. Peranan Negara pada umumnya, pemerintah pada khususnya sangat menentukan dalam pelaksanaan nilai-nilai Sistem ekonomi Islam. Peranan itu diperlukan dalam aspek hokum, perencanaan dan pengawasan alokasi dan distribusi sumberdaya dan dana, pemerataan pendapatan dan kekayaan serta pertumbuhan dan stabilitas ekonomi.




Maka teori, model dan system ekonomi Islam, sebagai alternative teori ekonomi yang telah mati. Harus didasarkan pada aksiomatik Ilmu Tauhid. Kebebasan, keseimbangan dan pertanggungjawaban dari setiap individu makhluk. Untuk mencapai mardhatillah, dalam kerja kesehariannya manusia bekerja dengan menyebut Li Allah dan memilih cara-cara yang sesuai dengan fiqih muamalat. Hubungan individu, masyarakat dan Negara dirintis melalui pembelajaran seperti ini. Negara kemudian mangatur system fiscal yang dinyatakan sebagai zakat. Dan system akad bermuamalat sesuai dengan musyawarah yang ditempuh setiap warga bangsa.




2. LEMBAGA KEUANGAN



A. Pengertian Lembaga Keuangan


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Bank adalah Lembaga Keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang. Adapun Perbankan adalah segala sesuatu mengenai bank.1 Sementara pengertian menurut undang-undang No.10/1998 tentang Perbankan adalah bahwa bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak..2 Perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usaha.3



1) Lembaga Keuangan Bank



Menurut Pasal 2, UU No. 7/1992 juga No.10/1998 tentang Perbankan Indonesia dalam melakukan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan perinsip kehati-hatian. Dan mempunyai fungsi utama sebagai penghimpun dana , penyalur dana masyarakat (pasal 3). Perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional kea rah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak (pasal 4).



Sedangkan jenis bank (pasal 5) terdiri dari BANK UMUM dan BANK PERKREDITAN RAKYAT. Adapun usaha (pasal 6) Bank Umum meliputi :


a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu;


b. Memberi kredit;


c. Menerbitkan surat pengakuan utang;


d. Membeli, menjual, atau menjamin atas resiko sendiri maupun untuk kepentingan dan atas perintah nasabah nya;


1) Surat-surat wesel termasuk wesel yang diakseptasi oleh bank yang masa berlakunya tidak lebih lama dari pada kebiasaan dalam perdagangan surat-surat dimaksud;


2) Surat pengakuan utang dan kertas dagang lainnya yang masaberlakunya tidak lebih lama dari kebiasaan dalam perdagangansurat-surat dimaksud;


3) Kertas perbendaharaan Negara dan surat jaminan pemerintah;


4) Sertifikat Bank Indonesia (SBI);


5) Obligasi;


6) Surat dagang berjangka waktu sampai dengan 1(satu) tahun;


7) Instrumen surat berharga lain yang berjangka waktu sampai dengan 1(satu) tahun.


e. Memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah;


f. Menempatkan dana pada, meminjam dana dari, atau atau meminjam dana kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekominikasi maupun wesel unjuk, cek, atausarana lainnya;


g. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan atau antar pihak ketiga;


h. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga;


i. Melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan kontrak;


j. Melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek;


k. Membeli melalui pelanggan agunan baik semua maupun sebagian dalam hal debitur tidak memenuhi kewajibannya kepada bank, dengan ketentuan agunan yang dibeli tersebut wajib dicairkan secepatnya;


l. Melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan kegiatan wali amanat;


m. Menyediakan pembiayaan dan/atau melakukan kegiatan lain berdasarkan Prinsip Syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia;


n. Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang ini dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.




1. Pusat Pembinaan Bahasa Indonesia, 1988, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdikbud, Jakarta. Kata Bankir berarti (1) orang yang mengusahakan bank; (2) orang yang memperdagangkan uang; (3) cak orang yang menjadi penyokong dalam urusan keuangan, cukong,h.78


2. Pasal 1 ayat 2, Undang-undang Perbankan No.10 tahun 1998, Sinar Grafika, Jakarta, 1999, hal 8.


3. Pasal 1 (1), Undang-undang Perbankan No.10 tahun 1998, Sinar Grafika, Jakarta, 1999..



BANK UMUM


Bank Umum dapat pula (pasal 7) melakukan usaha :


a. Melakukan kegiatan dalam valuta asing dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia


b. Melakukan kegiatan penyertaan modal pada bank antara perusahaan lain dibidang keuangan, seperti sewa guna usaha, modal ventura, perusahaan efek, asuransi, serta lembaga kliring penyelesaian dan penyimpanan, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia;


c. Melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan kredit atau kegagalan pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah, dengan syarat harus menarik kembali penyertaan, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia; dan


d. Bertindak sebagai pendiri dan pension dan pengurus pada pension sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undang dan pension yang berlaku.



Sementara Bank Umum (pasal 10) dilarang :


a. Melakukan penyertaan modal, kecuali sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 hurup b dan c;


b. Melakukan usaha perasuransian;


c. Melakukan Usaha lain diluar kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 dan 7.




BANK PERKREDITAN RAKYAT


Bank Desa, Lumbung Desa, Bank Pasar, Bank Pegawai, Lumbung Pitih Nagari (LPN), Lembaga Perkreditan Desa (LPD), Badan Kredit Desa (BKD), Badan Kredit Kecamatan (BKK), Kredit Usaha Rakyat Kecil (KURK), Lembaga Perkreditan Kecamatan (LPK), Bank Karya Produksi Desa (BKPD), dan /atau lembaga-lembaga lainnya yang memenuhi persyaratan tata cara yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah (pasal 58).



Usaha yang boleh dilakukan oleh BPR (pasal 13) adalah sebagai berikut :


a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu;


b. Memberi kredit;


c. Menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah;


d. Menempatkan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito berjangka, sertifikat deposito,dan/atau tabungan pada bank lain.



Sementara Bank Perkreditan Rakyat (pasal 14) dilarang :


a. Menerima simpanan berupa giro dan ikut serta dalam lalu lintas pembayaran;


b. Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing;


c. Melakukan penyertaan Modal;


d. Melakukan usaha perasuransian;


e. Melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha sebagaimana dimaksud pasal 13.



Bentuk Badan Hukum (pasal21) suatu Bank Umum dan BPR dapat berupa : Perseroan Terbatas, Koperasi atau Perusahaan Daerah. Pendiri (Pasal 22) Bank Umum adalah WNI dan/atau badan hukum Indonesia atau WNI dan/atau badan hukum dengan WNA dan/atau badan hukum asing secara kemitraan. Persyaratan ini ditetap lebih lanjut oleh Bank Indonesia.



Mengenai pembinaan dan pengawasan bank dilakukan oleh Bank Indonesia, dan Bank wajib memelihara kesehatan bank dengan memperhatikan aspek permodalan, kualitas asset, kualitas manajemen, rentabilitas, likuiditas, solvabilitas, dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank. Bank Indonesia juga melakukan pemeriksaan terhadap bank. Baik secara berkala maupun setiap waktu apabila diperlukan. Bank mempunyai kewajiban untuk mengumumkan neraca dan perhitungan laba/rugi dalam waktu dan bentuk yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Jika menurut penilaian BI suatu bank diperkirakan mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya. BI memberitahukan kepada Menteri Keuangan.







Atau jika sudah terbukti bank kesulitan dan membahayakan kelangsungan usahanya, BI dapat melakukan tindakan agar :


1. Pemegang saham menambah modal;


2. Pemegang saham mengganti dewan komisaris dan/atau direksi bank;


3. Bank menghapusbukukan kredit yang macet, dan memperhitungkan kerugian bank dengan modalnya;


4. Bank melakukan merger atau konsolidasi dengan bank lain;


5. Bank dijual kepada pembeli yang bersedia mengambil alih seluruh kewajiban.





BANK SENTRAL



Atau BI mengambil tindakan lain yang sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Lebih parah jika dianggap membahayakan sistem perbankan, BI mengusulkan pada Menteri Keuangan untuk mencabut izin usahanya dan memerintahkan kepada direksi untuk melikuidasi bank tersebut. BANK SENTRAL adalah lembaga yang diserahi tanggung jawab untuk mengatur dan mengawasi kestabilan kegiatan lembaga-lembaga keuangan, dan untuk menjamin agar kegiatan lembaga keuangan itu akan membantu menciptakan tingkatan kegiatan ekonomi yang tinggi dan stabil. Bank sentral Swedia, didirikan pada tahun 1660, dan baru 1897 berfungsi menjadi bank sentral. Bank of England, bank sentral di Inggris didirikan pada tahun 1694 tetapi fungsinya sebagai bank sentral baru tahun 1884. Di Amerika Serikat , Bank sentralnya bernama FederalReserve System yang berdiri tahun 1913. Bank Indonesia berdiri tahun 1949, hasil nasionalisasi dari Bank of Java.



Tugas dan tanggung jawab bank sentral adalah :


1. Bertindak sebagai bank kepada pemerintah


2. Bertindak sebagai bank kepada bank umum


3. Mengawasi kegiatan bank umum dan lembaga keuangan lainnya


4. Mengawasi keseimbangan perdagangan luar negri


5. Mencetak uang logam dan uang kertas yang diperlukan untuk melancarkan kegiatan produksi dan perdagangan.




2) Lembaga Keuangan Non Bank



Lembaga keuangan yang bukan berbentuk bank, walaupun dalam prakteknya hampir sama dengan bank. Ketentuan tentang Lembaga ini diatur dengan Surat Menteri Keuangan Nomor : KEP-792/1970 tanggal 7 Desember 1970 dan diubah serta ditambah dengan Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor : KEP-38/MK/IV/I/1972 tanggal 18 Januari 1972. LKBB terdiri dari jenis pembiayaan pembangunan, jenis investasi dan jenis lainnya. Walaupun LKBB hanya dapat didirikan dan menhalankan usahanya setelah mendapat izin dari menteri keuangan, pembinaan dan pengawasan LKBB dilakukan Bank Indonesia. Menurut UU No. 7 juga UU No. 10/1998 tentang Perbankan pasal 57 : LKBB yang telah memiliki izin usaha dari Menteri Keuangan, dapat menyesuaikan kegiatan usahanya sebagai bank berdasarkan ketentuan dalam undang-undang ini, selambat-lambatnya 1 (satu) tahun sejak berlakunya undang-undang ini.



Contoh LKBB (Lembaga Keuangan Bukan Bank) diantaranya adalah :


a. Asuransi (Takaful)


b. Pegadaian (Ar-Rahn)


c. Leasing (Ijarah; Pembiayaan)


d. Ventura Capital (Syirkah)


e. Koperasi (Syirkah ‘Inan) ; Koperasi Baitul Maal Wattamwil


f. Dana Pensiun, Dll










NASABAH PEMINJAM BANK NASABAH PENABUNG



• Fungsi penghubung/internedier/Bridging/Makelar/Simsar


• Dana Penabung mempunyai harga (cost of money) yang harus dibayar berupa bunga tabungan (interest) : | ¬1


• Dana penabung dikelola bekerjasama dengan pemakai, sehingga Peminjam harus membayar sewa uang bank, | 2


• Make Fee (upah) bank adalah : | 2 dikurangi | ¬1 Notasi | 2 - | ¬1 Selisih ini disebut spread.


Spread ini digunakan untuk : Laba, menambah modal, operasi bank, cadangan kerugian dll.




B A N K


LEMBAGA KEUANGAN


N O N B A N K KOPERASI




3. LEMBAGA KEUANGAN ISLAM



Tahun 1963, muncul eksperimen pertama untuk merealisir gagasan Bank Islam dalam praktek, yakni dengan didirikan bank tabungan Myt-Ghamr di Mesir, dimana permodalannya dibantu oleh almarhum Raja Faisal dari Arab Saudi. Bank Myt-Ghamr ini mencoba menggabungkan gagasan bank tabungan Jerman, dengan dasar-dasar perbankan untuk kawasan pedesaan serta tuntunan ajaran Islam. Strategi ini ditempuh dengan tujuan agar penduduk pedesaan di sekitar kawasan itu, yang terkenal relijius, mau berhubungan dengan bank. Sebab pada waktu itu umumnya penduduk pedesaan di Mesir tidak mau berhubungan dengan bank, karena bank masih dianggap mengembangkan riba dengan jalan membungakan uang.



Dalam pelaksanaannya, Myt-Ghamr menerima rekening tabungan, investasi dan zakat. Bank ini tidak memberikan bunga kepada penabung, tetapi nasabah diizinkan untuk menariknya kembali bila diperlukan. Mereka juga dapat dipilih sebagai mitra untuk pinjaman-pinjaman kecil bebasbunga dalam rangka jangka pendek bagi tujuan-tujuan produktif. Dana-dana yang didepositokan dalam rekening tabungan tak diizinkan untuk ditarik kembali tetapi diinvestasikan atas dasar sistim bagi untung. Empat tahun setelah didirikan, sembilan cabang dibuka dengan nasabah sekitar satu juta orang. Keuntungan yang diperoleh bank ini juga tinggi. Saying karena persoalan-persoalan politik tertentu, Bank Myt-Ghamr akhirnya ditutup tahun 1967. Walaupun demikian eksperimen ini merangsang pemikiran tentang kemungkinan didirikannya lembaga Islam yang bergerak bidang keuangan dan investasi, dengan keuntungan yang layak.



Untuk kawasan perkotaan, Bank Islam yang pertama kali didirikan juga di Mesir. Sebagai perintis adalah Bnk Sosial Nasser yang didirikan di Kairo tahun 1971. Kegiatan ini terutamma dalam bidang social seperti memberikan pinjaman keuangan bebas bunga untuk proyek-proyek kecil atas dasar bagi untung, membantu kaum miskin sertamemberikan pinjaman terhadap mahasiswa-mahasiswa yang tidak mampu. Berikutnya adalah Bnk Islam Dubai yang berdiri tahun 1975. Bank ini merupakan usaha swasta terbatas dan memiliki kantor pusat di Dubai dengan modal sebesar 50 juta dirham.



Bank Islam memperlihatkan diversifikasi dan pola yang kompleks. Tetapi,semakin banyaknya jumlah Bank Islam yang didirikan diberbagai tempat didunia menunjukkan suatu fenomena yang menarik. Menurut Traute Wholers-Schart dalam Arab and Islamic Banks; New Business Patners for Developing Countries (Paris : OECD, 1983), perkembangan itu menunjukan satu manifestasi dari sebuah fenomena yang jauh lebih luas, yakni kebangkitan Islam dan nilai-nilainya diberbagai penjuru dunia.



Dengan melihat perkembangan dan profil beberapa Bank Islam itu dapatlah disimpulkan bahwa secara ekonomi dan keuangan, Bank Islam cukup sehat dan menghasilkan keuntungan yang layak dan tentu saja lebih layak dari menanam rambutan. Pilihan untuk memanfaatkan Bank Islam dalam arus perekonomian modern makin terbuka bagi umat. Sebuah pilihan bagi mereka yang masih ragu berhubungan dengan bank konvensional.




MEKANISME OPERASIONAL


Mekanisme operasional Bank Islam, baik dari segi pemupukan maupun pelanyaluran dana oleh para ahlinya didesign sedemikian rupa, dengan maksud agarsesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam. Dalam menyalurkan dananya Bank Islam, diantaranya menerapkan :



A Al-Bai’u Bithaman Ajil (BBA) dan Al Murabahah.



Pengertiannya ialah menjual sesuatu dengan mempercepat penyerahan barangnya kepada pembeli dengan penangguhan pembayaran harganya, sampai saat ini yang telah ditetapkan atau dengan cara pembayaran angsuran Tujuan utama BBA adalah untuk membantu nasabah memiliki sesuatu barang, tetapi tidak mampu membayar tunai. Pada Bank Konvensional, cara pembayaran barang cicilan ini disebut dengan “ kredit kepemilikan barang “. Melalui cara seperti ini, masyarakat dapat membeli kebutuhan rumah tangganya seperti kendaraan, computer, rumah dan sebagainya dengan cara kredit. Bank Islam pun dapat melakukan hal yang sama. Pada bank-bank konvensional, pembayaran dengan cicilan ini dikenakan bunga terhadap harga barang untuk dihitung bersama dengan pokok hutangnya, serta cicilan pembayarannya dalam jangka waktu tertentu. Selama hutang belum lunas barang, masih menjadi kilik bank dan tidak boleh dipindah tangankan. Sedangkan pada Bank Islam persyaratannya adalah :


1) Harga jual pada nasabah adalah harga beli barang oleh bank ditambah dengan sejumlah tambahan harga ( lumpsump mark-up ) atau menaikan jumlah bulat yang disetujui oleh penerima kredit;


2) Surat tanda bukti pemilik dipegang oleh bank sebelum seluruh angsuran lunas;


3) Cicilan dimulai saat peminjam telah mampu meperlihatkan hasil usaha.




B Al-Mudharabah atau Al-qiradh.



Perjanjian kesepakatan bersama antara pemilik modal dengan pengusaha dimana pemilik modal menyediakan dan dan pihak pengusaha proyek (umpamanya berjangka waktu pendek dan menengah) memutarkannya atas dasar bagi hasil. Tujuan mudharabah adalah hasil yang diterapkan dengan maksud agar dengan dihapuskannya bunya maka bersama-sama untuk menanggung resiko bias didorong. Biasanya persyaratan pelaksanaan Al-Mudharabah pada Bank Islam adalah :


1) Bank akan membiayai proyek yang disetujui sepenuhnya (100%) dalam bentuk pengadaan barang modal;


2) Proyek akan dikelola sepenuhnya oleh pengusaha selaku pemegang amanah tanpa campur tangan Bank Islam;


3) Bank dan pengusaha sama-sama menghitung porsi pembagian laba dan resiko untuk masing-masing sebelum melaksanakan proyek melalui negosiasi. Porsi untuk Bank Islam biasanya adalah 40%, sedangkan untuk pengusaha 60%;


4) Apabila terjadi kerugian maka Bank Islam menanggung seluruh kerugian maka bank Islam menanggung seluruh kerugian dengan cara menarik kembali barang modal yang dibiayai pengadaannya.




C Al-Musyarakah atau Al-Syarikah.



Perjanjian kesepakatan bersama antara beberapa pemilik modal untuk menyertakan modalnya pada suatu proyek, yang biasanya berjangka waktu panjang, Resiko rugi dan laba dibagi secara berimbang dengan pernyataannya. Adapun persyaratan Al-Musyarakah pada Bank Islam ialah ;



1) Pembiayaan suatu proyek investasi yang disetujui dilakukan bersama-sama dengan mitra usaha yang lain, sesuai dengan bagian masing-masing yang telah ditetapkan ( joint venture project financing );


2) Semua pihak, termasuk Bank Islam, berhak ikut serta dalam manajemen;


3) Semua pihak secara bersama-sama menentukan porsi pembagian laba yang akan diperoleh. Pembagian laba tidak harus sebanding dengan penyertaan modal masing-masing;


4) Bila proyek ternyata rugi, maka semuapihak ikut menanggung kerugian sebanding dengan penyertaan madal masing-masing.6




6 Ulumul Qur’an, Jurnal Ilmu dan Kebudayaan No.9 1991.



III. K H A T I M A H



Demikianlah materi diskusi kita kali ini, mohon maaf yang sedalam-dalamnya.mengenai data-data empiris lembaga keungan Islam di inonesia dan Bogor pada khususnya, mekanisme manajemen dan konsep-konsep akuntansi Islam dapat kita diskusikan lebih lanjut dikesempatan materi-materi yang kita dapatkan dalam keseharian dan referensi buku yang popular dan tepat guna. Wallahu’alam Bishawwab !!



Billahi Fisabilihaq, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh






IV. M A R A J I’




1. Agus Pranamulia “Lembaga Keuangan Islam”, makalah, Bogor.2003.


2. Undang-undang Perbankan No.10 tahun 1998, Sinar Grafika, Jakarta, 1999


3. Sadono Sukirno,Pengantar Teori Mikroekonomi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada.1997


4. M.DAud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf : Jakarta :UI-Pres. 1988


5. Suyatno,Thomas, dkk, Dasar-dasar Perkreditan, Gramedia,Jakarta 1992

Dikirim pada 03 Mei 2010 di catetan


Normal
0
false
false
false
MicrosoftInternetExplorer4
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}






Pada masa awal diutusnya Nabi saw, beliau mendakwahkan agama Islam dikota Makkah secara sembunyi-sembunyi. Dengan alasan keselamatan, kaum muslimin pada masa itupun menyembunyikan keislaman mereka. Hingga ketika jumlah kaum muslimin telah genap tiga puluh delapan orang, Abu Bakar ra mendesak Rasulullah saw untuk menda’wahkan dienul Islam secara terang-terangan. Berkatalah Rasulullah saw, "Wahai Abu Bakar, … sesungguhnya jumlah kita masih sedikit," Akan tetapi Abu Bakar tetap mendesak Rasulullah saw, sehingga beliau bersedia keluar menuju masjid berikut kaum muslimin.

Di masjid mereka berpencar di sudut-sudut masjid, setiap orang berada pada kabilahnya masing-masing. Berdirilah Abu Bakar ra dihadapan manusia sambil berkhutbah. Sehingga dialah orang yang pertama kali berkhutbah menyeru manusia kepada Allah. Ketika orang-orang musyrik mendengar Abu Bakar ra mencela tuhan-tuhan mereka dan menyalahkan agama mereka, spontan mereka marah kepada Abu Bakar ra dan kaum muslimin. Mereka memukuli kaum muslimin di sudut-sudut masjid tersebut dengan pukulan yang keras, sementara Abu Bakar ra sedang menyampaikan dien secara jahar (terang-terangan). Sekelompok orang-orang musyrikin mengelilingi dan memukulinya habis-habisan sampai beliau jatuh ke lantai, sementara usia beliau ketika itu telah mendekati 50an. Salah seorang fasiq diantara mereka yaitu Utbah bin Rabi’ah mendekati Abu Bakar lalu menginjak perut dan dadanya serta memukul wajah Abu Bakar ra dengan kedua terompahnya sampai kulit wajah Abu Bakar ra terkoyak dan berdarah lalu beliau jatuh pingsan.

Saat itu datanglah Bani Taim (kabilah Abu Bakar), membelanya serta berusaha menghalau orang-orang musyrik. Mereka menggotong Abu Bakar ra dengan selembar kain. Mereka menduga kuat bahwa ia telah meninggal. Setelah sampai di rumahnya ia dibaringkan. Ayahnya dan sebagian kaumnya duduk di samping kepalanya. Mereka berbicara kepadanya namun ia tak dapat berbicara sama sekali. Pada sore hari, Abu Bakar ra mulai siuman dan membuka kedua matanya. Kata-kata yang pertama meluncur dari lidahnya adalah, "Bagaimana keadaan Rasulullah saw ?". Mendengar pertanyaan itu ayahnya marah dan mencelanya lalu keluar. Kemudian ibunya duduk di sisi kepalanya untuk memberi makan dan minum, sementara ia mengulang-ulang pertanyaannya, "Bagaimana keadaan Rasulullah saw ?". Ibunya menjawab, "Demi Allah, aku tidak tahu-menahu tentang sahabatmu itu."

Abu Bakar Berkata, "Pergilah ke Ummu Jamil binti Khotthob, tanyakan kepadanya tentang Rasulullah."

Ummu Jamil adalah seorang muslimah yang menyembunyikan keislamannya. Maka keluarlah ibunya untuk mendatangi Ummu Jamil. Ia berkata kepada Ummu Jamil, "Sesungguhnya Abu Bakar bertanya kepadamu tentang Muhammad bin Abdullah." Ummu Jamil khawatir jika mereka mengetahui keislamannya. Lalu ia berkata, "Aku tidak kenal siapa itu Abu Bakar dan juga siapa itu Muhammad, akan tetapi jika engkau mau aku akan pergi bersamamu untuk menemui anakmu."

Ibu Abu Bakar menjawab, "Ya, baiklah!"

Akhirnya mereka bersama-sama menuju rumah Abu Bakar. Setelah sampai di rumahnya masuklah Ummu Jamil. Dia melihat tubuh Abu Bakar yang terkoyak wajahnya dan mengalirkan darah, ia menangis seraya berkata, "Demi Allah, sesungguhnya kaum yang berbuat seperti ini terhadapmu benar-benar kaum yang fasiq dan kafir. Sungguh aku berharap semoga Allah membalas perbuatan mereka itu."

Abu Bakar menoleh kepadanya dengan sangat berat dan hampir-hampir tak dapat menoleh. Ia berkata, "Wahai Ummu Jamil… bagaimana keadaan Rasulullah saw ?"

Ummu Jamil melihat ke arah ibu Abu Bakar yang sampai saat itu masih belum masuk Islam. Ia merasa khawatir jika perempuan itu sampai membocorkan rahasia-rahasia kaum muslimin kepada orang-orang kafir. Lalu Ummu Jamil berkata kepada Abu Bakar, "Sementara ibumu di sini mendengar?!" Ia menjawab, "Engkau tidak perlu khawatir dengannya." Lalu dijawablah pertanyaan Abu Bakar tadi, "Rasulullah saw selamat dan baik-baik saja."

"Sekarang di mana beliau?" desak Abu Bakar.

"Di rumah Abul Arqam." jawab Ummu Jamil.

Setelah itu ibunya berkata, "Kamu telah mengetahui kabar sahabatmu, nah sekarang makan dan minumlah." Abu Bakar menjawab, "Tidak… aku bersumpah atas nama Allah bahwa aku tidak akan makan dan minum sampai aku datang menemui Rasulullah saw lalu melihatnya dengan mataku."

Lalu keduanya menahan Abu Bakar sampai malam hari dimana orang-orang sudah mulai tidur. Pada malam hari ia berusaha untuk bangkit akan tetapi tak mampu juga. Lalu ia keluar dengan dipapah oleh ibunya dan Ummu Jamil untuk menemui Rasulullah saw. Ketika Nabi saw melihatnya, beliau langsung memeluk dan menciuminya. Demikian juga kaum muslimin, mereka semua memeluknya. Rasulullah saw sangat iba dan kasihan terhadapnya. Sementara Abu Bakar berkata, "Ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu wahai Rasulullah, kondisiku tidaklah mengapa selain pukulan seorang fasiq yang mengenai wajahku." Kemudian Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, ini ibuku, dia sangat baik terhadap anaknya… sedangkan engkau adalah seorang yang diberkati… maka ajaklah dia ke jalan Allah swt, dan do’akanlah untuknya, semoga Allah menyelamatkannya dari api neraka."

Lalu Rasulullah saw mendo’akannya dan mengajaknya ke jalan Allah, maka perempuan itupun masuk Islam…

Lihatlah pada gunung yang kokoh ini… Abu Bakar ra… perhatikan-lah betapa semangatnya beliau dalam berdakwah menyeru kepada Allah… sungguh mengagumkan keteguhan beliau yang sangat kuat di atas dien ini.

Sekarang tanyakan pada dirimu sendiri, apa yang telah kamu persembahkan untuk Islam? Berapa orang yang telah mendapat hidayah karena sebabmu? Apakah engkau telah bersabar dalam menanggung ujian di jalan Allah? Dan apakah engkau telah mengajak manusia kepada yang ma’ruf dan mencegah mereka dari yang munkar?

Jadilah engkau seorang pahlwan pemberani… ibarat gunung-gunung yang kokoh. Dan Allah akan menolongmu serta meluruskan langkahmu…





Dikirim pada 03 Mei 2010 di catetan
27 Apr

Oleh
Haiah Kibarul Ulama Saudi Arabia
Bagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2



Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah atas Rasulullah, keluarga beliau, shabat dan orang-orang yang mengambil petunuk dengan petunjuk.

Amma ba๏ฟฝdu.
Majelis Kibarul Ulama telah mempelajari pada daurah yang ke-49, yang diselenggarakan di Thaif, dimulai dari tanggal 2 Rabiul Tsani 1419H, tentang pengkafiran dan pemboman yang marak terjadi di negeri Islam dan selainnya. Dan juga menyebabkan pertumpahan darah dan musnahnya bangunan-bangunan.

Dengan memperhatikan bahaya serta dampak negatife yang ditimbulkan perbuatan tersebut seperti menelan korban yang tidak berdosa, melenyapkan harta benda, timbulnya ketakutan di antara manusia, was-was terhadap diri serta tempat mereka, maka majelis Kibarul Ulama mengeluarkan penjelasan berkaitan dengan hukum tersebut sebagai bentuk nasehat kepada Allah dan para hamba-Nya, bentuk tanggung jawab serta menyingkap kesamaran dalam pemahaman terhadap orang yang masih belum jelas akan hal ini, maka kami menyatakan wa billahi at taufiq.

Pertama.
Pengkafiran termasuk hukum syar๏ฟฝi yang sumbernya berasal dari Allah dan RasulNya. Seperti juga halnya penghalalan, pengharaman, dan kewajiban kembali kepada Allah dan RasulNya, demikian pula pengkafiran. Namun tidaklah setiap perbuatan yang disifati dengan kekafiran baik perkataan maupun perbuatan merupakan kufur akbar yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam.

Ketika hukum pengkafiran dikembalikan kepada Allah dan RasulNya, maka tidak dibenarkan untuk mengkafirkan seseorang kecuali yang telah jelas-jelas dikafirkan oleh Al-Qur๏ฟฝan dan As-Sunnah, tidaklah cukup hanya dengan syubhat atau persangkaan semata, mengingat dampak yang ditimbulkan oleh hal tersebut. Dan jika hukuman saja bisa ditolak hanya karena syubhat (pada hal dampaknya lebih ringan dari dampak yang ditimbulkan oleh pengakfiran), maka pengkafiran lebih utama lagi.

Oleh karena itu Nabi Shallallahu ๏ฟฝalaihi wa sallam telah memperingatkan perbuatan menghukum seseorang dengan kekafiran padahal ia tidaklah demikian, beliau bersabda.

"Artinya : Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya ๏ฟฝwahai kafir๏ฟฝ maka sungguh (perkataanya) kembali kepada salah satu dari mereka jika ia berkata benar, jika tidak maka akan kembali padanya" [Muttafaq ๏ฟฝalaihi dari Ibnu Umar] [1]

Telah disebutkan di dalam Al-Qur๏ฟฝan dan As-Sunnah yang bisa dipahami bahwasanya perkataan, perbuatan atau keyakinan ini merupakan kekufuran, akan tetapi pelakunya tidak divonis kafir karena adanya penghalang. Hukum ini sebagaimana hukum-hukum lain yang tidak akan bisa sempurna kecuali dengan adanya sebab, syarat dan tidak adanyanya penghalang. Contohnya dalam masalah warisan, di antara sebab seseorang menerima warisan adalah karena hubungan kekeluargaan, namun terkadang ia tidak mendapatkan warisan karena adanya penghalang, seperti perbedaan agama. Begitu pula kekafiran ia dibenci karena perbuatannya tapi tidak dikafirkan.

Terkadang seorang muslim mengucapkan kalimat kufur karena meluapkan kegembiraan, kemarahan atau semisalnya tetapi ia tidak divonis kafir –karena ia tidak bermaksud demikian- seperti kisah seorang yang berkata : "Wahai Allah, engkau adalah hambaku sedangkan aku adalah tuhanmu, ia telah salah karena meluapnya kegembiraannya" [Diriwayatkan oleh Anas bin Malik] [2]

Terburu-buru dalam hal megkafirkan memberikan dampak yang sangat berbahaya seperti penghalalan darah dan harta, tercegah atas warisan, batalnya pernikahan serta selainnya yang meupakan dampak kemurtadan.

Bagaimana bisa hal itu dibenarkan atas seorang mukmin, hanya karena syubhat yang rendah (ringan) ?

Jika hal ini terjadi kepada pemimpin maka akan lebih parah lagi, ia akan berlaku sewenang-wenang, mengangkat senjata, merebaknya kekacauan, tertumpahnya darah dan kerusakan peduduk serta negeri. Oleh karena itulah Nabi Shallallahu ๏ฟฝalaihi wa sallam melarang, kita untuk menentang para pemimpin, beliau bersabda.

"Artinya : …… kecuali jika kalian melihat kekufuran yang jelas, kalian memiliki hujjah dari Allah" [Muttafaq ๏ฟฝalaihi dari Ubadah] [3]

Perkataan beliau, "kecuali jika kaian melihat". Tidaklah cukup hanya karena persangkaan dan kabar yang beredar.

Perkataan beliau, "kekufuran" : Tidaklah cukup hanya dengan kefasikan –walaupun besar- seperti juga kezhaliman, minum khamr, bermain judi dan segala bentuk keharaman.

Perkataan beliau, "jelas". Tidaklah cukup jika bukan kufur yang jelas atau yang sharih (terang).

Perkataan beliau, "kalian memiliki hujjah dari Allah" bahwasanya harus dengan dalil yang sharih (terang) yaitu yang jelas serta tetap dalilnya dan tidaklah cukup dengan dalil yang memiliki sanad yang lemah dan tidak pula dalil yang rancu (tidak jelas).

Perkataan beliau, "dari Allah" bahwasanya tidak bisa dijadikan dalil (ibrah) perkataan seorang ulama walaupun ia telah mencapai derajat yang tinggi dalam ilmu dan amanah, jika perkataanya tersebut bukan berdasarkan dalil yang sharih (terang) lagi benar dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya Shallallahu ๏ฟฝalaihi wa sallam.

Ukuran ini menujukkan bahwasanya permasalahan tersebut sangat penting.

Kesimpulan : Sesungguhnya tergesa-gesa dalam mengkafirkan memiliki bahaya yang besar sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta๏ฟฝala.

"Artinya : Katakanlah : Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alas an yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui" [Al-A๏ฟฝraf : 33]

Kedua.
Akibat yang ditimbulkan oleh keyakinan yang salah ini seperti penghalalan darah, terinjak-injaknya kehormatan, terampasnya harta secara khusus atau umum, pemboman pemukiman dan kendaraan, dan peledakan gedung-gedung. Kesemuanya ini –dan yang semisalnya- diharamkan menurut syariat (ijma kaum muslimin) karena menjadi penyebab hilangnya hak orang, yang tidak berdosa, hilangnya hak harta, hilangnya hak rasa aman dan menetap, dan haknya orang-orang yang damai lagi sentosa yang hidup di perumahan dan lingkungan mereka, hilangnya hak mendapatkan suasana pagi dan sore hari, dan hilannya kepentingan-kepentingan umum yang harus ada pada manusia.

Islam menjaga harta-harta kaum muslimin, kehormatan, badan (jiwa) dan mengharamkan perbuatan merampasnya serta sangat menekannkan hal-hal tersebut. Termasuk hal terakhir yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu ๏ฟฝalaihi wa sallam kepada umatnya :

"Artinya : Bahwasanya darah, harta, dan kehormatan kalian aku haramkan seperti haramnya hari ini, bulan ini dan di negeri kalian ini๏ฟฝ kemudian beliau Shallallahu ๏ฟฝalaihi wa sallam bersabda : ๏ฟฝApakah aku telah menyampaikannya ? Ya Allah saksikanlah" [ Muttafaq ๏ฟฝalaihi dari Abi Bakrah] [4]

Dan beliau Shallallahu ๏ฟฝalaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Setiap muslim dengan muslim yang lain diharamkan ; darahnya, hartanya serta kehormatannya" [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah] [5]

Dan beliau Shallallahu ๏ฟฝalaihi wa sallam : "Takutlah kalian akan kezhaliman karena kezhaliman adalah kegelapan pada hari Kiamat" [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir] [6]


[Disalin dari kitab Fatawa Al-Aimmah Fil An-Nawazil Al-Mudlahimmah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Seputar Terorisme, Penyusun Muhammad bin Husain bin Said Ali Sufran Al-Qathani, Terbitan Pustaka At-Tazkia]

Dikirim pada 27 April 2010 di tauhid


Maulid Nabi, Ibadah atau Bid’ah?

Oleh : Abdul Aziz Waluya



Bulan Rabi’ul Awwal adalah bulan yang sangat dikenang oleh setiap kaum muslimin. Karena pada bulan inilah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dilahirkan. Bulan tersebut dikatakan juga oleh orang sebagai bulan Maulid (kelahiran) Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Mayoritas umat Islam berkeyakinan bahwa merayakan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam adalah amal yang mulia, bahkan menjadi suatu ibadah yang besar nilainya di sisi Allah shubhanahu wa ta’ala. Tetapi karena al-haq (kebenaran) itu datangnya dari Allah dan Raasul-Nya bukan dari ukuran mayoritas atau minoritas, maka penilaian kebenarannya hanya dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits dengan bimbingan pemahaman Salafus Shalih. Allah shubhanahu wa ta’ala berfirman :





”Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu Termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah : 147)



Juga mengingatkan Rsul-Nya :





”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)1” (QS. Al-An’aam : 116)



Oleh sebab itu kita kaum muslimin ketika berbicara tentang al-haq dituntunkan untuk merujuk kepada kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits serta bimbingan Salafus Shalih, bukan kepada kebiasaan umum masyarakat masing-masing.



Keutamaan Hari Lahir Nabi shallallahu’alaihi wa sallam



Beberapa riwayat dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menegaskan tentang tentang keutamaan hari lahir Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Diantaranya ialah riwayat dari Muslim dan Shahihnya dengan sanadnya dari Abu Qatadah, beliau menceritakan bahwa seorang arab gunung bertanya kepada Rasulullah shallallau’alaihi wa sallam; Bagaimana penjelasanmu tentang berpuasa pada hari senin ? Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : ”Ia adalah hari aku dilahirkan dan hari diturunkan kepadaku (Al-Qur’an). (HR. Muslim dalam Syarah Shahih Muslim An-Nawawi Juz 8 hal. 52)



Tersirat di hadits ini keutamaan hari senin antara lain disebabkan karena pada hari tersebut adalah hari beliau dilahirkan dan hari Al-Qur’an diturunkan.

Merayakan hari kelahiran Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah dilakukan oleh as-Salaf. Seandainya perayaan maulid ini semata-mata sebagai kebaikan, atau kebaikannya lebih banyak, niscaya salaf radliallahu’anhum lebih pantas merayakan dari pada kita. Karena mereka lebih besar kecintaannya dan pengagungannya kepada Rasulullah dari pada kita.

Banyak orang beranggapan bahwa merayakan maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam adalah amal ibadah yang paling utama sebagaimana keutamaan mencintai Allah dan Rasul-Nya. Sehingga meraka amat mencela orang yang tidak merayakannya, bahkan dikatakan sebagai orang yang keluar dari jamaah muslimin. Perbuatan ini sangat tidak sesuai dengan tuntunan As-Salaf karena menganggap suatu amal dan mencela orang yang meninggalkannya tanpa keterangan dari Allah shubhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Padahal perkara ini adalah perkara agama yang keterangannya hanya diambil dari Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dinyatakan dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh ’Aisyah radliallahu’anha :



Siapa yang membuat perkara baru dalam agama kita yang bukan darinya, maka ditolak.” (HR. Bukhori, Muslim, Abu Dawud dan Adz-Dzahabi, lihat Shahih Al-jami’no 5970 tahqiq Al-Albani).



Asal Mula Perayaan Maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam



Syaikh Ali Mahfudz menerangkan dalam kitab beliau Al-Ibda’fi Madhahiril Ibtida’ hal. 126 : ”Ada yang mengatakn bahwa yang pertama kali mengadakannya ialah khalifah Bani Fatimiyah di kairo pada abad keempat Hijriah. Mereka merayakan enam maulid yaitu : Maulid Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, Maulid Imam Ali radliallahu’anhu, Maulid As-Sayyidah Fatimah Az-Zahra’ radliallahu’anha, Maulid Al-Hasan dan Al-Husein dan Maulid Khalifah yang sedang berkuasa. Perayaan-perayaan tersebut terus berlangsung dalam berbagai bentuknya sampai dilarang pada zaman pemerintahan Al-Fadhal bin Amirul Juyusy. Perayaan ini kemudian dihidupkan kembali di zaman pemerintahan Al-Hakim bin Amrillah pada tahun 524 Hijriah setelah orang hampir melupakannya. Dan orang yang pertama kali merayakan maulid Nabi di kota Irbil adalah raja Al-Mudhaffar Abu Said di abad ketujuh dan terus berlangsung sampai zaman kita sekarang ini

Satu hal yang perlu kita ketahui adalah siapa sesungguhnya Daulah Fatimiyah yang para rajanya merayakan perayaan Maulid Nabi pertama kali di dunia ini.

Kerajaan Fatimiyyah didirikan oleh Abu Ubaidillah Al-Mahdi tahun 298 Hijriah di Maghrib (sekarang wilayah Maroko dan Aljazair) sedangkan di Mesir kerajaan ini didirikan oleh Jauhar As-Shaqali. Para pendiri dan raja-raja kerajaan ini adalah beragama Syi’ah Ismailiyyah Rafidliyah. Kerajaan ini didirikan sebagai misi dakwah agama tersebut dan merusak Islam dengan berkedok kecintaan terhadap Ahlul Bait Rasulullah. Wallahu A’lam Bish Shawab.

1 Seperti menghalalkan memakan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang telah Dihalalkan Allah, menyatakan bahwa Allah mempunyai anak.





Dikirim pada 17 Maret 2010 di catetan

Mengagumkan pemuda itu! Sedahsyat apapun sebuah bom tak akan bisa meledakkan jika detonatornya mati atau tak berfungsi. Demikian juga “bom umat” ini tak akan bisa melawan musuh jika sumbu pemicunya tidak aktif. Begitulah urgensi pemuda di tengah umat, mereka adalah ibarat detonator yang memicu ledakan kekuatan umat ini.



Tanpa peran aktif pemuda, kekuatan akan rapuh, kejayanpun mudah runtuh dan perjuangan takkan teguh.

Sungguh memang mengagumkan ihwal pemuda itu. Darinya muncul berjuta potensi yang mencerahkan. Selain itu mereka mempunyai semangat membara yang meledak-ledak bagaikan inti nuklir saat membelah. Tak heran jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala Sendiri mengabadikan kisah-kisahnya dalam Al Qur’an sebagai teladan.



Seteguh pemuda kahfi



Dengan kalimat suci Allah mengabadikan kisahnya dalam kitab yang senantiasa terjaga. Tujuh orang pemuda beriman yang menjadi ayat teladan para pejuang sepanjang zaman .



Merekalah pemuda kahfi yang teguh berjuang melawan super power Imperatur Romawi. Perjuangan menegakkan tauhid yang tak pernah lapuk oleh panasnya ujian. Dahsyatnya tekanan semakin membuat mereka berkobar untuk melawan. Celaan dan hinaan pun tak membuatnya bergeming untuk mundur. Bahkan dahsyatnya dinding penjara laksana taman surga yang didamba setiap jiwa.



Sampai akhirnya mereka rela meninggalkan gemerlapnya istana menuju gua demi sebuah misi mentauhidkan Allah di saat semua manusia menyekutukan-Nya. Luar biasa kisah mereka sampai Allah mengabadikannya dalam ayat suci-Nya. ` (Al Kahfi:13)



Setegar ashabul uhdud



Inilah kisah pemuda perkasa yang meledakkan setiap orang yang membacanya. Ialah pecinta sejati yang kisahnya wangi dalam kalam ilahi. Dalam surat Al Buruj Allah mengabadikannya. Ia adalah pemuda militan dan perkasa. Perjalanannya penuh kegetiran yang mendera jiwa, perjuangan-nya penuh duka nestapa yang hampir menggoncang keimanannya. Tapi ia tetap tegar.



Kerasnya intimidasi tak membuat langkahnya tehenti mes-ki seorang diri. Sampai akhirnya para thogut membuat makar tuk membuat matanya terpejam sela-manya. Ia tetap gagah perkasa. Keikhlasan imannya membuat ia “murah” menjual dirinya dalam perjuangan. Akhirnya iapun syahid dalam cinta-Nya. Semua umat ber-iman pada Allah lewat baktinya. Betapa ia telah menjadi detonator bagi umat di zamannya. Begitulah beharusnya pemuda perkasa.



Setangguh tentara thalut



Siapa yang tak kenal ketangguhan tentara thalut dalam Al Qur’an, segelintir pemuda pekasa yang tahan ujian disaat api perjuangan tersulut semakin membara. Lewat surat Al Baqoroh kisahnya harum sepanjang masa.



Mereka adalah para pemuda yang siap membela harga diri agama. Sedikitnya jumlah mereka tak membuat mereka gentar dan berpaling dalam berjuang. Merekalah para pemuda uang tersaring dalam tarbiyah imaniyah dan jihadiyah.



Yaitu generasi tauhid yang Allah karuniai “Bastotan fil ‘ilmi wal jism” kuat dalam ilmu dan jasad. Sebuah karunia yang lebih mulia dari harta dan tahta. Subhanallah! Allahu akbar!

Di manakah kita dari mereka



Saudaraku pemuda Islam! Di-manakah kita di antara kisah mereka? Dimanakah kita diantara perjuangan mereka? Sudahkan kita mengambil te-ladan dari mereka dalam berjuang membela agama?
“Allah mengabadikannya dalam ayat suci-Nya.” (Al Kahfi:13)



Saudaraku ..! Al Quds menangis bersimbah darah, Iraq berteriak diantara dentuman mesiu, Afganistan tertawan musuh, Checnya terluka, Filipina terhina dan Kasmir tersingkir. Sementara para pemuda semakin terlena degan tugas-nya.



Begitukah sosok pemuda?



Di manakah pecinta sejati ketika kekasihnya ditelanjangi hak-hak-nya, setelah itu dinodai dan dicampakkan penuh nista? Masih adakah para laskar cinta bagi kekasih sejati? Ataukah hanya isapan jempol! Dalam lagu dan syair tak berguna?



Kepadamu pemuda Islam



Wahai pemuda Islam …!



Masih adakah setetes semangat untuk benahi umat ini? Masih adakah sedikit sisa tenaga untuk ikut andil dalam gelora perjuangan ini? Ketahuilah, seandainya engkau tak berjuang , bagi Allah tak sedikit-pun terkurangi kejayaan-Nya. Akan tetapi kitalah yang sebenar-nya membutuh-kan perjuangan itu.

Demi Allah, tanpa ikut dalam perjuangan, hampir-hampir keberadaan pemuda laksana tidak ada. Siapapun engkau entah dokter, arsitek, bisnisman, pengajar lebih-lebih mahasiswa, punya tanggung jawab menjunjung kejayaan dien ini.



Jadilah pemuda perkasa yang rela melebur, mencair dan meleleh dalam panasnya perjuangan suci ini. Yaitu pemuda Islam yang kakinya bercokol di bumi tapi cinta dan asa-nya terbang tinggi tak hanya setinggi langit, bahkan meluncur menembus langit menjemput kekasih sejatinya dalam taman perjuangan .

Hanya dengan berjuang kejayaan Islam akan kembali berseri-seri. Oleh karena itu tak ada kata lain selain kita harus berjuang, berjuang dan terus berjuang, dan janganlah berbahagia hingga kakimu menginjak di surga. Begitulah seharusnya pemuda perkasa yang penuh dengan cinta!

(www.hasmi.org)

Dikirim pada 02 Maret 2010 di catetan

Oleh : Abdul Aziz Waluya

Berkaitan dengan shalat berjamaah, yaitu meluruskan dan merapatkan shaf. Mengapa demikian? Karena melihat kenyataan kaum muslimin pada saat ini masih banyak yang belum memahami masalah ini, sehingga ketika melakukan shalat berjamaah, shaf mereka ada yang jarang (tidak rapat) dan lurus yang seharusnya masih bisa diisi satu orang atau lebih. Atau kenyataan lain, seringnya terjadi perselisihan yang berakibat fatal antara orang-orang yang berusaha mengamalkan sunnah dengan orang-orang yang tidak memahaminya. Hal ini terjadi karena jauhnya mereka dari ilmu yang haq (benar) dan kurangnya da’i yang mnyeru dan berusaha menghidupkan sunnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

Hadits-hadits tentang keutamaan meluruskan shaf

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menerangkan dalam beberapa sabda beliau tentang keutamaan meluruskan shaf, diantaranya :

1. Dari Aisyah radliallahu ’anha, ia berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : ”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat –Nya bershalawat terhadap orang-orang yang shalat pada shaf-shaf.” (HR. Ahmad, Hakim dan dishahihkan oleh syaikh Al-albani dalam kitab Shahih At-Targhib wa Tarhib, no 401)
2. Dari Ibnu Umar radliallahu’anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, bersabda : ”siapa yang menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya, dan barangsiapa yang memutuskannya niscaya Allah akan mamutusnya” (HR. Nasa’i, Hakim, Ibnu Khuzaimah dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 503)
Imam Manawi menerangkan hadits ini dalam kitab Faidlul Qadir fi Syarhi Jami’us Shaghir, 6/236 : ”makna washalahullah yaitu Allah menambahkan padanya kebaikan, hubungannya semakin erat dan Allah memasukan dia ke dalam rahmat-Nya. Sedangkan makna qatha’ahullah yaitu Allah memutuskan darinya kebaikan. Adapun makna menyambung shaf adalah jika ada kekosongan kemudian ditutupi atau jika ada kekurangan kemudian disempurnakan. Makna ”memutuska shaf” yaitu duduk ditengah barisan shaf tanpa melakukan shalat atau menghalangi orang-orang yang ingin mengisi shaf yang kosong. Wallahu A’lam.”(Syarh Sunan Nasa’i, 2/93)
Selain dua hadits diatas ini, masih banyak hadits-hadits shahih lainnya yang menerangkn keutamaan meluruskan shaf. Namun dalam rangkuman ini saya tidak akan mencantumkannya.



Beberapa Sebab Diperintahkannya Meluruskan Shaf

1. Meluruskan shaf termasuk kesempurnaan shalat. Hal ini diterangkan dalam hadits riwayat Anas radliallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : “ Luruskan shaf-shaf kalian karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan shalat” (HR. Bukhari dalam Fathul Bari, hadits no.723).
2. Meluruskan shaf adalah bukti terbesar adanya cinta kasih diantara kaum muslimin. Bagaimana menurut pandangan anda jika anda menyaksikan orang-orang yang shalat meluruskan shaf mereka dengan merapatkan salah seorang diantara mereka bahunya dengan bahun kawannya atau kakinya dengan kaki kawannya? Tidak diragukan lagi bahwa keadaan ini menunjukan keadaan cinta dan kasih sayang diantara mereka. Lain halnya dengan dengan orang-orang yang shafnya berjauhan. Hal itu menunjukan perbedaan hati-hati mereka. Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dari sahabat Nu’man bin Basyir radliallahu’anhu bahwa dia berkata : Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam meluruskan shaf-shaf kami. Beliau keluar pada suatu hari kemudian melihat seseorang membusungkan dadaya terhadap kaum, maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : ”Benar-benarlah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan membuat berselisih diantara wajah-wajah kalian” (HR. Bukhari no. 717 dan Muslim no. 127, dan lafadz hadits bagi Muslim).
3. Dari Hudzaifah radliallahu’anhu dia berkata : Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : ”kita diberi keutamaan atas manusia dengan tiga perkara : shaf-shaf kita dijadikan seperti shaf-shaf para malaikat………… (HR. Ahmad, Muslim Nasa’I dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’As-Shaghir no.4223)
4. Meluruskan shaf adalah jalan untuk menutup jalan masuk bagi setan untuk mengganggu kekhusyu’an orang-orang yang shalat. Seperti sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam : “Luruskanlah shaf kalian, rapatkanlan paha-paha kalian, lembutlah terhadap tangan saudara-saudara kalian dan tutuplah celah-celah yang kosong, karena sesungguhnya setan menyusup diantara kalian bagaikan al-hazaf (kambing kecil).” (HR. Ahmad dan Thabrani; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ no.1840).

Cara Meluruskan Shaf

Berikut ini saya paparkan beberapa hadits yang menerangkan cara meluruskan dan merapatkan shaf :
1. Dari Anas bin Malik radliallahu’anhu, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam beliau bersabda : ”Luruskanlah shaf-shaf kalian karena sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku.” Maka salah seorang diantara kami menempelkan bahunya dengan bahu kawannya dan kakinya dengan kaki kawannya. (HR. Bukhori 725 dan Ahmad 3/182, 263)
2. Dari Ibnu Umar radliallahu’anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : ”Luruskanlah shaf-shaf, jadikan setentang diantara bahu-bahu, tutuplah celah yang kosong, lunaklah terhadap tangan saudara kalian dan janganlah kalian meninggalkan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, maka Allah akan menyambungnya dan barangsiapa yang memutusnya maka Allah akan memutuskanya.” (HR. Bukhari 725, Abu Dawud 666; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud, no.602)
3. Dari Anas bin Malik radliallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : ”aturlah shaf-shaf shalatmu dan dekatkanlahjaraknya dan sejajarkanlah pundak-pundakmu” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i ; dishahihkan oleh Ibnu Hibban. Lihat Bulughul Maram no. 438)
4. Dari Abu Qasim Al-Jadali dia berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menghadapkan wajahnya kepada manusia dan bersabda : ” Luruskanlah shaf-shaf kalian – tiga kali- Demi Allah, benar-benar kalian meluruskan shaf-shaf atau Allah akan menjadikan hati kalian berselisih.” Nu’man berkata :”Maka aku melihat seseorang melekatkan bahunya dengan bahu kawannya, lututnya dengan lutut kawannya, mata kai dengan mata kaki kawannya” (HR. Abu Dawud 662, Ibnu Hibban 396, Ahmad 4/272 ; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 32)

Dari hadits-hadits diatas dapat disimpulkan bahwa meluruskan shaf yaitu :
a. Membuat shaf menjadi lurus, tidak lebih maju atau mundur
b. Bahu keadaan sejajar. Ibnu Qayim rahimahullah berkata : ” yaitu setiap orang menjadikan bahunya setentang dengan bahu lainnya. Hingga bahu-bahu, leher-leher, dan kaki-kaki dalam keadaan sejajar.” (Aunul Ma’bud :2/365)
c. Menutup celah kosong dengan menempelkan kaki dengan kaki.
d. Bersikap lunak terhadap tangan saudara-saudaranya. Abu Dawud berkata yang maknanya : ”Lembutlah terhadap tangan saudara-saudara kalian” yaitu : apabila datang seorang laki-laki menuju menuju shaf dan hendak masuk pada shaf, maka sepantasnya setiap orang melunakkan bahunya sehingga ia (yang datang) masuk pada shaf. (Aunul Ma’bus : 2/366)
e. Menempelkan bahu dengan bahu, lutut dengan lutut dan mata kaki dengan mata kaki sebagaimana hadits Nu’man bin Basyir diatas. Wallahu A’alam

Dikirim pada 27 Februari 2010 di catetan

RASULULLAH SAW bersabda maksudnya: "Sesiapa yang menunaikan solat Subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah SWT. Kerana itu, janganlah kamu mencari jaminan Allah SWT dengan sesuatu (selain daripada solat), yang pada waktu kamu mendapatkannya, lebih-lebih lagi ditakuti kamu tergelincir ke dalam api neraka." (Hadis riwayat Muslim)Muhammad Abdur Rauf al-Munawi dalam kitabnya at-Ta’arif menegaskan, as-Subhu atau as-Sabah adalah permulaan siang hari, iaitu ketika ufuk berwarna merah jingga di langit tertutup oleh tabir matahari.

Adapun solat Subuh ibadat yang dilaksanakan ketika fajar siddiq dan berakhir pada waktu matahari terbit.Solat Subuh memiliki banyak daya tarikan kerana kedudukannya dalam Islam dan nilainya yang tinggi dalam syariat. Banyak hadis mendorong untuk melaksanakan solat Subuh serta menyanjung mereka yang menjaga dan mengerjakannya.

Rasulullah SAW mengetahui waktu Subuh adalah waktu yang sangat sulit dan payah untuk bangun dari tidur. Seorang Muslim bila dibiarkan begitu saja (tertidur), akan memilih untuk merehatkan dirinya sampai terjaga hingga terbit matahari dan meninggalkan solat Subuh, atau ’Subuh gajah’, iaitu dikerjakan solat Subuh tidak pada waktunya yang betul.

Rasulullah SAW mengkhususkan solat subuh dengan beberapa keistimewaan tunggal dan sifat tertentu yang tidak ada pada solat lain. Banyak keutamaan dan kelebihan yang didapati di waktu subuh.

Salah satu keutamaannya adalah Rasulullah SAW mendoakan umatnya yang bergegas dalam melaksanakan solat Subuh, sebagaimana disebutkan dalam hadis: "Ya Allah, berkatilah umatku selama mereka suka bangun subuh (iaitu mengerjakannya) ." (Hadis riwayat Termizi, Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah)Jika Rasulullah SAW yang berdoa, maka tidak ada hijab di antara Baginda dengan Allah SWT kerana Baginda sendiri adalah orang yang secara jasadiyah paling dekat dengan Allah SWT.Waktu Subuh adalah waktu yang paling baik untuk mendapatkan rahmat dan keredaan Allah SWT.

Allah SWT berfirman maksudnya: "Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keredaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling daripada mereka kerana mengharapkan perhiasan duniawi, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya sudah Kami lalaikan daripada mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas." (Surah al-Kahfi, ayat 28)

Keutamaan solat Subuh diberikan ganjaran pahala melebihi keindahan dunia dan seisinya, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam at-Termizi: "Dari Aisyah telah bersabda Rasulullah SAW, dua rakaat solat Fajar pahalanya lebih indah daripada dunia dan seisinya."Begitulah keistimewaan solat Subuh. Apakah yang menghalang kita untuk menyingkap selimut dan mengakhiri tidur untuk melakukan solat Subuh?

Bukankah solat Subuh menjadi bahagian yang begitu besar kemuliaannya dibandingkan dunia dan seisinya?Diriwayatk an Muslim daripada Usman bin Affan berkata, Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya:"Barang siapa yang solat Isyak berjemaah maka seolah-olah dia telah solat setengah malam, barang siapa solat Subuh berjemaah, maka seolah-olah dia telah melaksanakan solat malam satu malam penuh." (Hadis riwayat Muslim).

Solat Subuh adalah sumber daripada segala cahaya di hari kiamat. Di hari itu, semua sumber cahaya di dunia akan padam. Matahari akan digulung, ibadat yang akan menerangi pelakunya.Diriwayat kan daripada Abu Musa al-Asyaari, dia berkata Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: "Barang siapa yang solat dua waktu yang dingin, maka akan masuk syurga." (Hadis riwayat Bukhari). Dua waktu yang dingin itu adalah solat Subuh dan Asar.Mereka yang menjaga solat Subuh dan Asar dijanjikan kelak di syurga akan melihat Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW, ketika melihat bulan purnama. Baginda berkata, "Sungguh kamu akan melihat Rabb (Allah), sebagaimana kamu melihat bulan yang tidak terhalang dalam memandangnya. Apabila kamu mampu, janganlah kamu menyerah dalam melakukan solat sebelum terbit matahari dan solat sebelum terbenam matahari. Maka lakukanlah." (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW memberi janji, apabila solat Subuh dikerjakan, maka Allah akan melindungi siapa saja yang mengerjakannya seharian penuh. Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: "Barang siapa yang menunaikan solat Subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Maka janganlah cuba-cuba membuat Allah membuktikan janji-Nya. Barang siapa yang membunuh orang yang menunaikan solat Subuh, Allah SWT akan menuntutnya, sehingga Allah SWT akan membenamkan mukanya ke dalam neraka." (Hadis riwayat Muslim, at-Termizi dan Ibn Majah)Semoga kita tetap menjaga dan memelihara solat Subuh seperti dijanjikan Allah. Bergegas bangun tidur apabila terdengar laungan azan berkumandang untuk segera mengerjakan solat Subuh.

Miracles of Allah

Risa Ratna

Dikirim pada 03 Februari 2010 di catetan


setiap manusia mempunyai sebuah perasaan yang tak akan mampu dibendung..
begitu pula ketika perasaan kita bercampur aduk dengan rasa egoisme, rasa benci dan hasrat untuk reformasi.
reformasi menegakkan Khilafah islam yang selama ini terombang-ambing oleh ideologi-ideologi yang merusak dan memecah belah muslim.
rasa hati ingin mencari apa yang selama ini jauh dari hidupku......

wahai sang mujahid.....
marilah kita satukan visi dalam menegakan kembali khilafah ....
janganlah kita terpecah ....
karena pada dasarnya kita sama yaitu ingin menegakan kembali islam sesuai Al-Qur’an dan Assunnah.
namun mengapa kita harus bersitegang mempertahankan apa yang telah menjadi kebiasaan????
coba kita renungkan dan kembali kepada Al-Qur’an dan Assunnah tentu takkan pernah ada kata perpecahan.....

untukmu sang mujahid ........
kini aku persembahkan sebuah doaku..
semoga Allah selalu menyertaimu dalam perjuanganmu....

amieeeeennnn....

Dikirim pada 01 Februari 2010 di catetan

Udan Dimyati Ahmad 27 January at 17:02 Reply
Saudaraku…



Masing-masing bagian tubuh kita memiliki fungsi untuk mewujudkan nilai kemanusiaan kita di sisi Allah Swt. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar dan begitu seterusnya bagian tubuh kita yang lain. Tentu bagi sebuah telinga yang diciptakan untuk mendengar, tidak semua unsur-unsur yang didengarkan dapat menghantarkannya kepada kebahagiaan atau nilai-nilai kemanusiaannya yang terhormat. Bahkan, mungkin dapat juga menghantarkan kepada kerendahan hewaniah atau lebih hina dari itu.



Salah satu unsur pendengaran yang – kita sadari atau tidak – dapat meruntuhkan nilai-nilai kemanusiaan kita yang terhormat adalah musik dan lagu. Allah Swt telah mengingatkan bahwa lagu merupakan salah satu sarana ke jalan kesesatan, hingga mengarah kepada penolakan kebenaran akan ayat-ayat Allah Swt .yang amat agung. Hanya dengan suara gendang, seruling dan kata-kata yang mendesah manusia menjadi begitu angkuh kepada sang pencipta dan begitu menjadi hina ke lembah kehewanian.



Allah Swt. berfirman:



“Dan diantara manusia [ada] orang yang mempergunakan Lahwal hadits {perkataan tidak berguna] untuk menyesatkan [manusia] dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olok. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya. Maka beri khabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.” [Qs. 31 : 6-7].



Al Wahidi dan lain-lain berkata: Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lahwal hadits adalah lagu atau nyanyian [al-ghina]. Hal itu dikatakan oleh Ibnu Abbas, Abdullah bin Mas`ud, Mujahid dan Ikrimah.



Abu Ash Shuhbah berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Mas`ud tentang firman Allah Swt.[Qs. Luqman : 6 – 7] maka beliau menjawab:



“Demi Allah yang tidak ada Illah selain-Nya itulah lagu atau nyanyian.” Beliau mengulang-ngulangnya sebanyak tiga kali. Ibnu Abbas berkata: “Lahwal hadits adalah kebathilan dan lagu atau nyanyian.”



Ubidillah pernah bertanya kepada Qosim bin Muhammad : “Bagaimana pendapat anda tentang lagu/nyanyian ? Qosim menjawab: “Bathil”. Lalu Ubaidillah bertanya lagi: “Kalau aku sudah tahu itu sebuah kebathilan, maka bagaimana pendapat anda tentang dimana adanya ?” Qosim balik bertanya: “Dimana akan engkau lihat yang bathil”. Ubaidillah menjawab: “ Di dalam Neraka.” Maka Qosim berkata: “Begitulah lagu.”



Kemunafiqan, kehinaan, kemaksiatan bahkan mungkin kesyirikan menjadi fenomena biasa dalam jiwa-jiwa para pemusik dan pemirsa lagu. Hukum-hukum Allah seakan tak berharga sedikitpun dibandingkan goyang-goyang hewaniah yang dipertontonkan dan dijajakan hampir di setiap jalan dan lorong desa. Anak-anak, kaum wanita, kaum laki-laki sampai kepada kaum tua renta telah menjadi pemabuk dan tentara yang rela mati membela hak asasi kemaksiatan dan kehinaan hanya karena dibayar sebuah lagu dan musik yang melenakan.



Saudaraku…



Demikianlah semua nasehat Islam disampaikan kepada kita untuk mengingatkan akan besarnya bahaya lagu dan musik. Mendengarkan musik dan lagu tidak ada manfaatnya untuk jiwa atau mendatangkan kemaslahatan bagi kita, bahkan kerusakan yang ditimbulkannya jauh lebih banyak tidak terbayangkan dahsyatnya bagi manusia dan kemanusiaan. Lagu dan musik bagi jiwa ibarat arak yang memabukkan bagi tubuh, bahkan jauh lebih membahayakan. Maka, berusahalah sepenuh keyakinan dan kemampuan untuk berjuang meninggalkan semua yang tidak diridhai Allah tanpa ragu dan kecewa, Allah pasti menolong kita.

Dikirim pada 31 Januari 2010 di catetan

cinta perusak akidah di akhir zaman

zaman ini adalah zaman dimana akan berakhirnya peradaban manusia...
zaman akhir,zaman dimana kaum2 kapitalis, liberlism dan misionaris akan menyerang moeslem secara besar-besaran. baik secara fisik maupun ideologi.
bila kita pelajari ayat Allah Swt. bahwa tanda-tanda akan datangnya kiamat antara lain adalah munculnya matahari dari ufuk barat dan terbenam di ufuk timur. dapat kita rasakan saat ini...
karena bila kita garisbawahi kata matahari...
kita akan tahu makna dari matahari tersebut.
matahari adalah sinar yang menyinari alam ini.
bila kita maksudkan bahwa matahari itu adalah adat kebiasaan mungkin kita akan mendapatkan arti yang berbeda. maksudnya begini kebudayaan kaum mulimin adalah berpakaian dan berprilaku ala timur yang serba menutup aurat. namun pada kenyataannya di akhir zaman ini kebudayaan timur kaum muslimin terasa sudah jauh dari koridor islami.kebudayaan kita ( Islam ) telah hancur di serang kebudayaan barat.
nah darisanalah maksud matahari terbit di ufuk barat dan terbenam di ufuk timur.
namun jika kenyataannya memang matahari benar2 terbit di ufuk barat itu adalah kehendak Allah Subhanahu Wa Ta๏ฟฝala..
seperti anak muda yang sedang kasmaran mereka tidak pernah mengerti arti kata cinta...
bagi mereka cinta lebih diutamakan kepada pasangannya( kekasih) sesama manusia dan tidak sedikit orang yang dimabuk cinta lupa akan Allah sehingga tanpa disadari mereka telah Syirik menyekutukan Allah...
saudari-saudari kita yang telihat anggun berjilbab masih banyak yang berbuat seperti itu (mengagung-agungkan cinta).
apakah mereka tidak tahu?
ataukah mereka hanya pura-pura tidaktahu???
dulu juga saya pernah merasakan hal seperti itu, dan saat itu saya belum mengerti akan arti cinta yang hakiki.namun sekarang setelah saya banyak belajar tentang dienul islam, saya sadar akan dosa besar yang selama ini saya buat.
memang manusia adalah tempatnya salah dan dosa...
semoga Allah mengampuni orang2 yang belum tahu.
sekarang wahai saudara dan saudariku...
marilah kita tegakkan Khilafah Islam secara murni sesuai dengan Al-Qur๏ฟฝan dan Assunah..
dan marilah kita coba tegakkan kembali pondasi agama melalui dakwah...
semoga Allah selalu melindungi kita dalam menegakkan Khilafah

Abdul Aziz Waluya

Dikirim pada 24 Januari 2010 di catetan



Ketiga : Para sahabat memandang bahwa Al Qur’an adalah nasehat dari Dzat yang amat sayang kepada mereka yang sangat perlu didengar yang berarti mereka sangat menyadari kalau mereka bisa salah, tapi akan segera kembali kepada kebenaran manakala ada teguran dari Al Qur’an.

Ma’qil bin Yasar pernah menikahkan adik perempuannya dengan salah seorang sahabat, tapi kemudian dicerainya sampai habis masa iddahnya, kemudian bekas suami tadi melamar lagi dan karena Ma’qil sedang marah beliau tolak lamarannya dan bertekat tidak akan mengawinkannya, padahal adiknya juga masih cinta dengan bekas suaminya serta ingin kembali kepadanya. Dengan kejadian ini Allah menurunkan ayat :

ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุทูŽู„ูŽู‘ู‚ู’ุชูู…ู ุงู„ู†ูู‘ุณูŽุงุกูŽ ููŽุจูŽู„ูŽุบู’ู†ูŽ ุฃูŽุฌูŽู„ูŽู‡ูู†ูŽู‘ ููŽู„ุง ุชูŽุนู’ุถูู„ููˆู‡ูู†ูŽู‘ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู†ู’ูƒูุญู’ู†ูŽ ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌูŽู‡ูู†ูŽู‘ ุฅูุฐูŽุง ุชูŽุฑูŽุงุถูŽูˆู’ุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆูู ุฐูŽู„ููƒูŽ ูŠููˆุนูŽุธู ุจูู‡ู ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ูŠูุคู’ู…ูู†ู ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู’ู„ุขุฎูุฑู ุฐูŽู„ููƒูู…ู’ ุฃูŽุฒู’ูƒูŽู‰ ู„ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุทู’ู‡ูŽุฑู ูˆูŽุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ู„ุง ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู†ูŽ) (ุงู„ุจู‚ุฑุฉ:232)
Artinya :" apabila kamu manthalak isteri-isterimu lalu habis iddahnya ,maka janganlah kamu ( para wali ) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya ,apabila telah terdapat kerelaan dintara mereka dengan cara yang ma๏ฟฝruf ,itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman diantara kamu kepada Alloh dan hari kemudian .Itu lebih baik bagimu dan lebih suci .Alloh mengetahui sedang kamu tidak mengetahui ".

Setelah turun ayat ini Ma’qil langsung menikahkan adiknya lagi dengan sahabat mantan suamiya .

Sahabat hidup dengan misi, “Risalah menyelamatkan seluruh manusia dari perbudakan manusia untuk manusia menuju penghambaan Allah yang Esa dan mengeluarkan mereka dari kedhaliman sistim manusia menuju keadilan Islam dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan akherat”, dan pastilah kaum yang membawa misi demikian ada pendukung dan musuhnya, maka mereka menjadikan Al Qur’an sebagai pembimbing untuk mengetahui musuh-musuh Alloh, dan musuh mereka, siapa wali-wali mereka dan wali-wali Alloh dan mereka memperlakukan manusia sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Alloh, mereka cinta terhadap ayah, anak, istri, serta kerabat mereka. Tetapi jika yang dicintai itu memusuhi Alloh dan Rasul-Nya serta membenci Islam, maka mereka segera merubah sikapnya dengan hanya memihak Alloh dan mencabut perasaan cintanya kepada selain Allah, Allah berfirman :
“Engkau tidak akan mendapatkan kaum yang beriman kepada Alloh dan hari akhir mencintai orang-orang yang membangkang kepada Alloh dan rasul-Nya, walaupun mereka itu ayah-ayah mereka atau anak-anak mereka atau saudara–saudara mereka atau kerabat-kerabat mereka, mereka itulah orang yang Alloh tetapkan dihati mereka keimanan”.(al Mujadalah:22)

Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Ubaidah bin Jaroh ketika membunuh ayahnya di perang Badar karena ayahnya bersama pasukan kuffar Quraisy .

Keempat : Para sahabat memandang bahwa seluruh alam semesta dan diri mereka adalah ciptaan Alloh dan tidak mungkin membudidayakan alam semesta serta mengatur mereka kecuali Dzat yang menciptakannya sehingga mereka meyakini bahwa keimanannya menuntut untuk menjadikan Al Qur’an sebagai satu kesatuan yang utuh yang tidak dipisahkan antara satu sama lainnya, mereka men-jadikan Al Quran sebagai pedoman hidup mereka dan mereka sangat sensitif terhadap usaha-usaha yang akan memisahkan satu bagian sistim Islam dengan bagian yang lainnya.

Pantaslah kalau Kholifah Abu Bakar berpidato ketika banyak orang yang murtad dan tidak mau membayar zakat, dengan mengatakan :
ุฃูŠู†ู‚ุต ุงู„ุฏูŠู† ูˆุฃู†ุง ุญูŠ !! ูˆุงู„ู„ู‡ ู„ูˆ ู…ู†ุนูˆู†ูŠ ุนู‚ุงู„ุงู‹ ูƒุงู†ูˆุง ูŠุคุฏูˆู†ู‡ ุฅู„ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ู„ู‚ุงุชู„ุชู‡ู… ุนู„ู‰ ู…ู†ุนู‡ ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู… .
“Apakah agama ini akan dikurangi padahal saya masih hidup, demi Alloh kalau mereka menghalangi tali yang dulu mereka serahkan kepada Rasulalloh pastilah aku perangi mereka atas keengganannya”. Diriwayatkan oleh Muslim

Keuniversalan dan keintegralan Al Qur’an ini digambarkan oleh sahabat Ali bin Abi Tholib dalam ucapannya :
ู‡ูˆ ูƒุชุงุจ ุงู„ู„ู‡ ููŠู‡ ู†ุจุฃ ู…ู† ู‚ุจู„ูƒู… ุŒูˆุฎุจุฑ ู…ุง ุจุนุฏูƒู… ูˆุญูƒู… ู…ุง ุจูŠู†ูƒู… ู‡ูˆ ุงู„ูุตู„ ู„ูŠุณ ุจุงู„ู‡ุฒู„ ู…ู† ุชุฑูƒู‡ ู…ู† ุฌุจุงุฑ ู‚ุตู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ูˆู…ู† ุงุจุชุบู‰ ุงู„ู‡ุฏู‰ ููŠ ุบูŠุฑู‡ ุฃุถู„ู‡ ุงู„ู„ู‡ ูˆู‡ูˆ ุญุจู„ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ู…ุชูŠู† ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฐูƒุฑ ุงู„ุญูƒูŠู… ูˆู‡ูˆ ุงู„ุตุฑุงุท ุงู„ู…ุณุชู‚ูŠู… ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ู„ุง ุชุฒูŠุบ ุจู‡ ุงู„ุฃู‡ูˆุงุกุŒ ูˆู„ุง ุชู„ุชุจุณ ุจู‡ ุงู„ุฃู„ุณู†ุฉ ูˆู„ุง ูŠุดุจุน ู…ู†ู‡ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ูˆู„ุง ูŠุฎู„ู‚ ุนู† ูƒุซุฑุฉ ุงู„ุฑุฏู‘ ูˆู„ุง ุชู†ู‚ุถูŠ ุนุฌุงุฆุจู‡ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ู„ู… ุชู†ุชู‡ ุงู„ุฌู† ุฅุฐุง ุณู…ุนุชู‡ ุญุชู‰ ู‚ุงู„ูˆุง )ุฅู†ุง ุณู…ุนู†ุง ู‚ุฑุขู†ุงู‹ ุนุฌุจุงู‹ุŒ ูŠู‡ุฏู‰ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฑุดุฏ ูุขู…ู†ุง ุจู‡ ( ู…ู† ู‚ุงู„ ุจู‡ ุตุฏู‚ ูˆู…ู† ุนู…ู„ ุจู‡ ุฃุฌุฑ ูˆู…ู† ุญูƒู… ุจู‡ ุนุฏู„ ูˆู…ู† ุฏุนุง ุฅู„ูŠู‡ ู‡ุฏูŠ ุฅู„ู‰ ุตุฑุงุท ู…ุณุชู‚ูŠู… .
“Dia adalah Kitabulloh yang di dalamnya ada berita orang sebelum kalian, berita apa yang akan terjadi setelah kalian, hukum diantara kalian, dia adalah keputusan yang serius bukan main-main, barang siapa meninggalkannya dengan kesombongan pasti dihancurkan oleh Alloh , barang siapa mencari petunjuk dengan selainnya pasti disesatkan oleh Alloh, dialah tali Alloh yang kokoh, dialah peringatan yang bijaksana, dialah jalan yang lurus, dialah yang dengannya hawa nafsu tidak menyeleweng, dan tidak akan rancu dengannya lisan, dan tidak para ulama tidak pernah kenyang dari (membacanya, mempelajarinya), tak akan usang karena diulang-ulang, dan tidak habis keajaibannya, dan dialah yang jin tak henti-hentinya untuk mendengarnya sehingga dia mengatakan; “Sungguh kami mendengar Al- Qur’an yang penuh keajaiban, menunjukkan ke jalan lurus, maka kami beriman dengannya”. Barang siapa yang berkata dengannya pasti benar, barang siapa beramal dengannya pasti diberi pahala, barang siapa menghukumi dengannya pastilah adil, barang siapa mengajak kepadanya pasti ditunjuki kejalan yang lurus.

Kelima : Para sahabat memandang bahwa Al Qur`an adalah kasih sayang dari Alloh, maka mereka melihat bahwa seluruh isi Al Quran baik aqidahnya, hukumnya, perintahnya, larangannya, berita–beritanya adalah untuk kebaikan manusia.

maka mereka menerimanya dengan senang hati, adapun yang menolak hukum Islam pada dasarnya adalah lebih memihak para pemeras orang lemah dari pada memihak orang yang diperas, lebih sayang dengan para pembunuh dari pada yang dibunuh atau lebih memihak para penggarong dan pemerkosa dari pada yang di garong dan diperkosa, lebih memihak musuh Alloh dari pada memihak Alloh, dan secara implisit menuduh Alloh keras dan dholim, orang yang semacam ini perlu intropeksi akan hakekat keimanannya.
Udan Dimyati Ahmad

WWW.HASMI.ORG

Dikirim pada 24 Januari 2010 di catetan

Pertama : para sahabat memandang kebesaran Al Quran dari kebesaran yang menurunkannya, kesempurnaannya dari kesempurnaan yang menurunkannya, mereka memandang bahwa Al Qur’an turun dari Raja, Pemelihara, Sesembahan yang Maha Perkasa, Maha Mengetaui, Maha Kasih Sayang, sebagaimana ditekankan oleh Alloh dalam berbagai permulaan surat :
ุชู†ู€ุฒูŠู„ ุงู„ูƒุชุงุจ ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนุฒูŠุฒ ุงู„ุญูƒูŠู…)ุณูˆุฑุฉ ุงู„ุฒู…ุฑุŒ ุงู„ุฌุงุซูŠุฉุŒ ุงู„ุฃุญู‚ุงู( ุชู†ู€ุฒูŠู„ ุงู„ูƒุชุงุจ ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนุฒูŠุฒ ุงู„ุนู„ูŠู… ) ุณูˆุฑุฉ ุงู„ู…ุคู…ู†(ุชู†ู€ุฒูŠู„ ู…ู† ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู… )ุณูˆุฑุฉ ูุตู„ุช(ูƒุฐู„ูƒ ูŠูˆุญูŠ ุฅู„ูŠูƒ ูˆุฅู„ู‰ ุงู„ุฐูŠู† ู…ู† ู‚ุจู„ูƒ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนุฒูŠุฒ ุงู„ุญูƒูŠู…ุŒ ู„ู‡ ู…ุง ููŠ ุงู„ุณู…ุงูˆุงุช ูˆู…ุง ููŠ ุงู„ุฃุฑุถ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุนู„ูŠ ุงู„ุนุธูŠู… ) ุณูˆุฑุฉ ุงู„ุดูˆุฑู‰(
Dari pandangan ini mereka menerima Al Qur’an dengan perasaan bahagia bercampur perasaan hormat, siap melaksanakan perintah, perasaan cemas dan harapan, serta perasaan kerinduan yang amat dalam. Bagaimana tidak ? karena orang yang membaca Al Qur’an berarti seakan mendapat kehormatan bermunajat dengan Alloh sekaligus seperti seorang prajurit menerima perintah dari atasan dan seorang yang mencari pembimbing mendapat pengarahan dari Dzat yang maha mengetahui. Dan perasaan inilah yang digambarkan oleh Alloh dalam Firmannya :
ุฅู† ุงู„ุฐูŠู† ุฃูˆุชูˆุง ุงู„ุนู„ู… ู…ู† ู‚ุจู„ู‡ ุฅุฐุง ูŠุชู„ู‰ ุนู„ูŠู‡ู… ูŠุฎุฑูˆู† ู„ู„ุฃุฐู‚ุงู† ุณุฌุฏุงู‹ ูˆูŠู‚ูˆู„ูˆู† ุณุจุญุงู† ุฑุจู†ุง ุฅู† ูƒุงู† ูˆุนุฏ ุฑุจู†ุง ู„ู…ูุนูˆู„ุงู‹ ูˆูŠุฎุฑูˆู† ู„ู„ุฃุฐู‚ุงู† ูˆูŠุฒูŠุฏู‡ู… ุฎุดูˆุนุงู‹ )ุณูˆุฑุฉ ุงู„ุฅุณุฑุงุก 107-109(
"Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya jika dibacakan atas mereka (ayat-ayat Alloh) mereka tersungkur dengan dagu-dagu mereka dalam kondisi sujud, mereka berkata maha suci Robb kami sungguh janji Robb kami pasti terlaksana mereka tersungkur dengan dagu-dagu mereka dalam kondisi menangis dan menambahi mereka kekhkusu’an”.

Perasaan di ataslah yang menyebabkan Umu Aiman menangis ketika teringat akan wafatnya Rasululloh. Suatu saat Abu Bakar dan Umar berkunjung kepada ibu asuh Rasulalloh itu dan ketika mereka duduk, menagislah Ummu Aiman karena teringat wafatnya Rasulalloh, maka berkatalah Abu Bakar dan Umar, “Kenapa anda menangis sementara Rasululloh mendapatkan tempat yang mulia” ? Ummu Aiman menjawab, "Saya menangis bukan karena meninggalnya beliau melainkan karena terputusnya wahyu Alloh yang datang kepada beliau pada pagi dan petang hari", maka saat itu pula meledaklah tangisan mereka bertiga .

Perasaan diataslah yang menyebabkan para sahabat membaca dan menerima Al Qur’an untuk dilaksanakan secara spontan tanpa menunggu-nunggu dan tanpa sedikit protes walaupun hal itu bertentangan dengan kebiasaan mereka, tapi mereka bisa menundukkan perasaan mereka dengan cinta mereka kepada Alloh.

Ketika turun perintah untuk memakai jilbab pada surat Al Ahzab : 59, malam hari Rasulalloh menyampaikan ayat itu kepada para sahabat, pagi harinya para istri sahabat sudah memakai jilbab semuanya, bahkan `Aisyah mengatakan, "Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshor mereka diperintah pakai hijab pada malam hari sementara pada paginya mereka sudah memakainya bahkan ada yang merobek gordeng / kelambu mereka untuk dipakai jilbab".

Ketika diharamkannya khomer dan ayat itu sampai kepada mereka, saat itu juga langsung mereka membuang simpanan khomernya dan menuang apa yang masih di tangannya.

Salah satu rahasia keajaiban para sahabat dalam berinteraksi dengan Al Qur’an adalah keimanan mereka kepada Alloh, surga dan neraka-Nya, kepada janji-Nya sehingga mereka melakukan sesuatu yang apabila dilihat oleh orang yang tak memahami latar belakang ini akan sulit menafsirkannya.

Seperti ketika mereka membaca tentang janji Allah untuk orang-orang yang berjihad karena cinta kepada Allah, seorang sahabat yang bernama Umair bin Hamam yang sedang memakan kurma bertanya: wahai Rasululloh, “Dimana saya kalau saya mati dalam perang ini ? Rasululloh menjawab "Di sorga", berkatalah Umair : "Sungguh menunggu waktu masuk surga sampai menghabiskan makan kurma tujuh biji ini adalah sangat lama”, dan ahirnya dibuanglah sisa kurma yang belum dimakan dan langsung maju perang sampai menemui syahidnya.

Kondisi keimanan yang tinggi ini menjadikan episode kehidupan mereka menjadi bagian dari yang diceritakan oleh Allah dalam Al Qur’an, hal itu seperti perhatian orang-orang Anshor terhadap orang-orang muhajirin atau perhatian mereka terhadap orang-orang yang lemah, seperti yang Allah ceritakan dalam surat al Hasyr dimana Rasulullah kedatangan tamu dan beliau tidak memiliki sesuatu untuk menjamunya, akhirnya beliau tawarkan hal itu kepada sahabatnya siapa yang bersedia membawa tamu beliau, dengan sepontan salah satu sahabat bersedia, tetapi ketika sampai rumah ternyata istrinya mengatakan bahwa tidak ada persediaan makanan kecuali makan malam anaknya, maka sahabat tadi memerintahkan istrinya untuk mengeluarkan makanan tadi untuk tamunya dan mengeluarkan dua piring dan segera mematikan lampu ketika tamunya sedang makan, tamunya makan dan tuan rumah menampakkan seakan-akan makan agar dia bisa makan dengan enak, ketika sampai pagi hari sahabat tadi bertemu dengan rasul dan Rasulullah mengatakan kalau Allah takjub dengan apa dia lakukan maka turunlah firman Alloh surat al Hasyr ayat:9.

Kedua : Rasululloh dan para sahabat memandang Al Qur’an sebagai obat bagi segala penyakit hati dan ketika mereka membaca Al Quran yang berbicara tentang segala kelemahan hati, penyakit hati, mereka tidaklah merasa tersinggung bahkan mereka berusaha mengoreksi hati mereka dan membersihkan segala sifat yang dicela oleh Al Qur’an dan berusaha bertaubat dari apa yang dikatakan buruk oleh Al Qur’an .
Maka sudah pantaslah ketika Al Qur’an banyak menceritakan sifat-sifat munafiqin mulai dari malas sholat, sedikit berdzikir, pengecut, mengambil orang kafir sebagai pemimpin dan lain-lainnya, para sahabat segera mengoreksi hati mereka dan mencari obatnya walaupun mereka tidak dihinggapi penyakit itu, berkatalah Abdulloh ibnu Mulaikah :
ุฃุฏุฑูƒุช ุณุจุนูŠู† ู…ู† ุฃุตุญุงุจ ู…ุญู…ุฏ ูƒู„ู‡ู… ูŠุฎุงููˆู† ู…ู† ุงู„ู†ูุงู‚.
“Aku mendapatkan tujuh puluh dari sahabat nabi, mereka semua takut kalau terkena penyakit nifaq”.

Ketika sahabat Handholah merasa adanya fluktuasi imannya segeralah ia datang kepada Rasulalloh dengan mengatakan “Ya Rasulalloh Handholah telah munafik”, Rasululullah bertanya : Kenapa ? Handlolah menjawab: “Wahai Rasululloh kalau saya di samping engkau dan engkau ingatkan kami dengan sorga dan neraka, jadilah sorga dan neraka seakan-akan jelas dimata kami, tapi jika kami pulang dan bergaul dengan anak istri serta sibuk dengan harta kami, kami banyak lupa, maka Rasulalloh bersabda, “Wahai Handholah kalau kalian berada dalam kondisi seperti itu (seakan melihat sorga dan neraka) terus menerus pastilah para malaikat menyalami kalian di jalan-jalan kalian”.

Dari sensitifitas perasaan Handholah dalam berinteraksi dengan Al Qur’an, ia bisa mengalahkan pe-rasaan ingin dekat dengan istrinya pada malam pertama dan ditinggalkannya untuk berjihad sampai syahid padahal ia belum sempat mandi junub, sehingga Rasululloh bersabda bahwa ia dimandikan oleh para malaikat .



Udan Dimyati Ahmad

WWW.HASMI.ORG

Dikirim pada 24 Januari 2010 di catetan
Profile

Hamba Allah... yang sedang meniti siratulmustaqim.... More About me

Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 69.258 kali


connect with ABATASA